30 May 2011

10 Nomine Lomba Menulis Puisi untuk Cinta dan Kasih Ibu 2011

1. Inung Imtihani



Rinduku Tumpah di Rahimmu


1

Pelan-pelan aku mengerti mengapa bening hujan tak bisa menyamai air matamu. banyak hal yang dilalukan angin, kecuali rindu. bersama riuh lampu-lampu aku mengenang harum balsem bertahun lalu. kayu kering di tepi hutan dapat kuhitung hingga peluh menguap. tapi cinta dari rahimmu, bukan kayu.



2

Kerikil yang memecah telapak kakimu membuatku paham mengapa kau tiga kali bagi nabi. telah terbaca puisi keramat. darahmu menyuburkan pohon-pohon tempatku hinggap. akan bagaimanakah kukembalikan nadi yang terlanjur lekat dalam daging? jika bahkan engkau rebahkan nyawamu di jantungku.



3

Tubuhmu hampir rubuh tertiup angin. kau menanti di teras rumah sambil melempar butir beras untuk anak-anak ayam. bunga kenanga telah kembang. wangi lepas ke udara.



rinduku tumpah di tanah basah, Ibu.



2. Toni Lesmana



Kerinduan Arus

: kepada ibunda



memburu debur laut, semakin jauh aku darimu. berulangkali aku menderas

dan tersesat. sungai menyimpan perangkap sekaligus gairah memabukkan

goa-goa kegelapan menelan seluruh petuahmu lalu aku meluap lupa segala

semakin jauh aku darimu. langkah-langkah mungilku menjelma banjir sunyi

menghanyutkan kampung dan kota. dunia kuarungi dengan gelegak gelisah

menciptakan pusaran-pusaran durhaka lantas meminang lara di muara



duhai, mataair, sesungguhnya ada yang kekal di tubuh jarak, cintamu

ricik yang tak kikis oleh nyeri. siang dan malam adalah sepasang susumu

alir doa yang menembus kabut kemurungan. aku pun menulis rindu

sambil mengerang di jeram, meluncur di air terjun, meringkuk di lubuk

sambil meneguk lumpur dan menghisap limbah. kata-kata kutitipkan

pada pasir dan kerikil, batu dan ikan, daun hanyut dan kayuh perahu,

tiang jembatan dan burung yang kehausan. perjalanan menjelma sajak

yang tak pernah sampai padamu, terus menjauh memunggungimu

memburu gemuruh laut, semakin hampa aku mengingatmu



namun di laut, garamlah yang menyambut luka-lukaku, aku meronta

diseret ombak pasang yang melahap pantai lantas digusur bersujud

di dasar samudera. aku seperti menemukan jalan pulang bagi rindu

sebab seluruh sajak tak pernah sanggup mengungkapkan cinta padamu

maka kupasrahkan diriku pada panas matahari, gumpalan awan,

dan tiupan angin. hanya sebagai hujan aku bisa kembali padamu

sebagai airmata yang tak akan reda, o, mataair kasih abadi

tak akan pernah reda aku di pangkuanmu



2011



3. Eko Putra



SILSILAH ; KESANGGUPAN


; untuk seorang masterpiece, Ibuku

….aku sanggup menerima kepergian perempuan manapun

tapi tidak untuk kehilangan dirimu….



jika apa yang kau tanyakan padaku tentang kesetiaan. atau tentang rumah yang paling nyaman untukku membagi jarak, menyusun silsilah kepergian. juga tentang orang-orang yang begitu sering datang, kemudian dengan sendirinya raib. dan memaksa aku untuk membunuh diri sendiri dengan cara mengubur seluruh ingatan yang disempurnakan oleh petualangan. maka kaulah orangnya, yang entah kapan aku dapat memahami kehilangan demi kehilangan tersebab mereka yang gagal meyakinkan aku untuk menyerupai dirimu walau sekadar cara tersenyum atau cara menangis sekalipun, sebagai niat menaklukkan hidupku.



aku juga tak pernah mengetahui, bagaimana cara kau melengkapi kehadiranku. seperti juga aku telah lama tak mampu memahami rahasia gelap rahim, hitungan bulan, darah, dan tangisan pertama yang menggetarkan bumi. yang aku pahami cuma keniscayaan yang barangkali tak mampu memberiku petunjuk lebih banyak, jalan mana yang akan kupilih, di setiap kecemasan yang bengis, yang tega membuat aku untuk sejenak melupakan dirimu. lalu dengan lalai pula, aku berusaha menyamakan mereka sebagai dirimu yang lain di puncak kemanusiaanku sebagai hasrat.



barangkali, takdir dapat kubendung dengan kalimat puisi atau dengan sebuah cerita tanpa narasi, yang di antaranya sejarah menerjemahkan sebagai pengkhianatan dan kenistaan yang tak boleh diulang kembali. tapi aku bukan Sangkuriang dan kau tentu saja bukan Dayang Sumbi.



kelak, jika kau ingin mengetahui rahasia paling sederhana dari hidupku, bagaimana aku ingin mengatakan banyak hal padamu. maka tanyakanlah pada seseorang yang mau menerimaku melahirkan cucu untukmu….

(Kampung Keramat, 2011)





4. Kebun Salju



PEREMPUAN DI TEPI FAJAR

YANG MEKAR YANG GEMETAR



untuk @namasayaindi







Sampai juga kita, lakiku, di tepi fajar, yang mekar, yang gemetar. Takdir, memang, tak lain bandul jam, yang mengayun: dari pedih ke pedih.



Kita meraba: hurufhuruf tak terbaca. Mendugaduga cuaca. Barangkali, di bawah langit yang memejam, kita akan segera karam.



Aku inginkan pelukan, cintaku, agar Maut, yang selalu kaubayangkan seharum semangkuk sup, tak terlalu membuat kita gugup.



Maka, peluklah, lakiku. Peluklah. Benamkan kecemasanku, ke dalam gairahmu. Biarkan aku mati dengan cantik, dalam birahi.



Lihatlah. Ada bintang padam, jauh di jantung malam. Lalu..



Mati, katamu, hanyalah cemas yang sementara. Selebihnya, tak ada. Tak ada.



Maka, lakiku, sentuhkan saja tanganmu yang gemetar pada fajar yang memar. Di sana, kau akan selalu menemukanku, yang berdenyut, serupa jantungmu.



Kemarilah, sebelum cahaya merenggutmu, kau akan tahu aku selalu menjadi ibu bagi seluruh dukamu.



Dan, ketika fajar benarbenar mekar suatu hari, mungkin akan ada yang bernyanyi -- ataukah itu jerit nafiri?



Tapi aku tak lagi merasa sunyi.



2011





5. Faridz Yusuf





MENCARI MAKAM BUNDA




/1/

lalu kau tuntun aku ke surga, sore itu. rumputan tegun

dan hanjuang sungsang mencerna merah gamismu.

langkahmu penuh, genggammu teguh: seolah mengajariku

agar kukuh pada tempuh. “demikian hidup,” katamu suatu kali,

“adalah ketabahan memenuhi janji.”



sementara jalanan dikukus kering: kampung tak lebih dari

jejer jemuran. orangorang serupa menolak halaman,

mungkin tak akrab lagi dengan penantian. gerimis telah

disangkal musim, namun matamu tetap bening.

maka aku terus merapat ke sampingmu:

langgar tinggal seinci, condong menuju sepi.



kau lantas mengalunkan barzanji. sementara aku iri:

mengapa anakmu tak pernah disebut namanya?

aku lalu meneguhkan hati, barangkali itulah caramu

memanggilku. “Tuhan tak bobo, nak,” katamu.

namun rupanya jemaatmu terlambat. mungkin benar,

iman itu serupa iuran, tergantung angka berapa

almanak menunjuknya.



sore menyorong senja ke sirna, pertanda jemaat

tak bakal mendekat. tapi kau sabar seperti megamega:

menekuni mushaf dari alif hingga ya. jendela harus

segera dirapat, pertanda jemaat urung menemu wasiat.

tapi kau tabah laiknya ayat: melipatlipat munajat

sampai ke sunyat. dalam kesendirianmu, kulihat takdirmu.





/2/

mungkin kau lupa, surga itu harus megah,



bukan langgar dengan gorden lusuh,

bedug ompong atau bilik bolong,

bukan reuni keluarga atau kolorkolor di jendela.

barangkali kau lupa bahwa selalu ada yang tak tetap

dalam fana, sebab yang kau tahu bahwa kesederhanaan

adalah iman tanpa bandingan.



mungkin kau khilaf, surga itu harus menggugah,

dengan kotak jariyah besar atau keramik mengkilat,

dengan jendelajendela berkacapatri kaligrafi,

dengan lampu mewah dan jadwal terperinci.

barangkali kau lupa bahwa surga juga tergantung

dana kampanye siapa, sebab yang kau tahu bahwa

janji dunia tak sepenuhnya bisa dipercaya.





/3/

magrib hangus ke isya, pengajian tak juga terlaksana.

tumpeng basi, telur dan kentang pasi: damar mengubur

bayangannya sendiri. kau lalu menutup kitab dan merapatkan

kening ke bumi.mungkin menginsyafi bahwa memang

hanya Tuhan saja yang selalu terjaga. jam delapan kurang sepuluh,

kauhabiskan tafakurmu. di langgar reyot itu, aku lalu bersaksi

bahwa tiada surga selain sukmamu. kau lalu menutup doa

dan langgar segera diheningkan.



tapi yang datang malah orangorang bermuka tegang.

aku dilempar ke balik pintu, kutatap, lehermu dicicip gergaji.

“dukun santet! dukun santet!” kudengar bisik keji itu:

kau jadi kedap, aku jadi pengap. perlahan langkahlangkah aus,

aku merayap di atas samak. ada basah berenang ke dada,

kugapai, kau sudah tanpa kepala.





/4/

empat belas tahun berlalu, aku tak pernah paham

mengapa jemaat tibatiba sirna. belasan tahun itu,

aku tak pernah tahu siapakah mereka yang datang

dengan kekejian. sungguh, tahuntahun tanpa isi:

aku tak pernah paham cara Tuhan menanammu

ke dalam ketiadaan.





/5/

kubakar kemenyan tiap malam selasa: membangkitkan

rinduku pada tujuhratus cara senyummu yang liku.

kusampirkan selendang itu ke pundakku,

kukhatamkan tadarusmu tentang bulan,

tentang wajah ayah yang lebih dulu undur tanpa usia.

langgar telah lama rubuh, tak ada lagi saksi selain

aku dan ingatan. aku terus berlari: menautkan tiap semoga

pada mungkin.



ah, sepertinya bunda lupa bahwa nyeri juga punya batas.

aku lalu menyerbu jalan dengan pedang bertali selendang:

beringas mencari riwayat kepalamu yang hilang.

lebaran seminggu lagi tiba, oh untuk kesekiankalinya,

aku harus ziarah ke sukma yang mana?

sungguh, aku terguncang.



Bandung, 10/05/2011









Catatan:

Hanjuang (Sunda), Andong (Jawa), Endong (Bali), Penjuang (Dayak) | Kingdom: Plantae (Tumbuhan) | Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) | Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji) | Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) | Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil) | Sub Kelas: Liliidae | Ordo: Liliales | Famili: Agavaceae | Genus: Cordyline | Spesies: Cordyline fruticosa (L.) A.Chev. Dari: http://www.plantamor.com/





6. Arif Fitra Kurniawan



BEBERAPA ALASAN SERTA ULASAN MENGAPA

AKU BETAH BERMUKIM DI DADAMU, IBU


:teruntuk ibundaku Wiwik Wahyuni





- Tiap kali petang datang dan menyelinapi

kisi-kisi dadamu, sengaja bergegas kau menyalakan

saklar lampu-lampu ingatanku.



lampu yang warna cahayanya tabah untuk terus terjaga

demi rabun mataku agar tetap betah bermukim di dadamu

demi membaca masa lalu yang mudah sekali

terhapus dari papan tulis di jantungku,



kau mengajariku bagaimana mencatat tanggal yang padat

sebab kau lebih tahu begitu cepatnya alamat detik berpindah tempat





- Ibu, kenapa tiap perempuan mesti belajar

mencintai daun katuk ketika di dadanya

mulai berbuah sepasang apel merah ?



“sebab santannya mampu menyabarkan air susu

dan hijau santunnya menyuburkan airmatamu,

:belajarlah selalu iba sebelum menjadi ibu nak !”



semenjak itu aku tahu bahwasanya anak-anak waktu

dari kesedihan tak pernah berhenti melepas haus hasratnya

berebut menjadi pemburu, menyusu airmatamu airmataku



- Seseorang mematahkan lengan hatiku sore tadi

sebelum matahari sempat sembunyi ke dalam

sempit haru mataku, yang tiba-tiba saja menjadi rentan

tak tahan digerhanakan bayang kehilangan.

engkau berujar sambil mulai menyambung,

hati-hati menyeimbangkan kembali patah hatiku

dengan obat merah dan segulung perban,



: tegaklah, sebab cinta kadang tak mematuhi tanda sama dengan

dari semua perkiraan yang kita rumuskan.



senyum airmatamulah yang menguras kering di cekung pipiku.

aku sungguh terselimuti genang yang hangat, merasa terluapi

pesta ulang tahun yang riuh oleh kartu ucapan selamat

dari kawan-kawan terdekat.



- Aku selalu ingin menjadi masa kecil paling mungil,

seperti kutu atau bahkan kuman

—yang cuma bisa ditangkap oleh mata mikroskop

betitik api paling panjang—



ketika engkau mengecupkan bibirmu

yang buku itu kepada dongeng mataku sebelah kanan.



dalam tidur tak henti aku membelah diri ribuan kali,

menjadi tokoh-tokoh yang hidup di sepanjang

kisah ajaib yang pernah engkau tumpahkan

dari dada ke liang telingaku yang manja



sebab di sana, hidupku yang maha kecil ini

selalu merasa paling menang dari semua perlintasan

yang dicipta oleh keberangkatan—kepulangan







7. John Ferry Sihotang



Sepatu Titipan Bunda



1.

sebelum genap usiaku

kau oleskan gaharu pahit di puting susumu

lalu kau tolakkan aku di tengah pusaran topan

berjalan sendiri

menjadi perantau



"inilah sepatu yang mesti kau pakai!

tegaklah berdiri seperti yatim piatu

menenun bulang cahaya

ke dalam putik-putik padi"



masih saja aku tak paham untuk apa sepatu itu

kau jahitkan dari bilik rahim doamu



namun kau adalah kebenaran masa kecilku

maka kuselami danau jiwamu yang menyimpan

mimpi-mimpi keabadian

sejak kau selipkan tabik daun

pada tangisku yang pertama



2.

kau adalah sepatu paling tabah

tak pernah mengeluh pada penghujan atau kemarau

pada tanah merah dan kerut kematian



padahal mulutku tak henti-henti meragu

saat berdiam dalam keharuan tanpa alasan

atas matahari, angin, tanaman atau bara api

yang tak mungkin kehilangan pesonanya



kucari jawaban hingga ke bintik-bintik kaki lalat

yang kutemukan hanya aneka tanda tanya

atas rahasia yang tak pernah tersingkap seutuhnya



tapi kau adalah sepatu paling tabah

bahkan tak sempat bertanya akan dibawa atau dibuang

sedang pergi atau pulang

entah ke mana



3.

sepatu adalah alas kehidupan

itu sebabnya kami goyah tanpa kehadirannya



sepatu adalah alas kehidupan

itu sebabnya kami selalu disepak badai



4.

"hei, tuan bertubuh besar

aku makin tak mengenalmu



kunang-kunang sudah beranak-pinak

sementara kau masih gentar pada similir

sebab terlalu berat manafsir"

kecam sepatu suatu kali,

menghimpit tubuh jadi kabut

lindap di remang



5.

ai, bunda…

apa lagi yang perlu kutahu dari semua ini



sepatu yang kau titipkan bikin telapak biru lebam

menyusuri mimpi-mimpimu

dingin ke bukit jauh memantul sunyi

mengurai putih helai rambutku



kadang ingin kugantikan dia dengan sepatu-sepatu baru

yang lebih keren dan mentereng

namun aku tak yakin mereka sanggup mencintai

jejak langkahku



sebab dia -- ataukah kau -- selalu menepati janji

menuntun ke nadi-nadi tualang

dan tak membedakan

mana tikungan dan mana mimpi setengah tanggal



sepatu sudah menjelma bayanganku sendiri

sebagai sahabat paling setia meski

dia selalu diam

mengajak tengkar tentang siapa di depan

mendahului titah-titah yang tertatih

di akar rumput-rumput mati



6.

tadi malam, saat gilang-gemilang di luar luar langit

aku bacakan sebuah sajak yang tak rampung

di tanah pengasingan

di hadapan para perantau yang memakai sepatu juga



apa karena sudah koyak dan kotor

tak satu pun suka sepatuku

dan aku belum paham benar, bunda

mengapa yang lain mesti membeda-bedakan yang sama



bulan masih cerlang di luar langit

air mata tertegun di epitaf resah membilur



mereka mengirik daging dan terunaku

lalu mengisap habis seluruhku

hanya sepatu mengucap duka selamat pisah



tapi sepatu yang kau titipkan pun

mereka campakkan ke dalam tong sampah

kemudian dibakar dengan sempurna

jadi abu

sepenuhnya



7.

sepatu adalah jejak bunda kehidupan

itu sebabnya aku pulang ke rahimMu sebagai abu.





8. Dalasari Pera



BEBERAPA BENDA YANG IBU SIAPKAN SEBELUM AKU BEPERGIAN






1/ KANTONGAN PLASTIK



Seperti biasa, aku mabuk kendaraan.

Segala yang tertelan

kelak kumuntahkan di tengah jalan

maka ibu membekali kantongan plastik



“Muntahkan kenangan buruk

dan hidup terpuruk

di kantongan ini.

Lalu ikat rapi dan buanglah

ke luar jendela kendaraan.”



2/ BAJU BERSAKU BANYAK



Ibu memahami perjalanan

selalu menjadi lebih panjang

dari yang kita kira

Sebab titik sesungguhnya tak pernah jelas

hitungannya



“Pakailah baju bersaku banyak

dimana aku telah isikan

bekal menuju kekal

agar kau tak memintal sesal.”



3/ BOTOL MINUMAN KOSONG



Ibu sesungguhnya petualang sejati

Leliku jalan adalah sekumpulan kisah

Yang lama menubuh pada sosoknya

Maka jalan manakah yang tak ia kenali?



“Jalan berliku akan banyak kau temui

kaki-kaki harus tegak menapak

meski pundak sesak oleh beban

Sesekali kau harus menadah keringat

dan juga air mata, ke botol kosong ini.

Lalu minumlah di lain waktu

saat kehausan harus mengajarkanmu

betapa asinnya kehidupan.”





9. Ather Panther Olii



Inilah Beberapa Catatan Riwayat Hidup Ibu yang Bisa Kutuliskan Selepas Kepergianmu, Ayah!



1/

Di malam pertama kau tak lagi memanggil nama Ibu

Beribu kata-kata terperangkap di kebekuan bibirnya

Lalu deretan tanyaku tentang pilukah ia

Menemu jawab lewat setetes air mata yang jatuh

Yang seketika menjelma kerinduan tak usai

Dan esok adalah kesepian yang rapih

Membalut detik ke menit

Menit ke jam hingga ke batas hari

Dengan warna kelabu tak pudar

Pendarnya serupa kabut malam

Suram dan hilangkan bayang



2/

Malam ketiga dan doa-doa masih singgah di awan-awan

Tuk bermukim bersama luapan air laut

Menjelma bebulir hujan yang jatuh meruah

Membasahi kembali tanah merahmu

Melembabkan dekapan Ibu pada bingkai foto tuamu

Ibu mencipta samudra tanpa riak gelombang

Sesengukkannya merampas kesempatan rembulan

Hadir mengucap salam damai dari langit malam

Jika tengadah wajah dan tangan masih kau lihat

Sesungguhnya itu adalah wujud nelangsa

Yang oleh malam dibiaskan sebagai hal biasa

Tak seperti wajah ibu yang terus pias oleh

Kehilangan tanpa sekata dua kata perpisahan



3/

Sepekan hadir dan cahaya kehidupan masih dimonopoli malam

Kelam sungguh tak punya malu, tak mau beranjak

Bahkan oleh daftar panjang doa-doa

Sekiranya harapan terus disepoikan angin

Ibu tak lantas bergeming

Hening adalah kawan sejatinya

Dia punya bahasa baru

Yang membahana di antara sulur-sulur janji hati

Tiada tersakiti namun terlewati jalan derita

Lara masa akan memelihara jiwanya

Tanpa limit yang bisa ditandai

Bahkan oleh tinta ingatan paling murni



4/

Empat puluh hari tiba dan kesantunan cahaya merapat

Begitu dekat di guratan paras Ibu

Semacam suratan nasib baru kubaca

Ibu memuncaki letih laranya

Ibu luruhkan galau dan gamang

Melepasnya jauh, di sela-sela arah yang asing

Lalu rentangan tangannya begitu lebar

Dia siap menampung hamburan tubuhku

Dia kokoh menopang gigil pedihku

Yang menyusul tak tertahankan

Usai kulihat sebenar-benarnya ada

Mentari bermukim di kedalaman mata Ibu

Aku merindu dekapan hangat Ibu

Sungguh merindu



5/

Setahun berlalu dan musim-musim masih tak berubah nama

Andai harus bersua basah dan lembab yang tebal

Sungguh Ibu telah kebal

Kesibukannya berkabar pada langit tentang rumah cahaya

Menjadikannya lupa bahwa di silam yang belum jauh

Dia pernah melaknat sebuah kepergian

Yang meninggalkan rentetan kalimat penyesalan

Menjadi puisi melankolia menghanyutkan

Ibu memang pernah larut dalam lara

Tapi bening hatinya menautkan kembali mozaik ingatan

Akan takdir kehidupan yang tak boleh putus

Hanya karena sebuah kematian datang melawat



6/

Lantas setelah sembilan tahun kepergianmu, Ayah!

Ibu telah mampu menemukan nama barunya

Tertulis dengan huruf-huruf kasih

Berbalut sayang yang fasih dilantunkan oleh cerah wajahnya

Yang bersih dieja oleh ranum bibirnya

Sesungguhnya Ayah, bingkai fotomu telah menjadi rumah

Rumah kenangan abadi tak terganti

Bagi setiap tatap mata Ibu yang berlabuh

Di dinding kamarnya yang mungil

Kau, selama sembilan tahun yang sunyi

Menatapnya dengan cinta yang wangi

Sewangi melati dari tubuh Ibu

Yang kuhirup setiap diberinya aku

Dekapan hangat di pagi hari





Manado, Mei 2011.



10. Agus Kurniawan



MEMOAR SELENDANG



(1)

aku mendaki selendang ibu mencari masa kanak yang hilang

ranum ingatan yang akan lekang

saat mengeja air susu menelusuri letih ibu

kantuk yang terjaga, kasih yang menyala

pada lintasan riwayat selendang



ibu pun mengajariku bernyanyi bersama dalam penantian

bulan sembilan lalu cinta jadi berderaian di semesta ayah

selendang yang membentang jalan menuju jalan kecil

meniti masa remaja kan kukenang

lalu menghampar di hati perempuan



o perempuan yang menari di hamparan arloji

aku menerbangkan ilusi paling binal, kubentang kembali selendang

ditepinya jam-jam kan terkenang air mata tersimpan

dalam peta kasih tak terjabar



o selendang berkibaran mengenang ibu

kupanjat kembali masa kanak-kanak yang terbang

berserpihan dalam laut kenang



(2)

kemudian remaja mengaburkanku pada dermaga bagi

perempuan, menenun bersamaku menjahit

selendang waktu

anak-anak zaman akan lahir kan kuajari silsilah

dahulu perjalananku tersimpan dalam selendang ibu

tak kan robek di lemari yang pintunya selalu terbuka



aku pun menjadi pengembara setelah dunia

mencaciku sebagai pengecut dan menuntutku pergi

jauh dari jangkauan selendang, tapi akan tetap berkibar

dalam semesta sunyiku

: ajal terjauh......


Info: http://www.facebook.com/notes/inggar-saputra/10-nomine-lomba-menulis-puisi-untuk-cinta-dan-kasih-ibu-2011-jadi-berpikir-kapan/123553024392999

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda