20 June 2011

APRESIASI CERPEN I


Jadi Imam


Cerpen Muhammad Saleh (Republika, 12 Juni 2011)



SEPULUH hari sudah sejak kedatangan Haji Badrun dari tanah suci Makkah. Warga kampung mulai resah. Pasalnya, Haji Badrun belum juga menampakkan batang hidungnya. Datang ke masjid untuk mengimami shalat. Mereka percaya, selama empat puluh hari, orang yang datang dari berhaji doanya akan diijabah oleh Allah dan cepat terkabul.



Kalau sampai lewat empat puluh hari, warga takut barakahnya sudah tidak ada lagi. Dan, itu sangat disayangkan karena di kampung itu orang yang naik haji sangat langka. Hampir sembilan puluh persen warga kampung itu masuk dalam kategori miskin. Selama sepuluh tahun, paling dua tiga orang yang mampu menunaikan rukun Islam yang kelima itu. Oleh karena itu, warga sangat mengharapkan Haji Badrun mau mengimami shalat berjamaah di masjid dan minta didoakan.



Desas-desus keresahan warga itu akhirnya sampai juga ke gendang telinga Haji Badrun. Hingga membuat Haji Badrun gelisah.



“Mengapa toh, Pak? Dari tadi mondar-mandir terus….” tegur [jika 4 titik seharusnya kata “tegur” ditulis capital awalnya] istrinya, Hajah Halimah, sembari menyajikan kopi panas di meja tamu. Asap putih tipisnya meliuk-liuk menguarkan aroma yang sedap.



“Ada masalah?” tanya Hajah Halimah lagi.



Haji Badrun menggeleng, “Bapak tidak kenapa-napa, Bu. Cuma kegerahan saja,” [kata-kata mubazir, cukup dipakai salah satu saja] kilahnya, mengibar-ibarkan baju gamisnya, kemudian duduk di kursi di samping istrinya.



Hajah Halimah mengernyit bingung sambil mendongak ke atas memperhatikan baling-baling yang berputar cepat. “Lho, bukannya kipas angin kita hidup? Masak sampai kepanasan? Bapak ini ada-ada saja,” Hajah Halimah terkekeh sendiri dengan jawaban suaminya.

“Sudahlah, Bu. Sini kopinya….”



Haji Badrun menarik napas dalam, menikmati aroma kopi yang khas menusuk dalam rongga hidungnya. Ah, sedap, gumamnya. Kemudian, dengan cepat dia menyeruput kopinya. Sesaat rasa nikmat kopi menggerogoti setiap aliran darahnya. Sejenak dia dapat melupakan kegelisahannya. Kegelisahan yang selama ini dia khawatirkan, bahkan sebelum berangkat ke Tanah Suci.

***



Selama ini, Pak Badrun (sebelum menyandang gelar haji) selalu menunda-nunda untuk menunaikan rukun Islam yang kelima itu. Walaupun hartanya sudah cukup untuk membiayai perjalanan spritual itu.



“Pak Badrun, kapan nih mau naik haji?” Tanya [tanya, huruf kecil] seorang warga. Waktu minum di warung tegal [setahu saya, warung tegal itu tempat menjual nasi sama seperti ampera, penjual masakan padang, dan tidak menjual cemilan kawannya minum kopi, biasanya juga tidak ada yang di pojok kampung, tapi di dekat jalan raya atau di pertigaan atau perempatan yang ramai]. Warung di pojok kampung.

“Iya, Pak Badrun? Pak Badrun kan sudah mampu,” tambah yang lain.



Pak Badrun hanya tersenyum tipis sambil berkata, “Insya Allah, tahun depan….” Kemudian, dia langsung membayar kopi dan kue yang dimakannya. Pak Badrun tak ingin berlama-lama di warung itu. Nanti malah banyak pertanyaan yang dilontarkan padanya. Hajinya, ONH-plus atau biasa? Biaya berapa sekarang? Tentu Pak Badrun tak bisa menjawabnya. Karena memang dia belum daftar nama ke Departemen Agama (saat ini berganti menjadi Kementerian Agama).

Ditunggu oleh warga sampai tahun depan. Ternyata, Pak Badrun belum berangkat haji juga. Ditunggu lagi, tetap sama. Belum juga menyandang gelar haji. Hingga warga kembali mengulang pertanyaan yang sama. Di tempat yang sama. Orang yang sama.



“Pak Badrun, kapan nih mau naik haji?”



“Iya, Pak Badrun? Pak Badrun kan sudah mampu.”



Pak Badrun bingung harus menjawab apa. Tak mungkin lagi baginya untuk memberikan jawaban yang sama juga.



“Masih nunggu antrean…,” [saya belum tahu kalau setelah tanda titik 3 – tanda ellipsis – diberi koma, sesuai aturan EYD harusnya dipisah dengan kata sebelum dan sesudahnya] jawabnya kikuk. Setelah ingat berita di tv bahwa naik haji sekarang harus menunggu beberapa tahun dulu.

***



Pulang ke rumah, istrinya langsung menyambutnya dengan wajah cemas bercampur gelisah.



“Ibu malu, Pak. Ibu malu….”



“Malu kenapa, toh, Bu?” Pak Badrun mengempaskan berat badannya ke sofa.



“Ibu malu sama ibu-ibu pengajian. Karena terus ditanya, kapan naik hajinya?”



“Ya, bilang aja tahun depan…,” sahut Pak Badrun santai.



“Tahun depan… tahun depan… terus,” Bu Halimah mulai kesal karena cuma kalimat itu yang selalu meluncur dari mulut suaminya. Tapi, belum juga sampai ke Tanah Suci.



“Ya, mau gimana lagi. Cuma itu jawaban yang paling gampang.”



“Ibu, nggak mau lagi ditanyai seperti itu. Pokoknya tahun depan kita harus naik haji, Pak,” cetus Bu Halimah lagi, dengan nada memaksa. Ia sudah capek mendengar alasan suaminya yang selalu saja menolak untuk berangkat haji.



“Tapi, Bu….”



“Tak ada tapi-tapi. Kita berangkat tahun depan. Titik,” Bu Halimah melengos pergi. Meninggalkan suaminya yang masih melongo. Bu Halimah sudah tak sabar ingin menyandang gelar hajah di depan namanya.

***



Akhirnya, Pak Badrun mengabulkan permintaan istrinya untuk berangkat haji tahun ini. ONH-plus, biar cepat, walaupun lebih mahal. Kalau tidak, istrinya akan terus uring-uringan. Berita itu sangat menggembirakan warga kampung. Sudah lama mereka menantikan berita gembira ini.



“Akhirnya, Pak Badrun naik haji juga,” komentar salah seorang warga.



“Iya, aku sudah tak sabar. Bagaimana tampang Pak Badrun dengan kopiah putih di kepalanya, hehehe….”



“Kalau aku, mau minta didoakan, biar bisa naik haji juga.”



“Kalau minta didoakan, punya istrinya dua boleh nggak ya?”



Towelan di kepala disertai suara, “Huu….” langsung membuat semuanya nyengir kuda. Sementara Pak Badrun, benih kekhawatirannya kini mulai menyemai. Apa yang dia takutkan mungkin akan segera berbuah?

***



Tok…! Tok…! Tok…!

Suara ketukan di pintu depan. Membuat Haji Badrun dan Hajah Halimah melongok ke arah pintu.



“Assalamualaikum….”



“Waalaikumsalam. Eh, Pak RT. Mari masuk,” sahut Haji Badrun dan Hajah Halimah hampir bersamaan.



Pak RT masuk diiringi dua orang warga di belakangnya. Setelah bersalaman, mereka duduk berhadapan dengan Haji Badrun. Sementara Hajah Halimah pergi ke dapur menyiapkan minuman untuk tamu-tamunya.



“Ada apa, Pak RT?” tanya Haji Badrun.



Pak RT melirik dua orang lelaki di sampingnya. Kedua lelaki itu hanya menjawab dengan ekor mata mereka. Seolah memberi mandat, Pak RT saja yang mengatakan suatu hal yang selama ini diinginkan warga.



“Begini, Pak Haji.” Ragu-ragu Pak RT berkata, “Saya cuma mewakili warga kampung ini. Untuk meminta dengan hormat agar Pak Haji mau….”



Dug…! Jantung Haji Badrun berdegup kencang. Rasa gelisah yang sempat surut, kini kembali menggeliat. Jangan…? Jangan…? tebak [Tebak, awal kata huruf kapital] hatinya resah.



“Mengimami shalat berjamaah di masjid, Maghrib nanti…,” lanjut Pak RT. Dua orang warga di samping mengangguk-angguk mengiyakan.



“Iya, Pak Haji. Kami minta dengan sangat….”



“Wah, bagus itu,” Hajah Halimah tiba-tiba keluar dari dapur membawa nampan dengan gelas bertengger di atasnya serta sepiring kue.



“Bapak kan selama pulang dari Tanah Suci belum pernah shalat berjamaah di masjid. Nggak enak sama warga. Apalagi sekarang Pak RT bela-belain datang ke sini untuk meminta langsung sama Bapak agar mengimami shalat…,” lanjut Bu Halimah dengan sedikit bujukan. Ia tak melihat, wajah suaminya berubah pucat. Keringat dingin yang tadi mengembang, kini mengucur deras.



“Bagaimana, Pak Haji?” tanya Pak RT lagi.



Haji Badrun tak langsung menjawab. Gemuruh di dadanya semakin kencang, seolah ada badai tsunami yang sedang menggelayut dalam hatinya. Ia bimbang. Kalau tak diiyakan, pasti citra hajinya akan tercoreng. Ia akan dicap sebagai haji yang sombong. Kalaupun bersedia, kemungkinan nasibnya juga akan sama. Citra hajinya juga tercoreng, malah mungkin semakin buruk.



Tapi, Haji Badrun sungguh tak enak hati karena Pak RT langsung yang memintanya untuk mengimami shalat. Kalau hanya mendengar desas-desus, mungkin dia masih bisa mengelak.



“Ba-baiklah, saya bersedia…,” kata Haji Badrun terbata. Antara gugup dan takut.

Semua menarik napas lega. Kalau semua warga nanti tahu, pasti masjid akan penuh, pikir Pak RT tersenyum senang.

***

Sepuluh hari sudah sejak kedatangan haji Badrun dari tanah suci, Makkah. Warga kampung mulai resah. Pasalnya, Haji Badrun belum juga menampakkan batang hidungnya. Datang ke masjid untuk mengimami shalat. Mereka percaya, selama empat puluh hari, orang yang datang dari berhaji doanya akan diijabah oleh Allah dan cepat terkabul.

Kalau sampai lewat empat puluh hari, warga takut barakahnya sudah tidak ada lagi. [paragraf ini sudah ditulis di paragraf awal tapi kok diulang lagi] Dan, itu sangat disayangkan karena di kampung itu orang yang naik haji sangat langka. Hampir sembilan puluh persen warga kampung itu masuk dalam kategori miskin. Selama sepuluh tahun, paling dua tiga orang yang mampu menunaikan rukun Islam yang kelima itu. Oleh karena itu, warga sangat mengharapkan haji Badrun mau meng imami shalat berjamaah di masjid dan minta didoakan.



Dan, Maghrib kali ini, Haji Badrun sudah berdiri di atas sajadah dalam mihrab masjid. Seluruh jamaah sudah tak sabar mendengar lantunan ayat Alquran dari mulut Haji Badrun. Memang, Haji Badrun belum pernah mengimami shalat selama hidupnya. Bahkan, ada yang sudah berdehem beberapa kali, namun Haji Badrun belum juga mengangkat takbir.

Mereka tak memperhatikan, kaki Haji Badrun bergetar hebat menahan gugup. Peluh telah membanjir di pelipisnya. Bukan, bukan karena Haji Badrun tak sanggup berkata sehingga belum memulai shalat. Ia tak tahu apa yang harus dibacanya nanti, setelah surah al-Fatihah selesai. Selama ini, ia cuma hafal dua surah saja. Al-Fatihah dan al-Ikhlas. Itulah yang selama ini ia takutkan, bila sudah menyandang gelar haji. Ia diminta mengimami shalat.



Suara deheman semakin nyaring, bahkan bisa dibilang riuh. Haji Badrun semakin gugup. Kini, ia mulai berpikir, bagaimana kalau pura-pura pingsan saja. Kena serangan jantung. Dengan begitu, citra hajinya akan tetap terjaga. Warga kampung jadi tak akan tahu kalau dia tak pandai membaca ayat Alquran. (*)

.

.

Barabai, 14 Desember 2010

Puluhan cerpen sudah ditulis oleh Muhammad Saleh. Tinggal di Desa Hawang Limpasu, Kabupaten Hulu, Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Cerpen-cerpennya sudah dimuat di sejumlah media lokal Kalimantan dan baru pertama dimuat di Republika.



Sumber: http://lakonhidup.wordpress.com/2011/06/13/jadi-imam/



Catatan:

Cerpen ini mengangkat tema yang sederhana, mengena dengan kondisi masyarakat kita yang menilai ibadah haji hanyalah sebagai penjaga status di tengah masyarakat. Kondisi ini sungguh bertolak belakang dari muatan yang terkandung dari kewajiban rukun Islam kelima itu.
Dalam cerpen ini secara ekspilisit menadahkan bahwa ternyata kesadaran berislam yang benar, yang paling mendasar adalah pandai membaca Alquran. Jika membaca Alquran saja tidak bisa, sangat diragukan kualitas ibadahnya yang lain terutama shalat, yang semuanya menggunakan bahasa Arab dan pada rakaat pertama dan kedua membaca hafalan Alquran tersebut. Kondisi ini begitu miris ternyata masih banyak umat Islam yang but abaca Alquran. Pesan moral yang ingin disampaikan penulis adalah perkara ini, masih banyak umat Islam yang buta baca Alquran.
Secara umum struktur cerpen ini menggunakan alur campuran (maju dan mundur). Namun ada pengulangan plot yang tak penting. Paragraf pertama diulang kembali pada bagian pertengahan. Mkn maksudnya untuk mempertegas, tapi ini justru melemahkan cerita. Plot cerpen ini tidak terlalu tegang, pelan, dan sedikit beriak pada bagian-bagian akhir. Ending cerpen pun sebenarnya sudah bisa ditebak. Tidak ada yang terlalu mengejutkan pada bagian akhirnya.
Penulisan cerpen ini masih banyak yang menjadi bahan tanda tanya, tidak konsisten dan kurang memperhatikan kaidah penulisan EYD. Catatan koreksiannya bisa dibaca di badan cerpen yang ditulis dalam tanda kurung […] yang ditulis miring dan ditebalkan.
Selamat membaca dan belajar menulis cerpen yang baik. Setelah itu, giliran kamu yang mengirimkan karya terbaik ke Harian Nasional Republika, email: Sekretariat@republika.co.id (tulis di judul email: Redaktur Sastra: Judul Cerpen – Nama Penulis)


Joni Lis Efendi

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda