22 May 2011

TAK ADA YANG ABADI

By : Puput Happy

Jika ingat Peterpan, yang ada di benakku selalu ingat lagu “Tak Ada Yang Abadi”. Entahlah, lagu itu selalu memunculkan rasa perih di hatiku. Mataku langsung berkaca-kaca, dan dadaku mendadak sesak.. Bagaimana tidak, nada lagu itu mengetuk-ngetuk pintu hatiku akan arti kehidupan yang sesungguhnya, bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Semua akan sirna, pergi, dan meninggalkan semua yang ada. Lirik lagu itu terngiang-ngiang terus di telingaku….

Tak kan selamanya
Tanganku mendekapmu
Tak kan selamanya
Raga ini menjagamu
Seperti alunan
Detak jantungku
Tak bertahan
Melawan waktu
Dan semua keindahan yang memudar
Atau cinta yang telah hilang
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Biarkan aku
Bernafas sejenak
Sebelum hilang
Jiwa yang lama
Segera pergi
Bersiaplah para pengganti

Betapa lagu itu senantiasa menoreh luka yang teramat dalam. Yah, luka akan perjalanan cintaku dengan belahan jiwaku. Cinta itu kini telah pergi, dan memang harus pergi! Aku tak berhak meraih cinta itu lagi. Tak kan mungkin aku dapat mendekapmu kembali, seperti dulu…. Semua keindahan yang telah kita rajut, memudar tanpa bekas. Tak lagi menyisakan cinta sedikitpun. Cinta itu kini telah hilang.

Taka ada yang abadi
Tak ada yang abadi

Kata-kata itu yang selalu menyadarkanku, hingga kumampu memaaafkannya. Dan kata itu pula yang membuatku ingat Tuhan, bahwa di dunia ini memang tak ada yang abadi, yang membuatku ragu dan enggan ‘tuk berjanji.

Jiwa yang lama
Segera pergi
Bersiaplah para pengganti

Kata-kata itu pula yang membuatku menjadi lebih tenang, bahwa kelak akan ada yang menggantikan jiwa yang telah pergi dari hidupku. Tak kan mungkin aku bisa mempertahankan dia untuk tetap di sini, di sisiku…

Meski kesepian mendera, tak layak aku meratapinya. Aku tetap harus bisa memberi kekebalan dalam diriku melawan kesepian. Tak ada yang abadi! Kata-kata itulah yang telah menguatkan aku. Tak ada yang abadi di dunia ini. Ada waktunya datang, ada pula waktunya pergi. Hidup memang tidak selamanya seindah yang kubayangkan, yang kadang membuatku merasa menjadi orang yang tidak bahagia dan paling malang di dunia. Namun aku sadar, tidak ada kebahagiaan yang abadi, dan tidak ada kekecewaan yang abadi!

Dan kini aku harus memberi dosis saat-saat menyenangkan yang amat panjang bagi diriku sendiri. Dengan begitu, aku tak akan pernah takut lagi dengan kesendirian lagi. Aku harus memberi kegembiraan ekstra bagi diriku sendiri, dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif yang menggembirakan.

Meski aku telah kehilangan cinta, aku tak takut akan cinta, karena dengan takut akan cinta berarti aku takut akan kehidupan. Bukankah yang takut akan kehidupan sudah tiga perempat mati? Bagiku, tidaklah pernah terlalu terlambat untuk mulai mempercayai cinta kembali. Sebab cinta adalah sesuatu yang membuat perjalanan ini layak dilakukan.

Meski tak ada yang abadi, aku harus tetap bersyukur, karena hidup adalah sebuah anugerah. Aku harus mengahadapi apapun yang ada di depan mata, karena hidup adalah sebuah tantangan. Aku harus menjalani kisah ini, karena hidup adalah sebuah cerita. Aku harus tetap sadar, karena hidup adalah sebuah mimpi. Dan aku harus menikmati karunia yang telah diberikan Tuhan padaku, karena hidup adalah cinta!

Terima kasih, Ariel…. Kau telah menyadarkan aku, meski kau telah membuka luka lama. Dan seperti yang tengah kau hadapi saat ini, mungkin kebahagiaan yang pernah kau raih kini mulai beranjak pergi meninggalkanmu, karena memang tak ada kebahagiaan yang abadi. Namun pintu taubat selalu terbuka untukmu, dan pintu kebahagiaan juga akan selalu terbuka untukmu, untukku, dan untuk kita semua, selama kita ingat Tuhan….

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda