Waktu yang berfaidah
Oleh: Ustadz Nahar Bustanul Arifin
Semoga di hari kedelapan di bulan Ramadhan ini kita tetap bisa menjalankan ibadah puasa.
Baca sholawat Mawaddah
Nabi Saw memerintahkan kita untuk meninggalkan sesuatu yang meragukan.
Dalam kehidupan ini kita selalu menghadapi berbagai pilihan, harus dilakukan atau tidak.
Di HP banyak grup, banyak yang nge-share info musibah, ini benar atau tidak, agar jangan dishare. Benar atau tidaknya informasi, jangan langsung dishare.
Informasi Indomaret Gift, Alfamart Gift, lalu isi formulir sampai akhirnya tertipu.
Info SMS berhadiah juga jangan sampai tertipu. Yang main HP, hati-hati, jangan nge-share informasi yang belum tentu benarnya, sebab bisa jadi itu berita hoax.
Terkait dengan makanan, jika meragukan, itu termasuk subhat.
Jika jalan-jalan melihat mangga jatuh, atau nemu mangga seplastik lalu dimakan, itu jadi subhat.
Ketika dalam hal subhat, jika kita hati-hati, itu namanya "waro", orangnya namanya "wira'i". Ada 2 sifat waro:
1. Wira'i tingkat dasar, yaitu menghindari sesuatu yang haram. Contoh: seorang perempuan hamil yang sedang ngidam mangga, melihat mangga tetangga
2. Wira'i Sholihin, atau wira'i-nya orang sholeh, yaitu: menghindari hal-hal yang subhat. Contoh: ada pedagang kain (Hasan Bisri) yang mau kulakan kain di pasar, lalu dengar berita harga kain naik, datang ke pasar, lalu nanya ke penjual, dan di nota harganya tetap, tidak naik, lalu Hasan Bisri menanyakan harganya benar apa tidak. Penjual mengikhlaskan, tapi Hasan Bisri tidak mau, karena takut itu subhat.
3. Waro'ul Muttaqin: waro'nya orang bertaqwa, yaitu menghindari hal-hal yang halal tapi jadi mudhorot dan membuat hatinya hasad.
Contoh, orang yang tidak mau membuka status WA karena takut hatinya sakit/iri.
Contoh lagi, ibu2 belanja sayur sambil ghibah, kita menghindari ngumpul karena takut ikutan ngerumpi.
4. Waro'ush shiddiqin: waro'nya orang yang menghindari hal-hal yang sia-sia dengan tujuan lillahi ta'ala.
Hadits: Sebagian kebaikan seorang muslim adalah salah satunya menghindari hal-hal yang tidak ada faidahnya.
Sifat kehidupan di dunia itu bosan dan lelah.
Piknik terus juga bosan dan lelah.
Makan enak terus juga bosan.
Main HP terus juga lama-lama bosan dan lelah, yang akhirnya jadi tidak sehat.
Tidur terus juga bosan dan lelah.
Sholat terus juga bosan dan lelah.
Nikmatnya sholat terus jika ada jeda, misal dari dhuhur jeda asar, dari magrib jeda isya.
Membaca Al-Qur'an lebih berfaidah daripada nonton TV terus atau dijeda dengan sholat Dhuha. Karena itu jangan melakukan sesuatu yang berlebih-lebihan, karena ujung-ujungnya bosan dan lelah.
Ada kisah sahabat (Ibnul hakim) yang lebih suka makan roti dicemplungin ke air biar menelannya cepat (menghargai waktu).
Imam Nawawi, menghadiri majlis ta'lim sehari full sampai 12 majlis ta'lim.
Imam Ath-Thobari sehari menulis kitab tafsir sehari berlembar-lembar, menggunakan waktu sebaik mungkin.
Kualitas penggunaan waktu para ulama benar-benar luar biasa, berbeda sekali dengan orang-orang di zaman sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda