26 August 2011

KOPDAR LRS TEGAL: BAHAS PROGRAM





Kopdar LRS Tegal kali ini bertempat di rumah koordinator, yaitu di desa Gumayun, Jumat tanggal 26 Agustus 2011 kemarin sore pukul 15.00 hingga pukul 17.00. Kali ini membahas banyaknya program yang hendak digarap, di antaranya:

Event Lomba Menulis Cinta Membaca

Resensi buku “Menguak Fenomena Mati Suri”

Pustaka Teratai

Pelatihan menulis untuk anggota LRS Tegal

Pemberian taushiyah setiap kopdar

Pengumpulan sumbangan buku-buku

Dari event lomba menulis cinta membaca yang tengah digarap LRS Tegal, diharapkan banyak peserta yang ikut berpartisipasi menggoreskan penanya. Dan diharapkan pula nantinya banyak penulis baru yang tak hanya rajin menulis namun rajin juga membaca. Bukankah menulis dan membaca merupakan saudara kembar yang tak mungkin bisa dipisahkan?. Semoga tulisan-tulisan mereka menginspirasi pembaca untuk semakin cinta membaca.

Kemudian kami membahas buku yang hendak diresensi oleh koordinator dan para anggotanya, yaitu buku karya F. Arifah yang berjudul “Menguak Fenomena Mati Suri” terbitan Leutika yang baru saja dikirim oleh Leutika untuk LRS. Buku setebal 102 halaman tersebut mudah-mudahan bisa segera dibuat resensinya dan diposting di blog/facebook masing-masing. Tujuan dari meresensi buku adalah untuk melatih para anggota LRS dalam pembuatan resensi.

Dan ada program baru yang sudah mulai bisa dijalankan, yaitu “Pustaka Teratai”. Nama “Pustaka Teratai” merupakan usulan dari salah satu anggota, Mbak Artini. Pustaka berarti lemari dimana di dalamnya terdapat buku-buku. Pustaka juga berarti kitab atau buku. Sedangkan menurut ensiklopedia umum pustaka merupakan buku yang berisi mantra nujum yang terdapat di tanah Batak. Buku ini terbuat dari kulit kayu yang tipis sekali, kemudian dilipat-lipat sebagai harmonika dan disimpan berkepit di antara dua keping kayu. Tulisan yang terdapat di dalamnya berupa tulisan Batak kuno dengan tinta hitam diselingi gambar-gambar magis dengan tinta merah. Isi tulisan ini berupa petunjuk kepada para dukun yang menggunakan ilmu gaib untuk membuat obat-obatan dan menyembuhkan berbagai macam penyakit (1990 : 919). Di samping itu perpustakaan juga menjadi media penyimpanan khasanah budaya bangsa atau masyarakat sebagai upaya meningkatkan nilai dan apresiasi budaya masyarakat melalui proses penyediaan bahan bacaan, baik tercetak maupun non cetak. Sejalan dengan tuntutan pemakai perpustakaan yang menghendaki adanya pengembangan koleksi yang mampu mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan tanpa melupakan koleksi lama atau kuno yang juga bermanfaat. (www.digilib.uns.ac.id )

Sedangkan Teratai merupakan tanaman air yang tumbuh di lumpur pada kolam yang dangkal, laguna, rawa-rawa dan ladang yang basah. Teratai merupakan nama umum untuk genus Nymphaea yang merupakan tumbuhan air. Tanaman teratai memiliki ciri khas dengan daun yang mengambang di permukaan air yang tenang. Tanaman teratai pun menghasilkan bunga mempesona yang memiliki warna beraneka ragam. Di beberapa daerah di Indonesia teratai dikenal dengan beberapa nama yang hampir mirip seperti teratai, dan terate. Dalam bahasa Inggris, bunga dari genus Nymphaea ini dikenal sebagai water-lily atau waterlily. Terdapat lebih dari 50 jenis (spesies) teratai di dunia yang tersebar mulai dari daerah tropis hingga subtropis. Konon spesies-spesies teratai tropis berasal dari Mesir. Ciri-ciri. Tanaman teratai tumbuh di permukaan air yang tenang. Tanaman teratai memiliki daun yang tumbuh mengambang di permukaan air. Bunga teratai juga terdapat di permukaan air, bunga dan daun teratai keluar dari tangkai yang berasal dari rizoma yang berada di dalam lumpur pada dasar kolam, sungai atau rawa. ((http://biologi-news.blogspot.com )

Bunga teratai bagi bangsa timur melambangkan sebuah kesakralan dalam berbagai masalah kehidupan. Kuncupnya mengandung arti yaitu kekuatan yang membumbung tinggi ke atas. Bila air pasang,maka teratai ikut naik, bila air surut, maka akan ikut turun. Teratai tumbuh di lingkungan air yang berlumpur, kotor, dengan akar serabut yang saling mengait, namun tetap indah, bersih, dan tidak tercemar sama sekali. Daun pohon teratai pun tumbuh ke arah atas hingga mengambang di atas air dan tidak basah oleh air kotor. Susunan dan kombinasi antara daun dan bunganya pun sangat serasi dengan lingkungan dimana teratai tersebut hidup. Semua itu melambangkan ketidakterikatan kehidupan terhadap keadaan lahiriah atau fisik sekitarnya, dan tersusun atas suatu harmoni kehidupan tanpa tercemar atau terpengaruh oleh alam lingkungannya. Bunga teratai melambangkan kesucian yang keindahannya terjangkau oleh siapapun juga mulai dari yang paling rendah atau hina sekalipun, dan sebagai perlambang atas pencapaian tingkat kesadaran tertinggi dalam kehidupan macam apapun. (http://cahyanugraha.wordpress.com )

Dari filosofi itulah kami menyepakati kegiatan meminjamkan buku kepada masyarakat secara berantai dan bergilir dengan sebutan “Pustaka Teratai.” Program tersebut hampir mirip dengan perpustakaan keliling, hanya saja sistemnya berbeda, dimana tiap-tiap anggota membawa 5 buku milik LRS Tegal, kemudian meminjamkan kepada masyarakat sekitar yang berminat dalam batas waktu tertentu sesuai perjanjian dan masih berdomisili sama dengan rumah anggota. Program ini menjadi program inti dalam mengenalkan LRS Tegal kepada masyarakat luas sebagai taman baca/perpustakaan. Semoga dengan berjalannya program ini, minat baca masyarakat semakin tinggi, yang pada akhirnya budaya baca menjadi makanan pokok masyarakat Tegal.

Kemudian program pelatihan menulis bagi anggota LRS Tegal juga tengah diupayakan. Hal ini penting agar para anggota semakin termotivasi untuk tetap menulis, minimal bisa bikin resensi buku. Mentoring bisa dari anggota LRS Tegal sendiri maupun dari luar anggota LRS Tegal. Pada intinya kegiatan tersebut mampu menggairahkan para anggota LRS Tegal untuk aktif menulis.

Selain itu akan ada tausiyah/pembinaan kepada anggota LRS Tegal setiap ada pertemuan rutin, setidaknya dua minggu sekali. Dan program terakhir yang sedang digalakkan adalah pengumpulan sumbangan buku-buku dari masyarakat yang ingin menyumbangkan bukunya kepada LRS Tegal. Buku-buku yang disumbangkan tidak hanya buku terbitan Leutika saja, tapi bisa juga dari penerbit lain. Buku-buku bisa dititipkan kepada anggota LRS Tegal ataupun bisa dikirimkan langsung ke alamat koordinator LRS Tegal, Futicha Turisqoh dengan alamat: Jl. Abimanyu RT 07 RW 03 No. 31 Gumayun-Dukuhwaru-Tegal 52451. HP: 085642560633. Semoga program ini disambut antusias oleh masyarakat dan mendapat ridho dari Allah SWT serta bermanfaat bagi sesama. Amin. Niat yang baik pasti akan menuai hasil yang baik pula.

-Puput Happy (Futicha Turisqoh)-

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda