12 April 2011

PSIKOLOGI MENULIS


oleh Penerbit Azam Jaya Press pada 12 April 2011 jam 20:01
 
Dalam kajian populer, menulis adalah bagian dari ekspresi jiwa—yaitu, ada sebuah pengungkapan perasaan diri yang bersumber dari hati dan pikiran manusia. Apa yang diketahui manusia, apa yang dirasakan manusia, dan apa yang menjadi alur gaya berpikir manusia—mencoba diterapkan pada bagian-bagian huruf yang mereka susun. Secara sederhana, proses pembentukan menulis, jika dipahami dari teori pragmatisme ala william james merupakan sebuah gerakan atau bentuk tindakan berpikir manusia. Pragmatisme sendiri lebih  menekankan kepada metode dan pendirian daripada suatu filsafat.

Dalam konsep kebenaran pragmatisme, ada kalimat william james yang cukup padat dalam menggambarkannya, “Kebenaran terjadi pada ide/gagasan.” Nah, di lihat dari cuplikan singkat tersebut—ada sebuah kebetulan yang memadai jika diadaptasi pada gerakan menulis, ialah ketika ekspresi menulis merupakan sebuah ungkapan jujur (kebenaran diri). Maka kekuatan kebenaran “menulis” yang mengalir dari ide yang murni, atau gagasan yang segar, akan menjadi sebuah manfaat dari setiap tulisan. Karena kebenaran yang diyakini pada suatu gagasan. Dalam hal ini, kebenaran sebagai sesuatu yang dinamis. Kebenaran yang terlahir dari sebuah gagasan bukanlah dikatakan “benar”, melainkan “menjadi benar”. Dengan demikian, gagasan akan dianggap menjadi benar, jika menyalurkan manusia pada suksesnya tindakan, entah itu tataran moralnya, dan gaya hidupnya. Dikorek lebih dalam, benar dan manfaat adalah dua hal yang sama. Akan tetapi, ada bentuk “pasti” dan “tidak pasti”, ialah segala sesuatu yang benar belum tentu manfaat—namun, hal yang bermanfaat sudah pasti benar. Pendeknya, untuk menjadi benar yang mutlak, hal yang menjadi benar itu harus bermanfaat. Begitupun dengan tulisan, semua kata yang tercurahkan dalam sebuah tulisan adalah “benar”, dan semua model buku yang ditulis oleh para penulis adalah “benar”. Namun nilai kebenaran dari segi manfaat mempunyai takaran yang berbeda, ketika manfaat ditempatkan pada porsinya. Manfaat, bisa mengacu pada individu, kelompok, bahkan bisa juga kesluruhan. Tinggal bagaimana kita membuat alur kedirian, ide, dan gagasan kita—mana yang menjadi objek tujuan dalam menulis. Di situlah dasar kejiwaan kita, akan dibimbimng untuk menyelami daratan ide dan gagasan yang kita usung.

Kajian lebih singkatnya, proses verifikasi terhadap suatu gagasan dapat dipahami dengan dua cara pandang, yaitu: prospektif dan retrospektif. Secara prospektif, gagasan itu “benar” jika mengarahkan kita untuk melakukan tindakan. Dalam hal ini, proses verifikasi dimulai, dan gagasan tersebut memiliki kemungkinan untuk terbukti benar. Secara retrospektif, proses verifikasi telah mencapai hasilnya. Jika hasil tersebut bermanfaat, maka gagasan tadi merupakan gagasan yang benar. Nah, dari sini kita bisa sedikit mengambil hikamah—kemuliaan seorang penulis tidak karena banyaknya karya yang mereka keluarkan (biasa disebut produktif). Sebab, bukan itu esensi dari sebuah karya, melainkan bagaimana kita mengukir sebuah karya yang bisa melekat, dan berkualaitas. Sehingga karya kita benar-benar menjadi manfaat yang tinggi. Namun, fenomena yang merebak sungguh sangat memprihatinkan. Penulis satu dengan penulis lainnya saling “gontok-gontokan” hanya ingin menunjukan siapa yang paling produktif. Sejatinya bukan produktivitas yang dicari tapi kualitas. Itulah potret daripada pragmatisme menulis yang gagal. Lebih mengedepankan menjadi benar yang tidak bermanfaat, daripada menjadi benar yang manfaat. Sehingga kehendak benar itu melenceng, menjadi kehendak ingin menguasi. Mereka kehilangan esensi dan inti dari kehidupan karya.

Gejala tindakan yang melenceng, ternyata merupakan gangguan mental yang dialami oleh penulis. Karena ketika orang memaksa untuk jadi produktif—tapi dia sebenarnya tidak mampu, otomatis syaraf dan gerak motorik pikiran tidak akan berjalan dengan baik. Ide-ide dan gagasan yang keluar-pun menjadi mentah, itu sudah banyak terjadi dalam dunia tulis menulis. Sejatinya, menulis bukanlah bentuk keharusan menjadi hebat, melainkan keharusan menjadi nyaman. Bukan juga keterpaksaan tindakan karena adanya tuntutan, melainkan keterikatan kebahagian. Segala sesuatu yang difungsikan secara berlebih, maka sudah pasti akan mengalami gangguan (gelisah, tidak nyaman, mendertita, frustasi, dan sebagainya), dan itu sudah menjadi hukum alam yang tetap. Memang wajar, ada rasa ingin unggul dari keunggulan-keunggulan yang lain. Namun, keunggulan bukan terletak pada berapa banyaknya sesuatu, tapi bagaimana membuat “sebuah” menjadi “sesuatu”. Bukan begitu?

Intinya, bagaimana kita membentuk pribadi kita yang berkualitas, dan bagaimana kita mencurahkan apa yang ada dalam diri kita menjadi berkualitas juga, agar apa yang kita curahkan menjadi suatu manfaat yang tinggi. Kadangkala kita sungkan untuk itu, kita hanya ego dengan apa yang kita yakini, sebagai kekuatan diri yang sesungguhnya tidak berdiri. Kelihatannya merupakan hukum alam dan hukum sejarah yang ditetapkan Tuhan bahwa pribadi yang mau tumbuh dan berkembang kuat mesti diperhadapkan lebih dahulu dengan problem dan hambatan agar seseorang dituntut untuk menggali dan mengembangkan potensinya yang masih terpendam. Dalam berbagai macam istilah yang mendukung pernyataan tersebut, yaitu “the sleeping giant” atau singa yang tidur. Ada lagi istilah “the hiden power”, kekuatan yang terpendam. Dalam istilah sufi, pada diri kita terdapat arasy atau singgasana Tuhan, sehingga kalau seseorang bisa menyerap sifat-sifat Ilahi ke dalam hatinya, maka ia akan lebih besar ketimbang bumi dan langit. Nah, berkaca dari berbagai istilah dan pembahasan tersebut, semestinya kita bisa mengetahui proses menulis yang baik dan benar serta nyaman seperti apa. Karena menulis bukan lah bentuk krativitas yang rakus. Melainkan penghayatan akan sesuatu pembahasan kemudian kita cerna, lalu dikemas menjadi sesuatu yang menarik—akhirnya melahirkan definis baru. Gagasan atau ide kebenaran-pun tak akan pernah terlahir secara sempurna jika kita memaksakan alur pikiran kita. Jadi lebih baik kita luangkan dengan lebar, alur kegengsian, alur keegoisan, dan sebagainya. Karena menulis bukan gangguan jiwa yang menyebabkan manusia mengumpat pada dirinya sendiri, menulis adalah ekspresi jiwa tulus. Yang mana penyucian jiwa dilakukan melalui deretan kata yang indah dan bermanfaat. Ada kata-kata menarik di akhir ini, “JANGAN PERNAH MERASA PINTAR, TAPI PINTARLAH MERASA.”

Daftar Bacaan:
James, Willaim, Pragmatisme: and Four Essays from The Meaning of Truth: New York: Meridian Book, 1959
Kattsof, Louis O, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004
Hidayat, Komarudin, Psikologi Kematian, Hikamah: Bandung, 2006


NAMBAH: Mohon maaf kalau masih banyak kekurangan, karena memang penampilan teori psikologi tidak ditampilkan secara kompleks. Sebab pasti akan banyak, dan tambah melebar (ujung2nya jadi males baca). Hehehehe
Semoga Bermanfaat… Salam Karya,
“Mari Berkarya Sebelum Dikaryakan”

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda