22 August 2010

Lomba Cerpen Fantasy Fiesta 2010

SI IPIN

By : Puput Happy

"Naura! Cepetan sini! Bantu Ibu angkatin dus-dus ini!", seru Ibu Naura sambil menjinjing tas besar.

"Ya Bu! Sebentar!", jawab Naura. Naura pun segera bergegas membantu ibunya mengangkat dus-dus besar yang berisi buku-buku.

"Aduuuh…., berat banget sih Bu?!", keluh Naura dengan nafas tertahan.

"Hufftt! Capeknya…..", bisik Naura lirih.

Seharian Naura, ayah, ibu dan Farhan, kakak Naura beres-beres rumah. Maklum, namanya juga pindah rumah, jadi semua ikut sibuk. Hingga seminggu lamanya mereka baru bisa bernafas dengan lega. Akhirnya mereka sudah bisa bersantai-santai melepas penat yang melelahkan.

Rumah itu merupakan rumah tua. Ayah Naura membelinya karena arsitekturnya bagus dan elegant. Murah lagi! Bentuk dan motif rumah itu kelihatan unik, makanya ayah Naura langsung jatuh cinta. Terlebih lagi Naura. Ia begitu kegirangan. Gimana nggak senang, sudah rumahnya besar, bangunannya sangat tinggi menjulang, di dalamnya juga lapang dan sejuk. Rumah itu menghadap ke selatan, dengan tembok bercat warna coklat keemasan. Halamannya sangat luas, dengan dihiasi kolam ikan yang bentuknya unik dan asri, karena banyak tanaman air di atasnya, yang disertai suara gemericik air yang indah terdengar, membuat suasana hati damai dan teduh. Di halaman rumah ditumbuhi bunga-bunga indah berwarna-warni. Di samping rumah itu juga rimbun, karena dikelilingi kebon yang banyak ditumbuhi pohon mangga. Wuiih….Naura kan suka banget dengan buah mangga! Kalau lagi musim mangga, pasti Naura bahagianya tak terkira.

Menjelang malam, karena kantuk yang mulai menyiksa, Naura langsung rebahan di ranjang, dan segera memejamkan matanya. Seisi rumah sudah tertidur semua, terbuai dalam mimpi indah. Sebelum tidur, Naura sempat berandai-andai dan memimpikan sesuatu yang indah, yang akan ia dapatkan dari rumah barunya itu.

"Aku bakalan betah deh tinggal di rumah ini!", pikir Naura sambil tersenyum gembira, dengan mata terpejam. Namun, tiba-tiba terdengar suara sangat nyaring di telinga Naura….

"Naura! Naura! Sini sebentar!"

Naura langsung membuka matanya begitu namanya dipanggil. Ia kaget setengah mati! Ia pun segera membuka telinganya lebar-lebar.

"Seperti ada yang memanggil namaku….", bisik hati Naura.

"Tapi sepertinya terdengar di bawah ranjangku… Dan suaranya, mirip suara Upin dan Ipin! Aduuuh, aku mimpi nggak sih?", tanya Naura pelan. Ia pun segera mencubit lengannya, untuk meyakinkan dirinya kalau ia tidak sedang bermimpi.

"Auu!", teriaknya. Kini dia makin yakin, karena lengannya terasa sakit begitu ia cubit. Ia pun jadi gemetaran, takut sekali! Jantungnya berdegup kencang. Dag dig dug! Dag dig dug! Begtu terus bunyi detak jantungnya. Setengah hati ia beranjak bangun.

"Naura! Naura! Sini sebentar!", teriaknya lagi.

Dengan kaki gemetar, Naura memaksakan dirinya untuk melihat apa yang ada di bawah ranjangnya itu. Karena penasaran, ia jadi sedikit berani, dan segera ia sibakkan sprei yang menutupi kasurnya.

"Naura! Naura! Sini sebentar!", terdengar lagi teriakannya. Naura jadi kaget untuk kedua kalinya, apalagi setelah melihat benda yang teriak-teriak itu terlihat sangat jelas di matanya.

"Hah?! Itu kan handphone?! Tapi kenapa memanggilku? Hantu bukan sih?", bisik Naura. Deg-degannya semakin menjadi-jadi.

"Kamu memanggilku? Kok kamu tahu namaku sih?", tanya Naura hati-hati.

"Ya iyalah! Emang namamu siapa? Naura kan? Cepetan angkat aku!", seru handphone itu lagi, masih tetap dengan nyalanya yang terang di layarnya.

"Tapi jawab dulu, kamu hantu bukan? Kamu kan HP! Kok bisa bicara?!", tanya Naura masih dengan rasa takut.

"Seperti yang kau lihat…. Cepet angkat aku! Aku nggak akan menggigitmu kok! Percayalah!", jawab HP itu, merajuk.

"Beneran bukan hantu? Tapi awas ya, kalau kamu jahat sama aku, aku akan segera membantingmu! Biar kamu pecah dan hancur berkeping-keping!", ancam Naura.

"Iya…. Aku janji! Takut amat sih! Sudah SMU aja….Penakut!", ledek HP itu.

"Iya iya… Cerewet!", lalu Naura pun segera mengambil HP aneh itu dari kolong tempat tidur. Lampu di layar HP itu masih tetap menyala terang.

Setelah diambil, Naura langsung mengamati HP itu. HP Nokia tipe jadul, tapi masih bagus, nggak ada tanda-tanda sudah rusak atau kusam. Tapi herannya, begitu HP dipegang, HP itu nggak cuap-cuap lagi kayak tadi. Diam seribu bahasa. Aneh!, pikir Naura.

Di layar HP itu, terdapat tulisan semacam SMS. Naura membacanya pelan-pelan,
"Naura, kalau mau tidur, baca doa dulu…. Biar nggak mimpi buruk! Ok?"
Naura jadi cekikikan…..

"Ah, sialan! Kirain tulisan apa…. Iya Boz! Ntar Naura baca doa kalau mau bobo… Tapi kenapa kamu jadi diem begitu? Ngomong lagi dong! Aku pengin lihat, mulutmu sebenarnya di mana sih? Perasaan tadi kamu teriak-teriak manggil aku….", kata Naura pada HP itu. Tapi yang ditanya diam saja, tidak bergerak sama sekali, apalagi berbicara seperti tadi.

"Ayo dong ngomong…. Gimana sih?!", sungut Naura kesal.

Lama juga Naura menunggu jawaban dari HP itu. Karena capek menunggu, ditambah rasa kantuk yang tak terkira, ia pun segera berbaring di ranjang. Sebelum memejamkan matanya, ia jadi ingat pesan HP itu. Ia pun membaca doa sebelum tidur.

"Bismika Allaahumma ahyaa wa bismika amuut… Amin", doa Naura. Lalu ia pun tertidur dalam damainya.
Kesunyian malam hampir beranjak pergi. Dan saat menjelang fajar, terdengar lagi suara yang begitu nyaringnya di kamar Naura.

"Naura! Naura! Sini sebentar!"

Naura pun jadi gelagapan, kaget setengah mati. Ia langsung terjaga dari tidurnya begitu ada suara memanggil-manggil namanya.

"Duh, kamu! Mengagetkan saja! Ada apa sih?", tanya Naura heran. Ia gosok-gosokkan matanya. Ia lihat jam di dinding.

“Hah? Masih jam 3 kok! Kenapa dibangunin?”, tanya Naura heran.

Naura pun segera mengambil HP yang tadi berkoar-koar memanggilnya, yang ia letakkan di sampingnya selama ia tidur. Kemudian ia baca pesan di layar HP aneh tersebut.

"Ayo bangun! Sholat tahajjud! Katanya pengin disayang Alloh…."

Naura jadi senyum-senyum membacanya…. Ia pun langsung nyeletuk,

"Hai HP aneh! Kamu Ipin ya? Ipin yang telah dikutuk jadi HP? Kok ngingetin aku terus? Kamu sih, kenapa nggak sholat? Aneh deh! Bisanya cuma nyuruh-nyuruh doang! Payah! Nggak usah khawatir…. Ntar juga sholat! Tapi inget ya, aku sholat karena Alloh, bukan karena kamu! Jangan ge-er ya? Hehehe….", kata Naura sambil cekikikan. Dan seperti biasa, HP itu diam tak bergeming begitu dipegang Naura.

Naura pun beranjak ke kamar kecil untuk mengambil air wudlu. Sepanjang melangkah, ia berpikir terus. Benar-benar nggak ngerti deh! Aku sedang hidup di mana sih? Perasaan, HP itu benda mati, tapi kok kayak orang hidup? Mirip suara Upin dan Ipin lagi! Padahal setahuku, yang suka nyuruh berbuat baik itu kan Kak Ros….bukannya si Upin dan Ipin… Aduuh, hantu apa bukan sih? Hihihi….. tiba-tiba Naura jadi merinding. Tapi dia kembali berpikir. Jika HP itu hantu, kenapa isi pesannya selalu peringatan dan nasehat? Biasanya kan hantu itu usil dan jahat…. Ah, tau ah! Naura pun segera menepis semua itu, lalu mengambil air wudlu untuk sholat tahajjud, memohon petunjuk-Nya…

***
Begitu terus setiap hari. Naura jadi semakin akrab dengan HP-nya. Tetapi yang bikin Naura tak mengerti, HP itu selalu berpesan tiap Naura hendak berangkat ke sekolah atau keluar rumah,

"Naura, jangan cerita ke siapa-siapa ya tentang aku, meski terhadap keluargamu sendiri… Jangan kau bawa aku keluar dari kamar ini. Awas loh kalau kamu langgar! Kamu bakal menyesal nanti!”

“Emang kenapa kalau aku melanggar? Suka-suka aku dong! Enak aja nyuruh-nyuruh….”, tanya Naura ketus.

“Itu tandanya kamu nggak punya perasaan! Pliiizzz, jangan ya? Masa sih kamu jahat sama aku?”, pinta HP itu merengek-rengek.

“Ya deh…. Tapi kasih tahu aku dulu, nama kamu siapa sih? Segala sesuatu kan pasti punya nama…”, tanya Naura lagi.

“Terserah kamu mau manggil aku apa….”, jawab HP itu.

“Ya udah, aku panggil Ipin aja ya? Hehehe….”

“Setuju deh! Oh iya, satu lagi, jangan sekali-kali kamu menjual aku!”

"Tapi kenapa?", tanyaku heran.

"Masa kamu tega sih menjual sahabatmu sendiri….?", jawabnya.

"Halah! Lebay….. Udah ah! Aku mau sarapan. Kamu nggak lapar?", tanya Naura lagi. Tapi yang ditanya diam saja, tidak menjawab sama sekali. Naura jadi menyesal, karena telah memegangnya. Kalau nggak dipegang kan HP itu masih mau ngomong terus dengan Naura…

"Ya sudah, kalau nggak doyan makan… Kamu diem aja di sini ya? Jangan nakal! Hehehe….", goda Naura. Tapi HP itu tetap saja diam. Naura pun segera keluar kamar menuju meja makan.

Pagi-pagi ayah, ibu, dan Farhan sudah kumpul di meja makan menunggu Naura.

"Ayo Naura, buruan sarapan! Sudah siang, ntar kamu terlambat sekolah lagi!", kata ayahnya.

Ibu Naura memberikan piring yang telah terisi nasi ke Naura. Sambil mengambil telor mata sapi, Naura tanya pelan-pelan ke orang tuanya, juga kepada kakaknya, Farhan.

"Hmmm… Semalam ada yang mendengar suara berisik di kamarku nggak?", selidik Naura, takut ada yang mengetahui HP aneh itu ada di kamarnya.

"Emang ada apaan Ra? Nggak ada suara apa-apa kok! Ada yang ngganggu kamu ya?", tanya Farhan penasaran.

"Eh, nggak kok! Cuma nanya aja! Hehehe….", jawab Naura cengar-cengir.

"Terus, kenapa kamu nanyain itu?", tanya ibu Naura heran.

"Hmmm… Soalnya aku semalam nyalain musik, barangkali berisik kedengarannya…. Tapi kalau nggak, ya syukurlah! Hehehe….", jawab Naura asal. Padahal sih, boro-boro ndengerin musik! Orang udah ngantuk banget, mana sempet dengerin musik! Dasar Naura payah! Pinter boong!

***
Pulang sekolah, Naura langsung masuk kamar dan rebahan di ranjang. Pusing juga sekolah, pikirnya…. Tiba-tiba matanya jadi ngantuk. Belum sempat terpejam,
"Naura! Naura! Sini sebentar!"
"Aduuuuh, apaan sih?! Berisik tau! Ngantuk nih! Sholatnya ntar aja! Capek tau! Mau tidur dulu!", jawab Naura tanpa mempedulikan HP yang berteriak-teriak memanggilnya. Dia pun tertidur tanpa merasa bersalah.
Di saat Naura sedang terlelap dalam tidurnya, ibu Naura berteriak-teriak di ruang tamu memanggilnya.
"Naura! Naura! Ke sini sebentar!"

Sesaat Naura mendengar teriakan ibunya. Tapi begitu ibunya berteriak-teriak lagi, ia langsung kaget! Disangkanya tadi suara HP-nya yang biasa membangunkannya itu. Dengan malas, ia bangun… Ah, suara Ibu! Ada apa sih? Siang-siang kok teriak-teriak…., batinnya. Dilihatnya jam dinding, masih pukul 13.30 WIB….

"Naura! Cepet sini! Kamu lagi ngapain sih?", teriak ibunya lagi.

"Ya Bu! Ada apa sih?", jawab Naura kesal.

"Naura, tadi waktu kamu pulang sekolah, pintunya dikunci nggak? Kok pintunya terbuka lebar begitu? Kayaknya tadi ada maling masuk rumah! Tuh lihat di meja! Teleponnya mana? Hilang kan? Aduuuh, jangan-jangan ngambil barang-barang yang lain….", kata ibu Naura panik.

"Dikunci kok Bu! Tapi, masa sih, siang-siang ada maling?", tanya Naura heran.

Rupanya saat ibu pulang dari kantor, pintu rumah sudah terbuka, makanya ibu Naura heran. Nggak biasanya pintu dibiarkan dalam keadaan terbuka begitu…

Ibu memeriksa seluruh ruangan, khawatir ada barang penting lain yang hilang. Naura sendiri malah ke kamar kecil, mau ambil air wudlu. Kan belum sholat dhuhur…. Padahal Naura pengin makan, tapi setelah tahu rumahnya telah dimasuki maling, jadi nggak selera makan. Farhan dan ayahnya belum pulang lagi! Padahal Naura dan ibunya lagi pusing, butuh bantuan tenaga laki-laki. Ibu Naura sepertinya masih khawatir, jangan-jangan malingnya masih di sekitar rumahnya.

Selesai sholat, Naura mengambil HP misterius miliknya, si Ipin. Naura mengira, isi pesannya pasti sama dengan yang sudah-sudah. Tapi betapa kagetnya Naura, setelah ia lihat isi pesan di HP,
"Naura, coba lihat ke ruang tamu! Sepertinya ada orang asing masuk…."

Naura langsung lemas seketika. Dia jadi merasa bersalah, karena telah mengabaikan panggilan si Ipin. Sesaat ia menangis, menyesali sikapnya.

“Maafkan aku Ipin…. Seandainya tadi aku memenuhi panggilan kamu, tentu tidak akan terjadi hal seperti ini…”, bisik Naura sambil terisak-isak. Tapi kemudian ia sadar, kalau ibunya sedang butuh bantuan, untuk menge-cek barang-barang yang hilang. Ia pun segera membantu ibunya mencari-cari sesuatu, barangkali ada yang aneh.

"Bu, sepertinya yang hilang cuma telpon rumah… Kok aneh ya Bu? Kenapa nggak motor aja yang diambil? Atau komputer… Atau barang lain yang lebih berharga?", tanya Naura pada ibunya.

"Iya, Ibu juga heran… Kenapa ya? Ah sudahlah! Yuk kita makan! Kamu belum makan kan?", ajak Ibu Naura. Dan Naura pun menurut saja….

Saat Naura dan ibunya sedang makan siang, terdengar suara berisik di kamar Naura. Tiba-tiba Naura jadi nggak tenang, karena ibunya terlihat tegang, seperti ikut mendengar suara gaduh di kamarnya

"Naura, sepertinya di kamar kamu ada orang lagi berantem. Ibu jadi takut…. Aduuuh, Ayah kok nggak pulang-pulang ya Ra?", ucap ibu Naura ketakutan.

"Ibu di sini aja ya? Naura akan ke kamar, siapa tahu memang ada orang lagi berantem di sana….", kata Naura memberanikan diri.

"Tapi Ra….", kata ibu Naura khawatir.

“Ibu takut nanti terjadi apa-apa sama kamu…”, lanjut Ibu, masih khawatir.

"Tenang aja Bu…", ucap Naura setenang mungkin. Padahal detak jantung Naura begitu kencangnya. Naura segera bangun dari tempat duduknya. Ia mengendap-endap menuju kamarnya. Naura mengintip dari celah pintu kamarnya…. Ia benar-benar kaget! Ternyata ada orang di dalam kamarnya! Naura jadi semakin takut….Rupanya orang itu masuk kamar lewat jendela. Naura menyaksikan seseorang yang sedang berusaha mengambil si Ipin miliknya! Tapi dengan gigihnya, si Ipin menolaknya sambil berteriak-teriak.

"Nggak mau! Nggak mau!", teriak Ipin setiap orang tersebut memaksa Ipin untuk mau dipegang.

"Ayo ikut! Kamu kan milikku! Kamu harus nurut sama aku!", paksa orang asing itu. Terlihat orang itu sangat seram, dengan rambut acak-acakan, dengan kondisi tidak terawat di kepala, janggut, bahkan di lehernya.

"Ngga mau! Kamu orang jahat! Nggak mau!", elak Ipin. Naura kasihan sekali melihat si Ipin melompat-lompat menghindari tangan orang asing itu yang hendak memegangnya. Karena nggak tahan, Naura pun segera masuk kamar.

"Hai orang asing! Ngapain kamu di kamarku! Jangan ganggu Ipin! Sana pergi!", hardik Naura dengan mimik wajah marah. Ditimpuknya punggung orang asing itu bertubi-tubi dengan buku besar yang ada di meja belajar Naura.

“Pergi! Ayo pergi! Jangan ganggu Ipin!”, teriak Naura marah.

Orang asing itu hanya mengelak saja, tanpa melawan timpukan Naura. Meski kesakitan, dia tidak membalasnya. Ia hanya berteriak “aduh” setiap kena timpukan Naura. Masih dengan omelan dan timpukan keras, Naura tetap menyuruh orang asing itu untuk segera pergi dari rumahnya. Tapi begitu Naura ngomel-ngomel seperti itu, si Ipin langsung diam, tidak bersuara lagi. Dan begitu si Ipin diam, tidak teriak-teriak lagi, orang asing itu pun langsung mengambilnya tanpa perlawanan dari Ipin.

"Ya, saya minta maaf. Saya ke sini cuma mau mengambil HP ini yang tertinggal di sini. Ini HP saya, jadi kamu nggak berhak untuk memilikinya. Telpon-nya sudah saya kembalikan, dan saya letakkan di teras rumah. Saya permisi…", kata orang asing itu, dan segera keluar lewat jendela, sambil lari terbirit-birit. Mungkin mau lewat jalan lain dia merasa malu atau bingung, karena dia sudah terlanjur masuk lewat jalur tak biasa. (Nah loh!)

Masih dengan posisi berdiri, Naura jadi makin bingung… Apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba si Ipin diam, dan mau saja dibawa pergi sama orang asing itu. Bukannya tadi nggak mau diajak orang asing itu? Terus, tadi orang itu bilang, kalau HP itu miliknya…. Berarti, dulu rumah ini miliknya? Aduuuh, pusing! Ayah, pulang dong!, bisik hatinya.

Begitu orang asing hengkang dari kamarnya, Naura segera menemui ibunya. Ibunya yang dalam keadaan shock, tetap berdiri mematung di dekat meja makan. Ibu Naura ketakutan setengah mati. Tidak disangkanya kalau anaknya itu ternyata sangat pemberani, pikirnya.

"Ibu, orangnya sudah pergi! Dia ke sini cuma mau ambil HP miliknya yang dulu tertinggal di sini…", kataku pada Ibu, masih dalam keadaan tak mengerti.

"Apa? HP? HP apaan? Terus, kenapa masuknya lewat jendela? Jangan-jangan… Naura! Berarti itu malingnya! Kenapa nggak kamu tangkap?", Tanya Ibu Naura bingung, sekaligus takut.

"Hah? Ditangkap gimana? Aku kan bukan polisi Bu…", jawab Naura semakin tak mengerti.

"Bener juga ya? Lah, terus telponnya, gimana? Kan hilang…", tanya Ibu Naura, bengong.

"Kata orang itu, ada di teras rumah! Ia sudah mengembalikannya! Ayo Bu, kita cek! Bener nggak, telponnya ada di sana….", ajak Naura pada ibunya. Naura dan ibunya pun segera beranjak menuju teras rumah. Dan ternyata benar, telpon itu ada di sana, dengan dibungkus kantong plastik. Saat mereka sedang memeriksa telpon itu, Farhan dan ayah Naura datang.

“Yah, dulu rumah ini milik siapa sih Yah? Tadi ada orang aneh ke sini, disangkanya maling, ternyata bukan…. Tapi herannya, sempat bawa telpon rumah segala Yah! Ayah pasti kenal orangnya ya?”, tanya Naura beruntun. Setelah ayah Naura menjelaskan siapa pemilik rumah ini sebelum ia membelinya, barulah Naura mengerti.

***
Di kamar, Naura masih memikirkan si Ipin. Masih belum percaya dengan yang telah dialaminya kemarin-kemarin. Kenapa Ipin tertinggal di kolong tempat tidur ya? Atau jangan-jangan Ipin memang sengaja ngumpet di kolong, biar nggak dibawa orang asing itu ya? Semakin dipikir, Naura merasa semakin pusing kepalanya….

"Tapi kenapa si Ipin mau saja dibawa pergi oleh orang itu? Padahal tadinya si Ipin ngotot nggak mau diajaknya. Kalau memang si Ipin lebih suka hidup dengan Naura, harusnya kan tetap menolak diajak orang itu…", pikir Naura tak mengerti.

Tiba-tiba Naura jadi rindu dengan Ipin, HP misterius itu…. Ia pun menitikkan air matanya. Kini, ia sangat berharap ada lagi yang memanggilnya dengan nyaring,
"Naura! Naura! Sini sebentar!"

http://kastilfantasi.com/forum/viewtopic.php?f=20&t=41




***

NB : Cerita telah diikutsertakan pada ajang Fantasy Fiesta 2010

( http://kastilfantasi.com/forum )

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda