10 Januari 2026

Bangunan Hijau yang Menunggu

Bangunan Hijau yang Menunggu

Di balik cat hijau yang memudar,
kau berdiri dalam diam yang panjang.
Tiang-tiang kokoh menyimpan kisah
tentang langkah-langkah yang pernah riuh.

Rumput liar tumbuh tanpa izin,
seakan ingin menutup jejak waktu.
Tak ada suara, tak ada tawa,
hanya angin yang setia singgah.

Dindingmu retak oleh sabar,
atapmu menua oleh penantian.
Namun kau tidak benar-benar kosong—
kenangan masih berdiam di setiap sudutmu.

Wahai bangunan yang terlupa,
kau mengajarkan arti bertahan:
meski ditinggal, meski sunyi,
tetap tegak menunggu hari kembali berarti.

Hijau yang Mengajarkan Sabar

Hijau yang Mengajarkan Sabar

Di hamparan hijau yang tumbuh tanpa suara,
aku belajar tentang hidup
yang tak perlu riuh untuk berarti.

Daun-daun kecil saling menyapa angin,
tak saling mendahului,
tak pula saling iri—
semuanya tumbuh sesuai waktu.

Embun pagi menempel lembut,
seperti doa yang jatuh diam-diam
namun menyejukkan.

Wahai hijau,
kau mengajarkanku bahwa kuat
tak selalu tentang menjulang tinggi,
kadang cukup tentang bertahan
dan tetap hidup
di tanah yang sederhana.

Dan aku pun paham,
Tuhan menumbuhkan harapan
dengan cara yang sangat tenang.

Di Balik Cahaya yang Diam

Di Balik Cahaya yang Diam

Aku berdiri di antara terang dan teduh,
membiarkan cahaya menyentuh wajah
tanpa banyak kata.

Ada cerita yang tak perlu disuarakan,
cukup disimpan di dada
dan diserahkan pada langit.

Waktu berjalan pelan,
seolah mengerti lelah yang kupikul,
seolah tahu
aku sedang belajar ikhlas.

Jika hari ini aku tersenyum tipis,
itu bukan karena segalanya baik-baik saja,
melainkan karena aku percaya:
Tuhan tak pernah salah menaruh hamba-Nya.

Dan di momen sesederhana ini,
aku memilih tenang,
karena harapan
masih hidup di dalam cahaya.

05 Januari 2026

Puisi: Di Antara Diam dan Cahaya

 


Di Antara Diam dan Cahaya

Gunung berdiri dalam hening yang agung,
menyimpan kisah waktu di lipatan awan.
Langit senja menurunkan warna lembut,
seakan doa turun perlahan ke bumi.

Danau membentang sebagai cermin jiwa,
menampung langit tanpa bertanya apa-apa.
Ia diam, namun jujur memantulkan segalanya,
seperti hati yang ikhlas menerima takdir-Nya.

Pepohonan berjajar dalam kesetiaan,
tak bersuara, namun tetap menunaikan peran.
Mengajarkan bahwa keteguhan tak selalu lantang,
cukup berdiri, tumbuh, dan bertahan.

Di hadapan ciptaan-Mu yang begitu sempurna,
aku belajar tentang sabar dan tawakal.
Bahwa hidup, seperti alam, punya waktunya sendiri,
tenang dalam rencana, indah dalam kehendak-Mu.