12 January 2010

RENUNGAN

Rondy Kere Ayem 12 Januari jam 22:17


Dari seorang teman, cerita menarik tentang perwujudan
cinta...

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai
sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat
yang muncul di hati saya ketika saya bersandar di
bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa perkenalan,
dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui,
bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2 saya
mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang
menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan
benar-2 sensitif serta berperasaan halus. Saya
merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak
yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak
pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari
yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan
ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang
romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua
harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan
keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan
perceraian. "Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut.
"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta
yang saya inginkan" Dia terdiam dan termenung
sepanjang malam di depan komputernya, tampak
seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang
bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya,
apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya
dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk
merubah pikiranmu?". Saya menatap matanya dalam-dalam
dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan,
jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati
saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya
menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing
gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung
itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya
untuk saya?" Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya
akan memberikan jawabannya besok." Hati saya langsung
gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya
menemukan selembar kertas dengan oret-2an tangannya
dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang
bertuliskan.... "Sayang, saya tidak akan mengambil
bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk
menjelaskan alasannya." Kalimat pertama ini
menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk
membacanya. "Kamu bisa mengetik di komputer dan
selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya
menangis di depan monitor, saya harus memberikan
jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki
programnya." "Kamu selalu lupa membawa kunci rumah
ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan
kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan
pintu untukmu ketika pulang.". "Kamu suka jalan-2 ke
luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru
yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar
bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu." "Kamu
selalu pegal-2 pada waktu 'teman baikmu' datang setiap
bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk
memijat kakimu yang pegal." "Kamu senang diam di
rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi
'aneh'. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat
menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk
menceritakan hal-hal lucu yang aku alami."

"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu
tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga
mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat
menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu."
"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu
menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir
yang indah. Menceritakan
warna-2 bunga yang bersinar dan indah seperti
cantiknya wajahmu". "Tetapi sayangku, saya tidak akan
mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak
sanggup melihat air matamu mengalir menangisi
kematianku."

"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa
mencintaimu lebih dari saya mencintaimu."
"Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan
tanganku, kakiku, mataku tidak cukup bagimu, aku tidak
bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata
lain yang dapat membahagiakanmu."


Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat
tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha
untuk terus membacanya.

"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selesai membaca
jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini,
dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini,
tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang
berdiri disana menunggu jawabanmu." "Jika kamu tidak
puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan
barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit
hidupmu.Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.".

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya
berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil
tangannya memegang susu dan roti kesukaanku. Oh, kini
saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya
lebih dari dia mencintaiku. Itulah cinta, di saat kita
merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari
hati kita karena kita merasa dia tidak dapat
memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka
cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain
yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud
cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud
tertentu.

Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".

Keep Spirit

Motivasi, curhat dan sharing


http://www.facebook.com/inbox/?folder=[fb]messages&page=2&tid=1075910315042

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda