22 January 2011

Dua Helai Sayap Jibril


oleh Ali Irfan pada 21 Januari 2011 jam 11:11
Jibril, tolong kau pinjami aku sayapmu! Biarkan aku melesat dengan kepakkan sayap milikmu, yang dengannya aku dapat melesat jauh hingga ribuan mil. Aku merasa jengah berada di bumi. Di tanah bumi ini, aku tak ubahnya seperti kunang-kunang yang ge-merlap di siang hari. Aku benar-benar merasa tak berarti. Aku ingin pergi ke suatu tempat yang di sana hanya ada kesunyian. Di sini, yang ada hanya gelak tawa sinis, kebohongan juga kata-kata manis yang menipu.

Ambilkan aku dua helai saja dari sayapmu yang mencapai ribuan itu. Dua sayap itu untuk aku tancapkan di kanan dan kiri pundakku. Aku tak bisa membayangkan kalau se-mua-mua sayap yang kau miliki ada dipundakku, mungkin aku akan berubah menjadi sa-tu titik yang tak tampak oleh kasat mata telanjang. Mungkin yang akan ada hanya kum-pulan sayap-sayap yang tergelatak di hamparan tanah, karena aku tak mampu memang-gulnya.

Hahaha....
Jibril malah terkekeh. Tawanya lumayan membuat telingaku memekak.

Aku serius Jibril, kenapa kau malah tertawa. Atau jangan-jangan tawamu itu adalah tawa sinis yang juga menyimpan penuh kebohongan. Lepas, lepaskan sayapmu itu, pin-jami aku sayapmu dan biarkan aku terbang dengan kepakkan sayapmu. Tancapkan, tan-capkan ujung sayap itu dipundakku oleh tanganmu. Biar semua isi dunia tahu, bahwa aku bukanlah seorang lemah yang tak mampu berbuat apa-apa. Aku ingin bisa sepertimu, Jibril.

Aku pernah mendengar cerita tentangmu Jibril, itu pun kalau daya ingatku tak ber-khianat. Yaitu saat kau menjelma menjadi laki-laki gagah dengan jubah putih menemui Muhammad anak lelaki Abdullah. Dan sahabat-sahabat Muhammad pun begitu tercengang melihatmu. Melihat seorang asing yang tampak begitu gagah, yang wajahnya begitu cerah, laku lampah yang menawan dan pasti.

 Juga, kalau daya ingatku tak berkhianat lagi, cerita saat kau bertengger di antara langit dan bumi dengan rupa aslimu. Untuk menemui Muhammad saja kau tampak gagah, apalagi saat kau merebahkan sayap. Mata siapa pun tak mampu melihat ujung sayap yang kau kepakkan secara perlahan. Pada saat itu, semua-mua orang yang menatapmu mengucurkan keringat deras karena kagum menatap kegagahanmu. Dan satu lagi, kepatuhanmu itu yang tak bisa dibandingkan dengan siapapun di jagat ini.

Beruntung bisa bertemu denganmu di tempat yang sunyi ini. karena aku yakin, kau tak akan datang di keramaian. Bukankah kau suka kesunyian? Itulah sebabnya kenapa di malam sesunyi ini aku mau bersendiri hanya untuk menemuimu. Aku pun sama seper-timu, Jibril. Tak suka keramaian, dan hingar bingar oleh orang-orang yang penuh dengan kebohongan, orang-orang yang mengenakan topeng disetiap wajahnya. Menggeluti dunia yang belum juga sudah.

Aku terperangah manakala menatap Jibril tak seperti yang aku gambarkan.

Tunggu, tunggu! Kenapa warnamu tak lagi cerah, semua-mua kulit yang membalut tubuhmu itu membiru. Kau tak habis bertarung dengan raja iblis bukan? Kau tampak lelah, Jibril. Apa karena kau terlalu banyak memecutkan halilintar hingga kau kehabisan tenagamu, aku mencoba menerka. Jibril masih diam. Bahkan ada helai sayap koyak yang tak  tertancap rapi di pundakmu. Ya, dua helai sayap itu hampir lepas dari akarnya.

Jibril hanya menatapku diam, sembari melihati kedua helai sayap yang ada di belakang pundaknya. Matanya menatapku, raut muka Jibril tampak heran saat melihatku berceracas panjang-panjang dihadapannya sedari tadi.
“Kau mau sayap koyak ini?” kata Jibril
“Ambil saja. Aku sudah tak memerlukannya lagi,” tambah Jibril.
Ppfffkkkk!, cuppkkk!
“Sayap ini sudah lama membawaku membahana, dan memang sudah sepantasnya untuk diganti.”
“Benar Jibril?” Aku sedikit tak percaya saat Jibril mengujarkan itu.
“Ayo, cabut saja dua sayap ini, kedua sayap ini justru membuat aku tersiksa. Aku justru lebih senang kalau saja sayap koyak ini tak ada dipundakku lagi,” ulang Jibril lagi.
“Benar Jibril?!”
 “Ayo cabut saja, cabut dengan kedua tanganmu itu.”
Jibril menunduk, aku mendekati perlahan.
“Ayo jangan lama-lama, cabut saja aku tak betah berlama-lama menunduk seperti ini.”
Aku melihat sayap itu memang sudah koyak, helaian-helaiannya sudah tak rapi. Ujung akar sayap itu pun sudah saatnya untuk tercerabut. Mengalir cairan biru dari dasar akar sayap itu. Benar-benar aneh, bukankah sayap Jibril membentang jauh hingga batas pandangan mata pun tak mampu untuk menjangkaunya? Tetapi, yang ada dihadapanku ini tak ubahnya seperti manusia bersayap.
“Apa kau benar-benar Jibril?” Tanyaku.
“Bodoh, kau. Ya.. ini aku.”
“Aku bisa merubah wujudku menjadi siapa saja yang aku mau.”
“Boleh aku bertanya?” tanyaku pada lelaki bersayap.
“Itu sudah pertanyaan.”
“Jadi boleh?”
“Kau boleh bertanya apapun, asalkan kau cabut dulu dua sayap koyak yang ada di pundakku ini. Aku sudah tak kuat dengan kepayahan ini”
“Baiklah, aku boleh bertanya apa saja bukan?”
“Iya, cepat kau lekas cabut sayap ini.”
Aku mulai merabai ujung bulu-bulu halus, menggenggam erat dengan kedua tanganku dibongkot sayap itu. Terasa alot tancapan sayap itu. Walau tampak koyak, masih kokoh.
“Kau itu laki-laki, kerahkan semua tenagamu.”
Aku kembali mencoba untuk mencabut dua helai sayap Jibril yang koyak itu. Terasa susah memang. Tapi aku yakin, sayap itu pasti dapat aku pisahkan dari pundak Jibril. Saat aku menarik sayap itu, mataku terpejam, bibirku kukatupkan dengan gigi. Pun juga dengan Jibril. Aku tampak payah, sekuat tenaga aku menarik sayap itu. Aku lihat Jibril menahan nyeri saat sayap itu aku coba cabut.
“Kau sama saja menyiksaku dengan berlama-lama membiarkan sayap koyak itu masih tertancap di pundakku. Lekas lepaskan....”

“Tidak, aku tak bermaksud menyiksamu. Kau tahan saja, sayap ini hampir lepas”
Dan setelah agak lama berpayah-payah, akhirnya sayap itu lepas juga. Sayap itu bergerak-gerak ditanganku, dan tak lama kemudian... gerakan sayap itu tak lagi aku lihat. Seketika tumbuh dua sayap baru menggantikan dua sayap yang aku cabut dengan payah. Pucat biru yang tadi menyelimuti balutan wajah Jibril kini berangsur kembali seperti semula. Lelaki bersayap yang tak lain adalah Jibril itu tampak sebagai lelaki gagah.
“Sudah, dua sayap koyak milikmu itu sudah lepas. Sekarang kau bisa bangkit seperti pada mulanya, tak usah menunduk lagi. Sayap itu sudah aku cabut, jadi aku boleh bertanya apapun kepadamu.”
Jibril sudah berdiri tegak tepat dihadapanku.
“Lalu apa yang ingin kau tanyakan, sayap itu ambil saja buat kau. Aku sudah tak memerlukannya. Karena sudah tergantikan dengan sayap baru. Kau tak perlu heran, sebangsaku memang tak mampu mencabut sayap dengan tangan sendiri, ketika sayap malaikat mulai koyak, malaikat turun ke bumi menemui manusia-manusia sepertimu. Manusia yang memerlukan sayap malaikat untuk bisa menjadi malaikat walaupun sebenarnya itu tak akan pernah bisa.”
“Justru itu yang aku  tanyakan. Aku ingin bisa sepertimu, yang tak merasa sunyi di kesunyatan. Sementara aku, aku benar-benar muak dengan semua sandiwara kehidupan yang memaksa aku memainkan peran yang tak aku sukai. Aku lebih menyukai peran sebagaimu, sebagai malaikat.”
“Sudah aku katakan, hanya orang-orang bodoh sepertimulah yang terlintas dalam pikirannya untuk bisa menjadi sepertiku, seperti malaikat. Kau tak akan bisa menjadi sepertiku, tetapi kau bisa seperti aku. Dari sikapmu, laku lampahmu dan kepatuhan.”
“Ya tentang kepatuhan itu…” tanyaku kepada Jibril
“Bagiku, kepatuhan itu adalah kutukan, adanya perubahan masa kami tak diberi tahu, dan karena kepatuhan itulah yang sudah melekat kami tak bisa membantah. Apalagi melawan, kami tak diajarkan untuk itu, kami, hanya patuh terhadap segala bentuk perintah sang Khalik, apapun perintah itu,  kami laksanakan. Aku tak bisa membayangkan kalau kau menjadi aku. Orang-orang sepertimu adalah orang-orang yang cepat merasa bosan, apalagi diturunkannya kau ke bumi hanyalah akan merusak apa isi dunia. Tetapi tetap saja, kau diturunkan ke tanah ini. Pernah aku mengelak saat awal-awal golonganmu akan diturunkan ke bumi. Tetapi entah kenapa hingga saat ini aku belum menemukan jawaban yang  masih dirahasiakan itu. Yakni jawaban yang membuat kami kecut dan tak berani melawan,”
“Bukankah lebih enak menjadi sepertimu.”
“Tidak,  kau lebih enak menurutku.”
“Kau,” Jibril membantah.
“Kau,” aku membantah.
“Kau!
“Kau!!”
“Kau!!
“Kau!!!
Aku dan Jibril diam sejenak.
“Jadi... kita sama-sama enak dong.” Serempak aku dan Jibril menjawab sama.
Tak lama kemudian aku dan Jibril terlibat pembicaraan serius.
“Tapi, tidak kawan, kau lebih enak menurutku. Hidupmu lebih berwarna, ada persaingan dan yang terpenting, kau tak sendirian.”
“Tapi, masalahnya aku merasa sepi meski di tengah-tengah keramaian.”
“ Itu bukan masalah menurutku, hanya saja kau terlalu egois.”
Aku, keakuan, egois.
Malaikat, kepatuhan.
Aku benar-benar tak mengerti. Kau tak mengerti apa keinginanku Jibril. Jibril malah tersenyum melihatku. Senyuman yang lama-lama menjadi tawa.
Pffffk, Cuppkk!!!!
Kenapa kau malah melebarkan tawamu Jibril. Tawa jibril begitu menggema, rasanya ingin kututup saja telinga ini. Kedua daun telinga yang aku miliki tak mampu mendengar Jibril mengeluarkan gelak tawa yang seolah mengejekku.
“Aku tidak main-main denganmu Jibril.”
“Kau pikir aku juga main-main?”
 “Bagaimana dengan kedua sayap koyak ini Jibril.”

“Terserah mau kau apakan sayap itu, sayap itu sudah menjadi milikmu. Aku tak berhak dengan sayap itu, bukankah kau menginginkan itu?”
“Ajari aku memasangkan sayap ini di pundakku.”
“Tak akan bisa. Kau terlalu mengada-ada. Mesti berapa kali aku bilang, kau tak akan pernah bisa menjadi sepertiku.”
“Bagaimana mungkin tak bisa kalau kau belum mencoba mengajariku.”
“Dasar manusia keras kepala. Terserah mau kau apakan sayap itu, itu sudah bukan menjadi milikku.” Tanpa ia berucap apa-apa lagi, ia melesat pergi dengan sayapnya.
Sllaapp!!
Berhenti di satu titik dan hilang.
Aku tak sempat menghalangi kepergian Jibril. Ia begitu cepat melesat. Kecepatannya terbang melebihi kecepatan cahaya. Bahkan saat mataku berkedip ia sudah berada di ribuan mil jauh terbang mengelilingi jagat. Aku hanya terdiam. Kedua tanganku masing-masing memegang satu sayap koyak. “Untuk apa sebenarnya sayap ini?” pikirku.

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda