15 June 2011

POLEMIK CALISTUNG DI TK

By: Puput Happy

Saya sempat bingung ketika beberapa orangtua murid mengeluhkan anaknya yang sekolah di Taman Kanak-kanak (TK) tempat saya mengajar yang belum bisa membaca, menulis dan berhitung (calistung). Padahal, teman-temannya sebagian besar sudah lancar calistung. Karena khawatir anaknya ketinggalan dan tidak bisa masuk ke Sekolah Dasar (SD) favorit pilihannya, ia pun beberapa kali menyampaikan keinginannya kepada saya untuk bisa sesegera mungkin mengajari anaknya menjadi pintar membaca, menulis, dan berhitung. Seolah menuntut agar anaknya cepat pintar dalam waktu singkat, bagaimanapun caranya! Saya sebagai guru mereka jadi merasa dipaksa untuk menyulap anak-anak mereka dalam waktu secepat mungkin untuk menjadi anak yang bisa dibanggakan dari segi akademisnya. Mereka memohon kepada saya:

“Bu, tolong dong, anak saya dipacu untuk segera bisa membaca, menulis, dan berhitung, biar nanti saat masuk SD sudah bisa semuanya. Kan malu Bu, sekolah TK selama dua tahun tapi nggak ada perubahan sama sekali .…”

“Aduh Bu, bagaimana dengan anak saya? Kenapa anak saya belum bisa membaca, padahal sudah mau masuk SD? Bantu saya dong Bu .…”

“Bu, saya pusing, ditegur suami saya terus, gara-gara anak saya nggak pinter-pinter. Tolong dong Bu, dorong anak saya biar jadi pinter …. jadi kan saya nggak diomelin suami saya terus ….”

“Bu, tolong awasi anak saya, untuk tidak kebanyakan main di sekolah …. Suruh anak saya belajar serius. Kalau main terus, kapan pintarnya?”

“Bu, saya capek mengajari anak saya membaca. Masak tiap hari belajar tapi nggak bisa-bisa juga? Saya harus bagaimana, Bu? Tolongin saya dong Bu …. Saking kesalnya, sampai aku cubitin anak saya. Habis, menjengkelkan sekali!”

“Tolong dong Bu, anak saya di-les privat di rumah, biar cepat pintar, nggak bodoh terus .… Bisa ya Bu, nanti datang ke rumah?”

***

Itu beberapa keluhan yang saya dapat dari orangtua murid yang anaknya kurang bisa mengikuti pelajaran calistung. Dari keluhan-keluhan itu, bisa saya ambil kesimpulan, bahwa sebagian besar dari orangtua murid masih belum mengerti akan arti pendidikan di Taman Kanak-kanak, di mana anak-anak belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar. Ini artinya hakikat pendidikan pra-sekolah masih belum dipahami benar oleh mereka selaku guru utama dalam keluarga.

Masuk akal juga mengapa banyak orangtua - khususnya para ibu - bereaksi keras merespon keterlambatan anaknya dalam membaca. Bagi mereka, keterampilan anak membaca bisa jadi merupakan sebuah "prestasi" membanggakan yang layak diceritakan kepada kerabat dan relasi. Makin kurang berkenan lagi, bila para orangtua juga mempersepsikan, lancar baca adalah jaminan paling oke untuk bisa mengikuti pelajaran di jenjang pendidikan selanjutnya.

Kalau sudah begitu, yang terjadi bisa ditebak. Banyak orangtua lalu beramai-ramai menempuh "jalan pintas" yakni memanggil guru les privat mengajari anaknya supaya cepat bisa baca. Kalau perlu, "Anakku harus lebih lancar daripada teman-teman di kelasnya!”

Sungguh tidak salah, membaca merupakan salah satu kemampuan dasar yang sangat penting untuk dikuasai supaya anak dapat belajar lebih luas. Oleh karena itulah, tahapan dan cara mengajarkan membaca perlu dicermati supaya tidak salah dalam menanamkan dasar yang sangat penting ini.

Huruf merupakan lambang bunyi yang abstrak untuk anak yang sedang belajar membaca dan menulis. Anak yang dipaksa untuk menghafalkan lambang bunyi dapat merasa bingung atau cenderung menolak jika suasana dan cara yang digunakannya tidak disesuaikan dengan pemahaman dan perhatian anak. Kebingungan anak itu dapat tampil dalam kekeliruan menulis huruf "d" padahal yang diharapkan adalah "b"; menulis huruf "p" padahal yang dimaksudkan adalah "b", dan seterusnya.

Keinginan orangtua supaya anaknya bisa baca dalam waktu singkat sering dituruti oleh para guru dengan menempuh jalan pintas. Guru lalu memaksa diri dan muridnya belajar membaca dengan menghafalkan lambang bunyi. Murid "dipaksa" melafalkan rangkaian huruf sebagai kata, tetapi tanpa makna yang dipahami dan menjadi perhatian anak yang sedang belajar.

Kalau situasinya demikian, guru akan mengajar membaca dengan metode: ba-bi-bu-be- bo, ca-ci cu-ce-co,da-di-de-do sebagai jurus mujarab guna menjawab keresahan orangtua. Lebih parah lagi, banyak orangtua juga tak acuh akan tahap kepekaan anak dalam membaca dan cara yang benar dalam mengajarkan membaca yang mengembangkan kecerdasan. Umumnya, orang tua hanya ingin agar anaknya trampil membaca.

Mengharuskan semua anak TK untuk bisa baca tulis, tampaknya menjadi hal yang kurang bijaksana mengingat setiap anak memiliki kemampuan dan kesiapan belajar baca tulis yang berbeda satu sama lainnya. Sebenarnya masih banyak hal-hal lain yang penting untuk dapat diajarkan pada anak TK, ketimbang hanya terfokus pada kemampuan baca tulis semata, misalnya penanaman disiplin, kemandirian, tanggung jawab serta budi pekerti yang baik. Stimulasi terhadap kecerdasan intelektual anak, seperti pada kegiatan baca tulis, memang penting, namun perlu diupayakan jangan sampai stimulasi terhadap kecerdasan intelektual terlalu berlebihan sehingga cenderung memaksakan anak dan melupakan aspek-aspek kecerdasan lain yang juga perlu mendapat stimulasi seperti kecerdasan sosial, emosional, dan sebagainya, yang semuanya sangat diperlukan agar dapat menjadi bekal bagi anak dalam menghadapi masa depannya kelak.

Namun, karena melihat banyaknya orang tua murid kelompok B yang menghendaki anaknya cepat bisa calistung demi persiapan memasuki Sekolah Dasar, akhirnya kami dari pihak sekolah mengambil jalan alternatif dengan memberikan jam pelajaran tambahan bagi kelompok B sebelum pulang sekolah. Dan itu mendapat respon positif dari semua orang tua murid. Bahkan, ada beberapa orang tua murid yang mendatangkan guru privat ke rumahnya demi terwujudnya keinginan mereka.

Berbicara tentang anak TK, hingga saat ini masih menjadi polemik mengenai boleh tidaknya mengharuskan anak-anak TK untuk bisa membaca dan menulis. Pendapat yang mengharuskan anak TK bisa baca tulis, biasanya dilatar belakangi oleh keinginan untuk bisa masuk SD dengan mudah karena pada saat tes masuk SD, ada banyak sekolah yang mensyaratkan calon siswanya untuk bisa baca tulis. Sedangkan pendapat yang berlawanan dengan hal tersebut, mengatakan bahwa mengharuskan anak TK bisa membaca dan menulis, berarti memaksakan anak untuk memiliki kemampuan yang seharusnya baru diajarkan di SD. Hal ini membuat aktivitas bermain anak yang seyogyanya dominan untuk usia mereka, menjadi berkurang atau bahkan terabaikan, sehingga dikhawatirkan akan menghambat perkembangan potensi-potensi kemampuan anak secara optimal kelak kemudian hari. Dengan adanya polemik tersebut, tidak jarang membuat orangtua menjadi bingung, pendapat mana yang harus diikuti, karena masing-masing pendapat, tampak memiliki alasan yang cukup kuat.

Dalam menyikapi hal ini, sudah selayaknyalah kita mempertimbangkan alasan-alasan yang melatarbelakangi kedua pendapat tersebut, untuk kemudian mencari jalan tengah yang dapat menjadi sebuah solusi yang bijaksana bagi anak. Bukankah kita sebagai orangtua atau guru memang menginginkan potensi dan kemampuan anak dapat tumbuh optimal melalui stimulasi pendidikan atau pengajaran yang kita berikan kepada mereka?

Berbicara tentang pendidikan anak usia dini, Sebenarnya sah-sah saja mengajarkan pelajaran baca tulis pada anak-anak TK, asalkan anak sudah siap untuk menerima pelajaran tersebut atau biasa disebut sebagai sudah muncul masa pekanya. Adanya kesiapan atau kepekaan tersebut, biasanya muncul pada usia sekitar 4 - 6 tahun. Hal ini misalnya ditandai dengan adanya ketertarikan anak pada kegiatan-kegiatan pra membaca dan pra menulis seperti adanya kematangan visual motorik untuk dapat memegang alat tulis dengan benar atau meniru beberapa bentuk sederhana, kemampuan memusatkan perhatian, keinginan atau minat yang kuat untuk melihat gambar-gambar/tulisan di buku atau sekedar membuka-buka buku/majalah, senang bermain dengan huruf-huruf, dan sebagainya.

Selain memperhatikan masa peka anak untuk belajar baca tulis, penting pula untuk mengetahui bagaimana cara memberikan pelajaran baca tulis tersebut. Mengacu pada karakteristik umum anak TK, dimana aktivitas bermain menjadi aktivitas dominan mereka, maka perlu diingat bahwa dalam memberikan pelajaran baca tulis pada anak TK hendaknya dilakukan dengan pendekatan yang menyenangkan anak dan tidak memaksa anak. Pendekatan informal dimana pelajaran disampaikan dalam koridor bermain tampaknya menjadi sesuatu yang cocok untuk diterapkan pada pengajaran baca tulis anak-anak TK. Pendekatan informal yang dapat dilakukan, misalnya membacakan buku cerita sambil memperlihatkan gambar dan tulisan di buku/majalah yang sedang dibacakan, menempelkan gambar-gambar yang berhubungan dengan huruf atau tulisan pada ruang bermain atau kamar tidur anak, mecoba meniru bentuk lingkaran/garis atau huruf tertentu, mengajak anak menonton film yang bersifat mendidik sekaligus menghibur sehubungan dengan pelajaran baca tulis, bermain tebak-tebakan huruf, menelusuri bentuk huruf dengan jari, dan sebagainya.

Proses belajar menuju kemampuan baca tulis pada anak TK sebaiknya tidak dilakukan dengan pendekatan formal, seperti layaknya anak-anak SD. Karena hal ini dikhawatirkan akan membuat anak merasa tertekan dan jenuh, mengingat kemampuan anak untuk bisa berkonsentrasi pada satu topik bahasan biasanya masih sangat terbatas dan secara umum anak masih berada dalam dunia bermain. Apalagi bila dalam memberi pelajaran tersebut dilakukan dengan kekerasan, misalnya disertai dengan bentakan-bentakan, hinaan atau ejekan manakala anak belum mampu mengikuti pelajaran baca tulis yang diberikan, maka bukan tidak mungkin anak akan tumbuh menjadi anak rendah diri, yang justru hal ini akan menghambat perkembangan kemampuannya secara optimal kelak kemudian hari.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendekatan bermain sambil belajar, merupakan cara terbaik menuju kemampuan baca tulis pada anak TK. Guru dan orang tua hendaknya saling bekerjasama untuk dapat memberikan cara belajar dan mengajar yang sesuai untuk anak-anak TK mereka. Orangtua atau guru perlu menyesuaikan cara mengajar baca tulis sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tiap anak.

Selama ini Taman kanak-kanak didefinisikan sebagai tempat untuk mempersiapkan anak-anak memasuki masa sekolah yang dimulai di jenjang sekolah dasar. Kegiatan yang dilakukan di Taman kanak-kanak pun hanyalah bermain dengan mempergunakan alat-alat bermain edukatif. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung tidak diperkenankan di tingkat taman kanak-kanak, kecuali hanya pengenalan huruf-huruf dan angka-angka, itu pun dilakukan setelah anak-anak memasuki TK B. Dan perbedaan definisi belajar memang menjadi pangkal persoalan dalam mempelajari apa pun, termasuk belajar membaca. Selama bertahun-tahun belajar telah menjadi istilah yang mewakili kegiatan yang begitu serius, menguras pikiran dan konsentrasi.

Teori psikologi perkembangan Jean Piaget selama ini telah menjadi rujukan utama kurikulum TK dan bahkan pendidikan secara umum. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung secara tidak langsung dilarang untuk diperkenalkan pada anak-anak di bawah usia 7 tahun. Piaget beranggapan bahwa pada usia di bawah 7 tahun anak belum mencapai fase operasional konkret. Fase itu adalah fase, di mana anak-anak dianggap sudah bisa berpikir terstruktur. Sementara itu, kegiatan belajar calistung sendiri didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara berpikir terstruktur, sehingga tidak cocok diajarkan kepada anak-anak TK yang masih berusia balita.

Piaget khawatir otak anak-anak akan terbebani jika pelajaran calistung diajarkan pada anak-anak di bawah 7 tahun. Alih-alih ingin mencerdaskan anak, akhirnya anak-anak malah memiliki persepsi yang buruk tentang belajar dan menjadi benci dengan kegiatan belajar setelah mereka beranjak besar.

Pembebanan yang berlebihan justru akan berakibat kontaproduktif bagi perkembangan sang anak. Anak bisa menjadi trauma dengan membaca, menulis, dan berhitung. Jadi, pembelajaran pada anak usia dini mestinya lebih bersifat memberi rangsangan pada anak agar tumbuh minatnya dalam membaca, menulis, dan berhitung. Fauzil Adhim (2006) menyebutnya dengan 'semangati jangan bebani'.

Secara fisiologis syaraf mata anak balita belum siap untuk membaca, disebutnya masih kontralateral. Masih terbalik-balik, seperti antara b dan d. Karena itu resiko balita yang diajar membaca untuk terkena kesulitan belajar (baca-tulis) nantinya lebih besar. Informasi yang sama di dapatkan pada buku Jalaludin Rahmat, tentang cara otak belajar. Waktu terbaik untuk belajar membaca sesuai dengan perkembangan otak justru pada usia sekolah dasar.

Beberapa literatur menunjukan bahwa tidak ada jaminan seseorang yang lebih dahulu bisa membaca akan lebih sukses di masa depan daripada mereka yang terlambat. Banyak tokoh sukses yang justru terlambat membaca. Di buku Right Brained Children in a Left Brained World disebutkan tokoh2 Albert Einstein, George S. Patton, William Butler Yeats adalah mereka yang terlambat membaca. Anak2 di Rusia baru membaca di usia 7 tahun, tapi mereka cerdas-cerdas.

Sebuah penelitian menyatakan bahwa akibat memaksakan lancar calistung di usia dini khususnya dibawah 5 tahun. Adalah pemahaman membaca yang kurang. Pemahaman membaca anak-anak usia 9-15 tahun yang sangat minim. Kita bisa lihat anak-anak usia SD klas 3-6 dengan pemahaman membaca yang sangat kurang . Hal itu salah satunya bisa dilihat dalam menjawab soal cerita, kebanyakan anak-anak SD sangat kesulitan, bahkan pertanyaannya kemana... jawabnya kemana... yang dikarenakan tidak paham makna soal yang berupa cerita. Hal ini sebetulnya fatal, akibatnya banyak dari kita yang tidak senang membaca, karena membaca merupakan hal yang sulit. Akibatnya prestasi anak usia SD dan SMP Indonesia rangking 32 dari 34 negara dalam pemahaman membaca dan kompetisi matematika.

Menurut suatu penelitian di Finlandia, anak yang belajar membaca saat mendapat pendidikan formal di usia 7 tahun memiliki reading achievement (prestasi membaca) lebih bagus dibanding anak lain yang belajar membaca di usia 6 tahun atau sebelumnya. Hal ini diketahui ketika dilakukan tes pada anak-anak tersebut di usia 9 atau 10 tahun.

Kesimpulannya, tak ada hubungan bahwa anak yang belajar membaca di usia lebih dini akan lebih maju kemampuan membacanya. Jikapun ada yang seperti itu boleh jadi sifatnya kasuistik sehingga tak bisa dipukul rata dan diterapkan sama pada semua anak. yang penting untuk anak usia dini bukanlah mengajar membacanya, tetapi mengajarkan budaya membaca. Belum tentu anak yang bisa membaca lebih dahulu akan suka membaca.

Persoalan membaca, menulis, dan berhitung atau calistung memang merupakan fenomena tersendiri khususnya di Indonesia. Awalnya memang pelajaran baca tulis mulai diajarkan pada tingkat pendidikan SD. pada perkembangan terakhir, hal itu menimbulkan sedikit masalah, karena ternyata pelajaran di kelas satu sekolah dasar sulit diikuti jika asumsinya anak-anak lulusan TK belum mendapat pelajaran calistung. Sehingga banyak institusi pendidikan SD mentargetkan kemampuan calistung sebagai pra syarat masuk SD, bahkan SD hanya mau menerima anak-anak yang sudah bisa membaca, menulis dan berhitung. Nah, ini dilema bukan?

Pemberian materi calistung pada anak usia TK harus disesuaikan dengan dunianya yakni bermain sambil belajar. Banyak cara yang bisa dilakukan guru untuk mengajari anak calistung, misalnya saat pelajaran olahraga dengan permainan ‘bintang beralih’ permainan itu akan mengajarkan anak tentang angka dan berhitung.
Tapi sayangnya masih banyak guru yang belum paham cara memberi materi calistung pada anak TK. Mereka ada yang masih memberikan murni pelajaran tanpa ada unsur bermain, seperti 3+3, 2x3 dan sebagainya. Konsep pembelajaran yang mereka berikan seperti layaknya SD padahal belum saatnya.

Selain itu, kemampuan setiap anak juga berbeda, ada anak yang usia tersebut sudah paham tapi ada pula yang masih belum paham. Jika dipaksakan akan berdampak negatif pada perkembangan anak. Namun demikian hal ini juga menimbulkan dilema tersendiri bagi sekolah, di satu sisi mereka dituntut tidak memaksa anak belajar calistung.

Namun di sisi lain, orangtua menghendaki selepas lulus TK bisa calistung untuk kesiapan masuk SD. Padahal ada pula orangtua yang menghendaki anaknya masuk SD meski usianya masih 6 tahun lebih atau kurang dari 7 tahun. Selain itu, jika dulu pengenalan calistung adalah tugas guru di kelas 1 SD namun sekarang banyak sekolah menghendaki ketika masuk SD sudah bisa dasar-dasar calistung. Calistung juga kerap dijadikan model seleksi untuk memasuki SD terutama sekolah favorit. Dengan alasan penjajakan jika sekolah kelebihan pendaftar untuk menyeleksi calon siswa dengan penjajakan salah satunya calistung.

Dengan model tambahan pelajaran, namun calistung tetap diberikan dengan model bermain sambil belajar. Guru juga rajin memantau perkembangan si anak untuk disampaikan kepada orangtua. Jika ternyata belum paham padahal orangtua memaksa untuk memasukkan ke SD, guru menyarankan orangtua untuk menstimulasi di rumah.

Kuatnya keinginan orangtua agar anaknya yang di TK sudah bisa calistung, membuat tempat les calistung kelarisan. Tantangan dalam dunia pendidikan yang semakin kompleks memang menuntut kreativitas dari seorang guru. Fenomena tersebut menjadikan dirinya termotivasi untuk menawarkan metode baru yang bisa membantu anak belajar calistung tanpa merasa terbebani yaitu lewat metode fonetis.
Agar siswa tidak ketinggalan dan bisa belajar calistung secara cepat, tentunya dengan tetap menggunakan metode yang menarik dan menyenangkan sesuai dengan usia anak. Misalnya mengenalkan huruf dengan menggunakan logo, sehingga lebih mudah diingat anak. Begitu pula untuk membaca tidak lagi mengeja berdasarkan suku kata, tapi langsung dibaca. Meski secara sepintas cara ini terkesan sederhana tapi cukup efektif.

Karena tuntutan itulah, akhirnya banyak TK yang secara mandiri mengupayakan pelajaran membaca bagi murid-muridnya. Berbagai metode mengajar dipraktikkan, dengan harapan bisa membantu anak-anak untuk menguasai keterampilan membaca dan menulis sebelum masuk sekolah dasar. Beberapa anak mungkin berhasil menguasai keterampilan tersebut, namun banyak pula di antaranya yang masih mengalami kesulitan. Lalu, apa yang harus kita lakukan ??? Menentang arus atau mengikuti arus ? Ini PR buat kita selaku guru Taman Kanak-kanak, juga orangtua murid sebagai guru pertama di rumah.

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda