28 October 2011

PERAN IBU YANG TERGANTIKAN AYAH



By: Puput Happy
Saya sempat tertegun setiap Bagus, salah satu muridku, selalu menangis histeris begitu ayahnya pergi setelah mengantarnya sekolah. Ia sama sekali tak mau ditinggal, ingin selalu ditemani ayahnya selama belajar di sekolah. Sebagai murid Taman Kanak-Kanak yang masih duduk di kelompok A, para guru memakluminya, meski sebenarnya semua murid diharapkan mandiri dan  lepas dari orangtua begitu tiba di sekolah.
Yang membuatku heran, meski Bagus mau ditinggal, jika ia sedang ngambek, langsung nangis dan memanggil-manggil ayahnya. Padahal hampir semua siswa jika menangis, yang dipanggilnya adalah ibunya. Tapi berbeda dengan Bagus. Ia tak pernah sekalipun memanggil ibunya, meski hanya sebentar. Yang ada dalam pikirannya seolah cuma ayahnya.
“Ayaaaaahh!! Ayah! Bagus pengin pulang….! Cepetan telepon Ayah! Ayaaahh…..!” teriaknya tiap menangis. Semua guru sering kewalahan menghadapi Bagus yang cenderung memaksa ayahnya segera datang ke sekolah. Dia bisa bertahan berjam-jam menangis hingga ayahnya datang menjemputnya. Tak dihiraukannya segala nasihat ataupun rayuan para guru untuk diam dan kembali belajar.
Dan begitu ayahnya datang, Bagus langsung menghentikan tangisnya. Ia mendadak ceria dan bercengkerama dengan ayahnya, seolah lupa bahwa ia baru saja menangis. Pemandangan yang menyenangkan ketika melihat mereka tertawa-tawa dan bercerita.
Didorong rasa penasaran dan ingin tahu kebiasaan Bagus yang selalu memanggil ayahnya, bukan ibunya ketika menangis, membuatku ingin berbincang-bincang dengan ayah Bagus.
“Maaf ya Pak, kalau boleh saya tahu…. Kenapa Bagus selalu memanggil “Ayah” ketika menangis, bukan “Ibu” atau “Mama”? Bukankah seorang anak biasanya selalu memanggil ibunya jika menangis? Ini yang mengherankan kami sebagai gurunya Bagus….” tanyaku.
Ayah Bagus sempat tersenyum dan bercerita tentang keluarganya.
“Iya Bu…. Bagus sangat bergantung pada saya, begitu juga kakaknya. Saya juga tak pernah jauh dari anak-anak. Mereka sangat dekat dengan saya, sampai kemana-mana selalu bertiga.”
“Lho, memangnya Ibu kemana?” tanyaku heran.
“Ibunya anak-anak jarang di rumah. Setiap pagi jam enam sudah berangkat kerja, dan pulangnya sore. Jadi Ibunya anak-anak jarang komunikasi. Meskipun istri saya ada di tengah-tengah mereka, mereka jarang sekali bertanya atau becanda. Bahkan mereka tidak pernah menanyakan atau merasa kehilangan jika Ibunya tidak pulang-pulang. Mereka seolah tidak butuh seorang ibu. Justru mereka akan menangis histeris jika saya tidak ada di samping mereka…..” jawabnya panjang lebar.
“Terus, ibunya anak-anak tidak merasa cemburu dengan kedekatan Bapak dan anak-anak?” tanyaku.
“Tidak, Bu…. Istri saya juga sepertinya tidak ambil pusing dengan sikap mereka yang seolah tidak peduli dengan kehadiran ibunya. Istri saya memang orangnya cuek dan tidak mempermasalahkan hal itu. Dia malah bersyukur jika mereka tidak rewel ketika hendak berangkat kerja, sehingga ia merasa tidak terbebani.”
“Memangnya istri Bapak kerja di mana?” tanyaku lagi.
“Mengajar, Bu…”
“Ohh…. Berarti istri Bapak seorang guru ya? Terus, Bapak tidak kerja? Kok bisa selalu ada di rumah?”
“Saya juragan kambing, Bu, hehehe…. Jadi bisa nyantai kerjanya.” jawabnya sambil tertawa.
Mendengar penuturan dari ayah Bagus tersebut membuatku banyak berpikir. Kenapa ada seorang ibu yang kurang peduli dengan keadaan dirinya dan anak-anaknya? Bukankah sudah menjadi fitrahnya jika setiap anak membutuhkan kehadiran seorang ibu? Mungkin ini akibat dari aktivitas rutin seorang istri di luar rumah untuk bekerja atau menggapai karir.
Saya jadi salut dengan peran ganda ayah Bagus di rumah. Ia bisa membagi waktunya untuk anak-anak. Ia tetap bekerja mencari nafkah untuk keluarganya, tapi masih sempat memberikan waktunya untuk anak-anaknya tercinta. Kasih sayangnya tak terhingga. Ia mampu menjadi Ibu bagi anak-anaknya di saat istrinya tidak bisa mendampingi mereka. Sementara saya dan guru-guru yang lain jadi tidak bersimpati dengan ibunya Bagus yang kurang respect dengan kegiatan Bagus di sekolah. Jika ada pertemuan wali murid, pasti yang datang ke sekolah adalah ayahnya, tak pernah sekalipun kami melihat ibunya.
Ini mengherankan, sebab peran dan fungsi seorang ibu adalah sebagai “tiang rumah tangga” amatlah penting bagi terselenggaranya rumah tangga yang sakinah yaitu keluarga yang sehat dan bahagia, membuat rumah tangga menjadi surga bagi anggota keluarga, menjadi mitra sejajar yang saling menyayangi bagi suaminya. Untuk mencapai ketentraman dan kebahagian dalam keluarga dibutuhkan isteri yang shaleh, yang dapat menjaga suami dan anak-anaknya, serta dapat mengatur keadaan rumah sehingga tempat rapih, menyenangkan, memikat hati seluruh anggota keluarga.
Menurut Baqir Sharif al-Qarashi (2003 : 64), bahwa para ibu merupakan sekolah-sekolah paling utama dalam pembentukan kepribadian anak, serta saran, untuk memenuhi mereka dengan berbagai sifat mulia, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW. yang artinya: “Surga di bawah telapak kaki ibu”, menggambarkan tanggung jawab ibu terhadap masa depan anaknya. (Zakiyah Daradjat, 1995 : 50)
Dari segi kejiwaan dan kependidikan, sabda Nabi di atas ditunjukan kepada para orang tua khususnya para ibu, harus bekerja keras mendidik anak dan mengawasi tingkah laku mereka dengan menanamkan dalam benak mereka berbagai perilaku terpuji serta tujuan-tujuan mulia.
Para ibu bertanggungjawab menyusun wilayah-wilayah mental serta sosial dalam pencapaian kesempurnaan serta pertumbuhan anak yang benar. Sejumlah kegagalan yang terjadi diakibatkan oleh pemisahan wanita dari fungsi-fungsi dasar mereka.
Ibu-ibu yang sering berada di luar rumah yang hanya menyisakan sedikit waktu untuk suami serta anak-anak telah menghilangkan kebahagian anak, menghalangi anak dari merasakan nikmatnya kasih sayang ibu, sebab mereka menjalankan berbagai pekerjaan di luar serta meninggalkan anak disebagian besar waktunya. Lalu, bagaimana dengan peran ayah Bagus yang seolah tengah menggantikan peran ibu, sementara ibu Bagus masih ada di samping ayahnya? Mungkin ini yang perlu menjadi perenungan buat kita bersama.

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda