08 January 2011

SUARA-SUARA SETAN

SUARA-SUARA SETAN (Sebuah Cerpen)

oleh Reesma Sa'adiya pada 05 Januari 2011 jam 18:42
 
Bersenang-senanglah selagi kau bisa. Jangan hanya menjalani hidup datar-datar saja. Kau tak pernah tahu apa yang akan terjadi satu detik, satu menit atau satu hari kemudian setelah sekarang. Yang kau tahu kau hanya bisa menunggu, berhenti di jeda-jeda yang membuatmu bosan hidup, terperangkap dalam terali kebingungan. Stres, katamu waktu itu. Petuah-petuah orang bijak, kata–kata membakar para motivator atau siraman-siraman rohani para ustadz bahkan tak mampu menjinakkan depresimu. Bagaikan reribut dering telpon yang enggan kau angkat. Mengesalkan sekali.

Oh.. jadi kau pun tak tahu kau ini siapa dan mau apa? Kau ini bagaimana dan mau kemana? Jangan khawatir kawan. Sungguh! karena banyak sekali bahkan bejibun orang yang seperti kamu ini, bahkan lebih banyak yang seperti kamu daripada yang tidak mirip kamu. Hahaha..
Apa kau tersinggung? Jangan begitu. Karena yang berkata ini bukan siapa-siapa. Ini aku, alter kepribadianmu. Temanmu, sahabatmu, bahkan kekasihmu.

“Omong kosong! Aku ini orang lurus. Tak pernah macam-macam. Kau yang busuk dan membingungkan ini tak pernah ada dalam diriku. Pergi! Pergi sana! Jangan pernah muncul di hadapanku!”

Hihihi.. lucu sekali kau ini. Aku ini adalah kamu. Dan kamu adalah aku. Apa kau berpikir aku setan yang sedang merasukimu? Ah andai kau tahu, kadang manusia pun sama busuknya dengan setan. Kadang sulitnya bukan main membedakan antara keduanya. Jadi kawan, akui saja bahwa kau ini punya sisi-sisi gelap yang tak pernah berani kau pertunjukkan kepada sesiapa. Aku yang hina dina ini tak pernah sekalipun kau kenalkan pada dunia luar. Duh.. malang benar nasibku.

“Huh. Pasti lah Vertigo-ku sedang kambuh, jadi mengalami berbagai halusinasi. Sungguh kacau..”

Lihat.. lihatlah dirimu kini. Memegang-megang kepala bahkan mau menjambak rambutmu sendiri. Menyedihkan. Kau menyesali segala ketidakberuntunganmu. Kau seringkali bertanya-tanya, kenapa bapak kandungmu adalah sosok yang tidak bertanggungjawab. Meninggalkan ibu dan adik-adikmu ketika kau masih begitu remaja. Ya! bapakmu yang gemuk, berkumis tebal dan bermata sangar dalam memorimu, tega nian pergi lari dengan istri barunya yang berambut panjang dan bermulut nyinyir.

“Tapi aku telah melupakannya. Biarlah dia dengan kehidupan barunya. Biarlah segala buruk perangai dan perbuatannya menjadi timbangan berat yang akan ia pikul di akhirat kelak.”

Bah! Pemikiran sok suci lagi. Ayolah.. aku tahu kau dendam. Dendam setengah mati. Ia yang membuat hidupmu beserta ibu dan adik-adikmu terseret-seret dalam arus nasib tak menentu. Kelak kau tak bisa lanjut kuliah, ibumu menangis dalam diam setiap malam. Lalu adik-adikmu, Sari dan Tyas yang masih SD, apa yang kau harapkan dari mereka berdua? Selain rasa rendah diri yang semakin mengkronis, kerinduan sosok yang bernama ayah, dan hari-hari yang sering kalian lalui tanpa nasi. Kau dendam kesumat! Kau lihat sendiri ibumu berjuang dengan mesin jahitnya, menelurkan rupiah demi rupiah agar kamu dan kedua adikmu tetap sekolah. Dan kau? Sungguh malang. Kau harus ikut pula membanting tulang. Bekerja di bengkel, swalayan, toko,di manapun asal bekerja dan bekerja. Di luar waktu sekolahmu.

Bukankah kadang-kadang kau ingin membunuhnya? Membunuh lelaki yang telah membuatmu ada di dunia? Ayahmu sendiri? Sosok kejam tak bertanggung jawab yang entah kenapa masih diijinkan Tuhan untuk menghirup nafas di dunia. Kotor! Segala yang ada pada dirinya adalah kotor! Dan najis! Andai ada kesempatan pasti kau akan membunuhnya bukan? Mencekiknya atau menusuknya atau menembaknya dengan pistol? Kau bahkan bisa membayangkan betapa puas rasanya dan begitu melegakan setelah melakukannya. Dunia akan kembali tenang dan nyaman..

“Hentikan! Hentikan! Aku tak sejalang itu. Tak mungkin aku membinasakan seseorang, terlebih itu ayahku sendiri.”

Semua itu mungkin kawan. Lihatlah sejenak berita-berita di televisi. Kejam. brutal! Seorang ibu bisa membunuh anaknya, seorang anak bisa membunuh bapaknya, seorang guru memperkosa muridnya. Apa kau pikir masih ada manusia yang berpikiran bersih dan lurus? Apa kau pikir masih ada kemurnian di dunia yang memuakkan ini? Cinta, kasih sayang dan omong kosong lainnya tak bisa menyelamatkanmu dari kemiskinan bukan?

Aku tahu. Aku tahu kau kehilangan dirimu sendiri. Kau seringkali teringat saat-saat menentramkan di dalam rahim ibumu. Bergelung nyaman bagai terpisah dari dimensi dunia yang menyesakkan. Di tempat suci itu kau tenang dan damai. Polos tanpa beban dosa. Ringan tanpa tanggungjawab dan kewajiban. Kau tak ingin keluar. Namun bukankah garismu telah ditentukan? Bahkan dituliskan dengan detail yang luar biasa di dalam buku langit? Kau tak bisa menghindari semua itu bukan?

Kadang bertanya-tanya menjadi rutinitas dalam pikiranmu sehari-hari. Kenapa kau diciptakan dalam nestapa? Harta tak ada, tampang tak punya, otak pun ala kadarnya. Tidakkah kau ingin berteriak dan protes. Tidakkah sekali-kali kau ingin melepaskan segala beban tak tertanggungkan ini? Bukan kah segala jenis obat rekreasi itu begitu biasa dihisap dengan nikmat oleh kawan-kawan kelasmu yang bengal? Bukan kah mudah saja kau mengikutinya? Mengikuti naluri buasmu yang sesekali melongok tak tahu malu?

“Tidak. Aku tidak sejenis dengan mereka. Aku mampu menahan hawa nafsu..”

Ah.. kau membuatku ingin tertawa lagi. Tidak kah kau sadar di zaman apa kau sekarang hidup? Dalam masyarakat apa kau bernaung? Sakit. Mereka semua sakit. Para perangkat desa mulai dari  lurah, camat, bupati, sampai wakil rakyat. Apa kau pikir jabatan mereka atas pilihan hati rakyat? Uang. Kuncinya adalah uang, kawan. Jika ingin bertahan di dunia yang maha keras ini maka kau ikutilah aturan mainnya. Jangan bersikap terlalu sok alim atau kau akan terlindas roda zaman.

“Tidak semua dari mereka kotor bukan? Ikan yang hidup di air laut yang asin, tak perlulah dagingnya ikut menjadi asin..”

Sekarang kau sok berfilosofi. Jangan mengguruiku. Aku jauh lebih pintar darimu. Tepatnya licik. Aku hanya ingin membantumu. Itu saja. Jangan salah paham. Kau adalah aku dan aku adalah kau. Mari kita bersatu menjadikan hidupmu lebih baik. Lebih kaya, lebih populer, dan ditakuti. Ya, kau harus populer di sekolah. Rahasianya adalah, jangan bersikap terlalu baik pada orang-orang. Tersenyumlah sesedikit mungkin. Jika perlu banyaklah menggertak agar mereka tahu sosok singa yang selama ini tidur di dalam dirimu. Bergabunglah dengan geng Sawunggaling, kumpulan teman-teman sangar yang suka tawuran itu. Jangan berprasangka dulu. Tawuran tidak selalu berkonotasi buruk. Kadang-kadang malah membantu mencari jati dirimu yang sebenarnya. Jika sedikit beruntung, kau bisa muncul di televisi dalam program berita-berita kriminal.

“Tapi.. tapi aku takut. Aku bukan orang yang kejam, aku adalah orang yang berhati lembut..”

Puih! Berhati lembut? Macam perempuan saja kau ini. Dasar banci! Ayolah jangan lemah begitu. Tunjukkan siapa dirimu sebenarnya. Gunakan masa mudamu yang singkat ini. Kau tahu? Menjadi remaja kelas 3 SMU adalah sebuah bencana. Lisanmu selalu dituntut untuk selalu terbungkus norma-norma. Perilakumu halus tak tercela. Fikiranmu bersih dari segala macam bayangan asusila. Lalu di pundakmu yang ringkih dibebankan sebuah tanggung jawab luar biasa: generasi penerus bangsa. Gila! Lalu kau digojlog dalam sebuah neraka bernama sekolah. Diajar oleh para algojo yang dipanggil sebagai guru dan dijaga dengan ketat oleh makhluk sangar disebut Pak Satpam. Apa mereka tak mengerti? gejolak yang menggelegak di usiamu yang masih hijau, amarah-amarah yang tidak bisa dijelaskan, dan gairah-gairah yang entah mengapa selalu dikekang. Belum waktunya, itu kata para orang tua.  Apalagi kau hidup di Jogja. Sebuah kota dengan segala permisivitasnya. Cantik, tapi penuh godaan ala kawula muda.

Omong kosong. Kau juga manusia. Kau berhak menikmati segala ke’manusiaan’mu. Coba pikir, untuk apa Tuhan menciptakan segala nafsu dunia jika untuk tidak dipenuhi dengan sepuasnya. Ayolah, aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu ketika melintas di depan warnet di samping sekolah kita. Kau tertarik dengan video mirip artis yang sedang marak di televisi itu bukan? Jangan munafik. Dan yang lebih tidak bisa dimengerti adalah, Tuhan juga meniupkan sebuah sifat yang kelak akan menyusahkan manusia itu sendiri: rasa penasaran. Bukankah ini sebuah ironi yang patut untuk kau pikirkan? Aku tahu, kau akan selalu gelisah sampai kau penuhi segala rasa penasaranmu.

“Tidak. Aku tidak ikut-ikutan latah menonton video mesum itu. Aku tidak haus perempuan. Aku terjaga, tahu!”

Hahaha... terjaga gundulmu. Siapa yang menjagamu? Siapa yang menanggapi segala teriakan keluargamu ketika kesulitan uang, siapa yang perduli ketika Sari atau Tyas sakit dan butuh berobat ke dokter, siapa pula yang bisa mengembalikan ayahmu? Siapa.. Hah?!

Kau tak perlu bersikap sealim itu. Tak ada yang perduli padamu. Lalu kenapa mesti peduli pada omongan orang-orang? Pada aturan-aturan yang tidak masuk akal? Baiklah.. baiklah.. aku menyerah. kau memang benar-benar manusia yang baik. Dan kau tahu? Kau berhak mendapatkan hadiah atas segala tingkah baikmu ini. Selama ini kau sudah begitu lurus. Kau patuh pada ibumu, menyayangi adik-adikmu, rajin sholat lima waktu, jarang berbohong, dan suka menabung lagi. Maka sungguh tak ada salahnya jika kamu melakukan maksiat barang sedikit saja. Aku jamin tidak akan mengurangi pahala-pahalamu sebelumnya. Seharusnya, tak apa-apa jika kau mengintip barang sedikit saja. Dengar, kau tinggal masuk ke dalam warnet, search di google, atau lebih enak lagi jika warnet tersebut sudah menyimpan video porno yang terkenal itu. Ayolah, melihatnya sebentar  saja tidak akan menjadikanmu orang bejat.

“Tapi..”
Tapi kenapa?
“Tapi kata Pak Fudholi.. Mendekati zina itu haram hukumnya.”

Bah! Maksudmu pak Fudholi guru Agama sekolahmu yang suka menyitir ayat-ayat dan hadits-hadits agar para siswa diseret ke Ruang BP itu? Ayolah.. Bukankah aku tidak menyuruhmu berbuat mesum dengan seorang wanita? Argh..,  Aku eh maksudku kita.. hanya akan menonton sedikit saja, adegan porno yang bikin heboh manusia sejagat itu. Tidak lucu bukan jika di antara pergaulan teman-teman hanya kau sendiri yang belum pernah melihatnya.

“Biarkan aku berpikir sejenak.”
Berpikir lagi.. berpikir lagi. Payah sekali kau ini. Cepatlah.. Dunia sebentar lagi mau kiamat. Sebentar lagi tahun dua ribu dua belas. Aku jamin, kau pasti akan menyesal jika melewatkan kesenangan dunia ini yang satu ini. Baiklah. Bosan sudah aku menunggu. Bagaimana keputusanmu?

“Ibu akan marah kalau tahu.”
Ia tidak akan marah jika ia tidak tahu.
“Uang sakuku biasanya aku tabung, bukan untuk main internet.”
Uang nanti bisa dicari lagi. Apalagi kamu rajin benar bekerja paruh waktu. Paling-paling adikmu nunggak bayar SPP barang satu atau dua bulan. Tidak masalah.
“Ehm..”
Ehm apa?
“Baiklah.”

Apa? Kau akan melakukannya? Aduh senangnya hatiku. Percayalah, semua akan baik-baik saja. Razia warnet sekarang juga sudah jarang. Aku akan selalu bersamamu. Aku akan selalu menjagamu. Kita akan melakukannya bersama-sama. Kau tak perlu khawatir. Ini bukan sesuatu yang besar. Ini maksiat kecil yang tidak akan berkelanjutan.

“Apa kau yakin aku tidak akan kecanduan?”
Seratus persen yakin.
“Baiklah.”

Argh.. dari tadi “baiklah-baiklah” terus. Kapan kau akan benar-benar melakukannya? Sekarang, mulai bangkitlah dari ranjangmu yang keras ini. Keluarlah dari kamar tidur sempitmu yang menyedihkan. Melangkahlah keluar dan jangan pedulikan jika ibumu memanggil. Pergilah ke warnet di ujung jalan itu. Operator warnetnya memang agak galak, tapi akses internetnya lumayan cepat.

“Tunggu dulu.”
Apa lagi?!!!
“Aku sedang puasa sunnah. Aku tidak boleh berbuat maksiat.”

Kau benar-benar bodoh. Berbuat maksiat itu tidak boleh dilakukan meski kau sedang puasa atau tidak. Ini bukan maksiat kawan. Kedengarannya menyeramkan amat. Ini hanya kenakalan kecil yang pasti dimaafkan. Jadi tidak perlu khawatir jika hanya gara-gara ini kau bakal masuk neraka.

“Iya, aku juga takut masuk neraka.”

Aku janji.. aku janji.. Bahwa setelah ini kau akan menjalani kehidupanmu seperti biasa seolah tak pernah terjadi apa-apa. Jika membuatmu tenang, setelah melakukannya kau boleh bersujud minta ampun kepada Tuhanmu untuk berjanji kau tidak akan melakukannya lagi. Yang penting kau sudah melihatnya bukan? Hahaha.. kau tak akan penasaran lagi. Oh., alangkah indah hidup ini jika kita tahu bagaimana caranya bersenang-senang. Kau memang sahabat baikku. Kita akan selalu bersama sampai akhir zaman. Satu hati dan satu pikiran. Kita akan..

“Kamu bicara apa sih?”
Oh maaf, aku terlalu bersemangat dengan semua ini. Aku tenggelam dalam euforia keberhasilan.
“Oya, ehm..”
Kenapa? Jangan membuatku was-was begitu. Kau tidak akan berubah pikiran bukan?
“Tidak. Tenang saja.”
Syukurlah…
“Jam berapa sekarang?”
Jam tiga seperempat. Kenapa?
“Apa kau mendengar sesuatu?”
Tidak, selain..
“Sudah adzan asar.”

Ya, maksudku selain suara mengesalkan itu. Itu masalah gampang. Kau bisa melakukan ritual tersebut setelah pulang dari warnet. Bukan masalah besar. Apalagi setiap hari kau selalu melakukannya rutin lima kali. Apa kau tak pernah bosan dengan gerakannya yang itu-itu saja? Coba kalau gerakannya dimodifikasi sedikit saja. Misalnya dikombinasi dengan gerakan moon walking-nya Michael Jackson, bakal keren sekali.

Ck.. jangan memandangku dengan tatapan aneh seperti itu. Dalam hidup kita perlu variasi bukan? Kalau kata Agnes Monica dalam sebuah iklan makanan ringan, Life is never flat. Artinya hidup jangan lurus-lurus terus. Hidup jangan begitu-begitu saja. Sesekali keluarlah menonton bioskop, cuci mata di mall, atau apel cewek yang sedang kamu incar. Jadilah lelaki jantan, bukan pecundang yang selalu bersembunyi di bawah ketiak emaknya. Hei.. hei.. kau mau kemana? Aku belum selesai!

“Ke pancuran.”

Apa? Kau mau wudhu ya? Jangan.. Jangan kau lakukan dulu ritual membosankan itu. Santai saja. Kau tahu bukan kalau aku tidak begitu suka bersuci? Maksudku membersihkan muka, rambut, kuping, tangan dan kakimu seperti orang idiot. Aku tidak begitu suka lingkungan yang bersih karena akan membuatku susah berkonsentrasi. Ah.. percuma saja aku mengomel sendiri. Kau sudah selesai dan halah.. sok pakai doa sesudah wudhu segala. Benar-benar wasting time. Hei.. kau tidak benar-benar mendengarku ya? Mau kemana kau? Ke mushola? Tidak! Tidak bisa begitu. Kau sudah berjanji untuk melihat video porno itu bukan? Kau benar-benar pengkhianat.

Eits.. tunggu dulu. Kali ini ada pemandangan sedap. Dari tempatmu berdiri arah jam 11. Jangan sok menundukkan pandangan begitu. Lihatlah barang sebentar saja.

Astaghfirullah..”

Halah.. pakai beristigfar segala. Bagiku itu terdengar seperti ungkapan kagum kaum adam terhadap indahnya kaum hawa. Ya, Kalila memang cantik. Apalagi dengan kerudung biru yang membungkus wajahnya yang putih ayu. Aduhai.. lihatlah. Dia juga sedang menuju ke musholla seperti dirimu. Jejerilah dia, ajak ngobrol barang sejenak.

“Tidak. Aku harus bergegas. Sebentar lagi iqamat.”

Tt.. tttt.. Tunggu dulu. Sabar.. sabar.. telat pun masih bisa jadi masbuk kan. Jelek-jelek begini aku juga tahu sedikit masalah sholat, tahu.

“Aaahh.. pergi sana! Kau benar-benar mengesalkan.”

Alangkah teganya dirimu. Jangan! Jangan masuk tempat suci itu. Ah.. lagi-lagi terlambat. Seseorang mengumandangkan iqamat dan kau dengan kejamnya berjejer di antara jamaah-jamaah yang rapatnya minta ampun sehingga aku tak pernah bisa menyusup di sela-selanya. Benci sekali..

Omong-omong disini panas sekali. Tubuhku serasa terbakar. Aku ingin keluar tapi misiku belum selesai. Ayolah, sobat.. jangan lakukan ini padaku. Bukankah kita sahabat sejati dalam suka maupun duka? Baiklah, mungkin kadang aku tidak muncul ketika kau sedang berduka. Tapi aku selalu bisa menemanimu bersenang-senang bukan?

Dan kau tahu benar, aku benci jika kau menyembah Tuhanmu. Kau tahu benar jika apa yang akan kau lakukan itu bisa membuatku mati suri, hilang rasa dan tidak percaya diri lagi untuk membisikkan rayuan-rayuan maut kepadamu. Mantraku tidak kan ampuh lagi. Aku bisa lumpuh.

“Ssstt… Berisik amat! Sholat mau dimulai nih..”

Oh, Please… Please… jangan lakukan. Aku tahu dan hafal betul jika setelah melakukannya kau jadi lupa akan rencana-rencana kita. Kau jadi enggan bicara denganku. Kau jadi aneh. Dan aku harus mengulangi bisikan-bisikan yang sama, rayuan-rayuan yang sama tentang segala hal yang keji dan yang mungkar. Aku tak pernah bosan meskipun lima kali sehari selalu digagalkan. Aku akan selalu mencoba dan mencoba lagi. Dan yang paling menakjubkan adalah, aku rela melakukannya sampai akhir zaman. Sampai kiamat. Aku perlu banyak teman untuk masuk neraka bukan?

Aduh.. sudah mau dimulai ya. Huff.. gagal lagi gagal lagi. Tapi aku tidak akan menyerah sampai disini. Aku.. hei.. lihatlah seorang tua renta di barisan depanmu. Kaos di belakang punggungnya ada tulisan lucu: “CUMA BAWA UANG, TIDAK BAWA SIM + STNK”. Bwahahahaa.. lucu sekali bukan. Kenapa tidak ada suara tawa? Atau pandanglah sajadahmu itu. Gambar masjidnya cantik dan di kanan kirinya dihiasi pohon kelapa. Yang aneh adalah, pohon kelapa di sebelah kiri terlihat lebih tinggi daripada yang di sebelah kanan. Sekali lagi, kau sepertinya tidak peduli.

Ayolah, kembalilah kepadaku..
Meskipun terlihat menyedihkan aku akan tetap mengiba-ngiba padamu. Kumohon, kasihanilah aku. Oh.. lihatlah.. kedua tanganmu kau angkat pertanda dimulainya siksaanku. Kau akan membakarku. Kau akan membunuhku.
Jangan! jangan mulai, jangan lakukan, jangan ucapkan…

Tidaaaaaaaaakkk!!!!

“Allaahu akbar..”

***
Yogyakarta Oktober 2010

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda