11 Maret 2026

Kunci Kebaikan

Kuliah Subuh 2-3-2026

Materi Kajian: Kunci Kebaikan
Oleh: Ustadz Fadhil

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan sehingga kita masih dapat menjalankan ibadah kepada-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya, serta kepada kita semua selaku umatnya hingga akhir zaman.

Hadits tentang Kunci Kebaikan

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi kunci-kunci kebaikan dan penutup keburukan, dan di antara manusia ada yang menjadi kunci-kunci keburukan dan penutup kebaikan. Maka beruntunglah orang yang Allah jadikan sebagai kunci kebaikan melalui tangannya, dan celakalah orang yang Allah jadikan sebagai kunci keburukan melalui tangannya.”
(HR. Ibnu Majah)

Hadits ini mengajarkan bahwa di dunia ini ada orang yang Allah jadikan sebagai pembuka pintu-pintu kebaikan, dan ada pula yang justru menjadi pembuka pintu keburukan. Maka beruntunglah orang yang dijadikan Allah sebagai jalan datangnya kebaikan bagi orang lain.

Dunia adalah Tempat Ujian

Apa pun yang kita alami di dunia ini pada hakikatnya adalah ujian dari Allah SWT. Dalam kehidupan ini selalu ada dua pilihan yang harus kita hadapi, yaitu halal dan haram, baik dan buruk, taat dan maksiat.

Orang yang Allah mudahkan melakukan kebaikan hendaknya tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi juga mengajak orang lain kepada kebaikan. Ia menjadi sebab terbukanya pintu-pintu kebaikan di lingkungan sekitarnya.

Memahami Halal dan Haram

Halal adalah sesuatu yang diperbolehkan dan diridhai oleh Allah SWT, sedangkan haram adalah sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT.

Sebagai contoh:
Daging ayam pada dasarnya halal. Namun jika seseorang membelinya dengan uang yang haram — misalnya dari hasil mencuri, korupsi, atau penipuan — maka makanan tersebut menjadi tidak berkah bahkan haram untuk dikonsumsi.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam, bukan hanya bendanya yang diperhatikan, tetapi juga cara mendapatkannya.

Hikmah Diciptakannya Surga dan Neraka
Allah SWT menciptakan surga dan neraka sebagai pengingat bagi manusia agar berhati-hati dalam menjalani kehidupan.

Surga adalah balasan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh.
Neraka adalah balasan bagi orang-orang yang ingkar dan gemar melakukan kemaksiatan.

Dengan adanya surga dan neraka, manusia diingatkan bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan.

Hidup adalah Pilihan

Dalam kehidupan ini, manusia selalu dihadapkan pada pilihan antara kebaikan dan keburukan.

Perumpamaan surga dan neraka bisa diibaratkan seperti sehat dan sakit. Ketika seseorang sedang sehat, ia mudah melakukan berbagai ibadah seperti shalat, puasa, atau membaca Al-Qur’an. Namun ketika sakit, banyak ibadah yang terasa berat untuk dilakukan.
Karena itu, nikmat sehat harus disyukuri dengan memperbanyak amal kebaikan.

Kisah Fir’aun

Fir’aun adalah contoh manusia yang sangat sombong. Ia bahkan sampai mengaku sebagai tuhan. Sebagian ulama menjelaskan bahwa Fir’aun jarang merasakan sakit sehingga ia merasa sangat kuat dan tidak membutuhkan siapa pun. Kesombongan inilah yang akhirnya menjerumuskannya pada kebinasaan.

Dari sini kita belajar bahwa nikmat sehat, kekuatan, dan kekuasaan harus disertai dengan rasa syukur, bukan kesombongan.
Kisah Orang yang Membunuh 100 Orang.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, diceritakan tentang seorang laki-laki yang telah membunuh 99 orang. Ia kemudian menyesal dan ingin bertaubat.

Ia bertanya kepada seseorang yang dianggap ahli ibadah apakah taubatnya masih diterima. Orang tersebut mengatakan bahwa taubatnya tidak diterima, sehingga ia membunuhnya juga hingga genap 100 orang.

Kemudian ia bertanya kepada seorang alim (orang yang benar-benar berilmu). Orang alim itu berkata bahwa pintu taubat masih terbuka, namun ia disarankan untuk berhijrah ke negeri yang penduduknya saleh, agar bisa hidup di lingkungan yang baik.

Orang itu pun berangkat menuju tempat tersebut. Namun di tengah perjalanan ia meninggal dunia. Para malaikat berselisih apakah ia termasuk penghuni surga atau neraka. Lalu Allah memerintahkan agar diukur jarak antara tempat asalnya dan tempat yang ia tuju. Ternyata ia lebih dekat kepada negeri orang-orang saleh, sehingga akhirnya ia dimasukkan ke dalam golongan orang yang mendapatkan rahmat Allah.

Kisah ini mengajarkan bahwa taubat selalu terbuka selama manusia masih hidup, dan lingkungan yang baik sangat mempengaruhi seseorang untuk berubah menjadi lebih baik.

Membuka Pintu-Pintu Kebaikan

Sebagai seorang muslim, kita dianjurkan untuk membuka pintu-pintu kebaikan seluas-luasnya.

Banyak amal yang termasuk sedekah, di antaranya:
- Bersedekah dengan harta
- Mendamaikan orang yang sedang berselisih
- Memberikan nasihat yang baik
- Menyingkirkan duri atau batu dari jalan
- Membantu orang yang membutuhkan

Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap kebaikan adalah sedekah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Menjadi Ahli Kebaikan

Orang yang terbiasa melakukan kebaikan di dunia akan mudah melakukan kebaikan lainnya. Ia akan menjadi ahli kebaikan, dan insyaAllah termasuk golongan ahli surga.

Sebaliknya, orang yang terbiasa melakukan keburukan akan semakin mudah terjerumus dalam keburukan lainnya hingga menjadi ahli keburukan, yang dikhawatirkan menjadi penghuni neraka.

Karena itu, marilah kita berusaha menjadi pembuka pintu kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang gemar berbuat kebaikan dan dimasukkan ke dalam golongan ahli surga.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Semoga bermanfaat.

Amalan di Malam Lailatul Qadar

Kuliah Subuh 10-3-2026

Amalan di Malam Lailatul Qadar
Oleh: Ustadz Sabar Maulana

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberi kesempatan untuk menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan, terdapat satu malam yang sangat istimewa yang disebut Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 3)

Para ulama menjelaskan bahwa Lailatul Qadar biasanya terjadi pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan seperti malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29. Banyak ulama berpendapat malam ke-27 paling besar kemungkinannya, namun sebenarnya waktunya dirahasiakan agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah di seluruh 10 malam terakhir.

Amalan Rasulullah SAW di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Dalam sebuah hadits disebutkan:
“Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan, Rasulullah SAW menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Beberapa amalan yang dianjurkan antara lain:

1. I’tikaf
I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW selalu melakukan i’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan untuk mencari Lailatul Qadar.
Syarat utama i’tikaf adalah dilaksanakan di masjid, bukan di rumah atau di musholla kecil yang tidak digunakan untuk shalat berjamaah lima waktu.

2. Menghidupkan malam dengan sholat malam
Amalan yang sangat dianjurkan adalah qiyamul lail, seperti:
- Sholat Tahajud
- Sholat Witir
- Sholat Tasbih
- Sholat sunnah lainnya

Sebagian ulama menganjurkan memperbanyak sholat tasbih, terutama pada malam-malam ganjil seperti tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan.

3. Memperbanyak doa dan istighfar
Rasulullah SAW mengajarkan doa khusus ketika mencari Lailatul Qadar:
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni
“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
(HR. Tirmidzi)

4. Memperbanyak membaca Al-Qur’an
Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Oleh karena itu, memperbanyak membaca, mentadabburi, dan mengamalkan Al-Qur’an sangat dianjurkan.

Hikmah Dirahasiakannya Lailatul Qadar
Umur umat Nabi Muhammad SAW relatif lebih pendek dibanding umat terdahulu, rata-rata sekitar 60–70 tahun.

Rasulullah SAW bersabda:
“Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun, dan sedikit yang melewati itu.”
(HR. Tirmidzi)

Karena umur yang pendek, Allah memberikan Lailatul Qadar. Satu malam ibadah di malam itu lebih baik daripada ibadah selama 1000 bulan (sekitar 83 tahun).

Keutamaan Istiqomah dalam Ibadah
Seorang muslim dianjurkan untuk istiqomah, yaitu terus-menerus dalam melakukan kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Orang yang istiqomah dalam kebaikan akan mendapatkan pertolongan dan perlindungan dari Allah SWT.

Keharmonisan dalam Rumah Tangga
Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga keharmonisan rumah tangga.

Rasulullah SAW bersabda:
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang sujud kepada orang lain, maka aku akan perintahkan seorang istri sujud kepada suaminya karena besarnya hak suami atas istrinya.”
(HR. Tirmidzi)

Namun hadits ini bukan berarti istri benar-benar harus sujud kepada suami, melainkan untuk menunjukkan besarnya kewajiban menghormati suami dalam rumah tangga.

Kunci seorang wanita untuk masuk surga adalah:
- Menjaga shalat
- Berpuasa di bulan Ramadhan
- Menjaga kehormatan diri
- Taat kepada suami dalam kebaikan

Ciri-ciri Istri Shalihah

Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik wanita adalah yang apabila dipandang menyenangkan, apabila diperintah ia taat, dan apabila suami tidak ada ia menjaga dirinya dan harta suaminya.”
(HR. Abu Dawud)

Beberapa cirinya antara lain:
- Jika dipandang menyejukkan hati suami.
- Menjaga kehormatan diri dan pandangannya.
- Taat kepada suami dalam perkara yang baik.
- Menjaga amanah ketika suami tidak berada di rumah.

Dalam hadits juga disebutkan bahwa jika seorang istri menolak ajakan suami untuk berhubungan tanpa alasan yang dibenarkan, maka malaikat melaknatnya hingga pagi. (HR. Bukhari dan Muslim)

Berbuat Baik kepada Tetangga
Rasulullah SAW juga mengajarkan agar kita selalu berbuat baik kepada tetangga.

Beliau bersabda:
“Jibril terus-menerus menasihatiku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira tetangga akan mendapat bagian warisan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hal ini menunjukkan bahwa tetangga adalah orang terdekat yang harus kita jaga hubungan baiknya.

Penutup

Mari kita manfaatkan 10 hari terakhir Ramadhan dengan memperbanyak ibadah, karena kita tidak tahu apakah kita masih akan bertemu Ramadhan tahun depan.

Perbanyak:
- Sholat malam
- Membaca Al-Qur’an
- Berdoa dan beristighfar
- Bersedekah
- Memperbaiki akhlak kepada keluarga dan tetangga

Semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar dan menerima seluruh amal ibadah kita.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Orang yang Penyayang

Kuliah Subuh 11-3-2026


Orang yang Penyayang
Oleh Ustadz Subhan

Alhamdulillah pada hari ke-21 di bulan Ramadhan ini, semoga kita semua tetap diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk istiqamah menjalankan ibadah puasa dan berbagai amal kebaikan lainnya.

Salah satu sifat yang sangat dicintai oleh Allah SWT adalah sifat penyayang kepada sesama. Orang yang memiliki sifat kasih sayang kepada makhluk Allah, maka Allah pun akan melimpahkan kasih sayang-Nya kepada orang tersebut.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Sayangilah yang ada di bumi, maka yang ada di langit akan menyayangi kalian.”
(HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, dalam kehidupan kita harus menjaga hubungan dengan sesama manusia atau yang disebut hablum minannas (hubungan baik dengan manusia). Islam tidak hanya mengajarkan kita untuk rajin beribadah kepada Allah, tetapi juga mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada sesama.

Kadang kita melihat ada orang yang dikenal sebagai ahli ibadah, tetapi lisannya sering menyakiti hati orang lain, merendahkan, atau menyombongkan diri. Sementara ada pula orang yang mungkin banyak melakukan dosa (al-fajir), namun ia memiliki hati yang lembut, tidak menyakiti orang lain, dan selalu memohon ampun kepada Allah.

Bukan berarti kita membenarkan perbuatan dosa, namun hal ini mengingatkan kita bahwa ibadah tidak boleh menjadikan kita sombong. Ibadah seharusnya membuat kita semakin rendah hati, semakin lembut kepada sesama, dan semakin takut kepada Allah.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.”
(HR. Muslim)

Karena itu, kita harus selalu memperbaiki niat dalam beramal. Semua ibadah yang kita lakukan harus benar-benar karena Allah SWT, bukan untuk dipuji, bukan untuk merasa lebih baik dari orang lain.

Kita juga harus selalu yakin akan luasnya rahmat Allah SWT. Jangan sampai kita berputus asa dari ampunan-Nya.

Allah SWT berfirman:
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Saat ini kita telah memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan, yaitu waktu yang sangat istimewa untuk mencari rahmat dan ampunan Allah. Maka hendaknya kita semakin semangat dalam beribadah, seperti memperbanyak qiyamullail (shalat malam), membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.

Selain itu, kita juga harus menumbuhkan sifat kasih sayang dan mudah memaafkan kepada sesama. Memaafkan bukan berarti selalu mengakui kesalahan kita, tetapi menunjukkan bahwa hati kita lebih memilih kedamaian daripada menyimpan dendam.

Orang yang penyayang akan hidup dengan hati yang lapang, dan insyaAllah akan mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT.

Semoga Allah SWT menjadikan kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang memiliki hati yang lembut, penuh kasih sayang, dan mendapatkan rahmat serta ampunan-Nya di bulan Ramadhan ini.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Menjaga Adab

Kuliah Subuh 12-3-2026

Menjaga Adab

Oleh: Ustadz Nahar Bustanul Arifin

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, nikmat Islam, serta kesempatan untuk berkumpul dalam majelis ilmu. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat, serta seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi adab dan akhlak. Bahkan para ulama mengatakan bahwa adab adalah keindahan dalam kehidupan seorang muslim. Dengan adab, seseorang akan dihormati, dicintai, dan hidupnya menjadi lebih berkah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits ini kita mengetahui beberapa sifat seorang muslim yang harus dijaga, yaitu:

1. Berkata yang Baik atau Diam

Seorang muslim hendaknya menjaga lisannya. Jika yang akan diucapkan adalah kebaikan maka sampaikan, namun jika tidak, maka lebih baik diam. Karena banyak sekali dosa yang berasal dari lisan, seperti ghibah, fitnah, dan perkataan yang menyakiti orang lain.

2. Memuliakan Tetangga

Tetangga memiliki hak yang besar dalam Islam. Bahkan malaikat Jibril terus berwasiat kepada Nabi Muhammad SAW tentang tetangga sampai Nabi mengira tetangga akan mendapat hak waris.

Bentuk memuliakan tetangga antara lain:

- Tidak mengganggunya

- Menolong ketika membutuhkan

- Menjaga perasaan dan kenyamanannya

3. Memuliakan Tamu

Memuliakan tamu adalah bagian dari keimanan. Ketika tamu datang, sambutlah dengan ramah, hidangkan yang kita mampu, dan perlakukan dengan baik.

Adab Bertamu dalam Islam

Islam juga mengajarkan adab ketika kita berkunjung ke rumah orang lain, di antaranya:

Tidak bertamu pada waktu istirahat, seperti larut malam atau waktu siang saat orang biasanya beristirahat.

Memberi kabar terlebih dahulu, agar tuan rumah dapat mempersiapkan diri.

Tidak berlama-lama jika tuan rumah terlihat sibuk atau hendak pergi.

Jika tuan rumah terlihat mengantuk atau lelah, maka segera pamit dengan baik.

Dengan menjaga adab bertamu, hubungan persaudaraan akan tetap harmonis.

Menahan Amarah

Ada seorang sahabat yang meminta wasiat kepada Nabi Muhammad SAW. Maka Nabi bersabda:

“Laa taghdhob.” (Jangan marah).

(HR. Bukhari)

Sahabat itu mengulang pertanyaannya beberapa kali, namun Rasulullah tetap menjawab:

“Jangan marah.”

Yang dimaksud adalah marah yang tidak tepat atau berlebihan.

Secara umum, marah terbagi menjadi tiga:

1. Marah yang Seharusnya Ada, tapi Tidak Dilakukan

Contohnya ketika agama dihina, kebenaran diinjak-injak, atau kemungkaran terjadi tetapi seseorang malah diam saja. Ini adalah sikap yang tidak tepat.

2. Marah yang Berlebihan

Segala hal kecil ditanggapi dengan kemarahan. Misalnya hanya karena air minum sedikit tumpah mengenai baju, seseorang langsung marah besar. Ini adalah marah yang tercela.

3. Marah yang Terukur

Yaitu marah yang dikendalikan dan tidak berlebihan. Ini adalah marah yang dibolehkan.

Allah SWT memuji orang yang mampu menahan amarah dalam firman-Nya:

“Yaitu orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain.”

(QS. Ali Imran: 134)

Inilah ciri orang yang bertakwa.

Adab dalam Memperlakukan Makhluk Hidup

Islam juga mengajarkan adab bahkan kepada hewan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik dalam segala hal. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan hewan sembelihannya.”

(HR. Muslim)

Contohnya:

Jika membunuh ular yang berbahaya, cukup sekali bunuh, jangan disiksa.

Ketika menyembelih hewan, pisau harus tajam agar hewan tidak lama merasakan sakit.

Dalam penyembelihan, ada empat saluran di leher yang harus terputus, yaitu:

1. Saluran makanan

2. Saluran pernapasan

3. Dua pembuluh darah utama

Semua ini dilakukan agar proses penyembelihan cepat dan tidak menyiksa hewan.

Adab adalah Keindahan

Adab itu adalah estetika atau keindahan dalam hidup.

Sebagaimana:

Tentara yang akan berperang membawa senjata yang sudah siap, bersih, dan lengkap.

Petani yang ke sawah membawa cangkul dan arit yang sudah diasah.

Begitu juga ketika menyembelih hewan, pisau harus sudah diasah dan dipersiapkan dengan baik, agar hewan tidak terlalu lama merasakan sakit.

Darah yang menempel di pisau pun dibersihkan dengan kain atau serbet, bukan dilap pada tubuh hewan qurban. Itu bagian dari adab dalam Islam.

Penutup

Hadirin yang dirahmati Allah,

Adab adalah cerminan keindahan Islam. Dengan menjaga adab dalam perkataan, dalam bertamu, dalam menahan amarah, bahkan dalam memperlakukan hewan, kita menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang penuh rahmat.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang berakhlak mulia dan beradab dalam setiap keadaan.

Wallahu a’lam bishawab.

Mohon maaf apabila dalam penyampaian kajian ini terdapat kekurangan dan kesalahan.