Sekolah Murobbi 1-6-2025
Di DPD PKS KAB TEGAL
MC: Ust. Rokhyan
Sekolah Murobbi diagendakan 2 bulan sekali.
Tilawah: Ust. Hamdah
Sambutan: Ust. Aziz Azindani (koordinator KIP kuliah)
Kita bergerak karena Alloh, berjihad dengan waktu, tenaga, harta dan jiwa untuk menjaga niat kita karena Alloh.
Komisi X sekarang dipegang oleh Golkar, sehingga KIP tidak bisa segencar tahun-tahun sebelumnya. Karena itu, harapannya 333 mahasiswa bisa dibina dengan baik.
Taujih: Ust. Tamim
Salah satu problem dalam pembinaan: pembinaan berjalan, tapi hasilnya tidak kelihatan (tidak sesuai dengan yang diinginkan).
Kita jarang mengamati tujuan dari pembinaan itu sendiri.
Kita bahas: Pembinaan berbasis tujuan
Tarbiyah berdasarkan ukhuwah.
Pembinaan berbasis tujuan akan berhasil jika mengikuti jejak KH. Ahmad Dahlan.
Beliau mengisi taklim pengajian dengan tidak berpindah-pindah materi.
Dakwah Rasulullah juga berbasis tujuan.
Aljumu'ah: 2
Alloh mengutus pada orang-orang yang ummi, membacakan ayat-ayat, sehingga mendapatkan pelajaran.
Kita kadang tidak membacakan ayat-ayat Alloh kepada binaan. Hasil dari bacaan adalah pengetahuan.
Melakukan proses tazkiyyah itu ada 3 hal:
1. Mensucikan
2. Menumbuhkembangkan
3. Mengajarkan Alquran dan sunnah, sehingga bisa disiplin sesuai dengan tata aturan Alquran dan sunnah.
Ilmu itu harus berbuah amal, dan amal itu harus berbasis ilmu.
Bayangkan kita jadi pembimbing seperti Rasulullah, dan binaan seperti para sahabat Rasulullah.
Belajar mempraktikkan amal jami'an (sekaligus).
Belajarnya tidak lebih dari 10 ayat.
Kuantitas tidak mendapatkan perhatian lebih.
Belajar membacakannya, memahaminya, dan mempraktikkannya.
Masa-masa setelah Rasulullah juga harus berbasis tujuan.
Yang pertama masalah aqidah.
Iman itu diucapkan dengan lisan, dibenarkan oleh hati, dan diaplikasikan dengan perbuatan.
Ucapan dengan lisan.
Pembenaran dalam hati, ini melibatkan emosi.
Lalu dilakukan dengan perbuatan.
Perdebatan tentang Alloh tidak butuh tempat dan wajah Alloh menjadi panjang dan saling mengklaim ahlussunnah waljamaah.
Kalau kita bicara tentang fiqih, tetap harus berbasis tujuan.
Imam Abu Hanifah mendefinisikan fiqih: pengetahuan seseorang tentang hak dan kewajiban.
Para pembina jangan sampai berfikir materialistis, yang penting sudah menyampaikan materi.
Bukan sekedar bagaimana pengetahuan tentang manusia mengenai hak dan kewajiban.
Kita belajar fiqih hanya untuk belajar dan tidak dipraktikkan. Contoh, belajar tentang sholat witir, tapi tidak dipraktikkan.
Kerja dakwah itu ada 4 hal penting:
1. Mengubah ketidaktahuan menjadi tahu. Karena itu, ketika kita datang ke tempat pembinaan, setidaknya membawa pengetahuan yang bisa disampaikan kepada binaan
2. Mengubah pengetahuan menjadi pola pikir dan paradigma.
3. Mengubah cara pandang, pola pikir, dan paradigma menjadi perilaku. Jadi tidak cukup materi tersampaikan, tapi kita juga bisa melakukannya.
4. Bagaimana kita sebagai pelaku dakwah harus bisa mengarahkan binaan kepada ridho Alloh SWT.
Jika binaan bubar, itu karena kurangnya keikhlasan kita dalam membina.
Bagaimana perilaku itu bukan tujuan akhir, tapi keikhlasan kita kepada Alloh SWT.
Yang kita bina adalah objek dakwah, jadi harus bisa mengarahkan mereka untuk menjadi lebih baik.
Tanya: jika respon binaan pasif, cenderung acuh tak acuh. Dengan cara apa agar mereka bisa berinteraksi dengan baik?
Jawab: yang sedang kita hadapi adalah generasi muda. Dimensi UPA (pembinaan) itu ada 4:
1. Dimensi kekeluargaan. Kita sebagai pembinaan usahakan sebagai orangtua, teman, bagi mereka. Binaan jika disapa itu senang.
Perhatian akan membuat mereka mengingat kita. Tanyakan kabar, sudah sholat atau belum? Hubungi mereka, siapa tahu mereka sedang dalam kesulitan. Komunikasi itu penting.
2. Dimensi keilmuan. Sebagai guru itu ilmiah.
3. Dimensi kerohanian. Posisikan kita sebagai guru spiritual. Jadikan kita sebagai teladan.
4. Dimensi keorganisasian. Ambil peran kita sebagai komandan.
Ketika anak tidak hadir tanpa keterangan, segera ditelpon. Tanyakan alasannya.
Setelah diberikan pengetahuan, berikanlah kuis, bisa sesuai materi atau hal lain.
Tanya: dulu ketika dakwah bukan karena partai, itu nyaman2 saja. Tapi ketika mulai di bawah partai, mulai banyak perpecahan di antara kader dakwah.
Jawab: setiap perangkat harus ada. Kita harus menjadi struktur di organisasi, karena masanya sudah berbeda.
Sambutan Bp. Huda terkait buku panduan pembina:
Kita disuruh berkomitmen untuk mengikuti sekolah Murobbi dan selalu hadir.
Ash-shof: 4 , ayat ini yang dipakai oleh pasukan Pakistan sebagai serangan balasan kepada India.
Alloh mencintai barisan yang kuat, hingga terbentuk bangunan yang kokoh.
Kita punya program dan arahan yang sama, dengan memiliki buku panduan, dimana harapannya para pembina tidak kebingungan, sehingga tahu ke mana arahnya.
Buku panduan yang pertama kali dibuat, sehingga diberi label 1,0
Sampai bulan Desember, nanti ada cetakannya lagi.
Hari libur nasional tetap ada pembinaan.
Materi sampai bulan September bisa dilihat.
Ada 4x pertemuan setiap bulannya. Di pekan kelima bisa olahraga atau lainnya.
Tema/judul yang dibuat bisa kolaborasi antar pembina.
Lampiran 1 setelah hal 13 mohon segera diisi.
Tugas sekretaris salah satunya itu.
MC, berita, kultum, laporan pekanan diisi oleh mahasiswa.
Kita harus tahu kondisi binaan, meskipun kita tidak tahu solusinya.
Kas sesuai kebijakan kelompok. Penggunaannya juga sesuai kesepakatan bersama.
Harus ada kebersamaan.
Sekretaris harus menulis catatan materi yang disampaikan pembina.
Lampiran kedua, presensi kehadiran, diisi setiap pertemuan.
Lampiran ketiga, laporan bulanan, di hal. 10, diisi oleh pembina.
Lampiran keempat, ketika mahasiswa ada catatan khusus. Misal: mahasiswa berangkat pembinaan cuma sekali, atau di-DO kampus.
Lampiran kelima, laporan tahunan, oleh Ust. Aziz.
Juni:
Aziz: materi no 5
Futicha: no 6 termotivasi beramal sholeh
Zummy: no 7
Imam: no 8
Syifa: no 9
Nur Hidayati: no 10
Salma: no 11
Agustus
Anita:
Daryono:
Siska: 16
Henni: 17
Toni: amanah
Riski: pribadi sabar
Fitri: menghindari ghibah
Sutrisno: menghindari iri dengki
Adi: menghindari sombong
Sambutan Bp. Adi Wiratmoko
Peran pembina adalah mulia.
Kita bisa disebut sebagai generasi albanais.
Konsisten pada prinsip nabi.
Tantangan yang dihadapi bisa jadi solusi tantangan ke depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda