Flamingo di Ujung Senja
Di hampar sunyi senja yang tenang,
flamingo menari tanpa riuh tepuk tangan.
Air memantulkan langit yang memerah,
seolah bumi sedang belajar pasrah.
Gunung berdiri diam memeluk cakrawala,
menyimpan rahasia usia yang tua.
Tak ada gaduh, tak ada tergesa,
hanya waktu yang berjalan sederhana.
Di antara ikon-ikon kehidupan,
tersimpan lelah yang tak selalu terucapkan.
Namun seperti burung-burung di danau itu,
hidup tetap mencari tenangnya sendiri.
Kadang kita hanya ingin menjadi senja—
tidak harus terang menyilaukan dunia,
cukup memberi hangat sebentar saja,
lalu perlahan merelakan semuanya.
Dan malam pun datang tanpa suara,
membawa damai bagi hati yang terluka.
Sebab sejauh apa pun hidup berjalan,
jiwa selalu pulang pada ketenangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda