🕌 WAKTU YANG BERFAIDAH
Oleh: Nahar Bustanul Arifin
Semoga di hari kedelapan bulan Ramadhan ini, kita semua — termasuk Mba Puput — tetap diberi kekuatan menjalankan ibadah puasa dengan hati yang tenang dan penuh keberkahan. Aamiin.
Mari kita awali dengan membaca shalawat Mawaddah, semoga cinta kita kepada Rasulullah ï·º semakin bertambah.
1️⃣ Tinggalkan yang Meragukan
Rasulullah ï·º bersabda:
“Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu.”
Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu dihadapkan pada pilihan: dilakukan atau tidak? dibagikan atau tidak? dipercaya atau tidak?
📱 Bijak Bermedia Sosial
Di HP kita banyak grup. Banyak informasi musibah, promo hadiah, kabar darurat, link undian:
“Indomaret Gift”
“Alfamart Gift”
SMS berhadiah
Isi formulir untuk klaim hadiah
Jika kebenarannya belum jelas — jangan langsung di-share.
Karena bisa jadi itu hoaks, bahkan penipuan.
Berhati-hati dalam menyebarkan informasi adalah bagian dari menjaga diri dari dosa dan mudarat.
2️⃣ Konsep Wara’ (Wira’i)
Ketika kita meninggalkan sesuatu karena takut jatuh pada dosa atau syubhat, itulah sifat wara’. Orangnya disebut wira’i.
Tingkatan Wara’
1. Wira’i Tingkat Dasar
Menghindari yang jelas-jelas haram.
Contoh:
Seorang ibu hamil yang sedang ngidam mangga, melihat mangga di pohon tetangga. Meski ingin sekali, ia tidak mengambilnya tanpa izin. Itu wira’i tingkat dasar — meninggalkan yang haram.
2. Wira’i Sholihin (Wira’inya Orang Sholeh)
Menghindari hal-hal yang syubhat (meragukan).
Kisah seorang pedagang kain yang sangat hati-hati dalam transaksi. Ia khawatir jika harga yang diberikan terlalu murah karena kesalahan penjual. Meski penjual mengikhlaskan, ia tetap memastikan agar tidak ada unsur yang meragukan.
Sikap ini menunjukkan kehati-hatian luar biasa dalam menjaga keberkahan harta.
3. Waro’ul Muttaqin
Menghindari sesuatu yang halal tetapi bisa membawa mudarat hati.
Contoh:
Tidak membuka status WA karena takut timbul iri atau hasad.
Menghindari kumpulan yang berpotensi ghibah.
Tidak ikut obrolan yang bisa menyeret pada dosa.
Ini bentuk penjagaan hati.
4. Waro’ush Shiddiqin
Menghindari hal-hal yang sia-sia semata-mata karena Allah.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.”
Inilah tingkatan tertinggi: meninggalkan hal mubah yang tidak berfaidah demi menjaga waktu dan hati.
3️⃣ Dunia Itu Membosankan Jika Berlebihan
Sifat dunia adalah membuat manusia bosan dan lelah jika dilakukan berlebihan:
Piknik terus → bosan
Makan enak terus → bosan
Main HP terus → lelah dan tidak sehat
Tidur terus → malas
Bahkan ibadah tanpa jeda → bisa terasa berat
Shalat terasa nikmat karena ada jeda:
Dzuhur → jeda → Ashar
Maghrib → jeda → Isya
Semua butuh keseimbangan.
Karena itu, jangan berlebih-lebihan. Islam adalah agama yang moderat.
4️⃣ Menghargai Waktu Ala Ulama
📖 Imam Nawawi
Beliau menghadiri hingga 12 majelis ilmu dalam sehari. Waktunya hampir seluruhnya diisi dengan belajar dan mengajar.
📚 Imam Ath-Thabari
Setiap hari menulis tafsir sekitar 4 lembar secara konsisten. Dari kedisiplinan itu lahirlah karya besar Tafsir Ath-Thabari yang masih dikaji hingga sekarang.
Para ulama benar-benar memanfaatkan waktu.
Berbeda jauh dengan kebiasaan manusia modern yang waktunya banyak tersita untuk hal-hal tidak penting.
🌙 Penutup: Ramadhan dan Waktu Berfaidah
Ramadhan adalah madrasah waktu.
Setiap detik bernilai pahala.
Pertanyaannya:
Apakah waktu kita lebih banyak untuk:
Scroll HP?
Gosip?
Keluhan?
Atau Al-Qur’an, dzikir, dan amal shalih?
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang:
Meninggalkan yang meragukan
Menjaga hati dari syubhat
Menghindari yang sia-sia
Mengisi waktu dengan amal berfaidah
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda