05 April 2010

Hikmah

Abdul Hakim 05 April jam 1:43

"Guru, saya pernah mendengar kisah seorang arif yang pergi jauh dengan berjalan kaki. Anehnya, setiap kali mendapatkan jalan menurun, sang arif konon agak murung. Sebaliknya, jika jalan sedang mendaki ia tersenyum. Hikmah apakah yang bisa saya petik dari kisah ini?"

"Itu perlambang manusia yang telah matang dalam meresapi asam garam kehidupan. Kita perlu jadikan cermin kehidupan. Ketika bernasib baik, sesekali perlu kita sadari bahwa suatu ketika kita akan mengalami nasib buruk yang tidak kita harapkan. Dengan demikian kita tidak terlalu gembira sampai lupa bersyukur kepada Sang Maha Pencipta. Kemudian, ketika nasib sedang buruk, kita memandang masa depan dengan tersenyum optimis. Optimis saja tidak cukup, kita harus mengimbangi optimisme itu dengan kerja keras."

"Apa alasan saya untuk optimis, sedang saya sadar nasib saya sedang jatuh dan berada di bawah."

"Alasannya ialah iman, karena kita yakin akan pertolongan Sang Maha Pencipta."

"Hikmah selanjutnya?"

"Orang yang terkenal satu ketika harus siap untuk dilupakan, orang yang di atas harus siap mental untuk turun ke bawah. Orang kaya satu ketika harus siap untuk miskin."

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda