Tampilkan postingan dengan label cerita kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita kehidupan. Tampilkan semua postingan

28 Mei 2017

Gara-gara Mengejar Ayam, Seorang Ibu Meninggal dalam Keadaan Mengenaskan

 
Image: https://www.youtube.com/watch?v=_reHuxXyuh4
                 Pagi hari, selepas subuh, Bu Tina (bukan nama sebenarnya) bangun tidur. Hendak sholat subuh urung, karena melihat seekor ayam peliharaannya yang hendak dipotong lepas dari kandangnya. Didekati, sang ayam malah kabur keluar. Akhirnya Bu Tina pun keluar mengejarnya. Dalam gelap masih remang-remang karena masih pagi, Bu Tina kesusahan mengejarnya. Tidak biasanya si ayam ‘nggara’ (tidak mau diam, red), yang membuat Bu Tina makin kesal.
                   “Nih ayam ditangkap kok susah banget sih?”, gerutu Bu Tina.
                    Sambil berlari-lari terus mengejarnya, si ayam malah semakin menjauh. Semakin didekati, semakin menjauh. Karena kesal ingin segera menangkapnya, saat mulai dekat jaraknya dengan si ayam, Bu Tina langsung melompat dan menubruknya. Tapi tak disangka, saat melompat ternyata di depannya ada lubang kecil yang tak terlihat oleh Bu Tina, hingga ia pun jatuh terjerambab. Dan jatuhnya pun mengenai batu, yang membuatnya kesakitan dan menjerit keras-keras. Bu Tina pun langsung pingsan seketika.
                    Suaminya yang sedang dzikir selepas sholat subuh, kaget mendengar suara jeritan istrinya di luar. Ia tidak tahu kalau istrinya sudah bangun dan sedang mengejar-ngejar ayam. Ia pun segera beranjak keluar mencari istrinya. Karena di luar mulai terang, ia pun bisa menemukan istrinya yang sedang tergeletak karena pingsan. Suami Bu Tina kaget melihatnya. Tidak jauh dari Bu Tina, ayam yang sedang dikejarnya tengah berdiri dan berkokok keras, seolah memberi tahu warga ada orang pingsan di situ.    
                     Suami Bu Tina pun langsung membopongnya dan meletakkan tubuh Bu Tina di ranjang. Ia mencoba menyadarkannya namun lama tak kunjung siuman. Karena takut terjadi apa-apa, ia pun membawanya ke rumah sakit. Tapi naas, belum sempat diperiksa dokter, Bu Tina menghembuskan nafas terakhirnya. Rupanya, kepala Bu Tina yang terbentur batu saat jatuh, membuat kepalanya retak dan menimbulkan pendarahan di dalam kepalanya. 
                       Suami Bu Tina pun langsung shock menerima kenyataan itu. Yang membuatnya sedih, kenapa istrinya tidak sholat subuh dulu sebelum mengejar ayam. Padahal biasanya Bu Tina selalu sholat subuh terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas kesehariannya. Tapi ia berharap, Tuhan mengampuni istrinya atas kekhilafannya tersebut.
  *****
                      Hikmah dari kisah di atas, beribadahlah di awal waktu, karena kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi nantinya. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ini.
Kisah di atas merupakan kisah nyata yang terjadi pada tetangga teman penulis yang diceritakan kepada penulis.

16 November 2013

Saya Gak Ngerti Kenapa PKS Dibenci Banyak Orang


Baca juga di: http://politik.kompasiana.com/2013/11/16/saya-gak-ngerti-kenapa-pks-dibenci-banyak-orang-608419.html


13846219851590382239

Tidak habis pikir, kenapa di media-media begitu banyak opini yang mengupas keburukan PKS dan menelanjanginya sedemikian rupa. Saya perhatikan komentar-komentar kompasioner di judul tulisan Ninoy, “PKS Tak Diajak Koalisi PAN, PPP, PKB dan PBB sebagai Parpol Islam” yang membuatku merinding. Apa tah lagi jika aku membaca opini-opini serupa secara beruntun, selain merinding dan menggigil setiap hari, bisa-bisa aku stroke dan enggan makan.

Yang menjadi pertanyaan di benak saya: apakah memang harus begitu sikap politikus jika sedang menjatuhkan lawan politiknya? Sebegitu bencinya sampai-sampai saya membayangkan mereka komentar seperti itu sambil mengunyah kotoran sapi atau sejenisnya. Dadaku sampai sesak membacanya. Tapi aku tidak ingin hati dan tubuhku jadi sakit gara-gara membaca komentar mereka yang kata orang-orang disebut “hatters”,  jadi aku sebaiknya tidak usah terpengaruh dengan semua itu. Toh, selama aku hidup di dunia nyata, tak ada cacat sedikitpun yang kutemui pada kader-kader PKS di lingkunganku yang aku lihat selama ini. Jadi aku lebih percaya yang kulihat saja daripada yang kudengar atau yang kubaca di opini-opini atau komentar-komentar selama ini. Biarlah anjing menggonggong, asal bukan aku yang menggonggong. Belajar dari yang sudah-sudah, meladeni para hatters hanya bikin kepalaku pusing dan membuatku jadi tidak percaya dengan siapapun. Jadi aku lebih memilih tsiqoh saja pada qiyadah yang kuyakini kebaikannya, meski seluruh manusia membencinya. Aku tidak mau membuang energiku hanya untuk membenci orang-orang yang sudah kuanggap baik, hanya karena aku terpengaruh oleh opini/komentar orang lain.

Saking gak ngertinya, aku sampai bingung harus nulis apa lagi.

15 November 2013

MAKAN TANAH




1384532148330577745
By: Futicha Turisqoh

Mungkin bagi yang pernah mendengar namanya tidak akan asing lagi, sebab di TV juga pernah ditayangkan. Tapi bagi saya yang baru melihat secara langsung, bahkan di depan mata saya sendiri muridku memakannya, memaksaku untuk terbengong-bengong hampir tak percaya. Tanah dimakan??
“Kamu makan apa? Bukannya itu tanah?” tanyaku.
“Iya, emang tanah ….” jawabnya polos.
“Tanah apaan?” tanyaku lagi.
“Tanah dari kuburan … hehe” jawabnya sambil ketawa. Becanda.
“Beneran tanah? Ah, Umi gak percaya” tanyaku masih tak percaya. Saya biasa dipanggil “Umi” oleh murid-muridku.
“Beneran Umi …. Ini tanah …. Nih, Umi mau gak? Enak tau!” jawabnya tegas sambil nyodorin tanah itu. Lalu saya perhatikan baik-baik, dan memang benar tanah, warnanya coklat, seperti tanah-tanah pada umumnya. Karena masih tak percaya, kudekati ibunya yang masih ada di sekolah. Kutanyakan padanya, itu tanah asli atau bohongan? Dan ia pun membenarkannya. Kata dia, itu namanya kue angpao atau kue tanah, karena terbuat dari tanah, tapi harus tanah yang bersih dan jarang diinjak-injak. Dia bahkan menjelaskan cara pembuatannya: tanah dicampur air dan dipadatkan, lalu disisir pakai bambu yang dipotong tipis. Kue tanah atau angpao banyak dikonsumsi orang-orang kampung, terutama kaum ibu yang sedang hamil dan sedang ngidam. Mereka menyukainya karena baunya yang sedap dan bisa menghilangkan rasa asam ataujeleh di mulut. Yang sudah terbiasa memakannya akan jadi ketagihan untuk mengkonsumsinya. Ibu itu bilangnya sih enak, bahkan dia nawarin aku untuk mencobanya, enak apa tidak. Tapi karena saya merasa “jijik” memakan sesuatu yang aneh, membuatku enggan memenuhi permintaannya. Tanah kok dimakan?? Hanya itu yang ada di benakku saat itu, bahkan sampai sekarang pun aku masih bertanya-tanya dalam hati: masak tanah dimakan sih? Apa enaknya??

1384532297543547646

1384532394324053345

1384532482750160743


22 Januari 2011

Dua Helai Sayap Jibril


oleh Ali Irfan pada 21 Januari 2011 jam 11:11
Jibril, tolong kau pinjami aku sayapmu! Biarkan aku melesat dengan kepakkan sayap milikmu, yang dengannya aku dapat melesat jauh hingga ribuan mil. Aku merasa jengah berada di bumi. Di tanah bumi ini, aku tak ubahnya seperti kunang-kunang yang ge-merlap di siang hari. Aku benar-benar merasa tak berarti. Aku ingin pergi ke suatu tempat yang di sana hanya ada kesunyian. Di sini, yang ada hanya gelak tawa sinis, kebohongan juga kata-kata manis yang menipu.

Ambilkan aku dua helai saja dari sayapmu yang mencapai ribuan itu. Dua sayap itu untuk aku tancapkan di kanan dan kiri pundakku. Aku tak bisa membayangkan kalau se-mua-mua sayap yang kau miliki ada dipundakku, mungkin aku akan berubah menjadi sa-tu titik yang tak tampak oleh kasat mata telanjang. Mungkin yang akan ada hanya kum-pulan sayap-sayap yang tergelatak di hamparan tanah, karena aku tak mampu memang-gulnya.

Hahaha....
Jibril malah terkekeh. Tawanya lumayan membuat telingaku memekak.

Aku serius Jibril, kenapa kau malah tertawa. Atau jangan-jangan tawamu itu adalah tawa sinis yang juga menyimpan penuh kebohongan. Lepas, lepaskan sayapmu itu, pin-jami aku sayapmu dan biarkan aku terbang dengan kepakkan sayapmu. Tancapkan, tan-capkan ujung sayap itu dipundakku oleh tanganmu. Biar semua isi dunia tahu, bahwa aku bukanlah seorang lemah yang tak mampu berbuat apa-apa. Aku ingin bisa sepertimu, Jibril.

Aku pernah mendengar cerita tentangmu Jibril, itu pun kalau daya ingatku tak ber-khianat. Yaitu saat kau menjelma menjadi laki-laki gagah dengan jubah putih menemui Muhammad anak lelaki Abdullah. Dan sahabat-sahabat Muhammad pun begitu tercengang melihatmu. Melihat seorang asing yang tampak begitu gagah, yang wajahnya begitu cerah, laku lampah yang menawan dan pasti.

 Juga, kalau daya ingatku tak berkhianat lagi, cerita saat kau bertengger di antara langit dan bumi dengan rupa aslimu. Untuk menemui Muhammad saja kau tampak gagah, apalagi saat kau merebahkan sayap. Mata siapa pun tak mampu melihat ujung sayap yang kau kepakkan secara perlahan. Pada saat itu, semua-mua orang yang menatapmu mengucurkan keringat deras karena kagum menatap kegagahanmu. Dan satu lagi, kepatuhanmu itu yang tak bisa dibandingkan dengan siapapun di jagat ini.

Beruntung bisa bertemu denganmu di tempat yang sunyi ini. karena aku yakin, kau tak akan datang di keramaian. Bukankah kau suka kesunyian? Itulah sebabnya kenapa di malam sesunyi ini aku mau bersendiri hanya untuk menemuimu. Aku pun sama seper-timu, Jibril. Tak suka keramaian, dan hingar bingar oleh orang-orang yang penuh dengan kebohongan, orang-orang yang mengenakan topeng disetiap wajahnya. Menggeluti dunia yang belum juga sudah.

Aku terperangah manakala menatap Jibril tak seperti yang aku gambarkan.

Tunggu, tunggu! Kenapa warnamu tak lagi cerah, semua-mua kulit yang membalut tubuhmu itu membiru. Kau tak habis bertarung dengan raja iblis bukan? Kau tampak lelah, Jibril. Apa karena kau terlalu banyak memecutkan halilintar hingga kau kehabisan tenagamu, aku mencoba menerka. Jibril masih diam. Bahkan ada helai sayap koyak yang tak  tertancap rapi di pundakmu. Ya, dua helai sayap itu hampir lepas dari akarnya.

Jibril hanya menatapku diam, sembari melihati kedua helai sayap yang ada di belakang pundaknya. Matanya menatapku, raut muka Jibril tampak heran saat melihatku berceracas panjang-panjang dihadapannya sedari tadi.
“Kau mau sayap koyak ini?” kata Jibril
“Ambil saja. Aku sudah tak memerlukannya lagi,” tambah Jibril.
Ppfffkkkk!, cuppkkk!
“Sayap ini sudah lama membawaku membahana, dan memang sudah sepantasnya untuk diganti.”
“Benar Jibril?” Aku sedikit tak percaya saat Jibril mengujarkan itu.
“Ayo, cabut saja dua sayap ini, kedua sayap ini justru membuat aku tersiksa. Aku justru lebih senang kalau saja sayap koyak ini tak ada dipundakku lagi,” ulang Jibril lagi.
“Benar Jibril?!”
 “Ayo cabut saja, cabut dengan kedua tanganmu itu.”
Jibril menunduk, aku mendekati perlahan.
“Ayo jangan lama-lama, cabut saja aku tak betah berlama-lama menunduk seperti ini.”
Aku melihat sayap itu memang sudah koyak, helaian-helaiannya sudah tak rapi. Ujung akar sayap itu pun sudah saatnya untuk tercerabut. Mengalir cairan biru dari dasar akar sayap itu. Benar-benar aneh, bukankah sayap Jibril membentang jauh hingga batas pandangan mata pun tak mampu untuk menjangkaunya? Tetapi, yang ada dihadapanku ini tak ubahnya seperti manusia bersayap.
“Apa kau benar-benar Jibril?” Tanyaku.
“Bodoh, kau. Ya.. ini aku.”
“Aku bisa merubah wujudku menjadi siapa saja yang aku mau.”
“Boleh aku bertanya?” tanyaku pada lelaki bersayap.
“Itu sudah pertanyaan.”
“Jadi boleh?”
“Kau boleh bertanya apapun, asalkan kau cabut dulu dua sayap koyak yang ada di pundakku ini. Aku sudah tak kuat dengan kepayahan ini”
“Baiklah, aku boleh bertanya apa saja bukan?”
“Iya, cepat kau lekas cabut sayap ini.”
Aku mulai merabai ujung bulu-bulu halus, menggenggam erat dengan kedua tanganku dibongkot sayap itu. Terasa alot tancapan sayap itu. Walau tampak koyak, masih kokoh.
“Kau itu laki-laki, kerahkan semua tenagamu.”
Aku kembali mencoba untuk mencabut dua helai sayap Jibril yang koyak itu. Terasa susah memang. Tapi aku yakin, sayap itu pasti dapat aku pisahkan dari pundak Jibril. Saat aku menarik sayap itu, mataku terpejam, bibirku kukatupkan dengan gigi. Pun juga dengan Jibril. Aku tampak payah, sekuat tenaga aku menarik sayap itu. Aku lihat Jibril menahan nyeri saat sayap itu aku coba cabut.
“Kau sama saja menyiksaku dengan berlama-lama membiarkan sayap koyak itu masih tertancap di pundakku. Lekas lepaskan....”

“Tidak, aku tak bermaksud menyiksamu. Kau tahan saja, sayap ini hampir lepas”
Dan setelah agak lama berpayah-payah, akhirnya sayap itu lepas juga. Sayap itu bergerak-gerak ditanganku, dan tak lama kemudian... gerakan sayap itu tak lagi aku lihat. Seketika tumbuh dua sayap baru menggantikan dua sayap yang aku cabut dengan payah. Pucat biru yang tadi menyelimuti balutan wajah Jibril kini berangsur kembali seperti semula. Lelaki bersayap yang tak lain adalah Jibril itu tampak sebagai lelaki gagah.
“Sudah, dua sayap koyak milikmu itu sudah lepas. Sekarang kau bisa bangkit seperti pada mulanya, tak usah menunduk lagi. Sayap itu sudah aku cabut, jadi aku boleh bertanya apapun kepadamu.”
Jibril sudah berdiri tegak tepat dihadapanku.
“Lalu apa yang ingin kau tanyakan, sayap itu ambil saja buat kau. Aku sudah tak memerlukannya. Karena sudah tergantikan dengan sayap baru. Kau tak perlu heran, sebangsaku memang tak mampu mencabut sayap dengan tangan sendiri, ketika sayap malaikat mulai koyak, malaikat turun ke bumi menemui manusia-manusia sepertimu. Manusia yang memerlukan sayap malaikat untuk bisa menjadi malaikat walaupun sebenarnya itu tak akan pernah bisa.”
“Justru itu yang aku  tanyakan. Aku ingin bisa sepertimu, yang tak merasa sunyi di kesunyatan. Sementara aku, aku benar-benar muak dengan semua sandiwara kehidupan yang memaksa aku memainkan peran yang tak aku sukai. Aku lebih menyukai peran sebagaimu, sebagai malaikat.”
“Sudah aku katakan, hanya orang-orang bodoh sepertimulah yang terlintas dalam pikirannya untuk bisa menjadi sepertiku, seperti malaikat. Kau tak akan bisa menjadi sepertiku, tetapi kau bisa seperti aku. Dari sikapmu, laku lampahmu dan kepatuhan.”
“Ya tentang kepatuhan itu…” tanyaku kepada Jibril
“Bagiku, kepatuhan itu adalah kutukan, adanya perubahan masa kami tak diberi tahu, dan karena kepatuhan itulah yang sudah melekat kami tak bisa membantah. Apalagi melawan, kami tak diajarkan untuk itu, kami, hanya patuh terhadap segala bentuk perintah sang Khalik, apapun perintah itu,  kami laksanakan. Aku tak bisa membayangkan kalau kau menjadi aku. Orang-orang sepertimu adalah orang-orang yang cepat merasa bosan, apalagi diturunkannya kau ke bumi hanyalah akan merusak apa isi dunia. Tetapi tetap saja, kau diturunkan ke tanah ini. Pernah aku mengelak saat awal-awal golonganmu akan diturunkan ke bumi. Tetapi entah kenapa hingga saat ini aku belum menemukan jawaban yang  masih dirahasiakan itu. Yakni jawaban yang membuat kami kecut dan tak berani melawan,”
“Bukankah lebih enak menjadi sepertimu.”
“Tidak,  kau lebih enak menurutku.”
“Kau,” Jibril membantah.
“Kau,” aku membantah.
“Kau!
“Kau!!”
“Kau!!
“Kau!!!
Aku dan Jibril diam sejenak.
“Jadi... kita sama-sama enak dong.” Serempak aku dan Jibril menjawab sama.
Tak lama kemudian aku dan Jibril terlibat pembicaraan serius.
“Tapi, tidak kawan, kau lebih enak menurutku. Hidupmu lebih berwarna, ada persaingan dan yang terpenting, kau tak sendirian.”
“Tapi, masalahnya aku merasa sepi meski di tengah-tengah keramaian.”
“ Itu bukan masalah menurutku, hanya saja kau terlalu egois.”
Aku, keakuan, egois.
Malaikat, kepatuhan.
Aku benar-benar tak mengerti. Kau tak mengerti apa keinginanku Jibril. Jibril malah tersenyum melihatku. Senyuman yang lama-lama menjadi tawa.
Pffffk, Cuppkk!!!!
Kenapa kau malah melebarkan tawamu Jibril. Tawa jibril begitu menggema, rasanya ingin kututup saja telinga ini. Kedua daun telinga yang aku miliki tak mampu mendengar Jibril mengeluarkan gelak tawa yang seolah mengejekku.
“Aku tidak main-main denganmu Jibril.”
“Kau pikir aku juga main-main?”
 “Bagaimana dengan kedua sayap koyak ini Jibril.”

“Terserah mau kau apakan sayap itu, sayap itu sudah menjadi milikmu. Aku tak berhak dengan sayap itu, bukankah kau menginginkan itu?”
“Ajari aku memasangkan sayap ini di pundakku.”
“Tak akan bisa. Kau terlalu mengada-ada. Mesti berapa kali aku bilang, kau tak akan pernah bisa menjadi sepertiku.”
“Bagaimana mungkin tak bisa kalau kau belum mencoba mengajariku.”
“Dasar manusia keras kepala. Terserah mau kau apakan sayap itu, itu sudah bukan menjadi milikku.” Tanpa ia berucap apa-apa lagi, ia melesat pergi dengan sayapnya.
Sllaapp!!
Berhenti di satu titik dan hilang.
Aku tak sempat menghalangi kepergian Jibril. Ia begitu cepat melesat. Kecepatannya terbang melebihi kecepatan cahaya. Bahkan saat mataku berkedip ia sudah berada di ribuan mil jauh terbang mengelilingi jagat. Aku hanya terdiam. Kedua tanganku masing-masing memegang satu sayap koyak. “Untuk apa sebenarnya sayap ini?” pikirku.

31 Juli 2010

Cerita Kehidupan (1) : Dibutuhkan... Kejujuran di Dunia Maya :)

Cerita Kehidupan (1) : Dibutuhkan... Kejujuran di Dunia Maya :)

Catatan Awy' Ameer Qolawun
Kemarin jam 19:37

Pernah penulis membaca cerita menarik di harian Okaz ( koran dengan oplah terbesar di Saudi Arabia). Cerita tentang sepasang suami istri di Yordania, yang lagi bertengkar hebat.

Kesimpulan cerita, keduanya pun pisah ranjang dan tidak tinggal serumah lagi. Untuk mengusir kesepian dan kejenuhan,keduanya mencoba mencari hiburan dengan masuk ke alam dardasyah (dunia chatting), singkat cerita,keduanya berhasil menemukan pasangan masing-masing di dunia maya.

Sang istri curhat pada 'pasangan'-nya tentang problem hidupnya, begitu juga sang suami pada cewek chat-nya. Mereka pun akhirnya ( setelah lama hubungan maya dengan pasangan masing- masing) sepakat melakukan kopdar.

Pikir sang istri,pasti cowok chat-ku ini orang baik banget,udah begitu perhatian ama aku. Sang suami juga berpikir sama, cewek chat-ku ini pasti lebih baik dari istriku dulu,dan lebih cantik.

Hari pertemuan pun ditentukan,tempatnya di bandara, masing-masing memakai baju dengan warna yang telah disepakati. Sang istri datang duluan di bandara,menunggu cowok chat-nya. Di sisi lain,sang suami berpacu jantung, bagaimana wajah calon istri keduanya.

Waktu berjalan merayap,setelah hampir 1 jam,sang istri dari kejauhan melihat pria berjalan ke arahnya dengan tanda pengenal yang disepakati. Sementara di saat yang sama, sang suami yang juga mau kopdar, melihat tanda cewek chat-nya di kursi pengunjung. Dia pun berlari ke arah wanita itu.

Di tempat lain,sang istri melihat ada pria bergegas mendekat kepadanya. Dan setelah dekat dan bertemu, yang terjadi adalah keterkejutan yang luar biasa, ternyata teman cewek chat si suami itu, adalah istrinya sendiri ! Si istri pun tak kalah kagetnya setelah tahu cowok chat-nya adalah suaminya sendiri.

Dan yang terjadi setelah itu,adalah tragedi, pertengkaran memalukan terjadi di bandara dengan hebat, masing-masing merasa dibohongi oleh pasangan chat-nya.

Percekcokan itu, berakhir dengan perceraian memilukan yang membuat sang istri seketika pingsan di tempat.

Satu kisah di antara jutaan kisah yang terjadi berawal dari dunia maya.

Sebenarnya, perbedaan antara dunia nyata dengan dunia maya tipis sekali, itu jika kita mau dengan cermat memperhatikan.

Kadang orang menjadikan dunia maya sebagai pelarian dari dunia nyata,dia anggap hanya iseng saja, yang tanpa sadar justru dia masuk pada masalah baru.

Sebab bagaimanapun, semua pelakunya adalah manusia yang punya hati. Penulis sama sekali tidak yakin jika usai chat kita merasa biasa saja, pasti terkadang ada perasaan bahagia, sedih, marah, kagum, cemburu, bahkan jatuh cinta.

Bukti dari itu, tidak sedikit di antara kita yang kepikiran usai chat. Makan ga enak, tidur tidak tenang, dan sebagainya. Atau sebaliknya, tergantung keadaan psikologi kita.

Istilah Kehidupan di dunia maya pun tidak beda jauh dengan dunia nyata, di sana juga ada istilah cyber crime, kriminalitas. Polisinya juga ada.

Bedanya hanya semuanya bermain di khayalan kita, namun persamaannya (dan ini poin yang paling penting) sama-sama berpengaruh pada psikologi, perasaan dan kinerja hati kita.

Kita bisa iri pada teman maya kita, sombong pada mereka, bahkan benci dan dendam,yang secara tidak sengaja malah mengotori hati kita.

Sayangnya, kita banyak mengabaikan hal ini, ah, cuma dunia maya, gak beneran. Suatu sikap yang bisa berubah menjadi pedang bermata dua.

Dan yang paling membahayakan bagi proses pembersรฌhan hati dan jiwa kita saat di dunia maya, adalah BERBOHONG.

Sumber dari segala kehancuran kita, adalah sikap bohong. Nabi sendiri pernah berkata, bahwa seorang mukmin itu tidak berbohong, (wa in zanaa wa in saroq) walau berzina walau mencuri. Karena iman dan kebohongan tidak pernah bersatu.

Tetapi kebanyakan di antara kita, lebih memilih berbohong saat di dunia maya. Kita tega membohongi teman kita (di saat yang sama,dia pun tega bohongin kita)

Dan tak jarang kebohongan itu malah membahayakan, merugikan dan mengecewakan bagi kita atau teman kita.

Sebenarnya,apa sih sulitnya jujur?dan sudah jadi hukum alam, kejujuran tidak pernah merugikan. Memalukan jika kita mengaku muslim,tapi kita tega membohongi saudara muslim. Kita semua pasti tahu, salah satu tanda sikap hipokrit (munafik) adalah, saat berbicara selalu berbohong.

DAKWAH DI DUNIA MAYA

Lebih dari itu,adalah yang masuk dunia maya dengan niat dakwah. Maka modal terpenting dari dakwah,dan syarat diterimanya dakwah kita adalah kejujuran. Bukankah sifat wajib bagi para nabi ada 4 salah satunya adalah sidiq (jujur) iya kan? Nah,salah jika kita niat dakwah,memposisikan diri sebagai pewaris nabi tetapi tidak mengikuti sifatnya.

Oke, menutupi identitas adalah hal lain,tapi kalo sampai berbohong untuk menutupi identitas? Apa gunanya kita niat dakwah,mengajak orang lain pada kebaikan, sementara diri kita sendiri masih perlu didakwahi.

Kalau nickname bagaimana? Nick dalam hal ni,tidak masuk dalam ketidakjujuran, sebab nick sama dengan laqob (nama gelar atau julukan setelah nama asli).

Akhir catatan, yang perlu dituntut dari kita, adalah mawas diri. Proses penjernihan hati dan jiwa untuk mencapai tingkat ma'rifatullah tidaklah mudah. Jalan cukup terjal, apalagi jika kita terjun ke dunia maya,bersiap-siaplah untuk lebih ekstra hati,jika kita tidak ingin jiwa kita menjelaga pelan-pelan tanpa kita pernah terasa. Wallohu a'lam (*)