25 Februari 2026

Adab Berpuasa

Kuliah Subuh 19-2-2026

Adab Berpuasa

Oleh: Ustadz Nahar Bustanul Arifin

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah SWT yang masih memberikan kita kesempatan bertemu dengan bulan Ramadhan. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Ramadhan adalah bulan ibadah. Karena itu, seorang muslim tidak hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga adab-adab dalam berpuasa agar puasanya bernilai sempurna di sisi Allah SWT.

1. Tidak Meninggalkan Shalat Berjamaah

Orang yang berpuasa tetap wajib menjaga shalat, terutama shalat berjamaah. Jangan sampai kita kuat menahan lapar dan haus, tetapi lalai dalam menunaikan shalat.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa mendengar adzan lalu tidak datang (ke masjid) tanpa ada uzur, maka tidak sah shalatnya.”

(HR. Ibnu Majah)

Shalat adalah tiang agama. Puasa yang baik seharusnya membuat seseorang semakin rajin beribadah.

2. Menjauhi Semua Larangan Allah

Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.

Dalam puasa Ramadhan, seseorang dilarang makan dan minum, walaupun hanya sedikit. Meski hanya setetes air tetap membatalkan puasa.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam, sesuatu yang haram tetap haram meskipun sedikit.

Contohnya minuman khamr (minuman memabukkan). Rasulullah SAW bersabda:

“Apa saja yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram.”

(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

3. Puasa Ramadhan Adalah Kewajiban dari Allah

Puasa Ramadhan bukan sekadar anjuran, tetapi kewajiban yang ditetapkan dalam Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 183)

Kata “kutiba” (كُتِبَ) dalam ayat tersebut berarti diwajibkan. Maka puasa Ramadhan memiliki dasar yang jelas dari Al-Qur'an.

4. Memahami Makna Shiyam dan Shaum

Secara bahasa terdapat dua istilah tentang puasa:

Shiyam

Artinya menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Shaum

Maknanya lebih luas, yaitu menahan diri dari segala perbuatan yang tidak baik, baik ucapan, perbuatan, maupun niat.

Karena itu, orang yang berpuasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari:

- berkata kasar

- berbohong

- ghibah

- marah berlebihan

- perbuatan dosa lainnya

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.”

(HR. Bukhari)

5. Agama Itu Mudah, Tapi Jangan Dipermudah

Islam adalah agama yang mudah. Namun kita tidak boleh mempermudah agama semaunya sendiri.

Ada kisah sahabat yang ingin mengetahui ibadah Rasulullah SAW dari istri-istri Nabi. Setelah mengetahui amalan beliau, sebagian sahabat bertekad melakukan ibadah yang sangat berat:

- ada yang ingin shalat malam terus

- ada yang ingin puasa setiap hari

- ada yang ingin tidak menikah

Namun Rasulullah SAW menegur mereka dan bersabda:

“Sesungguhnya agama ini mudah.”

(HR. Bukhari)

Artinya Islam itu gampang dijalankan, tetapi jangan sampai kita menganggap remeh atau menggampangkan syariat.

6. Jangan Terlalu Banyak Bertanya yang Tidak Perlu

Salah satu pelajaran dari umat terdahulu adalah kisah Bani Israil yang terlalu banyak bertanya tentang sapi yang harus disembelih.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyembelih seekor sapi…”

(QS. Al-Baqarah: 67)

Namun mereka terus bertanya tentang:

- warnanya

- umurnya

- jenisnya

Akibatnya perintah itu menjadi semakin sulit bagi mereka.

Karena itu, sesuatu yang tidak perlu ditanyakan tidak usah ditanyakan, agar tidak mempersulit diri sendiri.

Namun jika bertanya tentang ilmu fiqih ibadah (ubudiyah) untuk memperbaiki ibadah, maka itu justru dianjurkan.

7. Allah Itu Baik dan Menerima yang Baik

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.”

(HR. Muslim)

Segala amal harus dilakukan dengan niat yang bersih dan cara yang baik.

Jika amal baik tercampur dengan niat yang buruk, maka bisa menjadi tidak diterima.

Contohnya:

Sedekah yang disertai riya (ingin dipuji) tidak akan diterima oleh Allah SWT.

Karena itu setiap amal harus murni lillāhi ta‘ālā, hanya karena Allah.

8. Makan yang Halal dan Baik (Halalan Thayyiban)

Allah SWT berfirman:

“Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih.”

(QS. Al-Mu’minun: 51)

Makanan yang kita konsumsi harus:

- Halal (tidak haram)

- Thayyib (baik, bersih, dan bermanfaat)

Sebagaimana kita memilih sayuran yang segar dan baik untuk dimakan, demikian pula ketika kita memberi kepada orang lain harus memberikan yang baik.

9. Makanan Haram Bisa Menghalangi Doa

Salah satu sebab doa tidak dikabulkan adalah karena makanan yang dikonsumsi berasal dari sesuatu yang tidak halal.

Rasulullah SAW bersabda tentang seseorang yang berdoa kepada Allah, namun:

- makanannya haram

- minumannya haram

- pakaiannya haram

“Maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?”

(HR. Muslim)

Karena itu, di bulan Ramadhan ini kita perlu membersihkan makanan, harta, dan pakaian dari hal-hal yang tidak baik.

10. Berbuat Baik dengan Cara yang Baik

Jika kita melakukan sesuatu yang baik tetapi caranya tidak baik, maka keberkahannya bisa hilang.

Misalnya:

Seseorang ingin membuat manisan mangga untuk berbuka puasa, tetapi mangganya diambil dari pohon tetangga tanpa izin. Walaupun tujuannya untuk berbuka puasa, perbuatan itu tetap tidak benar dan tidak membawa keberkahan.

Kebaikan harus dilakukan dengan cara yang benar dan halal.

Penutup

Semoga dengan memahami adab-adab berpuasa ini, kita tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga memperbaiki akhlak, menjaga ibadah, serta membersihkan hati dan niat kita.

Semoga Allah SWT menerima puasa kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan Ramadhan ini sebagai jalan menuju ketakwaan.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda