Tampilkan postingan dengan label KECEWA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KECEWA. Tampilkan semua postingan

07 Maret 2011

SIKAPI KEGAGALAN DENGAN HATI DAN PIKIRAN YANG JERNIH


oleh Bayu Insani Sani pada 08 Maret 2011 jam 10:48
                             SIKAPI KEGAGALAN DENGAN HATI & PIKIRAN YANG JERNIH
                                                  Oleh : Bayu Insani

          Gagal.  Semua orang tahu, dan mengenal kalimat ini. Sebuah kalimat yang sangat sederhana, karena  hanya  memiliki lima huruf saja.  Namun entah mengapa, kalimat ini memiliki makna yang terkadang  sulit untuk diterima oleh akal dan hati manusia, sehingga sering dibenci oleh masyarakat pada umumnya. Termasuk oleh saya dahulu.
          Dan  saya yakin, diantara banyaknya manusia yang hidup di dunia ini, mereka pasti pernah memiliki pengalaman yang satu ini, yaitu kecewa atau gagal. Ya, karena kita tahu, dan faham, perjalanan hidup manusia, memang tak selamanya lurus dan mulus.  Namun terkadang penuh dengan kerikil yang tajam ,yang siap menusuknya. Dan jika kita menyerah atau putus asa, maka kita termasuk orang yang gagal untuk sukses.
           Gagal menurut hemat saya adalah, hal yang sangat pahit untuk dirasakan, namun jika kita mampu menyikapi makna dari kegagalan tersebut dengan baik,  maka gagal adalah tangga untuk meraih kesuksesan. Karena  sudah  menjadi fitrah kehidupan pula,  suka dan suka selalu beriringan, Sang Maha Pencipta, telah adil membagi rata,  dalam apapun, segalanya berpasang-pasangan.
             Seorang ustadz pernah berkata pada saya, serugi-ruginya manusia adalah, orang yang belum pernah gagal atau kehilangan. Mengapa demikian? Itulah pertanyaan saya kala itu. “Karena cobaan itu, terkadang mampu mendewasan pikiran seseorang. Dan kehilangan pula,  mampu membuat manusia  muhasabah diri, (Intropeksi) bahwa tiada yang kekal di dunia ini, kecuali Allah semata.
            Kembali pada topic. Dulu, saya sering merasakan hal ini. Baik kecewa karena disebabkan oleh keteledoran diri, maupun kecewa karena orang lain. Mungkin sudah tak terhitung lagi. Namun begitu, saya merasa, jika dibandingkan dengan kekecewaan, pastinya, lebih banyak kebahagian yang saya alami. Alhamdulillah J
            Jika kita mendengar kabar yang sangat menggembirakan, tentu hati kita berbunga-bunga bukan?. Namun bagaimana jika kabar gembira itu berubah dalam sekejap mata, bukankah mendadak pula hati dan perasaan kita kecewa? Dan hal seperti ini, pernah saya alami.
             Dulu, sewaktu saya masih baru mengenal dunia kepenulisan, dengan penuh percaya diri dan semangat, saya mengirim  hasil tulisan-tulisan saya ke berbagai penerbit. Lama, hingga berbulan-bulan, dengan sabar pula,  saya menanti jawaban dari mereka. Namun , apa jawaban dari mereka.  Maaf, naskah Anda belum bisa kami terbitkan, karena bla, bla, bla. Tiada satu penerbitpun yang mau menerbitkan naskah saya. Sebagai manusia yang normal, terus terang saya sangat kecewa. Walau  hakikatnya saya faham, mengapa tulisan saya ditolak mereka.  Namun begitulah kata hati, kecewa tak bisa dipungkiri. Dalam hati, saya hanya mampu berjanji, saya akan lebih rajin lagi, dan tak akan menyerah.
             Lalu saya konsultasi dengan para penulis-penulis  yang telah senior. Hasil dari konsultasi, mereka  menasehati saya, bahwa untuk menjadi seorang penulis yang sesungguhnya, kita tak boleh mudah menyerah, dan putus asa, apalagi kecewa dan dendam.  Lagi-lagi sayapun  harus mendengar nasehat para penulis senior itu, dan  mengirim lagi naskah-naskah ke penerbit lain, bahkan ke surat kabar, atau ke perbagai perlombaan. Pendek kata, saya tak menyerah.  Hingga pada suatu hari, saya ditawari untuk menerbitkan buku antologi bersama dengan  teman dekat saya. Tentu saja, saya sangat bahagia. Sayapun mengirim beberapa naskah ke mereka. Dan setelah menanti beberapa minggu, mereka memberikan informasi pada saya, bahwa bukunya akan terbit sebentar lagi.
              Dengan suka cita pula mereka  mengumumkan, nama-nama penulis dalam buku tersebut. Sesaat saya bangga. Setidaknya, dalam hati saya berkata, akhirnya, setelah sekian lama menunggu, kini impian untuk menjadi seorang penulis, akan terkabul juga. Bukan hanya itu, sayapun woro-woro di jejaring internet, seperti blog dan facebook, kalau saya sebentar lagi akan memiliki buku. Saya benar-benar bahagia.
              Hari yang dinanti tiba. Bukupun telah terbit. Namun, adakah saya benar-benar bahagia? O, o. Ternyata tidak. Justru saya kecewa berat. Seorang teman memberitahukan, bahwa dalam buku tersebut, ternyata tidak ada nama dan tulisan saya. Glodaaakkkkk!! Bukan hanya kecewa berat, namun saya juga merasa sangat malu pada semua teman-teman yang telah mengetahui kabar tersebut. Saya seolah kehilangan muka waktu itu.
           Tak lama kemudian, atas nama organisasinya, mereka meminta maaf atas kesalahan yang di sengaja ini. Terus terang, untuk memaafkan mereka, tidaklah mudah. Nama dan hargadiri saya telah mereka coreng moreng. Hingga lama, kekecewaan ini mengendap dalam hati. Namun, lagi-lagi para penulis senior menasehati saya, untuk memaafkan mereka  serta meng-ikhlaskan kejadian memalukan itu.  Sayapun menurut. Saya maafkan, serta ikhlaskan kejadian tersebut, hinga tiada luka dalam hati saya.  Bagi saya, dorongan semangat dari teman-teman lebih baik dan lebih berharga daripada memikirkan masa lalu atau luka yang tiada berpenghujung. Dan mulai saat itu, saya mulai pandai-pandai dalam mencari kawan.  Tak lupa, saya lebih banyak berdoa pada Zat yang Maha Pemberi, untuk memberikan ganti, yang terbaik untuk saya kelak.
             Selang beberapa bulan kemudian, Allah benar-benar kabulkan doa-doa  saya. Naskah lomba saya, akhirnya menang. Berawal dari biodata dalam naskah lomba saya pada sebuah penerbitan buku, mereka tertarik dengan kisah hidup saya. Mungkin Andapun  tidak tahu, kalau saya adalah seorang TKW di Negera Hong Kong.  Akhirnya, sebuah penerbit menyuruh saya untuk menuliskan kisah hidup saya, dalam dunia tkw, serta suka dukanya menekuni dunia kepenulisan. Belum selesai naskah itu saya tulis, kembali saya mendapatkan tawaran sebagai koordinasi naskah untuk dua tema.  Subbhanallah, benar-benar luar biasa.
          Sebagai koordinasi, tugas saya mencari contributor naskah. Bagi saya, tak susah untuk mencarinya, karena saya memiliki teman sesama penulis. Akhirnya, saya memilih para penulis yang kira-kira tulisannya telah matang dalam dunia kepenulisan. Salah satunya, adalah teman saya yang berada dalam organisasi tersebut. Organisasi yang pernah membuat saya kecewa dulu. Teman saya inipun menyetujuinya. Deadline kepenulisan, saya berikan dengan waktu yang cukup lama, karena halaman naskah lumayan banyak bagi kami, yang masih penulis pemula.  Maklum pula, kami bekerja di sector rumah tangga, jadi nulisnya nyambil kerja .
            Seminggu sebelum deadline, kembali saya  mengechek semua contributor. Alhamdulillah, semua mengatakan siap sebentar lagi, termasuk teman saya, yang bernama Guli (Nama samaran) Ia bilang, hanya tinggal beberapa halaman. Sebelum seminggu, naskah pasti selesai. Janjinya pada saya. Lega. Namun benarkah apa yang di katakannya pada saya? O, o! Ternyata tidak. Deadline telah habis, namun hanya dia yang yang tak memberikan naskah tulisannya pada saya. Mengapa? Saat saya tanya, dia hanya berkata, maaf, namun tak bisa memberikan alasannya. Astagfirullahal’adzim, saya kecewa lagi padanya, dan gagal untuk yang kedua kali. Demi menyelamatan kepercayaan dan buku, terpaksa saya memohon pada penerbit untuk mengulur deadline barang satu minggu. Lagi-lagi tanpa campur tangan Tuhan, mungkin saya telah dimurkai oleh penerbit tersebut. Namun bersyukur, penerbit itu memberikan kesempatan sekali lagi pada saya, untuk menulis naskah yang telah gagal oleh teman saya tadi. Dan Alhamdulillah, dalam waktu seminggu itu, naskah terselesaikan dengan baik.
            Hingga akhirnya, setelah menanti beberapa bulan kemudian, sambil menulis untuk lomba-lomba kepenulisan, berita baik-pun datang. Ketiga buku saya terbit, dan lomba-lomba saya menangkan. Subbhanallah,  saya bahagia, kali Kini saya percaya, energy memaafkan, ternyata Allah benar-benar menggantinya dengan berita baik. Ketiga buku tersebut berjudul, TKW Menulis, Masihkah Kau Mencintaiku, dan Cinta Monyet Never Forget, semua di terbitkan oleh penerbit Leutika Publisher.  Alhamdulillah, saya bersujud syukur.
             Mengetahui buku saya telah terbit, teman saya hanya diam, dan menyesal. Itu yang pernah saya dengar dari temannya. Sebagai sesama teman, saya telah memaafkannya lahir dan batin. Tak ada ganjalan luka sedikitpun dalam hati saya. Hanya saja, mungkin dia yang masih merasa bersalah, karena sikapnya yang suka meremehkan orang lain.
            Setiap masalah, selalu ada solusinya. Begitu juga dengan kecewa, atau gagal. Solusi bagi kecewa, adalah memaafkan. Dan solusi untuk gagal, adalah tidak menyerah atau putus asa. Insya Allah, jika Anda menyikapi kegagalan dengan hati dan pikiran yang jernih, maka Allah akan menggantinya dengan kebaikkan.
             Itulah, sedikit kisah saya, yang pernah mengalami kecewa dan gagal, semoga bermanfaat bagi pembaca.
Bayu insani 13/02/2011.HK.

indahnya berbagi.......ini adalah naskah gugurnya sebuah perlombaan. Semoga bermanfaat....:)

Mawar, walau ia berduri, namun ia juga harum dan cantik ya plend


15 November 2010

KECEWA? KAMU NGUMPET DIMANA?

oleh Riawani Elyta pada 03 Oktober 2010 jam 12:33
Afwan ya, awalnya ini hanya curhat, tapi koq rasanya seru juga untuk dibagi. Kecewa disini, skupnya nggak luas-luas amat, hanya ingin menyikapi salah satu trend di FB, yaitu acara lomba-lombaan yang sekarang ini frekuensinya seriiiing banget. Bahkan hampir nggak ada minggu yang nggak ada lombanya meskipun hanya berupa quiz ato undian.

Dulu, sebelum kenal FB saya juga sudah getol nyari info tentang lomba-lombaan, bahkan kalau dirunut dari dulu, sejak kelas 1 SD saya juga udah ikutan bermacam jenis lomba. (yang jadoel ini gak usah dibahas lha ya, takutnya malah kege-eran, lumayan sering menang sih, deuuu…)

Saya hanya ingin bicara tentang salah satu trend lomba, yaitu lomba nulis. Dari sekian lomba nulis yang pernah saya ikuti, jangan tanya udah berapa kali saya kalah, karena jawabannya cuma satu : gak inget ! (tapi kalo ditanya berapa yang menang, insya Allah inget, karena jumlahnya baru dikit, hehe).

Apa yang saya ingat dulu, kalo pas membaca daftar nama pemenang, dan nggak nemuin nama saya disana, saya kecewa berat, sampe berkaca-kaca juga pernah, langsung terputar ulang masa-masa ‘perjuangan’ (halah!) saat mempersiapkan naskah untuk mengikuti lomba.

Tapi sekarang, malah sebaliknya, kalau saya nggak ketemu nama saya di daftar pemenang, saya malah kelimpungan mencari-cari rasa ‘kecewa’ saya. Koq nggak ada ya? Ngumpet dimana dia? Yah nggak perlu sampe berkaca-kaca segala sih, minimal ngerasa gimana kek gitu, ‘kan yang namanya ngikutin lomba, pasti ada unsur kerja kerasnya, masak sih nggak kecewa kalau kalah? Nyatanya, memang nggak kerasa. Sampai saya berpikir, apa perasaan saya masih normal? Hehe…

Lalu iseng-iseng saya ngumpulin sebab-sebab yang bikin saya nggak lagi merasa kecewa walaupun kekalahan datang beruntun dan kemenangan nongolnya hanya sesekali. Siapa tahu ada gunanya, buat teman-teman yang juga punya hobi sama dan sampai hari ini masih ngerasa gimanaaa gitu kalau hasil yang didapat nggak sejalan dengan yang diimpikan.

1.   Saya sangat yakin kalau juri juga manusia (lha iyalah, emang robot??), jadi yang namanya manusia, pasti punya batas, kelemahan dan kekurangan. Manusia bisa merasakan lelah, bete, ngantuk dan kelelahan. Jadi misalkan dalam satu hari juri dituntut untuk baca 50 naskah, dan ternyata naskah kita tepat di urutan ke-50, disaat juri sudah berada di puncak kelelahan, mata sepet dan super bete, walhasil, naskah yang harusnya dapat nilai 9 bisa turun jadi 7.

2.   Masih terkait sifat alamiah manusia, saya juga yakin kalau masing-masing manusia pasti punya selera yang spesifik. Jika lomba nulis diadakan oleh media atau penerbit, mungkin, kita bisa mengenali selera dari buku atau tulisan yang diterbitkan oleh media atau penerbit tersebut. Tapi tetap saja tak mudah untuk mengenali selera individu.

Mudahnya, kalau tetangga kita demen pop, giliran kita mutarin dangdut kenceng-kenceng, meski itu dangdut terbaik abad ini, tetap saja nggak akan nyambung dengan selera si tetangga, salah-salah, dia malah sakit hati.

Nah, gitu juga dengan juri lomba nulis, kali aja selera mereka lebih pada tulisan yang runut, efektif dan mudah dipahami. Giliran tulisan kita yang bertabur metafora, ya uwis, pastinya bakal terdiskualifikasi

3.   Saya selalu yakin pada kerja keras dan kekuatan doa.
Nah, di poin yang ketiga inilah tempat saya sering introspeksi. Sudah maksimalkah usaha saya? Atau jangan-jangan nulisnya buru-buru dan mepet deadline? (hayo ngaku siapa yang sama dengan saya? ^_^). Atau jika kerja sudah maksimal, bagaimana doa saya? Sudahkah sungguh-sungguh?

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 186 artinya : Apabila hambaKu bertanya kepada engkau tentang halKu, maka sesungguhnya aku hampir. Aku perkenankan doa orang yang meminta, bila meminta kepadaKu, tetapi hendaklah ia mengikut perintahKu, serta beriman kepadaKu. Mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.

Barangkali saja doa saya sudah maksimal, tapi pada saat itu saya justru mengerjakan apa yang Ia larang, atau barangkali juga ada perintahNya yang saya lalaikan. Ya tentu saja usaha sekeras apapun tetap akan sia-sia.

4.   Nah, yang keempat ini mungkin kedengarannya rada ekstrim, mensyukuri kekalahan. Lho?  Karena yakinlah bahwa setiap peristiwa pasti ada hikmahnya, termasuk kekalahan. Kekalahan akan selalu menggiring kita pada introspeksi untuk berbuat yang lebih baik, dan dengan sering ‘menikmati’ kekalahan, insya Allah kita akan lebih mampu mengontrol diri pada saat dianugerahi kemenangan.

Tahu sendiri ‘kan? Kalau sudah menang, manusia kadang nggak bisa mengontrol luapan rasa gembira, syetan juga gampang masuknya, trus gembar-gembor, bikin pengumuman sana-sini. Bukannya nggak boleh sih, mensyukuri kemenangan, tapi satu hal yang harus selalu kita ingat, di sekeliling kita ada puluhan, bahkan ratusan orang yang terkalahkan di ajang yang sama. Dan diantara jumlah yang banyak itu, mungkin hanya segelintir yang mampu berlapang dada, menerima kekalahan dan mampu dengan heroik mengucapkan selamat kepada pemenang. Lantas sisanya? Wallahu alam. Dan diluar dari itu, lebih banyak lagi yang tak merasa mampu untuk bersaing, dan hanya bisa menggigit jari dan memandang iri kepada sang pemenang.

saya masih ingat, pertama kali saudara saya berhasil tulisannya dimuat di media, senangnya bukan main, tapi hari ini, disaat tulisannya kembali dimuat, reaksinya tak lagi seheboh dulu, dan waktu saya tanya, dia dengan santai menajwab, ‘Sudah nggak ingat lagi ini tulisan yang keberapa, saking seringnya ngirim.’
Hm. Ternyata ‘buah’ dari keseringan ditolak pada akhirnya bisa mengontrol emosi pada saat karyanya dimuat.

Saya juga pernah ngalami hal yang sama, pertama kali menang lomba nulis yang cukup prestisius, rasanya pengen lompat2, trus nelpon emak, kakak, sodara2, ujung-ujungnya malah kelimpungan sendiri pas diminta traktir, hmmm……(untung aja waktu itu belum kenal FB, kalo udah, gak tahu deh isi status saya dah seheboh apa, hehe). Alhamdulillah, seiring dengan beruntunnya kekalahan yang terjadi setelah itu, pada saat berhasil menang lagi, saya gak lantas lompat2, dan lebih berusaha mengontrol diri.

5.   Terlepas dari sebab-sebab diatas, saya mulai belajar untuk meluruskan niat. Apa sih yang saya cari dari lomba? Lalu berusaha untuk selalu ingat, akan berlomba-lombalah dalam kebaikan. Jadi kalau lomba itu membawa kebaikan buat saya dan orang lain, ya udah, dicoba aja, kalau gagal, ya kembali lagi ke poin-poin diatas. Dan alhamdulillah, rasa kecewa saya menerima kekalahan jauh lebih cepat dan otomatis menghilang sebelum saya sempat membaca lagi poin-poin diatas ini.

Saya hanya berharap, bahwa dari proses sederhana ini, kelak saya juga bisa dengan lapang dada menerima kekalahan-kekalahan dalam hal yang lain, tanpa harus kehilangan semangat untuk terus berjuang.
Karena sesungguhnya perlombaan terbaik adalah berlomba-lomba dalam kebaikan. Justru pada saat kalah dalam perlombaan berbuat kebaikan ini dan saya tak merasa kecewa, saya pantas bertanya apakah saya masih ‘normal’ atau tidak. (ups!)

Sekali lagi afwan yaaaa kalau curhatnya rada dodol, bagi yang punya pengalaman tentang kekalahan dan mengatasi rasa kecewa silahkan kalau mau sharing, bagi yang kurang berkenan sama tag ini silahkan aja kalo mau di remove, insya Allah nggak akan kecewa koq, hehe…

Rumah yang lagi audzubillah berserakan,
Minggu malem, 03102010


17 Desember 2009

KECEWA..........






Pecah berserak luluh hati mengadu
Tak tertahan ingin luap meronta
Benamkan perih rasa terpatri kecewa
Kadang resah harapku terpendam amarah
Tinggalkan hilang terjang lara
Hanyut hingga terbawa
Menepi di perasingan dan tak berarti lagi


Terus berulang tak hanya itu
Lebih dari ketidakpedulianmu
Berpaling bahkan pergi habis kau lukai
Seakan tak bersalah cobalah kau adili dirimu sendiri


Dan tak akan mampu kau mau mengerti
Terkecuali maaf yang berkali sering kau ucap
Bukan berarti dapat mengobati luka kau toreh
Bahkan merapuhkan hampir berhenti denyut nadi