Rabbi, Aku Berserah
Aku bersyukur…
tapi entah mengapa, aku tak selalu merasa bahagia.
Aku bahkan tak tahu, di mana letak salahnya.
Di hadapan orang lain, aku masih bisa tersenyum.
Masih bisa tertawa, bercanda, dan terlihat baik-baik saja.
Namun ketika semuanya kembali sunyi,
ada ruang kosong di dalam hati
yang tak tahu bagaimana harus kuisi.
Aku merasa sepi,
meski tidak benar-benar sendiri.
Ada kecemasan yang diam-diam bersembunyi di dalam hati.
Usia bertambah,
lelah pun seakan ikut bertambah.
Dan semakin hari, ada ketakutan yang semakin sering datang—
takut ketika harus pergi,
takut ketika harus ditinggalkan,
takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum tentu benar-benar kumiliki.
Sesekali aku menangis dalam doa.
Dalam keheningan.
Bahkan ketika hendak memejamkan mata dan terlelap,
air mata masih saja jatuh tanpa suara.
Aku tidak tahu ke mana arah perjalanan ini.
Haruskah aku terus maju,
atau berhenti sejenak untuk mengumpulkan kembali kekuatan?
Aku ingin menepis semua prasangka.
Ingin berdamai dengan kepiluan hati
dan keramaian pikiranku sendiri.
Namun ada saat-saat ketika aku merasa begitu bodoh.
Begitu mudah percaya,
begitu sulit membedakan mana yang tulus dan mana yang semu.
Sampai akhirnya aku bertanya dalam hati,
siapa yang sebenarnya masih bisa kupercaya?
Orang-orang yang dulu terasa dekat,
kini seperti perlahan menjauh.
Dan di tengah keramaian,
aku justru sering merasa seperti tidak ada seorang pun yang benar-benar peduli.
Tapi mungkin…
aku terlalu lama mencari tempat bersandar pada manusia,
hingga lupa bahwa ada satu tempat
yang tak pernah benar-benar meninggalkanku.
Rabbi…
Jika aku tidak tahu harus melangkah ke mana,
tuntunlah langkahku.
Jika hatiku terlalu lelah untuk memahami semuanya,
tenangkanlah.
Jika pikiranku dipenuhi prasangka dan ketakutan,
jernihkanlah.
Jika aku salah memilih jalan,
belokkanlah aku dengan cara-Mu.
Aku tidak tahu bagaimana akhir perjalanan ini.
Aku tidak tahu apa yang akan hilang
dan apa yang akan Engkau hadirkan.
Aku hanya tahu satu hal:
aku tidak ingin terus berjalan dengan kekuatanku sendiri.
Maka malam ini,
aku serahkan semua yang tak mampu kupahami kepada-Mu.
Tentang hidupku.
Tentang masa depanku.
Tentang orang-orang yang datang dan pergi.
Tentang luka yang belum sembuh.
Tentang ketakutan yang belum mampu kutaklukkan.
Rabbi, aku berserah.
Sebab Engkaulah Yang Maha Mengetahui
apa yang tidak mampu kupahami.
Engkaulah Yang Maha Berkehendak
atas seluruh kehidupanku.
Dan jika hari ini aku belum merasa bahagia,
semoga setidaknya aku masih mampu percaya
bahwa Engkau sedang menuntunku
menuju sesuatu yang lebih baik.
Aku berserah, Rabbi.
Sepenuhnya kepada-Mu.