07 September 2025

Tegar di Jalan-Nya



 Tegar di Jalan-Nya

 

Bab 1 – Hujan dan Surat Tagihan

 

Malam itu, hujan turun deras membasahi atap seng rumah sederhana milik Aisyah. Perempuan itu duduk di kursi kayu, menatap kertas-kertas tagihan yang menumpuk di meja kecil. Angka-angka hutang itu seperti duri yang menusuk dadanya.

 

Suaminya, Fauzi, sudah hampir dua tahun pergi merantau ke luar kota. Awalnya, Aisyah yakin ia pulang membawa rezeki. Namun, seiring waktu, kabarnya makin jarang. Kiriman uang tak lagi datang, bahkan telepon pun jarang terangkat.

 

Aisyah menarik napas panjang, menahan sesak. Dari balik kamar, terdengar suara anak-anaknya belajar. Farhan, si sulung, tengah mengerjakan soal kuliah. Sedangkan Nadia, adiknya, sedang menulis makalah. Mereka berdua tahu keadaan keluarga sedang sulit, tapi tak pernah mereka keluhkan.

 

“Ummi, besok Farhan mau coba daftar kerja paruh waktu. Mungkin bisa bantu bayar kebutuhan rumah,” ujar Farhan sambil menghampiri.

 

Aisyah mengusap kepala anaknya. Senyum tipis merekah di wajah lelahnya.

“Nak, tugasmu sekarang belajar. Jangan bebani diri dengan masalah Ummi. Rezeki Allah luas. Percayalah, Dia tak akan meninggalkan kita.”

 

Farhan menunduk. “Tapi hutang itu… sudah jatuh tempo, kan?”

Aisyah terdiam sejenak. Matanya berkaca-kaca. Namun ia segera menegakkan hati.

“Ummi yakin, akan ada jalan keluar. Allah itu bersama orang yang sabar.”

 

Bab 2 – Banting Tulang

 

Seperti biasa, subuh hari Aisyah sudah terjaga. Setelah shalat dan berdoa panjang, ia berangkat ke madrasah untuk mengajar. Honor yang ia dapat tidak seberapa, hanya cukup untuk kebutuhan harian.

 

Siangnya, ia berjualan gorengan di depan rumah. Sore menjelang malam, ia mengerjakan pesanan jahitan tetangga. Tubuhnya sering lelah, punggung terasa nyeri, tapi hatinya tetap teguh.

 

“Ummi nggak capek?” tanya Nadia suatu malam ketika melihat ibunya masih menjahit sambil menahan kantuk.

 

Aisyah tersenyum. “Capek itu biasa, Nak. Tapi kalau ingat kalian, capek Ummi jadi hilang. Kalian harus kuliah sampai tuntas. Jangan pernah putus di tengah jalan.”

 

“Doakan saja, Mi. Nadia juga ingin bisa membanggakan Ummi. Suatu hari, Nadia akan kerja dan bantu lunasi hutang-hutang itu.”

Aisyah meraih tangan putrinya. “Nak, kalian cukup belajar sungguh-sungguh. Soal hutang, biarlah Ummi yang pikirkan. Ingat, jangan sampai ilmu kalian terhalang hanya karena keadaan.”

 

Bab 3 – Ujian Kesabaran

 

Tak jarang, Aisyah harus menghadapi penagih hutang yang datang ke rumah. Ada yang berbicara halus, ada juga yang kasar. Suatu sore, seorang penagih berkata ketus,

“Bu, kalau nggak bisa bayar minggu depan, barang di rumah ini akan kami tarik.”

 

Nadia yang mendengar ucapan itu langsung menangis. Farhan mengepalkan tangan, nyaris marah. Namun Aisyah menenangkannya.

“Sabarlah, Nak. Jangan membalas kasar. Kita yang berhutang, kita yang harus bertanggung jawab. Allah tahu apa yang kita alami.”

 

Malam itu, dalam sujud panjangnya, Aisyah menangis terisak. “Ya Allah, jangan biarkan aku lemah. Aku ingin melihat anak-anakku sukses. Beri aku kekuatan untuk bertahan.”

 

Bab 4 – Cahaya Pertolongan

 

Hari berganti. Perlahan, Allah menunjukkan jalan-Nya. Dagangan gorengan Aisyah semakin laris. Beberapa murid dan orangtua di madrasah juga sering membantunya dengan cara yang tak ia sangka.

 

“Bu Guru, ini titipan dari ibu saya,” ujar seorang murid sambil memberikan sekarung beras.

Aisyah terharu, matanya basah. “Sampaikan salam dan terima kasih untuk ibumu, ya.”

 

Suatu hari, Farhan berhasil memenangkan lomba karya ilmiah di kampusnya. Hadiah uang tunai dari lomba itu langsung ia serahkan pada ibunya.

“Ummi, ini sedikit bisa untuk bayar cicilan,” katanya dengan senyum penuh harap.

 

Aisyah memeluk anaknya. “Alhamdulillah, Nak. Tapi ingat, yang lebih penting adalah ilmu yang kau dapat. Jangan khawatirkan Ummi.”

 

Sedangkan Nadia, diam-diam rajin mendaftar beasiswa. Hingga akhirnya, ia menerima kabar gembira.

“Ummi! Nadia lolos beasiswa luar negeri!” serunya sambil berlinang air mata bahagia.

 

Aisyah memeluk putrinya erat. Hatinya bergetar. “Subhanallah… Allah benar-benar Maha Mendengar doa hamba-Nya.”

 

Bab 5 – Janji Allah Itu Nyata

 

Beberapa tahun berlalu. Farhan lulus kuliah dengan predikat terbaik dan diterima di sebuah perusahaan ternama. Nadia pun berangkat melanjutkan studi ke luar negeri dengan biaya penuh dari beasiswa.

 

Hutang-hutang Aisyah perlahan terlunasi dari jerih payahnya dan bantuan anak-anaknya. Rumah sederhana itu kini dipenuhi cahaya kebahagiaan.

 

Di suatu malam yang hening, Aisyah kembali bersujud. Namun kali ini, air matanya bukan karena kesedihan, melainkan syukur.

“Alhamdulillah… janji-Mu benar, ya Rabb. Di balik kesulitan selalu ada kemudahan. Engkau jaga aku, Engkau kuatkan aku, Engkau angkat derajat anak-anakku.”

 

Meski rindu pada suami yang tak pernah kembali, hati Aisyah kini tenang. Ia paham, ketegaran sejati bukan sekadar menahan perih, tapi keyakinan penuh bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang sabar dan tawakal.

 

�� Tamat ��

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda