09 Juli 2011

Tips Menulis: Menulislah dengan EYD

Sumber: http://leylahana.blogspot.com/2011/07/tips-menulis-menulislah-dengan-eyd.html

Oleh Sakti Wibowo


PEMAKAIAN HURUF BESAR


Huruf besar (kapital) dipakai sebagai:

1. Huruf pertama pada awal kalimat.

Misalnya:

-Dia mengamuk.

-Bagaimana keadaanmu?

-Pergilah dari sini!


2. Sebagai huruf pertama dalam petikan langsung.

Misalnya:

-Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”

-Ibu berpesan, “Berhati-hatilah, Nak!”


Perhatikan perbedaan penggunaan huruf kapital dalam petikan langsung dalam kalimat di bawah ini:

-“Saya gembira sekali,” kata Budi, “karena saya bisa melanjutkan sekolah lagi.”

-“Apa?” teriaknya. “Jadi ini balasanmu terhadapku?”

Pada kalimat pertama, antara petikan pertama dengan petikan kedua adalah sebuah kalimat yang terdiri induk kalimat (petikan pertama), dengan anak kalimat (petikan kedua), sehingga pada petikan yang kedua tidak diawali dengan huruf kapital. Tetapi pada kalimat kedua, petikan pertama dan petikan kedua masing-masing kalimat yang berdiri sendiri, maka pada kedua petikannya diawali dengan huruf kapital.


3. Sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti Tuhan.

Misalnya:

-Marilah kita serahkan hal ini kepada Allah.

-Dialah Allah Yang Maha Pengampun (Yang Maha Pengampun = kata ganti Tuhan).

-Dia sedang membaca Al Quran.

-Pendatang baru itu beragama Islam.

-Tuhan akan mnunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya (Nya sebagai kata ganti Tuhan).


Beberapa catatan tentang penulisan kata ganti Tuhan:

(1) Keterangan yang mengikuti kata Maha berupa kata dasar, maka penulisannya dirangkai. Pengecualian pada kata Maha Esa.

-Dialah Yang Maha Esa (kata maha dan esa dipisah).

-Dialah Yang Mahaadil (kata maha dan adil dirangkai) Mahalembut, Mahakuasa, dll.

(2) Keterangan yang mengikuti kata Maha bukan berupa kata dasar, maka penulisannya dipisah.

-Engkaulah Maha Pengasih dan Maha penyayang.

4. Sebagai huruf pertama dalam penulisan gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti dengan nama orang.

Misalnya:

-Peperangan hebat itu dipimpin oleh Sultan Hasanuddin.

-Saya telah membaca kisah Haji Agus Salim

-Ini adalah buku karangan Imam Syafii.

Huruf kapital tidak dipakai dalam penulisan berikut:

-Peperangan hebat zaman dulu banyak dipimpin oleh para sultan.

-Tahun ini ia pergi naik haji.

-Sebagai makmum, shalatmu tidak ikut batal dengan batalnya shalat imam.


5. Sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.

Misalnya:

-Peresmian kantor ini akan dihadiri oleh Wakil Presiden Hamzah Haz.

-Kita akan menyambut kunjungan Gubernur Sutiyoso pada hari...

-Kejadian yang menimpa Gubernur Irian Jaya pekan kemarin...


Huruf kapital tidak dipakai untuk penulisan jabatan dan pangkat yang tidak diikuti dengan nama orang atau nama tempat. Lihat contoh berikut:

-Bagaimana mungkin seorang presiden akan...

-Siapakah gubernur yang akan dilantik besok?

-Kemarin, Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal.


6. Sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.

Misalnya:

-Amir Hamzah.

-Tri Buana Tunggadewi.


Namun nama orang yang sudah dipakai menjadi nama mesin, jenis, atau satuan ukuran, tidak ditulis dengan huruf besar.

-mesin diesel

-10 volt

-5ampere

Keterangan: Diesel, Volt, dan Ampere adalah nama orang.


7. Sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.

Misalnya:

-Saya bangga menjadi bangsa Indonesia.

-Saya termasuk suku Jawa.

-Saya tidak bisa bahasa Inggris.


Huruf kapital tidak dipakai apabila nama bangsa, suka dan bahasa itu dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.

-mengindonesiakan kata asing.

-keinggris-inggrisan.

Perhatikan pula penulisan berikut:

-Dia mengajar Bahasa Inggris untuk anak SMA. (Bahasa Inggris adalah nama pelajaran, jadi kedua katanya diawali dengan huruf kapital)

-Di mana buku catatan Bahasa Indonesiamu?


8. Sebagai huruf pertama penulisan nama tahun, bulan, hari, hari raya.

Misalnya:


-bulan Agustus

-hari Jumat
-hari Galungan

-tahun Hijriah

-tarikh Masehi



Perhatikan penulisan berikut dan cermati perbedaannya.

(1) penulisan kata minggu.

-Aku akan datang ke sana hari Minggu. (Minggu sebagai nama hari)

-Sudah berapa minggu kau tidak datang ke sana? (Minggu sebagai nama waktu)

(2) Penulisan kata shubuh.

–Aku belum melaksanakan shalat Shubuh. (Shubuh sebagai nama shalat)

–Aku belum tiba di rumah shubuh nanti. (Shubuh sebagai nama waktu)


9. Sebagai huruf pertama penulisan peristiwa sejarah.

Misalnya:

-Perang Khandak (peristiwa perang yang dialami oleh Rasulullah).

-Proklamasi Kemerdekaan

-Bandung Lautan Api (peristiwa pembakaran kota Bandung dalam perjuangan kemerdekaan)


Namun huruf kapital tidak muncul pada:

-Soekarno dan Hatta sedang menyusun teks proklamasi.

-Perlombaan senjata membawa resiko pecahnya perang dunia.

-Hari itu, Bandung menjadi lautan api.


10. Sebagai huruf pertama penulisan nama geografi yang diikuti dengan unsur nama.

Misalnya:

-Indonesia termasuk kawasan Asia Tenggara.

-Saya pernah mendaki Bukit Barisan, mengunjungi Danau Toba, berlayar di Sungai Kapuas, menginap di Dataran Tinggi Dieng, berteriak-teriak di puncak Gunung Semeru, ngebut di sepanjang Jalan Diponegoro dan sebagainya.

Namun huruf kapital tidak muncul pada penulisan istilah geografi yang tidak diikuti dengan unsur nama. Perhatikan penulisan berikut:

-Saya pernah mendaki banyak bukit, berenang-renang di danau terkenal, atau menyeberangi sungai luas yang berarus deras, menginap di dataran tinggi yang bersalju, menjemur diri di puncak gunung, ngebut di jalan lurus beraspal licin, dan sebagainya.

Juga tidak muncul pada penulisan istilah geografi yang dipakai menjadi nama jenis.

Misalnya:

-garam inggris

-gula jawa

-petai china

-bawang bombay


11. Sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti ‘dan.’

Misalnya:

-Republik Indonesia

-Majelis Permusyawaratan Rakyat

-Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

-Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak

-Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 1972

Namun huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.

-menjadi sebuah republik

-beberapa badan hukum

-kerja sama antara pemerintah dan rakyat

-menurut undang-undang yang berlaku


12. Sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.

Misalnya:

-Perserikatan Bangsa-Bangsa

-Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial

-Undang-Undang Dasar Republik Indonesia

-Rancangan Undang-Undang Kepegawaian


13. Sebagai huruf awal semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada awal kalimat.

Misalnya:

-Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan lain ke Roma.

-Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.

-Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.

-Ia menyelesaikan makalah Asas-Asas Hukum Perdata.


14. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat dan sapaan.

Misalnya:


-Dr. :doktor

-M.A. :master of arts

-S.H. :sarjana hukum

-S.S. :sarjana sastra

-Prof. :Profesor

-Tn. :Tuan

-Ny. :Nyonya




15. Sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, dan sebagainya yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.

Misalnya:


-“Kapan Bapak berangkat?” tanya Harto.

-Adik bertanya, “Itu apa, Bu?”

-Surat Saudara sudah saya terima

-“Silakan duduk, Dik!” kata Ucok.

-Besok Paman akan datang.

-Mereka pergi ke rumah Pak Camat.

-Para ibu mengunjungi Ibu Hasan.



Namun huruf kapital tidak muncul pada kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan dan penyapaan.

-kita harus menghormati bapak dan ibu kita.

-Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

-aku mempunyai paman yang sekarang tinggal di Eropa.


16. Sebagai huruf pertama kata ganti Anda.

Misalnya:

-Sudahkah Anda tahu?

-Surat Anda sudah kami terima

*****


TANDA BACA

Penggunaan Tanda Koma (,):

1. Dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian dan pembilangan.

Misalnya:

-Saya membeli kertas, pulpen, dan penggaris.

-Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.

2. Untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahuli dengan kata seperti tetapi atau melainkan.
Misalnya:

-Saya ingin datang, tetapi hari hujan.

-Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.

3. Untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Misalnya:

-Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.

-Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

Tetapi tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dengan induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.

Misalnya:

-Saya tidak akan datang kalau hari hujan.

-Dia lupa akan janjinya karena sibuk.

-Dia tahu bahwa soal itu penting.

4. Dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat, Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, dan akan tetapi.
Misalnya:

-Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.

-Jadi, soalnya tidak semudah itu.

5. Untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat.
Misalnya:

-O, begitu?

-Wah, bukan main!

-Hati-hati, ya, nanti jatuh.

6. Untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Misalnya:

-Kata ibu, "Saya gembira sekali."

-"Saya gembira sekali," kata Ibu, "karena kamu lulus."

7. Untuk memisahkan (i)nama dan alamat, (ii)bagian-bagian alamat, (iii)tempat dan tanggal, (iv)dan nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya:

-Surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultan Kedokteran, Universitas Indonesia.

-Universitas Indonesia, Jalan Salemba 6, Jakarta.

-Sdr. Abdullah, Jl. Pisang Batu 1, Bogor.

-Surabaya, 10 Mei 2002

-Salemba, Jakarta.

8. Dipakai untuk memisahkan nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakan dari singkatan nama diri, keluarga atau marga.
Misalnya:

-B. Ratulangi, S.E. (B. Ratulangi, Sarjana Ekonomi).

Bedakan dengan Harjono Suryo Hatmojo yang ditulis Harjono S.H. (Singkatan tidak diawali dengan tanda koma).

-Ny. Khadijah, M.A.

9. Untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
Misalnya:

-Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.

-Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih.

-Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, mengikuti latihan paduan suara.

Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma:-

Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya kepada panitia.

Bedakan dengan cara penulisan kalimat berikut ini:

-Kemerdekaan bangsa itu -saya yakin akan tercapai- diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.

-Rangkaian temuan ini -evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom- telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.

Pada kedua kalimat ini, keterangan tambahan tidak diapit dengan koma, tetapi dengan tanda pisah (-) karena keterangan tambahan tersebut memberi penjelasan di luar bangun kalimat (pada kalimat pertama), dan menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain untuk memperjelas kalimat (kalimat kedua).

10. Dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat, untuk menghindari terjadinya salah baca.
Misalnya:

-Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.

-Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih.


Bandingkan dengan:


-Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa.

-Karyadi mengucapkan terima kasih atas bantuan Agus.

11. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
Misalnya:

-"Di mana Saudara tinggal?" tanya Karim.

-"Berdiri lurus-lurus!" perintahnya.


Penggunaan Tanda Titik (.), (...), (....) dalam kalimat.

1. (.) dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya:

-Aku seorang penulis.

-Ayahku berangkat ke Solo pagi tadi.

-Dia menanyakan siapa yang akan datang.

2. (.) Dipakai untuk memisahkan angka jam, menit dan detik yang menunjukkan waktu.
Misalnya:

Pukul 1.35.30

3. (.) Dipakai Untuk memisahkan bilangan ribuan dan kelipatannya, apabila angka tersebut menunjukkan jumlah.
Misalnya:

-Gempa menewaskan 24.000 orang.

-Penduduk kota itu sejumlah 2.345.678 jiwa.

Tetapi tidak dipakai jika angka tersebut tidak menunjukkan jumlah.

Misalnya:


-Ia lahir pada tahun 1978.

-Lihat halaman 6789 dan seterusnya.

-Nomor rekeningnya 987654321.

-Nomor telepon saya 7089786.

-Kode Pos 57673.


4. Tanda titik (.) tidak dipakai dalam penulisan kalimat judul yang merupakan kepala karangan, ilustrasi, berita, tabel, dan sebagainya. Juga tidak dipakai di belakang penulisan alamat dan tanggal pada surat.
Misalnya:

-Pada-Mu Ku Bersimpuh

-Bandung, 23 Oktober 2002

5. Titik tiga (…) : untuk jeda dalam kalimat.

cont: "Aku ingin kamu… pergi."
Catatan : setelah titik tiga terdapat spasi.

6. Titik empat (….) : untuk kalimat yang tidak selesai, titik keempat diasumsikan sebagai titik penutup.

cont: "Siapa tahu…." Adi berbisik.


Pemakaian Tanda (;)

Titik koma (;) : Dipakai kalau suara sudah lembut, seolah-olah yang diceritakan telah habis, tetapi kalimat itu belum selesai, maka dipakailah titik koma. Lama suara diperhentikan di belakang titik koma, antara lama berhenti pada titik dan koma

Pemakaian tanda hubung (-) dan pemenggalan kata.

1. Untuk menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh perhantian baris.
Misalnya:

... cara-cara la-

ma itu juga ada cara baru.

Tetapi jika suku kata hanya terdiri dari satu huruf, maka tidak bisa dipenggal.

Contoh pemenggalan yang salah:... sakit, mereka tetap tidak ma-

u berangkat.

... Kalau kau tidak percaya, u-

kurlah sendiri panjangnya

2. Untuk menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya, atau akhiran dengan bagian kata di depannya.
Perhatikan perbedaan pemenggalan kata mengukur di bawah ini:

...adalah cara baru untuk meng-

ukur suhu tubuh.

...sedangkan aku me-

ngukur kelapa.

Juga pemenggalan kata pada kata beruang di bawah ini:

...aku tak ber-

uang hari ini, jadi sebaiknya besok saja kita membeli buku.

...banyak ditemukan gua sarang be-

ruang di sana.

Namun untuk akhiran -i tidak bisa dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.

3. Untuk merangkaikan se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, ke- dengan angka, angka dengan -an, singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan nama jabatan rangkap.
Misalnya:


-se-Indonesia.

-hadiah ke-2

-usia 50-an

-mem-PHK-kan

-hari-H

-sinar-X

-Menteri-Sekretaris Negara.


4. Untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Misalnya:

-di-smash

-pen-tackle-an

*****


PENULISAN ANGKA DAN LAMBANG BILANGAN DENGAN MENGGUNAKAN HURUF


1. Penulisan angka dengan menggunakan huruf sebagai berikut:

-12 : dua belas

-22 : dua puluh dua

-222 : dua ratus dua puluh dua

-1,2 : satu dua persepuluh

-1% : satu persen

-999,5 : sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus

2. Bilangan yang mendapat akhiran –an, penulisannya sebagai berikut:

-tahun 50-an

-uang 5000-an (uang lima ribuan)

-uang lima 1000-an (uang lima seribuan)

3. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata, ditulis dengan huruf, kecuali bila lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan

Misalnya:

-Amir menonton drama itu sampai tiga kali.

-Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.

-Dia antara 72 orang yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang memberikan suara blangko.

-Kendaraan yang ditempah untuk pengangkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 helicak, dan 100 bemo.

4. Lambang bilangan di awal kalimat harus ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.

Misalnya:

-Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.

-Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.

Perhatikan penulisan kalimat yang salah berikut ini:

-15 orang tewas dalam kecelakaan itu.

-250 orang tamu diundang pak Darmo.

5. Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.

Misalnya:

-Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.

6. Penulisan dalam bentuk angka dan huruf sekaligus hanya terdapat pada dokumen resmi seperti akta dan kwitansi.

7. Penulisan lambang bilangan tingkat dilakukan dengan cara sebagai berikut:


-Bab II

-Bab ke-2

-Bab kedua.

-Abad XX

-Abad ke-20

-Abad kedua puluh.

*****







PENULISAN TANDA PETIK (“...”), PETIK TUNGGAL (‘...’), DAN PENYINGKATAN ATAU APOSTROF (‘)


1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lainnya.

Misalnya:

“Saya belum siap,” kata Mira, “ tunggu sebentar!”

Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara adalah bahasa Indonesia.”

2. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

Misalnya:

-Bacalah “Bola Lampu” dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.

-Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku itu.

-Cerpenku berjudul “Nyonji” dimuat di majalah.

3. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal, atau kata yang memiliki arti khusus.

Misalnya:

-Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.

-Ia bercelana “cutbrai”.

4. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.

Misalnya:

“Kau dengan bunyi ‘kring-kring’ tadi?” tanya Basri.

“Waktu kubuka pintu kamar depan, kudengar teriakan anakku, ‘Ibu, Bapak pulang!’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Bapak.

5. Tanya penyingkat atau apostrof, menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.

Misalnya:

-Ali ‘kan kusurati (akan).

-Malam ‘lah tiba (telah).

-1 Januari ’88 (tahun 1988).





PENULISAN KATA TURUNAN


Kata turunan: kata yang sudah berubah dari kata dasarnya.

Ada beberapa macam penulisan kata turunan, yakni:

1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.

Misalnya:

-bergeletar

-dikelola

-penetapan

-menengok

-mempermainkan

2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.

Misalnya:

-bertepuk tangan

-menganak sungai

-garis bawahi

-sebar luaskan

3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.

Misalnya:

-menggarisbawahi

-dilipatgandakan

-menyebarluaskan

-penghancurleburan

4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.

Misalnya:


-Adipati

-Aerodinamika

-Antarkota

-Anumerta

-Audiogram

-Awahama

-Bikarbonat

-Biokimia

-Caturtunggal

-Dasawarsa

-Dekameter

-Demoralisasi

-Dwiwarna

-Ekawarna

-Ekstrakurukuler

-Elektroteknik

-Infrastruktur

-Inkonvensional

-Introspeksi

-Kolonialisme

-Kosponsor

-Mahasiswa

-Mancanegara

-Multilateral

-Narapidana

-Nonkolaborasi

-Pancasila

-Panteisme

-Paripurna

-Poligami

-Pramuniaga

-Prasangka

-Purnawirawan

-Reinkarnasi

-Saptakrida

-Semiprofesional

-Subveksi

-Swadaya

-Telepon

-Transmigrasi

-Tritunggal

-Ultramodern


Catatan: Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang awalnya adalah huruf kapital, diantara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung(-).

Misalnya:

-non-Indonesia

-pan-Afrikanisme

Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh esa dan kata yang bukan kata dasar, maka gabungannya ditulis dipisah.

Misalnya:

-Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.

-Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.

5. Gabungan kata yang lazim disebut dengan kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.

Misalnya:


-duta besar

-orang tua

-kambing hitam

-persegi panjang

-model linear

-mata pelajaran

-simpang empat

-meja tulis

-kereta api

-luar biasa

-rumah sakit umum


6. Gabungan kata yang termasuk istilah khusus, dan mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan.

Misalnya:


-Alat pandang-dengar

-Ibu-bapak kami

-anak-istri saya

-buku sejarah-baru

-orang-tua muda

-mesin-hitung tangan

7. Gabungan kata berikut ditulis serangkai.

-acapkali

-adakalanya

-akhirulkalam

-alhamdulillah

-astaghfirullah

-bagaimana

-barangkali

-beasiswa

-belasungkawa

-bilamana

-bismillah

-bumiputra

-daripada

-darmabakti

-darmasiswa

-darmawisata

-dukacita

-halalbihalal

-hulubalang

-kacamata

-kasatmata

-kapada

-keratabasa

-kilometer

-manakala

-manasuka

-mangkubumi

-matahari

-olahraga

-padahal

-paramasastra

-peribahasa

-puspawarna

-radioaktif

-saptamarga

-saputangan

-saripati

-sebagaimana

-sediakala

-segitiga

-sekalipun

-silaturahmi

-sukacita

-sukarela

-sukaria

-syahbandar

-titimangsa

-wasalam




PENULISAN KATA GANTI (–ku, -mu, dan –nya), KATA DEPAN (di, ke dan dari) KATA si DAN sang, SERTA PARTIKEL (-pun, -per, -lah, -kah, dan -tah)


1. Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; -ku, -mu, -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

-Apa yang kumiliki boleh kauambil.

-Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.

Catatan: Bedakanlah dengan bentuk berikut:

-Mengapa kau pergi lagi?

-Pada-Mu ku bersimpuh.

2. Kata depan di ke dan dari di tulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap satu kata sepeti kepada dan daripada

Misalnya:

-Kain itu terletak di dalam lemari.

-Di mana Siti sekarang?

-Ia ikut terjun ke dalam kancah perjuangan.

-Ke mana saja ia selama ini?

-Ia datang dari Surabaya.

Bedakanlah antara di, ke dan dari sebagai kata depan, dengan di ke sebagai awalan.

Lihatlah contoh berikut:

-Surat itu ditulisnya sendiri malam ini.

-Manfaatkanlah kesempatan yang ada.

Di dan ke yang merupakan kata depan adalah di dan ke yang menunjukkan tempat.

Contoh:

-Surat itu ditulisnya sendiri malam ini di sini.

-Ke mana kau akan pergi?

Catatan:

Beberapa kata di bawah ini ditulis serangkai:


-Si Amin lebih tua daripada Ahmad.

-Kami percaya kepadanya.

-Ia masuk, lalu keluar lagi.

-Surat perintah itu dikeluarkan di Jakarta.

-Bawa kemari gambar itu.

-Kemarikan buku itu.

-Semua orang terkemuka di desa ini hadir dalam kenduri itu.




3. Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Misalnya:

-Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.

-Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim.

4. Partikel –lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

-Bacalah buku itu baik-baik.

-Apakah yang tersirat dalam surat itu?

-Apatah gunanya bersedih hati?


5. Partikel –pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

-Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.

-Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan.

-Satu kali pun kau belum pernah ke rumahku.

-Jika ayah pergi, adik pun ikut pergi.

Catatan:

Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, dan walaupun, ditulis serangkai.

Misalnya:

-Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.

-Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.

-Walaupun miskin, ia selalu gembira.


6. Partikel per yang berarti mulai, demi, dan tiap ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.

Misalnya:

-Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.

-Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.

-Harga kain Rp 2.000,00 per helai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda