29 Mei 2010

Semut Hitam

Abi Thoriq Ibn Syamsir 29 Mei jam 22:43


Ada analogi yang pas untuk menggambarkan karakter orang-orang munafik sebagai musuh dalam selimut, yaitu “semut hitam, di atas batu hitam, pada malam hari”.

Analogi ini jelas menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang yang amat dekat dengan kita pun—sangat karib, terpercaya, bahkan telah lebur dalam sumpah setia perjuangan— ternyata adalah sang semut hitam itu. Hanya saja, karena telah amat dekatnya sang semut dengan kita (analog untuk batu hitam), dan telah begitu memukaunya pribadi orang itu, mata kita tak melihat apapun di dalam dirinya kecuali kebaikan dan kebaikan. Ini perumpamaan “pada malam hari”.

Dalam banyak kasus yang dihadapi oleh Nabi dan kaum Muslimin, sepak terjang sang semut hitam telah menimbulkan bahaya yang, bahkan, Allah pun ikut turun tangan mengatasinya. Kasus hadistul ifqi (berita bohong) yang melibatkan Aisyah dan Sofwan ibnu Muatthal adalah peristiwa yang sempat mengusik rasa buruk sangka Nabi kepada istrinya sendiri. Betapa dashyatnya tragedi-tragedi yang tercatat dalam ingatan kaum Muslimin seperti pembunuhan atas Khalifah Ustman bin Affan dan perseteruan antara Ali bin Abi Thalib dan Aisyah, istri Nabi, karena sang semut hitam memainkan peran kunci. Dia menyelinap dalam kehitaman batu dan kegelapan malam. Menikam dari belakang, membokong tanpa jejak, bahkan mencuri informasi penting dan membeberkannya kepada musuh.

Inilah alasan Allah “mem-booking” kerak neraka sebagai tempat yang akan dimasuki oleh orang-orang munafik. Di tangan mereka, kejujuran, kebenaran, kesahihan, atau apapun jenis kebaikan, hanya singgah di mulut, dalam ucapan manis, dan akting yang sempurna. Tak pernah ada sikap jujur yang terpancar dari perilaku orang-orang munafik, karena segala kebaikan yang diperagakannya adalah konsumsi kepentingan pribadi, sehingga kebohongan dan kepura-puraan adalah senjata andalannya.

Jangan pula kita, bahkan Nabi dan para sahabat saja menjadi mangsa dan korban berjamaah “gerakan dalam selimut” orang-orang munafik. Manuvernya sungguh-sungguh mirip selimut, yang membuai, meninabobokan, bahkan menghipnotis kita dalam “baik sangka” terhadap mereka. Di mata orang-orang munafik, kita tak ubahnya kerbau dungu yang gampang disetir sesuai dengan kepentingan mereka. Tak mengherankan, saat kita kesusahan akibat ulahnya, di tempatnya Sang Munafik sedang tertawa terbahak-bahak, merayakan kesuksesannya menghancurkan kita.

So, tampaknya, booking Allah atas kerak neraka sebagai janji-Nya untuk balasan orang-orang munafik, telah disimulasikan oleh Nabi. Saat gembong munafik Abdullah bin Ubay bin Salul menemui ajalnya, tak seorang pun yang mau menshalati dan menguburkannya—termasuk anaknya sendiri. Maka, Nabi pun mengambil keputusan: melempar mayat Abdullah bin Ubay ke sebuah jurang.

Nah, jika Nabi bertindak seperti itu untuk mengakhiri riwayat sang semut hitam, mungkin kita hanya perlu bertanya saja: siapakah orang terdekat kita yang mulai menerbarkan aroma semut hitam?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda