22 May 2011

KEBAHAGIAANKU BERAWAL

By : Puput Happy

Ada kebahagiaan tersendiri manakala kita mendengar kabar gembira dari usaha yang telah kita raih dengan susah payah. Sebagaimana halnya aku, sangat bangga dan bersyukur apabila mendengar berita gembira akan kemenangan yang telah aku raih. Begitu suka citanya hingga membangkitkan semangatku untuk tetap berkarya. Aku menjadi begitu bergairah untuk berlomba lagi, berlomba lagi, dan berlomba terus tanpa mengenal bosan dan putus asa. Betapa sebuah prestasi kecil telah mampu membakar semangatku untuk mencapai prestasi besar. Meski menjadi "orang besar” belum bisa kusandang, namun semangat besar telah terpatri kuat dalam hati. Dan dari azzam yang kuat inilah yang menjadikan aku sering meraih kemenangan. Sungguh, aku bahagia sekali jika mampu memenangkan perlombaan.


Prestasi kecil dan sangat berkesan buatku adalah saat aku mengikuti Lomba Bercerita Tingkat Guru TK Se-Kabupaten Tegal. Aku anggap berkesan, karena saat itu aku baru memasuki dunia guru. Yah, aku menjadi guru baru-baru saja, belum ada setahun, jadi keilmuanku tentang guru belum seberapa. Hanya modal coba-coba dan nekad saja aku mengikuti perlombaan itu.


Acara lomba bercerita itu diselenggarakan oleh UPTD Perpustakaan Daerah Tegal, di mana waktu itu aku hobby sekali berkunjung ke sana. Saat kubaca informasi lomba bercerita tersebut, entah mengapa tiba-tiba terbersit dalam hati keinginan untuk mengikutinya. Aku berpikir, “Bukankah aku juga seorang guru TK? Berarti aku juga bisa ikut lomba itu.... Aku coba cari buku-bukunya, ah! Siapa tahu ada buku bagus buat bercerita...” Hingga akhirnya aku pun menemukannya. Wah, “Semut yang Serakah!”


Begitu aku mendapatkan buku itu, aku pun lalu minta ijin sama Kepala Sekolah TK tempatku mengajar. Alhamdulillah, Kepsek dan teman-teman sejawatku semuanya men-support-ku. Wah, aku happy banget, teman-teman.... Aku begitu bersemangat mendaftar lomba itu. Namun, aku hanya bisa meraih juara harapan III. Tadinya aku kecewa, tapi setelah teman-teman menghiburku, bahkan tetap men-support-ku, bahwa aku bisa meraih juara harapan III saja sudah termasuk hebat, apalagi jika melihat peserta lain yang nota bene sudah sering memenangkan lomba, tapi saat itu mereka tidak memenangkannya. Ditambah lagi aku baru kali pertama mengikuti lomba bercerita tingkat guru TK. Aku pun jadi bersyukur dan bangga. Bener juga ya, baru pertama kali ikut lomba, tapi bisa menyingkirkan banyak peserta yang sudah berpengalaman.


Dan sejak itu, aku jadi terpacu untuk mengikuti berbagai lomba, seperti lomba cipta baca puisi tingkat guru TK se-Kabupaten Tegal dalam rangka Porseni, dan aku meraih juara harapan I. Lumayan deh! Aku berusaha menghibur diri. Aku jadi semakin pede dan bersemangat tiap ada event-event lomba, terutama lomba menulis. Apalagi sejak ada ajakan dari teman di facebook untuk bergabung dengan FLP Tegal, aku pun makin bergairah untuk mengikuti lomba-lomba. Bahkan sejak aku aktif di FLP, tulisan-tulisanku seperti puisi dan artikel mulai sering dimuat di surat kabar. Dan dari prestasi-prestasi kecil inilah yang membuatku tak ragu lagi ‘tuk melaangkah demi menggapai mimpi. Aku tak peduli dengan diriku yang masih penulis pemula dengan memberanikan diri berteman dengan penulis-penulis hebat di facebook maupun di twitter. Asal aku bisa belajar dari mereka, bagiku itu bukan masalah. Dan dari pertemanan itulah, banyak informasi yang didapat, terutama tentang lomba atau undangan menulis. Aku begitu bersemangat mengikutinya, meski banyak juga naskahku yang tidak lolos. Tapi tak apalah! Toh, aku jadi bisa mengambil hikmahnya, di mana letak kekuranganku.


Yang membuatku makin senang dan bangga, yaitu ketika naskahku lolos dan dibukukan. Horeeeee!! Aku punya buku, sekarang! Begitu isi teriakanku dalam hati. Meski hanya sebuah buku Antologi atau buku “keroyokan”, aku tak peduli. Aku tetap senang jika bisa “berkumpul” dalam satu buku dengan penulis-penulis beken. Biarlah orang lain menyebutku hanya “numpang” beken dengan mereka, aku sama sekali tak peduli. Bagiku, adalah kebahagiaan tersendiri manakala naskahku lolos dan diakui penerbit untuk dibukukan. Sungguh, aku sangat berterima kasih pada panitia lomba yang mau meloloskan naskahku, meski mungkin ada yang meloloskannya karena kasihan.


Alhamdulillah, belum ada satu tahun aku terjun di dunia tulis-menulis, dan sudah 9 buku yang di dalamnya ada karyaku. Meski belum semua diterbitkan, tapi aku sudah cukup puas untuk mengabadikan keberhasilanku. Aku akan tetap sabar menunggu hingga buku itu terbit.


Yang membuatku lebih senang lagi, yaitu saat kemarin, di awal November 2010, ada tiga berita gembira berturut-turut. Pertama, berita lolosnya naskahku dalam “Antologi Lovely Lebaran”. Kedua, berita lolosnya naskahku dalam “A-Z Panduan Lengkap Kesehatan dan Kecantika Muslimah”. Dan ketiga, berita lolosnya karya tulis ilmiahku dalam “Lomba Karya Ilmiah Inovatif Pembelajaran Guru” Tingkat Provinsi Jawa Tengah. Yang ketiga inilah yang membuatku tak percaya, bahwa ternyata aku bisa membuat karya ilmiah. Meski pada seleksi tahap II presentasi wawancara karya ilmiahku tidak menang, tapi aku cukup bangga, karena bisa bergabuhng dengan para nominator se-provinsi Jawa Tengah di LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) Semarang, di mana semua peserta ada 30 orang dari berbagai kabupaten se-Jawa Tengah. Hanya tiga orang yang beruntung, yang bisa menduduki Juara I, II, dan III. Selama empat hari kami “dikarantina”. Benar-benar pengalaman yang sangat berharga bagiku. Aku bisa banyak belajar dari mereka, terutama para pemenang, yaitu orang-orang hebat yang sangat kreatif dan inovatif. Mereka adalah orang-orang yang sangat luar biasa! Semangat mereka makin memacu semangatku untuk tetap menulis dengan lebih baik lagi. Terima kasih, Tuhan.... Kau telah mengirimkan teman-teman yang hebat dan baik.


Aku berharap, di usiaku yang sudah tidak muda lagi, akan tetap terpancar jiwa mudaku dengan semangat yang menggebu-gebu. Biarlah orang lain menilaiku sebagai tukang mimpi, tapi aku akan tetap menjadi seorang pemimpi kelas tinggi. Aku yakin, Allah akan senantiasa membantuku, dan mimpiku akan bisa menjadi kenyataan. Kalau pun aku harus jatuh, aku akan tetap berusaha untuk bangkit kembali, sebagaimana semut yang merambat naik ke batang pohon.... seperti nasihat DR. ‘Aidh al-Qarni dalam bukunya: “La Tahzan!”


Jadilah seperti semut dalam ketekunannya. Dia berusaha merambat naik ke batang pohon hingga ratusan kali, dan jatuh sebanyak jumlah yang sama. Tapi dia terus berusaha naik kembali hingga akhirnya sampai pada tujuan yang diinginkan. Karena itu, jangan cepat menyerah dan bosan!


“Berlomba-lombalah!”, karena perlombaan itu harus diikuti oleh siapa saja. Zaman terus bergerak, matahari terus berlari, bulan terus berjalan, dan angin terus berhembus. Jangan pernah berhenti, sebab kafilah kehidupan tidak akan menunggu.
Bersegeralah! Melompatlah ke tingkatan yang lebih tinggi ke tingkatan orang-orang yang tinggi, karena yang diperebutkan adalah kemuliaan. Kemenangan itu tidak akan dihidangkan di atas dulang emas, tapi diperoleh dengan air mata, darah, begadang, keletihan, rasa lapar, dan kesulitan.


Keberhasilan adalah tetesan-tetesan dari kerja keras, penderitaan, luka, pengorbanan, dan kecemasan. Sedangkan kegagalan adalah tetesan-tetesan dari kemalasan, tidak punya greget, persaan minder, dan tidak bergairah.
Kenalilah potensi diri kamu. Allah akan menurunkan rahmat kepada seseorang yang menyadari kemampuan dirinya.


Belajarlah bagaimana mengenali diri. Membatasi diri dalam kehidupan ini dengan tidak memberikan kesempatan untuk mengasah karakter dan tanggung jawab kamu dalam kehidupan ini adalah sebuah kebodohan besar. Orang yang tidak memahami siapa diri sendiri, maka tidak akan pernah dapat mengenali kemampuan mereka.


Karenanya, aku akan tetap belajar mengenal diri sendiri, agar dapat mengenali kemampuanku, sehingga aku bisa berkarya namun tidak memburu ketenaran sesaat. Bukankah orang yang hanya memburu ketenaran sesaat, dan enggan untuk mencari ketenaran yang abadi dengan pujian yang baik, ilmu yang bermanfaat dan amal sholeh, maka orang itu adalah orang yang bertipe pas-pasan dan tidak punya greget?


Aku akan tetap berusaha belajar menjadi orang yang optimis, bukan pesimis! Sebab aku yakin, hanya orang optimislah yang hidupnya akan berhasil. Dan sebaliknya, hanya orang pesimislah yang hidupnya akan diselimuti dengan kesedihan, kekecewaan dan kemiskinan hati. Aku tidak mau hidupku menderita karena kesalahan yang kubuat sendiri.


Aku akan terus mengingat nasihat orang-orang bijak:

Jauhilah orang-orang yang memperlihatkan pesimistis! Sebab jika kamu memperlihatkan sekuntum bunga kepadanya, dia akan memperlihatkan duri-durinya kepada kamu. Jika kamu memperlihatkan air kepadanya, maka dia akan memberikan kotorannya untuk kamu. Dan jika kamu keindahan matahari, maka dia akan mengeluhkan panasnya cahaya matahari.

Yup! Aku harus tetap semangat!

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda