10 December 2010

TAMAN SASTRA PUNYA LOMBA....


oleh Lucky Andrean Sanusi pada 11 Desember 2010 jam 13:58
Dalam rangka menyambut kelahiran Group Taman Sastra, kami mengadakan lomba menulis cerita pendek (cerpen)  dan puisi, yang kami beri tema  JUARA (Judul Awal Rumah). Mengapa Rumah? Karena  rumahlah lingkungan yang paling dekat dan utama bagi kita. Tapi rumah yang dimaksudkan di sini lebih bermakna  filosofis, dalam arti yang luas, tapi juga tidak menutup kemungkinan rumah dalam arti sebenarnya. Jadi  nggak perlu pusing-pusing.  Pokoknya  cerita tentang rumah. Untuk lebih jelasnya, lihat contoh cerpen di bawah (tapi ini hanya contoh lho, jangan terlalu jadi patokan. Nanti cerita kamyu  jadi kaku, kehilangan greget dan nggak kamyu banget. Yang penting kembangkan saja imajinasimyu!). Apa saja syarat lombanya? Ini dia :

SYARAT LOMBA :


1. Peserta tergabung dalam Group TAMAN SASTRA. Link Group TAMAN SASTRA : http://www.facebook.com/home.php?sk=group_170967649592856

2. Naskah harus asli, bukan terjemahan, saduran, atau mengambil ide dari karya orang lain yang sudah ada.

3. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirim 1 (SATU) karya terbaik, cerpen + puisi. Puisi bebas tidak harus sesuai isi cerpen.

4. Naskah belum pernah diterbitkan di media massa, (cetak maupun elektronik), dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain. (Yang sudah pernah dibuat di note Facebook boleh diikutkan).

5. Tema bebas, yang penting judul berawalan Rumah, misalnya : Rumah Air, Rumah Cinta, Rumah Pasir, dll.

6. Format tulisan : Kertas A4 spasi 1 ½, font Times New Roman 12. Margin default (standar).

7. Naskah dikirim ke e-mail : taman_sastra@yahoo.com, attachfile, rtf, nama file : NAMA FB PENULIS + JUDUL CERPEN, sertakan biodata lengkap penulis beserta foto terbaru di akhir cerita.

8. Cerpen dan Puisi yang dikirim wajib diposting di note FB masing-masing, men-tag : Lucky Andrean Sanusi, Dwi Bagus MB, Bro Faris, Casofa Fahmy dan minimal 15 teman lainnya.

9. Menyalin kata-kata berikut –dalam kurung—di  bawah Cerpen dan puisi yang diposting di note FB : ( Cerpen dan puisi ini diikutkan dalam lomba "JUARA" Group TAMAN SASTRA, info dan ketentuan lomba klik disini :
http://www.facebook.com/note.php?saved&&note_id=10150353537570534 )

10. Naskah yang masuk menjadi hak milik Group TAMAN SASTRA, keputusan dewan juri  tidak dapat diganggu gugat.

11. Batas lomba : 11 Desember – 31 Desember 2010, pukul 00.00 WIB

12. Pengumuman hasil lomba : 11 Januari 2011


DEWAN JURI :

1.Dwi Bagus MB, Penulis Buku, antara lain :
- Hikmah Jenaka ala Nasrudin Hoja (Mizan)
- Ustad Juga Bisa Jenaka (Mizan)
- Nabi Aja Becanda (Hikmah Mizan)
- Rahasia Rezeki, Jodoh dan Mati (Hikmah Mizan)

2. Ahmad Faris, Penulis Buku juga, di antaranya :
-New Package of Happiness
- Life Is Miracle (Ajwah Medina)

3. Casofa Fahmy, juga Penulis Buku, antara lain:
-Be Pe De, Please (Gema Insani Press)
-Muslimah Mewangilah hingga ke surge (Gazza Media)
-Muslim Padat Karya (Gazza Media)

4. Team Group TAMAN SASTRA


PEMENANG :

Juara I : Uang sebesar Rp.250.000,- + Buku Life Is Miracle (bertanda tangan Andi Arsyil Rahman Putra, salah satu penulis buku ini, pemeran Furqon dalam buku Ketika Cinta Bertasbih)

Juara II : Uang sebesar Rp.200.000,- + Buku Ranting Sakura (bertanda tangan penulisnya)

Juara III : Uang sebesar Rp. 150.000,- + Buku Karenina Singa Bauhinia (bertanda tangan penulisnya)

Rencananya hasil lomba ini akan di jadikan buku antologi cerpen dan puisi, dan akan diajukan ke penerbit.  Perjanjian detail setelah pengumuman pemenang bagi naskah yang diikutkan ke dalam buku.

Selamat berlomba, Salam hangat penuh semangat dan  mari jadikan tulisan lebih bermanfaat!



Lucky Andrean Sanusi
Creator Group TAMAN SASTRA

* SILAHKAN BAGI YANG INGIN SHARE



CONTOH CERPEN :

RUMAH AIR

Tawa bocah itu bagai resonansi kehidupan yang menularkan kebahagiaan bagi siapapun yang melihatnya,tak terkecuali aku,bahkan ianya bagaikan magnet kecil yang punya daya tarik yang kuat, buatku penasaran ingin mendekati,mencari jawaban atas rahasia kebahagiannya. Kakiku terasa berat,tertahan air yang menggenang hebat.Dengan perlahan akhirnya akupun berhasil mendekati bocah itu.

“Lagi ngapain dik?” Sapaku seramah mungkin

Sang bocah masih asyik dengan “mainan” embernya.

Kusapa kembali sambil mengikuti gerakannya seolah-olah membantunya

“Adik manis gi ngapain sich?”

Dia menatapku sejenak,lalu tersenyum lepas,bola matanya bulat, begitu bening dan bersih,melambangkan kejujuran dan apa adanya, begitu menyejukkan.

“Lagi bermain sama air Kak, Kakak mau ikutan main?”

Ku tersenyum ironis sambil berucap,“bukannya adik lagi membersihkan rumah adik yang lagi kebanjiran?”

“Ini namanya Rumah Air Kak”

“Rumah Air?” kataku heran

“Ya, Rumah Air”

“Belajarlah bersahabat dengan air, karena air ini tamu kita Kak,dia terpaksa mendatangi kita untuk mencari tempat perlindungan, karena rumahnya telah kita rusakkan”

“Bukankah kita harus memuliakan tamu Kak?” bocah kecil itu berkata sambil tangannya yang mungil terus bergerak mengeluarkan air dari dalam rumah,tak ada sedikitpun gurat kesedihan diwajahnya.

“He…eh…i….i…ya dik” jawabku gugup

“Pohon-pohon di hutan telah banyak yang ditebangi dan tak ada lagi “rumah” tempat berteduhnya air Kak,” ucapnya lagi polos dan mengalir seperti air.

“Itu semua karena ulah kita juga kok kak,begitu kata ayah”

“Tapi kalau bersahabat, kenapa airnya adik usir keluar?”

“Karena sudah cukup bermainnya Kak, dan aku membantu mereka pulang ke rumah mereka”

“Ooo,gitu ya dik?” kataku terbengong-bengong

“Iya Kak”

“Ayahnya mana dik?”

“Itu di dalam, lagi beresin barang-barang”

“Kata Ayah, Ayah lagi memberi ruang bagi air”

Tanpa berpikir panjang, segera ku dekati Ayah sang bocah

“Pak, maaf ya” sapaku “Apa bapak gak merasa sedih dengan keadaan rumah bapak yang kebanjiran begini?”

Bapak itu menghela napas yang dalam, lalu berkata

“Ya, sejujurnya sedih dik,siapa sih yang gak sedih”

bapak itu diam sesaat,lalu melanjutkan kata-katanya

“Bayangkan,jika hujan deras ditengah malam,sementara tetangga pada tidur nyenyak di buai hujan,kami malah was-was tidak bisa tidur,berjaga-jaga jikalau banjir datang”

“Tapi bagaimanapun bapak harus berusaha tegar didepan anak Bapak”

“Bapak juga malu sama Allah dik,jika membaca surah Ar-Rahman,31 kali Allah mengatakan

“Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

“Ini sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding nikmat yang telah Allah berikan kepada saya dik”

“Diberi kesempatan untuk menghirup oksigen gratis saja sudah syukur”

“Coba kalau Allah minta bayaran Dik?”

Subhanallah,tak kusangka dari seorang yang sederhana dan bersahaja seperti bapak ini, keluar ucapan yang sangat bijaksana, inilah pelajaran sesungguhnya, yang kudapatkan melalui seorang bapak yang meng “iqra” ayat-ayat “kauniyah” disekitar dengan keluguannya.

Tiba-tiba kudengar langkah-langkah kecil diiringi suara riak air mendekati kami.

“Yah..itu sudah adzan…yuk kita ke masjid”

“Lho bukannya ini belum selesai dik,tanggung kan?”

“Sebaik-baik sholatkan diawal waktu Kak dan di masjid” katanya menggurui

“Apa masjidnya gak ikut kebanjiran?” kataku dengan spontan

“Ya gaklah Kak,ini rumah air maka tamunya air” jawabnya sambil sibuk mengambil pakaian bersih. “Kalau masjid kan Rumah Allah,maka tamunya ya bukan air,melainkan orang-orang yang mendirikan sholat di masjid, betulkan yah?”sambungnya lagi sambil melirik ke Ayahnya

“Betul, pinter kamu nak” jawab Sang Ayah sambil memasang kancing kokonya.

“Jelas donk, anak siapa dulu…he….” bocah kecil itu menyambut kata-kata ayahnya sambil meletakkan tangan dipinggang

“Yuk Kak, skalian ikut ke masjid” bocah itu lalu menggenggam pergelangan tangan kananku dengan kedua jemarinya yang mungil dan menyeretku tanpa bisa ku menolaknya.

Subhanallah….Sungguh suatu perjalanan berarti bagiku,disaat kita asyik-asyiknya menikmati bermain air di “Water Boom”,walau harus rela membayar yang mungkin bagi sebagian orang tidak mampu membayar, si bocah kecil malah ceria dalam ketiadaanya,tanpa harus kehilangan kesempatan bermain air juga,tapi ditempat yang berbeda,mungkin inilah “Water Boom alami” mereka, “Rumah Air”.

 Dumai, 05 Maret 2010 Pukul 21.23 WIB


CONTOH PUISI :

TAFAKKUR DIRI

Jika hati penuh kenistaan
Pergilah ke kampung perubahan
temukan telaga ke imanan
basuh jiwamu dengan perlahan
dengan penuh ke istiqomahan

Lalu...
selamilah dalamnya telaga
jangan ragu-ragu memasukinya
jika ragu yang merasuki dada
hanyutlah kita di buatnya
karena tipis tali keimanan kita

tapi…
jika yakin mengarunginya
rasakanlah....
Perlahan tapi pasti,
kenikmatan itu akan menjelma
buat kita mabuk jadinya
karena cinta Ilahi telah menyentuh jiwa
smakin hari makin jatuh cinta pada-NYA
tapi memang tidak mudah
hanya dapat di rasa oleh hamba yang shaleh dan shalehah

mulai saat ini
tataplah cermin hati
tanyalah pada diri
termasuk hamba yang manakah kita ini.

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda