MATERI KULIAH SUBUH 18-10-2026
10 Perkara yang Dicari agar Selamat dari Neraka dan Masuk Surga
Oleh: Ustadz Mukhlisin
Pendahuluan
Setiap muslim tentu mendambakan keselamatan dari api neraka dan memperoleh surga Allah SWT. Untuk meraihnya, kita perlu memperbaiki iman, meluruskan niat, mengendalikan hawa nafsu, serta memperbanyak amal saleh.
Dalam kehidupan sehari-hari, ada perkara yang hukumnya mubah atau diperbolehkan. Namun, sesuatu yang boleh dilakukan bukan berarti harus dituruti. Kita tetap perlu mempertimbangkan kemampuan, manfaat, niat, dan dampaknya terhadap kehidupan serta ibadah kita.
Berikut ini beberapa poin kajian yang telah dicatat.
1. Meninggalkan Keinginan yang Mengikuti Hawa Nafsu
Salah satu perkara yang perlu kita pelajari adalah bagaimana meninggalkan keinginan yang hanya didorong oleh hawa nafsu.
Sering kali manusia mengalami kesulitan bukan semata-mata karena keadaan, tetapi juga karena keinginannya sendiri yang tidak terkendali. Kita ingin memiliki sesuatu yang sebenarnya belum mampu kita beli. Kita ingin mengikuti gaya hidup orang lain, padahal kondisi ekonomi kita berbeda.
Ketika keinginan tidak terpenuhi, kita mudah mengeluh, kecewa, bahkan menyalahkan orang lain. Padahal, kita perlu belajar melakukan introspeksi atau muhasabah diri.
Jangan sampai kita memaksakan keinginan hingga mengorbankan kebutuhan pokok, ketenangan hidup, dan kewajiban yang lebih penting.
Contohnya adalah memaksakan diri berangkat umrah dengan dana talangan atau pembiayaan yang memberatkan, padahal kondisi keuangan belum memungkinkan. Ibadah seharusnya dilakukan dengan niat yang lurus dan perencanaan yang bijaksana, bukan sekadar mengikuti keinginan atau gengsi.
Haji merupakan kewajiban bagi muslim yang mampu, sedangkan umrah memiliki ketentuan hukum yang diperselisihkan oleh para ulama. Karena itu, kemampuan finansial, kewajiban yang belum terpenuhi, serta tanggungan keluarga perlu diperhatikan sebelum merencanakan perjalanan ibadah.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.”
(QS. Shad: 26, bagian akhir ayat)
Hikmah yang dapat diambil:
- Belajar membedakan kebutuhan dan keinginan.
- Tidak memaksakan diri demi mengikuti gaya hidup orang lain.
- Membiasakan muhasabah sebelum menyalahkan orang lain.
- Mengutamakan kewajiban daripada keinginan yang belum mendesak.
- Menjalankan ibadah dengan ikhlas, sesuai kemampuan, dan tidak memberatkan diri secara berlebihan.
Intinya, tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki dan tidak semua yang bisa kita lakukan harus kita lakukan. Terkadang, meninggalkan sesuatu yang kita inginkan justru menjadi jalan menuju ketenangan dan ketaatan kepada Allah SWT.
2. Mencintai Allah dengan Tidak Diperbudak oleh Dunia
Perkara berikutnya adalah bagaimana kita mencintai Allah SWT dengan tidak menjadikan urusan dunia sebagai sesuatu yang menguasai hati.
Mencintai Allah bukan berarti kita harus meninggalkan pekerjaan, keluarga, atau tanggung jawab duniawi. Islam justru mengajarkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Yang perlu ditinggalkan adalah keterikatan berlebihan terhadap dunia hingga melalaikan Allah dan kewajiban kita.
Ketika berdzikir, membaca Al-Qur'an, berdoa, atau melaksanakan salat, hendaknya kita berusaha menghadirkan hati dan pikiran kepada Allah SWT. Jangan sampai lisan kita menyebut nama Allah, tetapi hati terus-menerus disibukkan oleh harta, pekerjaan, pujian manusia, dan berbagai keinginan duniawi.
Allah SWT berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra'd: 28, bagian akhir ayat)
Beberapa amalan yang dapat kita biasakan antara lain:
- Dzikrullah, yaitu mengingat Allah melalui zikir dan doa.
- Sedekah, yaitu berbagi rezeki sesuai kemampuan.
- Puasa sunnah, apabila mampu dan tidak membahayakan kesehatan.
- Tahlil, mengucapkan Laa ilaaha illallah.
- Tahmid, mengucapkan Alhamdulillah sebagai ungkapan pujian dan syukur kepada Allah.
Amalan-amalan tersebut merupakan sarana mendekatkan diri kepada Allah. Nilai pahalanya bergantung pada keikhlasan, kesesuaian dengan tuntunan agama, dan penerimaan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
“Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman: Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahil 'azhim.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan zikir yang dapat diamalkan oleh siapa pun, tanpa harus memiliki kekayaan atau kesempatan melakukan perjalanan ibadah.
Hikmah yang dapat diambil:
- Kekayaan bukan satu-satunya jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
- Orang yang memiliki keterbatasan ekonomi tetap dapat memperbanyak amal saleh.
- Dunia boleh berada di tangan kita, tetapi jangan sampai menguasai hati kita.
- Jangan menunda ibadah hanya karena merasa belum memiliki banyak harta.
- Biasakan berzikir dengan hati yang berusaha hadir, bukan sekadar menggerakkan lisan.
Kisah dan Pelajaran: Tidak Harus Kaya untuk Memperbanyak Pahala
Dalam hadis sahih riwayat Muslim, dikisahkan bahwa sejumlah sahabat yang miskin merasa sedih karena orang-orang kaya dapat bersedekah dengan harta mereka. Mereka merasa orang kaya memiliki kesempatan lebih besar untuk memperoleh pahala.
Rasulullah SAW kemudian menjelaskan bahwa mereka juga dapat bersedekah melalui berbagai amalan, seperti membaca tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir, serta melakukan amar makruf nahi mungkar.
Dengan demikian, kesempatan beramal saleh tidak hanya dimiliki oleh orang kaya. Setiap orang mempunyai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah sesuai kemampuan dan keadaannya.
Pelajaran ini mengingatkan kita agar tidak berputus asa atau merasa Allah tidak adil hanya karena belum mampu berhaji, berumrah, atau bersedekah dalam jumlah besar.
Kita juga tidak perlu mengasingkan diri dari masyarakat demi beribadah. Kita dapat tetap bekerja, berkeluarga, dan berinteraksi dengan orang lain sambil menjaga zikir, ibadah, dan akhlak.
Inti pelajarannya: Jangan iri terhadap kelebihan duniawi orang lain hingga melupakan nikmat dan kesempatan beramal yang Allah berikan kepada kita. Setiap orang memiliki kesempatan untuk berbuat baik.
Penutup dan Muhasabah
Dua perkara di atas mengajak kita untuk memeriksa kembali kehidupan masing-masing.
- Apakah selama ini kita lebih sering mengikuti keinginan daripada mempertimbangkan kemampuan?
- Apakah kita memaksakan sesuatu demi penilaian manusia?
- Apakah hati kita terlalu sibuk memikirkan dunia hingga lalai mengingat Allah?
- Apakah kita pernah merasa rendah diri karena belum mampu melakukan ibadah tertentu yang membutuhkan biaya besar?
- Sudahkah kita memanfaatkan kesempatan beramal saleh yang dapat dilakukan setiap hari?
Mari belajar mengendalikan hawa nafsu, meluruskan niat, dan memperbanyak amal sesuai kemampuan. Jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita lupa mempersiapkan bekal untuk akhirat.
Semoga Allah SWT membimbing kita agar mampu menjalani kehidupan dengan seimbang, istiqamah dalam beribadah, dan memperoleh keselamatan dari api neraka serta rahmat-Nya untuk masuk ke dalam surga.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda