17 June 2011

7 Kesalahan Menulis Ending

Joni Lis Efendi
Kelas Online:

7 Kesalahan Menulis Ending

Oleh Joni Lis Efendi
www.menulisdahsyat.blogspot.com

Ending merupakan penutup cerpen. Judul, kalimat pembuka dan ending adalah tiga serangkai yang menjadi salam perkenalan yang sangat menentukan dilirik tidaknya sebuah cerpen oleh redaktur koran/majalah. Bahkan, dalam lomba cerpen, dalam seleksi awal biasanya panitia atau dewan juri juga sangat memperhitungan 3 hal ini.
Nah, sekarang kita lihat 7 kesalahan yang paling sering dilakukan oleh penulis pemula:
1. Ending yang terlalu klise, yakni gampang ditebak dan ditulis dengan gaya yang biasa-biasa saja. Misalkan, Anto suka sama Ratna, tapi Ratna terlanjur suka sama Johan. Sekuat tenaga Anto menarik perhatian kepada Ratna. Ratna pun akhirnya menjalin hubungan dengan Anto. Tapi Johan tahu juga hubungan gelap Ratna dan Anto. Ending klise biasanya seperti ini: Johan meminta kejujuran kepada Ratna, “Pilih aku atau dia?” Dan, si Ratna termehek-mehek mengakui kesalahannya dan akhirnya balik lagi ke Johan, kisah pun selesai. Klise banget.

2. Ending yang menggurui pembaca, dengan kata lain penulis menjustifikasi benar salah secara blak-blakan. Misalnya: cerita tentang Doni yang sering bolos sekolah, akhirnya dia tidak lulus UAN. Ending yang menggurui: Itulah kelakuan Doni yang suka bolos akhirnya dia tidak lulus UAN. Pembaca sekalian jangan sekali-kali mencontoh kelakuan buruk Doni. Tapi kalau memang ingin tidak lulus UAN, sering-sering saja bolos. Karena bolos sekolah adalah pekerjaan murid yang balas belajar. Sudah pasti dia tidak naik kelas.

3. Terlalu memperpanjang-panjang cerita. Cerita sudah selesai tapi penulis masih ingin memperjelas cerita, seakan-akan masih meragukan bahwa pembaca belum paham apa yang diinginkannya.

4. Ending yang sama sekali tidak memberikan jawaban dari penyelesaian konflik. Ini namanya ending nyasar. Berbeda dengan ending menggantung, yakni ending yang tidak menuntaskan semua konflik terlalu dalam tapi pembaca sudah menangkap penyelesaian ceritanya.

5. Terlalu mudah mematikan tokoh cerita di bagian ending. Ini bisa masuk kategori penulis yang kurang kreatif. Sedikit-sedikit tokohnya mati kena tabrak mobil lah, mati karena jatuh dari jurang lah, mati lantaran negak obat nyamuk lah, atau tiba-tiba dapat penyakit kanker stadium empat, padahal di awal-awal cerita si tokoh cerita sehat wal afiat tanpa ada gejala kanker sama sekali. Ini benar-benar ending bikin gemas dan menjengahkan.

6. Bingung mau mengakhiri cerita lantaran si penulis tidak menguasai konflik dengan baik. Indikasinya, muka si ending jadi belepotan. Tidak jelas mau dibawa ke mana, dan lebih sering dirasa jadi bertele-tele. Ending itu adalah jawaban dari konflik, fokuskan saja penyelesaian kepada konflik. Dan, tidak usah mutar-mutar.

7. Niatnya mau bikin kejutan, eh malah jadinya ke sangkut tali jemuran, maksudnya. Ending seperti ini hamper mirip dengan kasus nomor 5 tapi lebih kepada kejutan akhir cerita yang tidak penting. Contoh, seorang tokoh berjuang mati-matian mencari duit untuk biaya melanjutkan kuliah, tapi tiba-tiba dia berubah pikiran dan maunya segera menikah. Nah loh, yang ending macam ini bikin bĂȘte pembaca.

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda