Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

05 Juni 2026

Senja di Tepi Danau

 


Senja di Tepi Danau

Langit menorehkan warna jingga,
membentang lembut di ufuk senja.
Awan berarak perlahan-lahan,
mengantar hari menuju peraduan.

Di tepi danau yang tenang membiru,
cahaya senja menari di atas permukaan.
Berpendar indah bagai lukisan waktu,
yang hadir sesaat sebelum menghilang.

Rumah-rumah berwarna di lereng bukit,
berdiri teduh memandang cakrawala.
Lampu-lampu mulai berkelip hangat,
menyambut malam dengan penuh cinta.

Angin berbisik di antara pepohonan,
membawa damai ke relung jiwa.
Seakan dunia berhenti sejenak,
memberi ruang bagi hati untuk merasa.

Betapa indah ciptaan-Nya,
tersaji dalam warna dan cahaya.
Mengajarkan bahwa setiap akhir hari,
selalu menyimpan keindahan yang patut disyukuri.

20 Mei 2026

Flamingo di Ujung Senja

 


Flamingo di Ujung Senja


Di hampar sunyi senja yang tenang,
flamingo menari tanpa riuh tepuk tangan.
Air memantulkan langit yang memerah,
seolah bumi sedang belajar pasrah.

Gunung berdiri diam memeluk cakrawala,
menyimpan rahasia usia yang tua.
Tak ada gaduh, tak ada tergesa,
hanya waktu yang berjalan sederhana.

Di antara ikon-ikon kehidupan,
tersimpan lelah yang tak selalu terucapkan.
Namun seperti burung-burung di danau itu,
hidup tetap mencari tenangnya sendiri.

Kadang kita hanya ingin menjadi senja—
tidak harus terang menyilaukan dunia,
cukup memberi hangat sebentar saja,
lalu perlahan merelakan semuanya.

Dan malam pun datang tanpa suara,
membawa damai bagi hati yang terluka.
Sebab sejauh apa pun hidup berjalan,
jiwa selalu pulang pada ketenangan.

16 Mei 2026

Tenang di Tengah Hutan

Di balik sunyi pagi
seekor rusa berdiri tegap
menatap dunia dengan tenang,
seolah tahu
bahwa hidup tak selalu harus tergesa.

Pohon-pohon tua menjaga hening,
angin berbisik lembut
di antara ranting dan daun pinus,
mengajarkan bahwa keteduhan
lahir dari kesabaran.

Langit tidak banyak bicara,
namun warna-warnanya cukup
untuk menenangkan hati
yang lelah oleh perjalanan panjang.

Di sudut layar kehidupan ini,
ada pelajaran sederhana:
bahwa kuat bukan berarti keras,
dan tenang bukan berarti kalah.

Seperti rusa itu,
tetaplah melangkah perlahan
meski dunia kadang bising,
karena alam selalu tahu
cara memeluk hati yang ingin pulang.

30 April 2026

Doa di Pelukan Kecil

Doa di Pelukan Kecil

Di pelukan sunyi yang hangat ini,
kau terlelap tanpa tahu dunia,
namun hadir membawa cahaya,
yang diam-diam menenangkan jiwa.

Nafas kecilmu adalah dzikir,
lembut… seakan memanggil langit,
agar cinta turun tanpa batas,
menjaga setiap detik hidupmu kelak.

Wahai titipan terindah dari-Nya,
engkau bukan sekadar anugerah,
tapi amanah yang akan dijaga
dengan doa yang tak pernah lelah.

Tumbuhlah… dengan iman di hati,
dengan akhlak yang meneduhkan,
jadilah penyejuk mata orang tua,
dan cahaya di setiap langkah kehidupan. 🌙✨

Di Balik Kaca

Di Balik Kaca

Di balik kaca bening yang diam,
hidup kecil menari tanpa kelam.
Warna-warni berlari pelan,
seolah dunia tak pernah menekan.

Tak luas ruang yang mereka punya,
namun cukup untuk bahagia.
Berputar, berenang, saling menyapa,
tanpa keluh, tanpa tanya.

Wahai hati yang sering gelisah,
belajarlah dari yang sederhana nan indah.
Bahwa bahagia tak selalu tentang luasnya dunia,
tapi tentang syukur yang tumbuh di dalam jiwa.

MasyaAllah…
dalam kecil pun ada ketenangan,
dalam diam pun ada kehidupan. ✨🐟

22 April 2026

Danau di Ujung Hening



DANAU DI UJUNG HENING

Di tepi sunyi danau hijau zamrud,
langit biru membentang tanpa ragu,
awan berarak seperti mimpi yang lalu,
dan batu-batu diam, menyimpan waktu.

Gunung menjulang, gagah dan tua,
mengukir kisah yang tak terucap kata,
angin berbisik lirih di sela senja,
membawa damai ke dalam jiwa.

Air tenang memeluk cahaya,
memantulkan harap yang sederhana,
bahwa dalam hening dan alam raya,
manusia kecil, namun penuh makna.

Di sini, segala hiruk terdiam,
hanya hati dan semesta yang berbincang,
tentang hidup yang tak selalu terang,
namun selalu indah untuk dikenang.

10 Januari 2026

Bangunan Hijau yang Menunggu

Bangunan Hijau yang Menunggu

Di balik cat hijau yang memudar,
kau berdiri dalam diam yang panjang.
Tiang-tiang kokoh menyimpan kisah
tentang langkah-langkah yang pernah riuh.

Rumput liar tumbuh tanpa izin,
seakan ingin menutup jejak waktu.
Tak ada suara, tak ada tawa,
hanya angin yang setia singgah.

Dindingmu retak oleh sabar,
atapmu menua oleh penantian.
Namun kau tidak benar-benar kosong—
kenangan masih berdiam di setiap sudutmu.

Wahai bangunan yang terlupa,
kau mengajarkan arti bertahan:
meski ditinggal, meski sunyi,
tetap tegak menunggu hari kembali berarti.

Hijau yang Mengajarkan Sabar

Hijau yang Mengajarkan Sabar

Di hamparan hijau yang tumbuh tanpa suara,
aku belajar tentang hidup
yang tak perlu riuh untuk berarti.

Daun-daun kecil saling menyapa angin,
tak saling mendahului,
tak pula saling iri—
semuanya tumbuh sesuai waktu.

Embun pagi menempel lembut,
seperti doa yang jatuh diam-diam
namun menyejukkan.

Wahai hijau,
kau mengajarkanku bahwa kuat
tak selalu tentang menjulang tinggi,
kadang cukup tentang bertahan
dan tetap hidup
di tanah yang sederhana.

Dan aku pun paham,
Tuhan menumbuhkan harapan
dengan cara yang sangat tenang.

Di Balik Cahaya yang Diam

Di Balik Cahaya yang Diam

Aku berdiri di antara terang dan teduh,
membiarkan cahaya menyentuh wajah
tanpa banyak kata.

Ada cerita yang tak perlu disuarakan,
cukup disimpan di dada
dan diserahkan pada langit.

Waktu berjalan pelan,
seolah mengerti lelah yang kupikul,
seolah tahu
aku sedang belajar ikhlas.

Jika hari ini aku tersenyum tipis,
itu bukan karena segalanya baik-baik saja,
melainkan karena aku percaya:
Tuhan tak pernah salah menaruh hamba-Nya.

Dan di momen sesederhana ini,
aku memilih tenang,
karena harapan
masih hidup di dalam cahaya.

04 Januari 2026

Puisi: Menyambut 2026

Menyambut 2026

Di ambang tahun yang baru,
aku menata ulang doa-doaku,
bukan tentang dunia semata,
namun hati yang ingin lebih taat kepada-Mu.

Jika langkahku pernah tertatih,
itu karena aku masih belajar bersabar,
sebab Engkau tak pernah salah memberi takdir,
hanya aku yang perlu lebih banyak bersyukur.

Tahun 2026, aku datang membawa harap,
dengan niat yang kupeluk erat,
ingin berjalan lebih jujur dan tenang,
meski perlahan, asal tetap di jalan-Mu.

Aku titipkan lelah pada sajadah,
kekhawatiran pada doa-doa panjang,
sebab aku yakin,
tak ada usaha yang sia-sia di hadapan Tuhan.

Maka sambutlah aku, wahai waktu,
dengan pelajaran dan keberkahan,
jadikan aku pribadi yang tumbuh,
lebih dekat kepada Allah, dan lebih bermanfaat bagi kehidupan. 🌙✨

03 Januari 2026

Dalam Sunyi Aku Berserah

Dalam Sunyi Aku Berserah
By: Puput Happy

Aku berdiri di antara cahaya dan waktu,
menitipkan lelah pada langit yang diam.
Tak semua luka perlu bersuara,
cukup Allah yang tahu isi dada terdalam.

Angin mengajarkanku tentang sabar,
bahwa kuat tak selalu berarti keras.
Ada doa yang tumbuh dalam hening,
ada ikhlas yang matang tanpa keluh kesah.

Jika langkah terasa lambat dan berat,
aku percaya bukan berarti tersesat.
Sebab setiap takdir yang Allah tuliskan,
selalu mengarah pada kebaikan.

Aku pun melangkah dengan hati tunduk,
berserah penuh pada kehendak-Nya.
Apa pun akhir dari cerita ini,
semoga bernama ridha dan berkah-Nya.

29 Oktober 2025

Cinta di Puncak Abadi


 

Cinta di Puncak Abadi

Di bawah langit biru yang luas tanpa batas,
Gunung bersalju berdiri megah—
seperti saksi bisu cinta yang tumbuh tanpa lelah.
Putihnya ibarat suci janji,
dinginnya bukan beku, tapi menenangkan hati.

Aku menatap puncakmu,
dan kulihat bayang wajahmu di sana—
tenang, lembut, namun penuh daya.
Angin yang berdesir dari lerengmu,
membisikkan namamu pada setiap helai rumput,
seolah alam pun hafal getar rindu di dadaku.

Kau adalah puncak yang tak pernah letih menunggu matahari,
meski malam membalutmu dengan sunyi.
Dan aku—hanyalah pendaki yang datang membawa harap,
berbekal cinta, tak lebih dari itu.
Namun entah mengapa, setiap langkah di tanahmu
membuat hatiku semakin yakin,
bahwa rumah sejati adalah ketika pandanganku bertemu matamu.

Salju yang menutupi tubuhmu
seperti cinta yang tak pernah pudar,
dingin di luar, tapi hangat di dasar.
Aku ingin menjadi hujan kecil di lembahmu,
yang jatuh pelan, mengalir lembut ke kakimu,
menyatu dalam sungai yang menuju samudra rindu.

Andai waktu mau berhenti sejenak,
akan kupeluk bayanganmu di balik kabut pagi.
Akan kusimpan suaramu dalam gema lembah,
agar tiap kali aku rindu,
aku hanya perlu menatap puncakmu—
dan di sanalah aku akan menemukanmu lagi.

Cinta ini, seperti salju di puncak itu:
tak mencair meski disinari mentari,
karena ia hidup bukan dari hangat,
melainkan dari keyakinan yang abadi.
Selama langit masih membiru dan bumi berputar,
namamu akan tetap menjadi zikir yang paling indah
di setiap hembus napas dan doa panjangku.

Cinta Seindah Paruh Pelangi



 🌈 Cinta Seindah Paruh Pelangi 🌈

Di ujung ranting yang basah oleh embun,
seekor burung berdiri gagah,
paruhnya seindah pelangi yang meniti hujan sore,
menyimpan rahasia warna—seperti hatiku yang kau sentuh perlahan.

Aku memandangnya, lalu ingat padamu;
betapa cinta bisa lahir dari keindahan yang tenang,
dari tatapan sederhana yang tak bersuara,
namun mampu mengguncang segala rasa dalam dada.

Warna hijau di paruhnya—seperti tenang matamu,
yang meneduhkan badai dalam pikiranku.
Kuningnya—hangat seperti senyum yang menunggu di antara jarak,
dan merahnya—membara seperti rindu yang tak pernah padam.

Burung itu, berdiri di ranting lumut,
tak gentar oleh waktu, tak takut oleh angin.
Seperti aku—yang tetap menunggu,
di antara musim yang terus berganti,
percaya suatu hari engkau datang, membawa cahaya seperti pagi.

Oh, cinta…
andai kau tahu, setiap warna di dunia ini
menyimpan kisah kita yang tersembunyi:
di hijau—ada kesetiaan,
di biru—ada kerinduan,
di jingga—ada kenangan yang tak mau pergi,
dan di merah—ada aku, mencintaimu tanpa henti.

Kita mungkin tak seindah pelangi yang bersinar sesudah hujan,
namun kita adalah warna-warna yang tak hilang dalam ingatan.
Bersamamu, aku belajar bahwa cinta tak perlu selalu dimengerti—
cukup dirasakan, seperti udara yang menuntun daun menari.

Maka biarlah burung itu menjadi saksi,
bahwa di dunia ini masih ada cinta yang lembut dan murni,
yang tak perlu janji, tak perlu kata,
hanya rasa… yang tumbuh dari pandangan pertama.

Aku ingin menjadi ranting tempatmu berteduh,
ketika lelah kau terbang menantang waktu.
Aku ingin menjadi embun yang diam di bulumu,
menyapa dengan dingin, tapi penuh rindu.

Dan jika nanti kita berpisah oleh musim,
ingatlah—
aku pernah mencintaimu dengan seluruh warna di dunia ini,
dengan seluruh jiwa yang berani percaya,
bahwa cinta, seindah paruh pelangi itu,
tak akan pernah pudar… bahkan oleh senja.

Senandung Cinta di Taman Keabadian

 


Senandung Cinta di Taman Keabadian

Di antara taman yang hening,
kubangun rindu dari langkah yang menapak pelan,
mengikuti jalan batu yang menuntun pada istana kenangan—
tempat cinta berdiri tegak di antara langit dan bumi.

Angin berbisik di sela pepohonan,
membawa aroma tanah dan bunga yang menua bersama waktu,
dan di hadapan mata, bangunan megah itu tersenyum,
seolah tahu, betapa hatiku telah lama berziarah padamu.

Kubayangkan engkau berdiri di gerbangnya,
berbalut cahaya sore yang lembut,
rambutmu menari bersama bayangan senja,
dan aku—terpaku, tersihir, terhenti di pusaran pesonamu.

Langit biru memantulkan namamu di permukaan air,
seolah semesta pun turut jatuh cinta,
pada dua jiwa yang tak lagi bertanya
tentang waktu, jarak, atau siapa yang lebih mencinta.

Kubah megah di atas sana,
menyimpan rahasia doa-doa yang tak pernah usai,
dan setiap lekuk dindingnya,
seperti ukiran hatiku yang memahat namamu tanpa jeda.

Cinta kita, barangkali bukan kisah singkat,
ia seperti bangunan tua yang menantang waktu,
menghadapi hujan dan panas,
namun tetap berdiri gagah karena fondasinya: keikhlasan dan doa.

Aku ingin menjadi bayanganmu di kolam itu,
menyatu dalam pantulan indah yang tak terpisah,
walau dunia berubah,
biarlah cinta kita tetap utuh, seperti cermin yang memantulkan abadi.

Malam nanti, bila bintang turun di atap istana cinta ini,
izinkan aku berdoa dalam diam—
semoga engkau tetap menjadi arah sujud hatiku,
dan rumah megah itu,
menjadi saksi bisu dari janji:
Aku mencintaimu, di dunia hingga ke keabadian.

Cinta di Bawah Langit Baobab

 


Cinta di Bawah Langit Baobab

Di antara raksasa sunyi yang menatap langit,
aku dan kamu berdiri, berdua saja—
menjadi sepasang kisah kecil
di bawah pepohonan baobab yang menyimpan rahasia waktu.

Batangnya menjulang, kokoh seperti janji,
daunnya menari lembut bersama angin sore,
dan aku mendengar bisikan alam yang lirih berkata,
bahwa cinta tak perlu tergesa.

Langit biru, sejernih tatapanmu,
menyapa lembut seolah tahu
betapa lama aku menunggu musim terbaik
untuk mengatakan: aku ingin selamanya bersamamu.

Kau lihat pepohonan itu?
Akar mereka tertanam dalam,
seperti harapanku yang tak pernah goyah
meski diterpa badai waktu.

Kita adalah kisah sederhana di tanah luas ini,
tapi hatiku tahu, tak ada yang sederhana
ketika cinta tumbuh seperti baobab—
perlahan, kuat, dan abadi.

Sore merangkak, cahaya keemasan menyapu batang pohon,
dan aku menatap siluetmu dalam lembayung senja,
seindah doa yang tak pernah usai kupanjatkan
agar Tuhan menjagamu, dalam tiap langkah dan detak.

Jika kelak dunia berputar terlalu cepat,
dan kita terpisah oleh jarak yang tak terukur,
ingatlah pepohonan ini—
tempat pertama di mana hatiku tahu
bahwa mencintaimu bukan kebetulan,
melainkan takdir yang ditulis
di antara daun, debu, dan langit sore yang tak pernah usai.

Dan bila suatu hari kita tua,
duduk di bangku kayu, menatap matahari tenggelam,
aku ingin tanganmu masih di genggamanku—
seperti kini,
sederhana, tapi penuh makna.

Karena cinta, seperti baobab,
tak tumbuh dalam sehari.
Ia butuh waktu, akar, dan keyakinan,
untuk berdiri tegak melawan musim—
dan tetap indah, bahkan dalam diam.

17 Oktober 2025

Layar Cinta di Senja Biru

 


“Layar Cinta di Senja Biru”

Di bawah langit biru yang menua,
ombak berbisik lembut di kaki pantai,
dan angin menari di antara kelapa tua
seolah membawa pesan dari masa silam—
tentang dua hati yang pernah berlayar,
menyusuri waktu tanpa peta, tanpa pelabuhan.

Kau tahu, kasih,
laut ini bukan sekadar biru—
ia adalah cermin dari rinduku yang tak bertepi.
Setiap riaknya menyimpan namamu,
terpantul di ujung layar perahu yang menepi pelan,
seakan enggan meninggalkan senja
yang sedang melukis kita dalam diam.

Lihatlah layar-layar itu,
putihnya seperti janji yang dulu kita ikrarkan,
di antara desir ombak dan aroma garam,
bahwa cinta akan tetap berlayar
meski badai datang tanpa ampun,
meski malam menelan cahaya bulan.

Di bawah rindang kelapa yang berayun,
aku menunggu seperti pantai menunggu ombak,
sabar, setia, dan penuh doa.
Sementara di kejauhan, perahu-perahu kecil itu
menjadi puisi yang berlayar di langit jingga,
membawa pesan rahasia dari hatiku
kepada hatimu yang jauh di seberang.

Kasih, bila angin laut membawa bisikan,
itulah aku—
memanggil namamu di antara desir waktu,
mendoakan kau tetap utuh,
meski jarak menghampar luas seperti samudra.
Sebab cinta yang sejati,
tak butuh jangkar untuk berdiam,
ia akan terus berlayar,
menyusuri biru abadi yang bernama kenangan.

Dan ketika malam akhirnya turun perlahan,
di sela bayang pohon kelapa dan suara ombak,
aku tersenyum sendiri—
karena di dunia yang luas ini,
masih ada satu tempat yang selalu kutuju:
hatimu,
yang menjadi pelabuhan terakhir dari segala rindu.

08 Oktober 2025

Dinding Hijau Sang Penenun Waktu

 


“Dinding Hijau Sang Penenun Waktu”

Lihatlah,
pada dinding bumi yang menjulang itu,
ada kisah purba yang diam-diam berdoa dalam lumut,
ada angin yang menulis surat pada tiap tebing,
dan ada rahasia langit
yang disimpan di sela-sela lembah hijau tua.

Gunung ini —
bukan sekadar tumpukan tanah dan batu,
melainkan dada bumi yang masih berdegup,
membisikkan nyanyian hijau
tentang kehidupan yang tak pernah letih tumbuh.

Setiap lekuknya seperti guratan pena Sang Pencipta,
menoreh kisah ribuan tahun,
tentang hujan yang jatuh sebagai doa,
tentang matahari yang mencumbu daun-daun muda,
tentang waktu yang tak henti menua
namun selalu indah dalam luka dan warna.

Di bawah sana,
pasir keemasan terbaring dalam tenang,
mendengar desau ombak
yang datang dan pergi tanpa pamit.
Ia tahu —
bahwa segala yang indah pun akan berlalu,
namun tak ada yang benar-benar pergi
selama masih tersimpan dalam pandangan mata dan jiwa.

Awan menggantung rendah di puncak,
seperti selimut lembut bagi raksasa yang tertidur.
Mereka menutupi kepala gunung
agar rahasia langit tak mudah terbaca.
Mungkin di balik kabut itu,
ada mata air yang memantulkan bintang,
atau mungkin —
ada hati yang sedang belajar melepaskan.

Warna merah tanah di kaki tebing
bercerita tentang luka,
tentang waktu yang membakar,
namun menumbuhkan harapan baru.
Hijau dan merah saling bertaut,
seperti kehidupan dan penderitaan
yang tak pernah benar-benar bisa dipisahkan.

Ah, betapa agung ciptaan ini —
bukan hanya indah di mata,
tapi juga menyadarkan hati:
bahwa setiap yang tinggi pernah rendah,
setiap yang hijau pernah gersang,
dan setiap yang abadi
bermula dari yang sementara.

Maka biarlah aku duduk di tepi pantainya,
menatap dinding hijau itu dengan diam,
mendengar bisikan lembah yang lembut,
dan membiarkan angin mengajarkan aku
cara menjadi tenang,
meski dunia di dalam dada
tak henti bergemuruh seperti ombak.

07 Oktober 2025

Sunyi di Punggung Langit



Sunyi di Punggung Langit

Karya: Puput Happy

Di antara lembah yang tak bersuara,
gunung-gunung menjulang seperti doa purba.
Cahaya senja menari di pipinya,
mengguratkan kisah tentang kesetiaan waktu.

Angin berlari menyapa dinding batu,
membawa pesan dari langit yang lembut:
bahwa keindahan tak selalu berteriak,
kadang hanya diam — tapi memeluk dalam.

Puncaknya mencumbu awan,
bagai tangan yang ingin menyentuh Tuhan.
Dan di bawahnya,
aku berdiri kecil sekali —
namun jiwaku ikut menjulang tinggi,
bersama nyala jingga di ujung hari.

Senja di Tepi Tebing Azenhas

 


Senja di Tepi Tebing Azenhas

Karya: Puput Happy ✨

Di ujung barat benua tua,
di mana laut dan langit berpelukan dalam jingga,
tergurat rumah-rumah putih di tebing batu,
bagai doa yang menempel di dada waktu.

Ombak datang membawa kisah,
tentang nelayan, cinta, dan angin yang lelah,
tentang bayangan masa silam yang masih bernafas,
di sela aroma asin yang menembus napas.

Mentari tenggelam perlahan,
menyulap air menjadi cermin keemasan,
di sana, langit berjanji pada laut:
“kita berpisah hanya untuk bertemu di senja berikut.”

Dan di balik jendela kecil di tepi bukit,
ada hati yang menunggu, tak pernah berhenti,
seperti ombak yang selalu kembali,
ke tebing yang dicintainya—tanpa henti.

29 September 2025

Lukisan Senja di Padang Pasir Laut


 

Lukisan Senja di Padang Pasir Laut

Di bawah langit yang kelabu,
hamparan pasir membentang sejauh mata memandang,
seperti lembaran kitab kuno
yang menyimpan kisah tentang waktu,
tentang manusia yang datang dan pergi
tanpa meninggalkan jejak abadi.

Angin berlari dari laut,
menyusuri lekuk-lekuk tanah lembut,
membentuk garis, alur, dan pahatan
yang tak pernah sama setiap harinya.
Ia menulis, lalu menghapus,
lalu menulis kembali—
seperti kehidupan,
yang mengajari kita menerima,
bahwa tak ada yang benar-benar tinggal,
selain kenangan di dalam dada.

Rumput-rumput hijau di punggung bukit
bergoyang pelan,
seakan menunduk pada rahasia alam semesta.
Mereka tahu,
bahwa bahkan tanah yang tampak gersang
masih bisa melahirkan kehidupan.
Bahwa dalam sunyi,
masih ada napas yang bertahan,
masih ada harapan yang tumbuh perlahan.

Di ujung cakrawala,
senja memantulkan cahayanya ke pasir keemasan,
menciptakan keindahan yang sederhana,
namun memukau siapa saja
yang mau berhenti sejenak,
memandang dengan mata hati.

Di sini, di tepi dunia,
kita belajar diam,
belajar mendengarkan,
belajar memahami bahasa angin
dan bisikan alam yang tak pernah berbohong.

Pasir ini berkata:
“Jangan takut pada hilang,
sebab setiap hilang hanyalah jalan
untuk menemukan bentuk baru.”

Rumput ini berbisik:
“Jangan menyerah pada sunyi,
sebab sunyi hanyalah ruang
bagi jiwa untuk tumbuh.”

Dan langit ini menegaskan:
“Meski awan menutup,
cahaya tak pernah padam,
ia hanya menunggu waktu
untuk kembali bersinar terang.”

Maka,
biarlah hamparan pasir ini
menjadi cermin hatimu,
menjadi jalan pulang bagi jiwamu.
Karena pada akhirnya,
setiap manusia adalah musafir,
dan setiap musafir akan menemukan rumahnya
dalam keabadian.