Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

09 Maret 2026

Vidi Aldiano Meninggal Dunia

Kabar yang beredar menyebutkan bahwa penyanyi Vidi Aldiano meninggal dunia pada 7 Maret 2026 di Jakarta. Penyebabnya adalah kanker ginjal yang sudah lama ia derita. 

Penjelasan singkat

Vidi pertama kali didiagnosis kanker ginjal stadium 3 pada tahun 2019. 

Ia sempat menjalani operasi pengangkatan ginjal kiri dan berbagai pengobatan seperti kemoterapi secara rutin. 

Selama beberapa tahun berikutnya ia terus berjuang melawan penyakit tersebut sambil tetap berkarya dan menginspirasi banyak orang. 

Setelah sekitar 7 tahun melawan kanker, ia akhirnya wafat pada usia 35 tahun. 

Kepergiannya membuat banyak musisi dan penggemar di Indonesia merasa kehilangan, karena ia dikenal sebagai penyanyi berbakat dengan lagu-lagu populer seperti Nuansa Bening dan Status Palsu.

Perjalanan Sakitnya Sampai Wafat

Perjalanan sakit Vidi Aldiano cukup panjang dan banyak menginspirasi orang karena ia tetap berusaha kuat, tetap bekerja, dan tetap menyemangati orang lain walaupun sedang sakit berat.

1. Didiagnosis kanker ginjal (2019)

Pada Desember 2019, Vidi mengumumkan bahwa ia terkena kanker ginjal stadium 3 di ginjal kiri. Awalnya ia mengetahui penyakit itu setelah memeriksa kondisi tubuhnya karena tekanan darahnya tiba-tiba sangat tinggi. 

Ia kemudian menjalani operasi pengangkatan ginjal kiri di Singapura. Operasi itu berhasil, tetapi dokter menyatakan jenis kankernya cukup agresif sehingga harus terus dipantau. 

2. Berjuang dengan pengobatan bertahun-tahun

Setelah operasi, Vidi harus menjalani berbagai pengobatan, termasuk kemoterapi secara rutin dan kontrol kesehatan berkala. Dalam beberapa tahun berikutnya, ia juga sempat mengungkapkan bahwa sel kanker kembali muncul dan menyebar ke bagian tubuh lain, sehingga pengobatan harus dilanjutkan. 

Walaupun sakit, ia tetap:
- bernyanyi
- membuat podcast
- tampil di acara televisi
- dan sering berbagi cerita tentang perjuangannya melawan kanker agar orang lain tetap semangat hidup.

3. Kondisi kesehatan menurun menjelang wafat
Menjelang akhir hidupnya, kondisi Vidi semakin menurun. Ia bahkan sempat dirawat sekitar 10 hari di rumah sakit karena pneumonia (infeksi paru-paru) yang membuat tubuhnya semakin lemah. 

4. Wafat pada usia 35 tahun
Pada 7 Maret 2026, Vidi Aldiano meninggal dunia di Jakarta pada usia 35 tahun, setelah sekitar 6 tahun berjuang melawan kanker ginjal. 

Ia meninggalkan istrinya, aktris Sheila Dara Aisha, serta keluarga dan para penggemarnya.

5. Warisan yang ditinggalkan
Vidi dikenal sebagai penyanyi dengan lagu-lagu populer seperti:
- Nuansa Bening
- Status Palsu
- Cinta Jangan Kau Pergi

Selain musiknya, banyak orang mengenang sikapnya yang positif dan kuat menghadapi penyakit.

Salah satu kisah yang paling menyentuh dari perjuangan Vidi Aldiano adalah cara dia berdamai dengan penyakitnya. Banyak orang tersentuh karena ia tidak ingin dikenal sebagai orang yang “kasihan”, tetapi sebagai orang yang tetap bersyukur.

Kisah yang membuat banyak orang terharu
Saat kanker ginjalnya diketahui tahun 2019, dokter menyatakan penyakitnya cukup serius dan ia harus menjalani operasi pengangkatan ginjal serta pengobatan panjang. Sejak saat itu, setiap tiga minggu sekali ia harus menjalani kemoterapi untuk menahan penyebaran sel kanker. 

Namun yang membuat orang kagum adalah sikapnya.
Di tengah sakitnya, Vidi pernah mengatakan kira-kira seperti ini:
“Saya belajar berdamai dengan kondisi ini dan bersyukur atas apa pun yang Tuhan berikan.”

Kalimat itu ia sampaikan ketika mengakui bahwa kankernya sempat menyebar ke beberapa titik di tubuhnya, tetapi ia memilih tetap menjalani hidup dengan rasa syukur. 

Tetap tersenyum walau sakit

Banyak orang tidak tahu bahwa ketika:
- tampil di panggung
- membuat podcast
- muncul di TV
- bahkan bercanda dengan teman-temannya
sebenarnya ia sedang menjalani pengobatan kanker. Ia tidak ingin orang melihatnya sebagai orang yang lemah.

Teman-temannya mengatakan, Vidi hampir tidak pernah menunjukkan kesedihan di depan publik. Ia tetap tertawa dan menyemangati orang lain.

Pesan hidupnya yang paling diingat
Beberapa waktu sebelum kondisinya semakin menurun, Vidi pernah mengatakan bahwa sakit yang ia alami adalah “titipan Tuhan” yang membuatnya belajar lebih menghargai hidup.

Karena itu, setelah ia wafat pada 7 Maret 2026 di usia 35 tahun setelah berjuang melawan kanker ginjal sejak 2019, banyak orang merasa kehilangan bukan hanya seorang penyanyi, tetapi juga sosok yang mengajarkan cara menghadapi ujian hidup dengan ikhlas dan positif. 

Vidi Aldiano & Sheila Dara: Kisah Cinta yang Mengharukan

Kisah cinta antara Vidi Aldiano dan Sheila Dara Aisha sering disebut sebagai salah satu kisah yang sangat menyentuh, terutama ketika Vidi sedang berjuang melawan kanker.

1. Tetap menikah meski Vidi sedang sakit
Ketika Vidi didiagnosis kanker ginjal stadium 3 pada tahun 2019, hubungan mereka sudah berjalan cukup lama.

 Banyak orang mungkin akan ragu untuk melanjutkan hubungan dalam kondisi seperti itu.
Namun Sheila justru tetap memilih bersama Vidi.

Pada tahun 2022 mereka menikah, dan Sheila pernah mengatakan bahwa ia menerima Vidi dengan segala kondisi kesehatannya, bukan hanya saat Vidi sedang sehat.

Hal ini membuat banyak orang tersentuh, karena pernikahan mereka bukan hanya tentang cinta, tetapi juga komitmen untuk saling menemani dalam ujian hidup.

2. Sheila selalu menemani saat pengobatan
Selama bertahun-tahun Vidi menjalani pengobatan kanker, Sheila sering terlihat:
menemani kontrol kesehatan
mendampingi saat masa pemulihan
memberikan semangat ketika kondisi Vidi menurun.

Banyak teman dekat mereka mengatakan bahwa Sheila adalah orang yang sangat kuat dan menjadi sumber semangat bagi Vidi.

3. Vidi pernah mengungkapkan rasa syukurnya
Dalam beberapa wawancara, Vidi pernah mengatakan bahwa ia sangat bersyukur memiliki Sheila dalam hidupnya.

Ia merasa bahwa di tengah penyakit yang ia alami, kehadiran istrinya membuat hidupnya terasa lebih ringan dan penuh makna.

4. Momen yang paling membuat orang tersentuh
Ketika kondisi Vidi semakin menurun menjelang akhir hidupnya, Sheila tetap berada di sisinya.

Setelah Vidi wafat pada 7 Maret 2026, banyak orang di media sosial menuliskan doa untuk Sheila karena dianggap telah menjadi pasangan yang sangat setia dalam masa sulit.

Kisah mereka sering dijadikan contoh bahwa cinta sejati bukan hanya saat bahagia, tetapi juga ketika harus menghadapi ujian bersama.

Kisah yang Jarang Diketahui dari Vidi Aldiano Saat Melawan Kanker

Salah satu hal yang jarang diketahui banyak orang adalah bahwa ketika Vidi sudah tahu penyakitnya cukup serius, ia justru berusaha membuat hidupnya lebih bermanfaat untuk orang lain.

1. Tetap bekerja dan berkarya
Setelah didiagnosis kanker ginjal pada 2019, sebenarnya Vidi bisa saja memilih berhenti dari banyak aktivitas untuk fokus pada pengobatan. Namun ia memilih tetap berkarya.
Ia masih:
- membuat lagu
- tampil di konser
- membuat podcast dan program hiburan
- berbicara terbuka tentang kesehatan

Tujuannya bukan sekadar bekerja, tetapi memberi semangat kepada orang lain yang juga sedang sakit.

2. Membuka diri tentang perjuangan melawan kanker
Tidak semua orang berani menceritakan penyakitnya secara terbuka. Tapi Vidi justru sering berbagi pengalaman tentang:
rasa takut saat pertama divonis kanker
proses operasi dan kemoterapi
perjuangan menjaga mental tetap kuat.

Banyak penderita kanker mengatakan bahwa cerita Vidi membuat mereka merasa tidak sendirian.

3. Mengajarkan cara berdamai dengan ujian hidup
Dalam beberapa wawancara, Vidi pernah mengatakan bahwa penyakitnya membuat ia belajar beberapa hal penting:
- hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana
- kesehatan adalah nikmat yang sangat besar
- waktu bersama orang yang kita cintai sangat berharga.

Karena itu ia berusaha menjalani hidup dengan lebih tenang dan penuh rasa syukur.

4. Sikap yang paling dikenang orang
Teman-temannya sering mengatakan bahwa meskipun sakit, Vidi tetap:
- ramah
- penuh humor
- tidak suka mengeluh di depan orang lain

Bahkan banyak orang baru tahu seberapa berat perjuangan kesehatannya setelah ia wafat.

Kisah Vidi sering mengingatkan banyak orang bahwa ujian hidup bisa datang kepada siapa saja, tetapi cara kita menyikapinya bisa menjadi inspirasi bagi orang lain.

***
Referensi:

Berikut link berita lengkap satu per satu dari beberapa media tentang meninggalnya Vidi Aldiano. 

1️⃣ Liputan6
https://www.liputan6.com/showbiz/read/6294043/andien-ungkap-vidi-aldiano-berpulang-dalam-damai-ganteng-dengan-senyum-khasnya

➜ Berita ini menjelaskan bahwa Vidi Aldiano meninggal pada 7 Maret 2026 sekitar pukul 16.33 WIB setelah berjuang melawan kanker ginjal sejak 2019. 

2️⃣ ANTARA News
https://www.antaranews.com/berita/5459727/penyanyi-vidi-aldiano-meninggal-dunia

➜ Media ANTARA melaporkan kabar duka tersebut dan menyebutkan bahwa penyanyi Vidi Aldiano wafat pada Sabtu (7/3) dan dikonfirmasi oleh keluarga serta rekan-rekan musisi. 

3️⃣ The Jakarta Post
https://www.thejakartapost.com/culture/2026/03/08/indonesian-pop-singer-vidi-aldiano-dies-after-battle-with-kidney-cancer.html

➜ Media internasional ini menulis bahwa Vidi Aldiano meninggal di usia 35 tahun setelah berjuang melawan kanker ginjal. 

4️⃣ Channel News Asia
https://cnalifestyle.channelnewsasia.com/entertainment/indonesian-singer-vidi-aldiano-death-kidney-cancer-579491

➜ Berita ini juga menegaskan bahwa Vidi didiagnosis kanker ginjal pada 2019 dan meninggal setelah beberapa tahun menjalani pengobatan. 

5️⃣ Liputan6 (artikel lain)
https://www.liputan6.com/health/read/6293359/vidi-aldiano-perang-melawan-kanker-ginjal-sejak-2019-perjuangan-mengharukan-itu-kini-berakhir

➜ Artikel ini lebih fokus pada perjalanan perjuangan Vidi melawan kanker ginjal selama sekitar 6 tahun. 

📌 Ringkasannya:
Vidi Aldiano meninggal 7 Maret 2026 di Jakarta pada usia 35 tahun.
Penyebab utamanya adalah kanker ginjal yang sudah ia lawan sejak 2019. 


10 September 2025

Doa-Doa Orangtua



 Hari itu, bukan hanya aku dan dia yang bersatu, tapi juga doa-doa orangtua yang mendahului, menyatu dengan restu keluarga yang hadir. Dan langit menjadi saksi, bahwa cinta kami diikat oleh janji suci yang insyaAllah abadi sampai akhir hayat.

Di penghujung acara, aku memejamkan mata sejenak dan berdoa dalam hati:

“Ya Allah, bahagiakanlah ibuku di alam keabadian. Lapangkanlah kuburnya, terangilah jalannya dengan cahaya-Mu, dan satukanlah kami kelak dalam surga-Mu. Jadikan pernikahan ini amal jariyah yang mengalir pahalanya untuk beliau. Amin.”



Janji Suci di Hadapan Langit



Pagi itu, suasana terasa berbeda. Rumah dipenuhi keluarga dan tetangga yang datang membawa senyum, doa, serta harapan baik. Namun di dalam hatiku, ada ruang kosong yang tak tergantikan—kehadiran ibuku. Meski raganya tak lagi ada, aku yakin doanya mengalir dari jauh, menembus langit, mendampingi langkahku menuju ikatan suci.

Dari kejauhan, aku mendengar suara riuh. Suamiku datang. Dengan jas hitam rapi dan peci di kepalanya, ia tampak gagah dan penuh keyakinan. Wajahnya memancarkan ketenangan, meski aku tahu hatinya pasti berdebar sama seperti hatiku.

“Bismillah,” lirihnya saat melangkah masuk, ditemani para keluarga dan sahabat yang setia mendampingi.

Ketika ia duduk di hadapan penghulu, suasana seketika menjadi hening. Semua mata tertuju padanya. Penghulu pun mulai mengucapkan ijab, dan dengan suara mantap suamiku menjawab qabul:

“Saya terima nikahnya… dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”

Para saksi langsung berseru, “Sah!”

Detik itu juga, air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Ada rasa haru, bahagia, sekaligus kerinduan yang begitu dalam. Seandainya ibuku hadir, aku ingin sekali melihat senyumnya menyaksikan momen ini. Tapi aku yakin, dari alam sana, beliau sedang tersenyum, merestui kami.

Aku menatap suamiku yang kini resmi menjadi imamku. Dalam senyumannya, aku menemukan janji: untuk selalu berjalan bersama, saling menjaga, dan saling menguatkan dalam setiap suka dan duka.

Hari itu, bukan hanya aku dan dia yang bersatu, tapi juga doa-doa orangtua yang mendahului, menyatu dengan restu keluarga yang hadir. Dan langit menjadi saksi, bahwa cinta kami diikat oleh janji suci yang insyaAllah abadi sampai akhir hayat.



Ijab Qabul



Saat akhirnya ia duduk bersila di hadapan penghulu, suasana mendadak hening. Semua mata tertuju padanya, semua doa terpanjat di dalam hati masing-masing. Tangannya menggenggam erat, bibirnya melantunkan lafaz ijab qabul dengan suara yang mantap dan jelas.

Di detik itu, waktu seolah berhenti. Hanya ada satu kalimat suci yang akan mengubah seluruh jalan hidup kami. Dan ketika para saksi serentak mengucap kata “sah”, seakan langit ikut bersujud syukur.

Air mataku tak terbendung, bukan karena sedih, melainkan karena bahagia yang begitu dalam. Aku resmi menjadi istrinya, belahan jiwa yang akan mendampinginya dalam suka maupun duka.

Suasana pun pecah oleh senyum, pelukan, dan doa. Aku menatapnya—lelaki yang kini telah menjadi imamku—dengan perasaan penuh cinta. Hari itu, di hadapan keluarga dan sahabat, cinta kami dimeteraikan dalam janji suci yang insyaAllah akan abadi hingga akhir hayat.



Datang Teduh



Pagi itu, sinar mentari menembus sela dedaunan, seakan ikut menyaksikan momen indah yang tak akan terlupakan. Dengan hati yang berdebar, aku menunggu di balik pintu, sementara langkah-langkah suamiku semakin mendekat.

Ia datang dengan wajah teduh dan senyum penuh keyakinan, ditemani keluarga serta sahabat yang setia mendampingi. Jas hitam dan peci yang ia kenakan membuatnya tampak begitu anggun, seakan benar-benar siap menyempurnakan separuh agamanya.

Di matanya, aku melihat ketulusan. Di senyumnya, aku merasakan keteguhan. Setiap langkah yang ia ayunkan menuju tempat ijab qabul, adalah tanda bahwa sebentar lagi doa-doa yang selama ini kupanjatkan akan segera terjawab.

Dan aku tahu, hari itu bukan sekadar pertemuan dua insan, melainkan awal perjalanan panjang dua hati yang dipersatukan dalam ikatan suci.

Dia Datang



Pagi itu, suasana terasa begitu hangat dan penuh harap. Diiringi keluarga dan kerabat terdekat, suamiku datang dengan senyum tenang namun jelas terlihat raut haru di wajahnya. Dengan mengenakan setelan jas rapi dan peci hitam di kepala, ia melangkah mantap menuju rumah tempat akad nikah akan dilangsungkan.

Orang-orang yang hadir menyambut kedatangannya dengan senyum dan doa, seolah memberi restu pada langkah yang begitu sakral. Di sisi kanan dan kirinya, para sesepuh dan sahabat mendampingi, memastikan setiap detik berjalan penuh makna.

Langkah demi langkah yang ia ayunkan terasa seperti lembaran baru yang terbuka dalam hidup kami. Saat itu aku tahu, sebentar lagi akan terucap kalimat ijab qabul yang sederhana namun begitu kuat, mengikat dua hati dalam satu ikatan suci.

13 Oktober 2017

Aplikasi Cerita Anak Usia Dini

Alhamdulillah sekarang ada aplikasi untuk bercerita pada anak untuk pendidik PAUD & orang tua yang dirancang khusus untuk anak usia dini disesuaikan dg tema pembelajaran di TK/PAUD, in syaa Allah ceritanya akan sering di up date dan ditambah cerita baru. Sekarang bercerita pada anak bisa melalui hp di tangan guru/orang tua. Bantu share ke sahabat dan keluarga ya. Moga manfaat. Terima kasih. Unduh link melalui play store https://play.google.com/store/apps/details?id=com.edumania.cerita.anakusiadini

28 Mei 2017

Gara-gara Mengejar Ayam, Seorang Ibu Meninggal dalam Keadaan Mengenaskan

 
Image: https://www.youtube.com/watch?v=_reHuxXyuh4
                 Pagi hari, selepas subuh, Bu Tina (bukan nama sebenarnya) bangun tidur. Hendak sholat subuh urung, karena melihat seekor ayam peliharaannya yang hendak dipotong lepas dari kandangnya. Didekati, sang ayam malah kabur keluar. Akhirnya Bu Tina pun keluar mengejarnya. Dalam gelap masih remang-remang karena masih pagi, Bu Tina kesusahan mengejarnya. Tidak biasanya si ayam ‘nggara’ (tidak mau diam, red), yang membuat Bu Tina makin kesal.
                   “Nih ayam ditangkap kok susah banget sih?”, gerutu Bu Tina.
                    Sambil berlari-lari terus mengejarnya, si ayam malah semakin menjauh. Semakin didekati, semakin menjauh. Karena kesal ingin segera menangkapnya, saat mulai dekat jaraknya dengan si ayam, Bu Tina langsung melompat dan menubruknya. Tapi tak disangka, saat melompat ternyata di depannya ada lubang kecil yang tak terlihat oleh Bu Tina, hingga ia pun jatuh terjerambab. Dan jatuhnya pun mengenai batu, yang membuatnya kesakitan dan menjerit keras-keras. Bu Tina pun langsung pingsan seketika.
                    Suaminya yang sedang dzikir selepas sholat subuh, kaget mendengar suara jeritan istrinya di luar. Ia tidak tahu kalau istrinya sudah bangun dan sedang mengejar-ngejar ayam. Ia pun segera beranjak keluar mencari istrinya. Karena di luar mulai terang, ia pun bisa menemukan istrinya yang sedang tergeletak karena pingsan. Suami Bu Tina kaget melihatnya. Tidak jauh dari Bu Tina, ayam yang sedang dikejarnya tengah berdiri dan berkokok keras, seolah memberi tahu warga ada orang pingsan di situ.    
                     Suami Bu Tina pun langsung membopongnya dan meletakkan tubuh Bu Tina di ranjang. Ia mencoba menyadarkannya namun lama tak kunjung siuman. Karena takut terjadi apa-apa, ia pun membawanya ke rumah sakit. Tapi naas, belum sempat diperiksa dokter, Bu Tina menghembuskan nafas terakhirnya. Rupanya, kepala Bu Tina yang terbentur batu saat jatuh, membuat kepalanya retak dan menimbulkan pendarahan di dalam kepalanya. 
                       Suami Bu Tina pun langsung shock menerima kenyataan itu. Yang membuatnya sedih, kenapa istrinya tidak sholat subuh dulu sebelum mengejar ayam. Padahal biasanya Bu Tina selalu sholat subuh terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas kesehariannya. Tapi ia berharap, Tuhan mengampuni istrinya atas kekhilafannya tersebut.
  *****
                      Hikmah dari kisah di atas, beribadahlah di awal waktu, karena kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi nantinya. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ini.
Kisah di atas merupakan kisah nyata yang terjadi pada tetangga teman penulis yang diceritakan kepada penulis.

30 November 2013

Terkubur

Kisah nyata yang terkubur bertahun-tahun lamanya

1385768914660261877


By: -Puput Happy-

Pedih hati Ratna melihat kepulangan suaminya yang selalu menggandeng seorang wanita. Aneh rasanya jika ia harus menyambut suaminya dengan senyum merekah, menunduk-nunduk hormat, apalagi menyambutnya dengan dekapan hangat bila di sampingnya ada perempuan lain. Hanya orang sinting saja yang mungkin bisa melakukan hal itu. Hati wanita mana yang tahan menyaksikan adegan memalukan dari kekasihnya, apalagi suaminya sendiri! Batas kesabarannya jebol sudah. Oh Tuhan …. Seperti inikah suamiku? Nanar hati Ratna penuh tanya. Entah kali keberapa ia membawa wanita lain yang sama; menantang dan malam-malam mereka habiskan di pembaringan penuh peluh pun aroma tajam kepuasan. Aku bisa menghitung dalam ingatan; kemarin wanita berambut panjang dengan gincu menyala, kali ini wanita yang sarat hasrat mata binatang haus dekapan. Sebab aku menghitung kerutan pada badan, lelakiku lambat laun mencari penggantiku dalam rupa berbeda di tiap malam-malam pesakitan. Ia tak tahu, kepuasan untuknya, luka baru untukku.

“Kaubawa lagi perempuan jalang di rumah ini!!” seru Ratna kepada suaminya, penuh amarah.

Dengan nafas memburu seakan ingin dimuntahkannya kemarahannya saat itu juga. Matanya nanar dan panas hingga mengalirkan pecahan-pecahan kristal bening di matanya. Padahal tak biasanya Ratna bermarah-marah hingga mengumpat suaminya. Kini kesabarannya habis sudah, dan itu membuatnya kehilangan akal sehatnya. Melihat api kemarahan itu, wanita jalang yang dibawa suaminya pun segera kabur, lari tunggang langgang tanpa permisi layaknya ular telanjang tengah mencari mangsa. Bahh! Benar-benar wanita tak punya malu!

Plakkk!!” tamparan suaminya pun langsung mendarat di pipi Ratna. Ratna pun menjerit kesakitan. Dirabanya pipinya yang memerah dan basah.

“Perempuan tak tahu diuntung! Masih beruntung kamu bisa bernaung disini!” jawab suaminya dengan mata yang tak sedap dipandang.

Pemandangan sehari-hari yang memuakkan bagi Sentot, anak semata wayang Ratna yang kini telah tumbuh menjadi pemuda tampan. Meski sayang, Sentot hidup seperti pemudabroken home lainnya yang mengikuti kisah-kisah layaknya sinetron. Bergaul tanpa tujuan, berjalan tanpa arahan. Ia lalui penuh dengan kekecewaan-kekecewaan yang bertumpuk. Dan itu gara-gara papanya! Padahal tak seharusnya ia terpengaruh dengan cerita-cerita picisan tersebut. Bukankah menjadi pemuda tangguh itu lebih baik?
Melihat mamanya diperlakukan sewenang-wenang oleh papanya, tanpa pikir panjang lagi Sentot langsung saja menyerang papanya. Ditinjunya muka papanya penuh amarah.

“Papa yang tak tahu diuntung!! Masih bagus Mama masih mau menjadi pendamping Papa! Aku muak melihat tingkah Papa yang seperti anak kecil! Ingat Pa, Mama itu istri Papa!!” seru Sentot.

“Anak kurang ajar! Sekarang sudah jadi jagoan ya rupanya??!!” jawab papanya sambil memelintir telinga Sentot sekuatnya. Sentot pun menjerit, lalu membalasnya dengan pukulan yang membabi buta. Papa Sentot tak mau kalah. Egonya muncul hingga perkelahian mengerikan antara ayah dan anak membuat Ratna panik dan tidak tahan menyaksikannya. Ia pun segera berlari menuju rumah Randy, tetangganya yang sudah dianggap kakaknya sendiri oleh Sentot.

“Randy! Randy! Tolongin Sentot!” seru Ratna ketakutan.

Dunia tak lagi nampak keindahannya bagi Randy jika Ratna selalu mengadukan hal yang sama tentang perkelahian anaknya dan suaminya. Ia tak habis pikir, mengapa sebuah keluarga yang telah lama menjadi tetangganya itu selalu saja bermasalah, padahal papa Sentot seorang perwira Angkatan Darat. Apakah seorang militer harus menerapkan kemiliterannya dalam rumah tangganya? Menyiksa anaknya sendiri? Keluarga broken homemembuat penghuninya tak lagi sehat. Papa Sentot telah menciptakan kehancurannya sendiri, sementara Sentot tumbuh menjadi pemuda yang amburadul. alcoholic, dan enggan bekerja meski dia punya banyak keahlian. Rasa kecewa yang terlalu berat terhadap papanya menjadikannya tidak bisa berpikir jernih lagi. Ia malah ikut hancur seperti papanya yang mudah naik darah. Padahal seharusnya dia menjadi anak yang bisa dibanggakan oleh Ratna, sebagai obat atas perlakuan buruk suaminya, bukan malah tumbuh menjadi pemuda hancur yang tak ada bedanya dengan papanya.

Sebenarnya Ratna sudah tidak tahan dengan sikap suaminya yang kasar dan tak pernah menghargainya selayaknya istri, wanita yang seharusnya dilindungi dan dicintai, bukan dipelihara layaknya gundik. Ia ingin bercerai, namun hukum militer membuatnya tercekik. Ia tak berdaya untuk melepaskan diri dari cengkeraman suaminya. Keluhannya yang tak berkesudahan pada keluarga Randy, juga keluhan-keluhan Sentot yang akhirnya membuat adik-adik perempuan Randy sama sekali tak mau bersuamikan seorang militer. Apakah semua keluarga militer begitu? Penuh dengan ketidakbahagiaan? pikir Randy tak mengerti.

“Randy, tolong leraikan perkelahian Sentot dan papanya! Aku tak tahan menyaksikan mereka berkelahi tiada henti, layaknya singa dan harimau …” pinta Ratna di antara isak tangisnya. Randy pun segera mengangkat kakinya menuju rumah Sentot. Dilihatnya mereka beradu layaknya petarung yang sedang berlaga di arena pertarungan.

“Anak kurang ajar! Rasakan ini!” teriak papa Sentot. Amarahnya sudah tak terbendung lagi. Ia benar-benar kesetanan, hingga tanpa pikir panjang lagi segera diambilnya sebilah samurai yang ia pajang di dinding kelabunya. Bertengger dua samurai yang terpajang disana, dengan posisi saling berhadapan satu sama lain. Samurai di dinding itu telah berusia puluhan tahun yang merupakan warisan dari leluhurnya.

Sentot benar-benar ketakutan, apalagi pukulan dan sambitan dari papanya telah melukai tubuhnya.

“Hentikan!!” seru Randy. Tapi seruan Randy tak dihiraukannya sama sekali oleh mereka. Teriakannya bak hembusan angin saja. Randy tak berani mendekat, karena samurai itu terus saja dikibarkan oleh papa Sentot untuk menyerang anaknya. Randy sangat ngeri menyaksikan itu semua.

“Ampun Paaaa!!” jerit Sentot membahana. Ia tak mampu membalas sambitan papanya, meski ia telah berhasil mengambil samurai untuk membalas sambitan papanya. Karena tidak tahan dengan sambitan papanya yang bertubi-tubi, akhirnya Sentot berlari keluar rumah untuk menghindari sambitan papanya yang menggila. Mereka berkejar-kejaran layaknya anjing dan kucing. Papa Sentot benar-benar sudah kesetanan. Tak dihiraukannya jeritan Sentot hingga berdarah-darah, juga tak dipedulikannya tatapan para penghuni kompleks perumahan yang melongok dari jendela-jendela tua. Ia sudah kehilangan rasa malu dan harga dirinya lagi.

“Ampun Paaaaaa!!! Ampuuunnn …!!!” seru Sentot kesakitan. Ia sudah menyerah, tapi teriakan Sentot sama sekali tak masuk ke dalam hati papanya yang telah beku. Entah apa yang membuat papanya enggan memaafkan anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri …. Sentot merasa tubuhnya mulai lemas dan semakin melemah, dan papanya yang sudah menjelma menjadi iblis durjana merasakan kemenangan dan berhasil mengejar Sentot. Iblis pun membisikinya untuk menebas lengan Sentot sekeras-kerasnya. Dan….

Aaaaaaa…..!!!! Ampun Paaa …..!!!!” Sentot menjerit hingga mengagetkan seluruh penghuni langit dan langsung ambruk seketika. Lengan kanannya terlepas dari pundaknya laksana ranting kering yang telah dipatahkan oleh anak kecil. Darah merah segar pun mengucur deras dari tubuh Sentot. Jeritan-jeritan pun menyambutnya dari jendela-jendela tua. Mereka hanya bisa menonton dan menjerit, lalu melongo tanpa tahu apa yang harus dilakukannya. Mereka sudah terlanjur takut dengan sosok papa Sentot yang merupakan pembesar di kompleks perumahan militer tersebut.

“Tidaaaakk …!!!! Sentooooottt ….!!!” Ratna menjerit histeris, dan ia pun ikut ambruk begitu menyaksikan Sentot tumbang tanpa lengan dan sudah tak mampu berkutik lagi. Ratna pingsan dengan berselimutkan airmata.

Langit pun mendadak kelam, gelap seketika. Mentari enggan menyapa, pun burung-burung tak lagi bergairah mengepakkan sayapnya. Sang ayah hanya diam terpaku, antara sadar dan tidak. Hatinya yang telah lama mengeras, tak lagi tersentuh oleh adegan mengerikan yang ia ciptakan sendiri. Ia bahkan tak percaya bahwa tangan dinginnya mampu menghilangkan nyawa anaknya sendiri. Sentot meregang nyawa pun ia tak merasakan sakitnya. Manusiakah ia?

Mata Randy terbelalak kaget melihat kematian Sentot. Tenggorokannya tercekat, tak mampu berkata-kata lagi. Maafkan aku, Sentot …. Aku tak mampu menolongmu dari siksaan papamu …. bisik Randy, pilu. Ia terdiam. Di depan papa Sentot, ia merasa seperti pengecut yang tak berani membela Sentot layaknya pahlawan kebenaran.

Pun dalam diam, papa Sentot segera mengubur anaknya sendiri. Ia juga berusaha mengubur kasus pembunuhan yang telah dilakukannya kepada anaknya sendiri. Ditutupnya mulut-mulut penghuni kompleks perumahan itu rapat-rapat hingga bertahun-tahun lamanya, hingga ia meninggalkan dunia fana ini. Akankah kasus ini terkuak, sementara sang pembunuh telah mati dimakan usia??

-Puput Happy-

***

NB: Tulisan telah dimuat di buku “The Palace of My Dreams

Penghuni Asrama

Cerita Horror


1385628060528527663

By: -Puput Happy -

Sekelompok perempuan muda menginjakkan kakinya di area LPK (Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Kesehatan). Tawanya riang, penuh suka cita menyambut mimpi kecilnya. Kegembiraannya makin bertambah ketika mereka bercengkerama dengan siswa lain dari beragam daerah. Saling menyapa, kemudian berkenalan. Tak dihiraukannya penat yang menyelimuti raga, karena kebahagiaan adalah tercapainya harapan dan impian.

Akhirnya kelelahan mulai menghinggapi tubuh mereka hingga berbalut keringat. Peluh pun mulai mengaliri kening dan pelipis yang tak lagi bersih, penuh debu. Keinginan tak tertahankan untuk meluruskan kaki-kaki panjangnya di ranjang berkasur empuk. Hufft!Tubuh mereka butuh istirahat!

Waktu beranjak cepat hingga di ujung senja. Pelatihan di hari pertama usai sudah. Mereka segera berlari menuju asrama putri. Tiba di depan asrama, mereka pandangi bangunan tua berwarna kuning pucat. Dengan arsitektur klasik, berjendela kayu jati dan lebar membuka. Pintu kayu berdiri kokoh menanti penghuni asrama untuk masuk. Di atasnya bertuliskan “Asrama Putri” dengan tulisan Italic. Tepat di depan pintu masuk, tiba-tiba berdiri bulu roma para siswa . Entahlah, ada aura berbeda yang sangat tidak nyaman mereka rasakan. Kulit tangannya mendadak dingin, meremang, merinding tanpa sebab.

Mereka mengucap salam, namun tak terdengar jawaban dari penghuni asrama. Rupanya kamar-kamar masih sepi. Mereka, 10 siswa calon asisten perawat yang akan menghuni asrama ini, dan harus tinggal selama setahun lamanya. Ada rasa yang aneh ketika mereka memasuki kamarnya masing-masing. Begitu juga yang dirasakan oleh Nina, siswa dari Pemalang. Kenapa tubuhku terasa dingin dan tidak nyaman sama sekali? pikirnya. Ia perhatikan isi kamar satu persatu. Tak ada yang aneh dengan kamar ini …. Tapi kenapa kulit tanganku terasa dingin dan kaku? Rasa kantuk yang tadi tak mau kompromi pun tiba-tiba lenyap tak berbekas.

Ia lihat jam di dinding, pukul lima tepat, dan tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh suara jeritan dari sebuah kamar. Nina pun segera berlari menuju suara itu berasal. Ternyata jeritan Lia di kamar sebelahnya! Langkah Lia langsung terhenti seketika begitu melihat tubuh Lia mengejang, meronta tapi tetap tak mampu bergerak dengan posisi kedua tangan seolah sedang diikat kuat-kuat. Matanya mendelik merah dengan suara gemuruh, antara jeritan dan erangan.

“Aaaaaarrrgggghhhh!!!!”

Seluruh siswa penghuni asrama yang mengerumuninya segera mundur ke belakang. Tak satupun yang berani mendekat, bahkan satu persatu lari ketakutan.

“Panggil Ibu asrama!” perintah salah satu siswa kepada Nina yang berdiri mematung, tak tahu hendak berbuat apa. Wajah Nina pucat pasi, tubuhnya gemetaran, dan jantungnya berdetak cepat tak beraturan. Nina pun segera berlari mencari Ibu asrama dengan nafas memburu.

Namun ketika Nina kembali ke kamar Lia bersama Ibu asrama, Lia sudah normal kembali. Tak ada jeritan ataupun erangan, yang terlihat hanyalah tangisan Lia sambil meracau dan meringkuk ketakutan sambil menutupi mukanya yang putih.

“Ada yang mengikatku! Ada yang mengikatku!” teriaknya.

“Siapa?” tanya Nina dan teman-teman.

“Seorang wanita berambut panjang! Wajahnya pucat dan giginya mengkilat! Pokoknya aku mau pulang!“ jawabnya sambil menangis. Namun permintaannya urung ketika teman-temannya mengingatkan tujuan mereka ke asrama yang mengharuskan belajar di sini. Lia pun akhirnya terdiam, namun isak tangisnya tak jua berhenti.

Menjelang Isya, Retno yang merupakan siswa paling berani di antara mereka tengah mencuci piring. Namun tiba-tiba iamendengar suara gedor-gedor dari bawah westafel, seperti suara ketok palu! Berulang-ulang terus, hingga ia kaget lalu menjerit-jerit minta tolong ketika ia merasa ada yang menyeretnya dari belakang. Seluruh siswa pun akhirnya berdatangan. Dilihatnya Retno diseret-seret oleh seorang wanita berambut panjang bergaun putih, lalu diikatnya pada tiang dapur. Retno pun meronta-ronta dengan jeritan meminta tolong. Dan di atas tiang penyangga duduk dua wanita pucat berambut panjang dengan kaki terjuntai ke bawah dan diayun-ayunkannya sambil tertawa cekikikan. Semua mata dari para siswa pun terbelalak tak percaya dengan apa yang mereka lihat.

“Kuntilanaaaaakkk!!!” seru semua siswa sambil berlarian tak tentu arah. Tak ada satupun yang berani mendekat. Mereka berlari keluar mencari pertolongan. Dibiarkannya Retno berteriak-teriak sendirian dengan suara tangis memilukan. Sementara sang kuntilanak hanya tertawa cekikikan sambil mengikat Retno kencang-kencang. Begitu juga dengan dua kuntilanak yang menontonnya dari atas sambil uncang-uncang angge.

“Hi….hihihihihi!!!!!” tawanya tanpa perasaan.

“Toloooooooongngng!!!!! Tolooooooongngngng!!!!” teriak Retno sekencang mungkin. 

Namun tak dihiraukannya tangis Retno, bahkan lengkingan tawa dari kuntilanak-kuntilanak itu semakin kencang.

Retno pun berontak dengan sekuat tenaga. Ditendangnya kuntilanak itu dengan kakinya yang kecil, namun tidak mengena sedikitpun. Bahkan ikatan Retno semakin terasa kuat dan menyakitkan. Retno menjerit, dan kuntilanak itu malah tertawa riang. Dua kuntilanak lainnya hanya menonton dan tertawa-tawa.

“Hi….hihihihihiiiiiii!!!!”

Beberapa menit kemudian Ibu asrama datang sambil membawa seorang ustadz yang dikenal sebagai orang pintar yang bisa mengusir setan. Namun saat sang ustadz datang, Retno terlihat sedang duduk lemas di lantai. Rupanya trio kuntilanak telah melepaskan ikatannya pada Retno. Dilihatnya Retno menangis ketakutan sambil mendekap kedua kakinya dan menelungkupi mukanya.

Dipapahnya Retno oleh ibu asrama dengan lembut. Setelah sang ustadz membacakan doa-doa dan ayat kursi, kemudian mereka disarankan untuk menerangi seluruh ruangan di malam hari dengan lampu neon yang bersinar putih terang, bukan lampu bohlam yang sinarnya kuning dan redup. Kata sang ustadz, setan sangat menyukai lampu yang bersinar redup dan tidak terang.

Esoknya suasana asrama menjadi lebih tenang tanpa gangguan. Namun, dua hari kemudian asrama dikejutkan lagi oleh suara jeritan Wulan yang tengah menerima telepon. Beberapa kali Wulan menjerit-jerit namun tak dilepaskannya genggamannya dari telepon tersebut. Setengah jam kemudian Wulan baru bisa melepaskan gagang teleponnya sambil menangis histeris. Kemudian ia bercerita bahwa ada yang menelponnya dengan menggunakan private number, namun suara yang ia dengar sangat aneh dan menakutkan. Ada suara dentuman, lengkingan, teriakan, cekikikan dan gemuruh hingga Wulan menjerit-jerit. Bahkan esok harinya lagi banyak siswa penghuni asrama yang menjerit-jerit juga karena melihat banyak kuntilanak yang bersliweran di dalam asrama. Ditambah lagi suara ketok-ketok palu yang memekakkan telinga hampir di seluruh penjuru ruangan asrama, dari kamar, dapur, ruang tamu, dan lebih sering dari kamar mandi. Hal itu yang membuat para siswa ketakutan dan tidak mau tidur dalam asrama. Mereka beramai-ramai tidur di kantor LPK. Namun tak berapa lama, suara ketok-ketok palu menjalar pula hingga ke kantor LPK, sehingga para siswa pun semakin ketakutan dan tak bisa tidur nyenyak.

Melihat para siswa enggan memasuki asrama, akhirnya pihak LPK mengundang ustadz kembali untuk mengusir setan-setan pengganggu. Setelah memberikan doa-doa dan ditelusurinya seluruh kompleks asrama, sang ustadz mengatakan:

“Usahakan kalian semua, sebagai penghuni asrama untuk memperbanyak membaca ayat kursi. Makhluk-makhluk halus pengganggu asrama berasal dari pohon mangga tua di depan SD samping gedung LPK. Mereka suka iseng dengan mengganggu para siswa baru yang menghuni asrama”

Akhirnya semua siswa mengamalkan perintah sang ustadz dengan membaca ayat kursi setiap saat. Alhasil, suasana asrama kini mulai kondusif, tak lagi terdengar jeritan-jeritan para siswa. Namun begitu, masih saja ada siswa yang merasa terganggu, seperti suara-suara ketokan palu yang dihantamkan ke meja, tembok, atap, bahkan lantai.

“Tok! Tok! Tok! Tok!”

Sebagian siswa juga masih merasakan adanya kehadiran seseorang di sekitar asrama yang tak terlihat wujudnya. Seperti Laila …. Siang itu, sekitar jam dua siang, saat memasuki asrama sehabis pelatihan, aura menyeramkan di ruang tamu terasa sekali hingga bulu kuduknya langsung meremang. Ia merasa di belakangnya ada yang mengikuti,namun begitu ia tengokkan kepalanya, tak dilihatnya seorang pun di sana. Saat masuk ke kamarnya, tiba-tiba hawa dingin menerpa tubuhnya, padahal suasana siang itu begitu teriknya. Ia merasa ada yang mengawasi dirinya, namun tak didapatinya seorang pun di kamarnya. Dan untuk mengusir rasa takutnya, ia nyalakan musik dari ponselnya sekencang-kencangnya.

“Aku merasa ada yang memperhatikanku! Tapi aku tak melihatnya sama sekali! Tapi aku yakin, dia memperhatikan aku!” seru Nilam, juga teman-teman lainnya yang merasakan hal yang sama. Dan ternyata hampir semua siswa penghuni asrama merasakan hal yang sama. Akhirnya mereka sepakat untuk selalu bersama-sama meskipun mandi harus berdua, sambil menyalakan musik sekeras-kerasnya, agar suara ketok-ketok palu yang hampir terdengar tiap hari tak masuk ke telinga-telinga mereka.

“Tok! Tok! Tok! Tok!” begitu terus suara yang menemani para siswa penghuni asrama setiap harinya. Lama-lama mereka jadi terbiasa mendengar suara itu, namun tak dihiraukannya sama sekali karena mereka sedang belajar. Belakangan tercium kabar burung, bahwa tahun lalu pernah ada seorang siswa yang meninggal dalam asrama karena diduga terkena serangan jantung.

Menjelang tengah malam, mereka masih asik menonton televisi. Film “Bad Teacher” mengundang tawa mereka, hingga tanpa disadari di belakang mereka ada yang ikut asik tertawa-tawa. Tawanya beda dan aneh, sangat nyaring dan panjang tiada henti. Mereka pun serempak menengok ke belakang. Mata mereka langsung terbelalak melihat tiga kuntilanak berdiri di belakang mereka dengan tawanya yang khas ….

“Hi ….hihihihiiiiiii!!!!!”

Lia, Retno dan Wulan pun mendadak pingsan.

***

NB: Tulisan telah dimuat di buku “Nek Klewek”

Azzam dan Maryam

1385824485169097222
By: Puput Happy

“Zam, aku mau mengembalikan flashdisk nih! Temui aku di kantin putri sekarang ya? Mumpung masih istirahat. Sebentaaaar saja!”

Azzam tersenyum membaca SMS itu. SMS dari Maryam, teman akrabnya semenjak kecil dan selalu satu sekolah, meski kini setelah duduk di bangku SMA tidak satu kelas lagi, apalagi sekarang mereka sekolah di SMA Islam yang peraturannya super ketat, dimana siswa putra dipisah dengan siswi putri. Maryam adalah putri teman mamanya, Bu Eno. Maryam dan Azzam sudah bersahabat sejak kecil, bahkan mereka sudah seperti saudara. Dari kecil mereka selalu belajar di sekolah yang sama, hingga Maryam menganggap Azzam seperti kakaknya sendiri. Maryam yang lincah, cerdas, dan sangat perhatian terhadap Azzam, membuat Azzam semakin menyukainya.  Ia selalu merasakan kebahagiaan di saat Maryam ada dalam hati dan pikirannya. Ingin rasanya ia mengungkapkan isi hatinya kepada Maryam, tapi rasa malu telah membelenggu lidahnya. Hatinya semakin bergejolak jika mengingat Maryam.

Maryam, aku suka sekali sama kamu …..” bisik hati Azzam. Hanya kalimat itu yang selalu ada dalam hatinya, dan entah sampai kapan bisa terungkap.

“Zam! Gimana? Bisa tidak kita ketemu? Nanti keburu bel masuk berbunyi …..” Maryam SMS lagi. Sepertinya Maryam mulai kesal. Azzam pun mendadak kaget, dan ia pun segera membalas SMS Maryam dan segera berlari menuju kantin putri tempat Maryam menunggu. Tak dipedulikannya orang lain yang tengah memperhatikan langkah dan geraknya. Ia tidak peduli. Ia hanya ingin ketemu Maryam, titik!

Maryam sudah menunggunya dengan gelisah, karena khawatir ada yang memperhatikan dirinya dan Azzam, yang jelas-jelas dilarang masuk ke area putri. Ia sudah menunggu Azzam di samping kantin agar tak terlihat oleh teman-temannya. Betapa gembiranya hati Maryam begitu dilihatnya Azzam menghampiri dirinya.

“Lama sekali sih, Zam? Nih, flashdisk-nya! Makasih ya ….. Sudah, sekarang cepetan pergi dari sini! Nanti ketahuan Kepsek, bisa dihukum kamu!” perintah Maryam sambil memberikanflashdisk Azzam. Sesekali matanya memperhatikan sekitar kantin. Hatinya dag dig dug tak menentu, sebab ada beberapa teman putrinya yang memandangnya dengan tajam. Sementara Azzam tidak mempedulikan kegelisahan Maryam. Ia malah ingin berlama-lama dengan Maryam sampai bel masuk berbunyi.

“Azzam! Buruan pergi! Kok malah berdiri saja di situ!” perintah Maryam galak.

“Biarlah! Kenapa mesti takut sih? Masak cuma mengembalikan flashdisk saja dihukum?” jawab Azzam enteng. Ia memandang Maryam sambil senyum-senyum. Entah kenapa ia ingin bercanda dulu dengan Maryam. Maryam pun semakin gelisah dibuatnya. Bukan sikap Azzam yang membuat Maryam gelisah, tapi karena banyak mata yang memperhatikan dirinya dan Azzam ngobrol di samping kantin.

“Zam! Kamu bandel sekali sih?! Lihat tuh! Mereka sedang memperhatikan kita terus ….. Nanti disangkanya kita pacaran lagi!” kata Maryam mulai panik.

“Biarkan saja! Kan disini kita cuma ngobrol …. Ya nggak? Hehehe …..” jawab Azzam sambil senyum-senyum ….

“Pergi tidak?!” bentak Maryam sambil mengepalkan tinjunya, siap meninju Azzam. Karena Maryam terlihat serius dan mulai marah, Azzam pun segera berlari menuju ke kelasnya. Azzam sempat cekikikan melihat tingkah Maryam yang galak tapi menggemaskan.Sudahlah, yang penting aku sudah melihat Maryam, pikirnya.

Tepat di saat Azzam hendak memasuki kelasnya, bel masuk berbunyi, Azzam pun segera duduk manis di bangkunya sambil mengatur nafasnya yang turun naik setelah berlari-lari menuruti keinginan Maryam. Hufft! Kenapa sih Maryam takut sekali ketahuan Kepsek? Masak cuma bertemu sebentar dengan perempuan saja dihukum? Sadis amat! pikir Azzam tak mengerti.

Pak Ghiffar masuk kelas. Sekarang memang waktunya Pak Ghiffar mengajar. Beliau mengajar Biologi, dan dikenal guru yang sangat santun. Namun, sebelum menyampaikan ilmunya, beliau berkata kepada Azzam,

“Maaf Azzam, kamu dipanggil Bapak Kepala Sekolah di ruang BK ….”

Deg! Azzam kaget setengah mati. Yang dikhawatirkan Maryam sepertinya benar-benar terjadi. Pantas saja Maryam begitu ketakutan tadi. Wajah Azzam mendadak pucat pasi, sebab selama ini belum pernah melanggar peraturan sekolah.

“Ada apa ya Pak? Saya punya salah?” tanya Azzam, meski dia sebenarnya sudah menebak letak kesalahannya. Tubuhnya mendadak bergetar karena menahan kegelisahan yang teramat sangat. Ia tidak ingin dihukum! Rabbiii, semoga Mama tidak mengetahui hal ini …..batinnya.

“Tenang saja Zam, tidak apa-apa …. Mungkin ada sesuatu yang hendak disampaikan oleh Bapak Kepala Sekolah kepada kamu. Ayo, segera ke sana ….” perintah Pak Ghiffar lembut. Ia berusaha tersenyum untuk meredam kegelisahan Azzam. Azzam pun menurut, dan segera keluar dari ruangan kelas. Seluruh temannya memperhatikan Azzam yang melangkah gontai.

Sepanjang jalan menuju ruang BK, Azzam tak henti-hentinya berdoa kepada Tuhan, semoga apa yang dikhawatirkan Maryam tidak terjadi. Demi Tuhan, jika harus ada yang dihukum, aku saja yang dihukum, jangan Maryam. Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada Maryam hanya gara-gara aku tak menuruti perintah Maryam waktu itu. Oh Tuhan, ampuni aku …. bisik hati Azzam, resah.

Setibanya di depan ruang BK, Azzam terkejut, karena dilihatnya Maryam juga memasuki ruangan BK. Ia pun langsung menduga, jika yang dikhawatirkan kemungkinan bisa saja terjadi. Duh, Gusti …. Detak jantung Azzam semakin kencang, resah tak menentu.

“Silakan masuk, Azzam ….” perintah Pak Ridho, guru BK kepada Azzam sambil tersenyum. Azzam pun menurut. Sepintas Azzam melihat raut wajah Maryam yang tegang, seolah takut sesuatu yang buruk bakal menimpanya. Sementara Bapak Kepala Sekolah hanya memperhatikan Azzam dan Maryam.

“Azzam, Maryam, maaf …. Bapak mengundang kalian kesini sehubungan adanya laporan dari beberapa siswa yang mengatakan bahwa kalian bertemu di kantin tadi siang. Bukankah kalian sudah tahu peraturan disini, bahwa siswa putra dilarang bercampur dengan siswi putri dalam suatu ruangan. Apa benar apa yang disampaikan oleh mereka?” tanya Pak Ridho.

“Saya ….”

“Maaf Pak! Saya dulu yang menjawabnya!” kata Maryam, memotong jawaban Azam. Ia ingin lebih dulu menjawabnya sebelum Azzam menjawab. Maryam sepertinya tidak mau jika Azzam yang disalahkan, sebab ia yang menyuruh Azzam untuk menemuinya di kantin.

“Azzam tidak bersalah. Saya yang menyuruhnya ke kantin untuk menemui saya, karena saya mau mengembalikan flashdisk milik Azzam. Saya dan Azzam tidak ada maksud apa-apa. Kami sudah bersahabat sejak kecil. Kalaupun ada yang menganggap kami bertemu karena pacaran, itu salah. Kami sudah seperti saudara, karena Mama saya dan Mama Azzam adalah sahabat, jadi sudah tentu kami sudah sering bertemu. Mohon kami dimaafkan” kata Maryam berapi-api. Maryam memang sangat pemberani dan tegas dalam berkata-kata. Berbeda dengan Azzam yang cenderung melankolis dan sedikit penakut. Dan mendengar kata-kata Maryam yang membela dirinya, membuat Azzam semakin suka dengan Maryam. Namun setelah mendengar Maryam mengatakan bahwa di antara dirinya dengan Maryam hanyalah sebatas seperti saudara, ia sedikit kecewa. Entahlah, ia ingin sekali Maryam menganggap dirinya orang yang paling istimewa, tidak hanya sekedar saudara. Hufft! Apa Maryam tidak menyukaiku? bisik hati Azzam.

“Jika memang kalian sudah bersahabat sejak kecil dan sering bertemu, kenapa tidak bertemu saja di rumah kalian masing-masing? Kenapa harus ketemu di kantin segala?” tanya Pak Ridho, membuat Maryam jadi merasa terpojok.

“Tapi Pak, flashdisk itu harus saya kembalikan pada Azzam, sebab penting. Ya kan Zam?” Maryam bertanya kepada Azzam sambil melotot, seolah memaksa Azzam untuk mengiyakan pertanyaannya. Ditatap Maryam sedemikian rupa, Azzam pun menjadi gelagapan menjawabnya.

“I….i…iya Pak! Benar apa yang dikatakan Maryam. Flashdisk itu memang sangat penting, makanya saya meminta Maryam untuk mengembalikannya secepatnya” jawab Azzam sekenanya. Entahlah, tiba-tiba saja ia berani berbohong demi Maryam. Padahal ia sama sekali tidak meminta Maryam untuk mengembalikan flashdisk miliknya secepatnya. Lagi pula, memang benar apa yang dikatakan oleh Pak Ridho. Bukankah Maryam bisa mengembalikannya di rumah Azzam saja? Benar-benar aneh! Atau …. Jangan-jangan Maryam cuma mencari-cari alasan saja untuk bisa bertemu denganku? Wah, itu tandanya Maryam menyukaiku! seru hati Azzam penuh suka-cita. Senyum Azzam pun merekah. Begitu Maryam memperhatikan senyum Azzam yang tiba-tiba merekah, wajah Maryam langsung merah merona. Ia menduga, sepertinya Azzam mengetahui isi hatinya yang sesungguhnya. Pak Ridho dan Pak Kepsek yang memperhatikan mereka berdua yang tiba-tiba tersenyum tersipu malu, jadi ikut tersenyum. Pak Kepsek yang dari tadi hanya diam saja, mulai angkat bicara.

“Azzam, Maryam …. Bukannya kami melarang kalian untuk menyukai satu sama lain. Tapi disini memberlakukan peraturan seperti itu karena kami berpatokan pada ajaran Islam, agar tidak ada ikhtilat atau bercampurnya laki-laki dan perempuan dalam satu ruangan, dimana tujuan utamanya adalah menjaga kehormatan kalian masing-masing untuk menghindari adanya pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya. Kami hanya ingin mewujudkan sekolah yang bersih, jauh dari fitnah, dan tentunya untuk kemajuan bersama. Mudah-mudahan ajaran agama yang kami berikan pada kalian membuat kalian mengerti dan menerima peraturan itu dengan lapang dada. Pelanggaran yang telah dilakukan oleh kalian, kami maklumi. Namun kami berharap, hal itu jangan diulangi lagi. Kalian sanggup? Jika kalian masih sering mengadakan pertemuan di kantin, terpaksa kami akan menghukum kalian sesuai dengan aturan yang berlaku” jelas Pak Kepsek panjang lebar.

Azzam dan Maryam hanya menganggukkan kepala karena malu. Entahlah, tiba-tiba saja Maryam merasa malu terhadap Azzam, apalagi dari tadi dilihatnya Azzam senyum-senyum terus. Entah apa maksudnya …. Sementara hati Azzam berbunga-bunga, karena cintanya kepada Maryam ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.

Akhirnya Pak Ridho mempersilakan Azzam dan Maryam untuk kembali ke kelas, setelah mereka meminta maaf kepada Pak Ridho dan Pak Kepsek. Mereka juga berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi.

***

Sore ini Azzam ceria sekali. Ia benar-benar semakin jatuh cinta sama Maryam. Di dalam kamar, ia genggam ponselnya erat-erat. Ingin rasanya ia segera mengirim SMS kepada Maryam, menanyakan isi hati Maryam yang sebenarnya. Tapi selalu saja urung. Ia malu, barangkali ternyata salah duga. Berulang kali ia melihat di layar ponsel, siapa tahu ada SMS masuk, dan SMS yang datang adalah dari Maryam. Tapi SMS Maryam tak kunjung tiba. Ia pun resah. Duh, apa yang harus kulakukan untuk menghilangkan keresahan ini?batin Azzam tak menentu. Berdosakah jika aku mencintai Maryam, Tuhan? tanya hati Azzam kepada Tuhan. Ia takut jika Tuhan murka.

Tapi bukankah cinta itu anugerah? Usiaku sudah tujuh belas tahun. Apa tidak pantas aku mencintai seseorang? Aku tahu, pacaran itu ada saatnya, yaitu ketika menikah, dan itu lebih suci. Ya sudahlah, biarlah rasa ini kupendam saja. Itu lebih baik …. pikir Azzam. Namun, sekeras usaha Azzam untuk meredam perasaannya, tetap saja tidak bisa menahan keinginannya untuk mengirim SMS kepada Maryam. Aku harus tahu! seru hati Azzam.

“Maryam, kalau boleh tahu, kenapa kamu menyuruhku ke kantin hanya untuk mengembalikan flashdisk milikku? Bukankah kamu bisa saja kesini bersama Mamamu? Bahkan kamu bisa kesini sendirian, seperti yang biasa kamu lakukan kalau ingin belajar bersama denganku. Padahal kamu tahu resikonya kan? Tolong dijawab dengan jujur ya?” tanya Azzam hati-hati. Ia takut Maryam tersinggung.
Tapi hampir satu jam lebih SMS Azzam tidak juga dijawab oleh Maryam, membuat hati Azzam makin gelisah tak menentu. Hatinya semakin bergejolak. Kenapa tidak dijawab?tanya Azzam kepada dirinya sendiri. Ia mulai kesal, dan sudah tidak tahan lagi. Aku harus ke rumah Maryam! Aku tidak akan bisa tenang sebelum tahu jawabannya! seru hati Azzam. Akhirnya Azzam memberanikan diri untuk pergi ke rumah Maryam.

Setiba di rumah Maryam, hati Azzam semakin tidak karuan. Kenapa hatiku mendadak begini ya Tuhan? Di depan pintu rumah Maryam, Azzam diam saja, membisu. Ia jadi ragu untuk mengucapkan salam dan masuk ke rumah Maryam. Cukup lama Azzam berdiri mematung di depan pintu, hingga tiba-tiba pintu terbuka ….
“Ya Allah, Azzam! Ngapain kamu disini? Kenapa tidak ketok-ketok pintu?” tanya Bu Eno kaget. Tidak biasanya Azzam main ke rumahnya hanya diam membisu. Biasanya teriak-teriak memanggil Maryam. Azzam pun jadi gelagapan menjawabnya.

“I i iya Bu …. Saya mau ketemu Maryam. Ada?” tanya Azzam gugup. Bu Eno pun jadi tersenyum-senyum melihat tingkah Azzam yang tidak seperti biasanya. Kenapa Azzam jadi aneh begini ya? pikir Bu Eno tak mengerti.

“Ada Zam…. Silakan masuk. Nanti Mama panggilkan. Duduk dulu ya?” kata Bu Eno. Azzam pun duduk. Ia benar-benar gelisah. Ingin rasanya pulang saja, tapi sudah terlanjur kesini.

Jantung Azzam berdetak kencang sekali begitu Maryam keluar dan menemui dirinya. Maryam berusaha tersenyum meski malu-malu. Azzam dan Maryam masih tetap diam membisu. Mereka hanya berbicara dengan dirinya sendiri. Maryam menunduk malu, begitu juga dengan Azzam.

“Zam, Ibu keluar dulu ya? Tadi mau belanja ke pasar. Eh, tidak tahunya ada kamu di depan pintu. Silakan ngobrol dulu sama Maryam. Ibu tinggal dulu ya?” kata Bu Eno.

“Ya, Bu. Terimakasih” jawab Azzam.

“Maryam, kok SMS-ku tidak dijawab sih? Kenapa?” tanya Azzam to the point. Yang ditanya jadi gelagapan, padahal tidak biasanya Maryam diam tanpa kata di depan Azzam. Ia merasa terjebak oleh jebakannya sendiri.

“Ya karena aku ingin mengembalikan flashdisk kamu ….” jawab Maryam.

“Iya, aku tahu …. Tapi kenapa harus hari itu? Dan kenapa harus di kantin? Apa kamu lupa dengan peraturan sekolah? Untung kita tidak dihukum. Coba kalau Pak Kepsek dan Pak Ridho lagi marah, pasti kita dihukum kan?” kata Azzam, bingung.

Maryam diam saja. Ia jadi salah tingkah ditanya Azzam seperti itu. Rasanya ingin lari saja menghindari pertanyaan Azzam. Ia pun memainkan jari-jemarinya, untuk menghilangkan kegelisahannya itu. Duh, kenapa Azzam menanyakan itu terus sih? tanya Maryam dalam hati.

“Ehmm …. Maryam, kamu menyukaiku?” tanya Azzam tiba-tiba, membuyarkan lamunan Maryam yang dari tadi diam tak bersuara.

“Mm … Maksud kamu?” Maryam balik bertanya. Tiba-tiba saja ia merasa dirinya sangat bodoh, tidak bisa menjawab pertanyaan Azzam, apalagi menatap matanya.

“Maryam, sejujurnya aku sangat menyukaimu sejak dulu. Dan hari demi hari rasa itu semakin indah bagiku. Aku tidak tahu, apakah ini yang dinamakan cinta?  Kamu juga menyukaiku kan, makanya kamu ingin sekali bertemu denganku di kantin?” tanya Azzam beruntun. Ia tidak peduli dengan jawaban Maryam, yang penting ia bisa menumpahkan isi hatinya kepada Maryam.

Mendengar kata-kata Azzam yang terlalu jujur tanpa basa-basi, membuat Maryam kaget. Ia tidak menyangka, jika ternyata Azzam juga menyukainya. Ia menatap mata Azzam, ingin mencari kejujuran hati Azzam melalui matanya.

“Zam …. Maafkan aku. Entahlah, waktu itu aku ingin sekali melihat kamu. Meski kita sudah terlalu sering bertemu, tapi aku selalu kangen sama kamu. Tapi kamu tidak marah kan? Aku tahu, kita masih sekolah dan tidak pantas pacaran sebelum nikah. Tapi tolong ya Zam, sayangi aku untuk selamanya, hingga kita bisa dipertemukan di pelaminan kelak. Aku tidak ingin kehilangan kamu …. Please, mengertilah ….” jawab Maryam. Matanya berkaca-kaca. Azzam pun mengangguk pelan dan tersenyum manis.

*****

NB: Tulisan telah dimuat di buku “Senandung Sahabat”

24 November 2013

Ada Pembunuhan di Alun-Alun Slawi!


13853067971518738120


Pulang ngajar langkahku terseok-seok tak menentu. Seperti biasa, karena rasa kantuk yang tak bisa ditahan membuatku jadi sedikit limbung. Ini gara-gara kebiasaan begadangku yang tak bisa dihentikan. Akibatnya ya begini ini, seperti mayat hidup.

Hooaaahhh!!! Mulutku kembali menganga begitu dahsyatnya. Segera kututup rapat-rapat mulutku, takut ada lalat masuk. Bisa berabe kalau ada makhluk kecil masuk ke mulutku. Di saat ku sibuk menutup mulut yang buka-bukaan terus dari tadi, tiba-tiba ponselku berdering. Ah, SMS dari siapa ini? Begitu kubuka, dadaku mendadak jadi berdebar-debar tak karuan ….

“Kamu sudah tau gak, kejadian semalam di alun-alun Slawi?” kata Andre via SMS.

Lagi-lagi SMS dia. Aku sampai bosen mbaca SMS dia hampir setiap menit. Sebenarnya aku sama sekali tidak tahu seperti apa tampang si Andre. Tau-tau aja dia SMS terus ke nomorku. Sewaktu kutanya dia siapa dan dari mana, dia cuma bilang penggemar beratku yang beralamat di Solo. Ah, tukang gombal yang sama sekali tidak lucu. Solo sontoloyo? Bisa saja dia asli Slawi yang ngaku-ngaku dari Solo. Perasaan dari dulu aku gak punya penggemar. Pacar aja gak punya, boro-boro penggemar. Lelaki misterius yang aneh. Dari kemarin SMS-nya ngebanyol mulu. Tapi, kenapa sekarang SMS-nya bikin aku deg-degan ya?

“Gak. Emang semalam ada apa di alun-alun?” jawabku penuh tanda tanya.

“Ada pembunuhan!” jawabnya. Aku pun mbales lagi SMS-nya,

“Pembunuhan apa? Jangan bikin aku takut ah!” tanyaku makin penasaran.  Heran, masak aku yang dari Slawi aja gak tau apa-apa, kok yang dari Solo malah ngabari orang Slawi? Aneh!

“Pembunuhan mutilasi!!” jawabnya lagi, bikin aku makin merinding.

“Apa? Ah, gak percaya!”

“Dengerin dulu …. Tadi malam ada pembunuhan mutilasi, dan korbannya seorang wanita, namanya Marta. Setelah diselidiki polisi, ternyata Marta punya nama panjang. Tau gak nama panjangnya Marta?”

“Meneketehe! Kok nanya ke gue?!” jawabku kesel. Aneh banget nih orang. Orang gak tau malah ditanya…

“Nama panjangnya yaitu Martabak! Tadi malam dipotong-potong jadi kecil-kecil, tapi enak rasanya … hehehe”

Asem! Kirain pembunuhan betulan. Mau ketawa gak jadi deh. Halah Andre …. Andre …. Ada-ada aja sih kamu kalau ngebanyol. Tapi lumayanlah, bisa ngilangin ngantuk yang tadi menyerang. ^_^

15 November 2013

MAKAN TANAH




1384532148330577745
By: Futicha Turisqoh

Mungkin bagi yang pernah mendengar namanya tidak akan asing lagi, sebab di TV juga pernah ditayangkan. Tapi bagi saya yang baru melihat secara langsung, bahkan di depan mata saya sendiri muridku memakannya, memaksaku untuk terbengong-bengong hampir tak percaya. Tanah dimakan??
“Kamu makan apa? Bukannya itu tanah?” tanyaku.
“Iya, emang tanah ….” jawabnya polos.
“Tanah apaan?” tanyaku lagi.
“Tanah dari kuburan … hehe” jawabnya sambil ketawa. Becanda.
“Beneran tanah? Ah, Umi gak percaya” tanyaku masih tak percaya. Saya biasa dipanggil “Umi” oleh murid-muridku.
“Beneran Umi …. Ini tanah …. Nih, Umi mau gak? Enak tau!” jawabnya tegas sambil nyodorin tanah itu. Lalu saya perhatikan baik-baik, dan memang benar tanah, warnanya coklat, seperti tanah-tanah pada umumnya. Karena masih tak percaya, kudekati ibunya yang masih ada di sekolah. Kutanyakan padanya, itu tanah asli atau bohongan? Dan ia pun membenarkannya. Kata dia, itu namanya kue angpao atau kue tanah, karena terbuat dari tanah, tapi harus tanah yang bersih dan jarang diinjak-injak. Dia bahkan menjelaskan cara pembuatannya: tanah dicampur air dan dipadatkan, lalu disisir pakai bambu yang dipotong tipis. Kue tanah atau angpao banyak dikonsumsi orang-orang kampung, terutama kaum ibu yang sedang hamil dan sedang ngidam. Mereka menyukainya karena baunya yang sedap dan bisa menghilangkan rasa asam ataujeleh di mulut. Yang sudah terbiasa memakannya akan jadi ketagihan untuk mengkonsumsinya. Ibu itu bilangnya sih enak, bahkan dia nawarin aku untuk mencobanya, enak apa tidak. Tapi karena saya merasa “jijik” memakan sesuatu yang aneh, membuatku enggan memenuhi permintaannya. Tanah kok dimakan?? Hanya itu yang ada di benakku saat itu, bahkan sampai sekarang pun aku masih bertanya-tanya dalam hati: masak tanah dimakan sih? Apa enaknya??

1384532297543547646

1384532394324053345

1384532482750160743