01 April 2010

KISAH BUAYA


KISAH BUAYA

"Mo bikin status apa ya?", pikirku lama. Dari tadi aku cuma muter-muter aja nyari sesuatu di facebook, tapi nggak tahu apa yang harus kucari. Terlalu banyak tulisan di pesan masuk dan catatan teman, membuatku tambah bingung aja. Semuanya bagus-bagus dan panjang-panjang, sampai aku bosan membacanya. Jadi nggak masuk ke hati sama sekali.
"Huh! Bebal banget sih otak!", gerutuku sendiri. Duhai…., jenuhnya hati ini…. Tak berapa lama, nongol chat dari temanku, Reza namanya. Sebenarnya aku nggak terlalu mengenal Reza, karena dia jarang kirim pesan atau komentar di statusku.
"Hai!", begitu sapanya.
"Hai juga!", balasku.
"Gi ngapain?", tanya Reza.
"Gi tidur!", jawabku ketus.
"Loh, masak lagi tidur bisa nyambi chattingan?", tanya dia heran.
"Ya lagi chattingan lah! Udah tau nanya!", jawabku sewot.
"Dih, gitu aja marah…. Cepet tua loh!", ledek Reza.
"Biarin! Abis, pertanyaannya nggak mutu! Hehe………, jawabku sekenanya.
"Eh, aku mau cerita, boleh ya?", tanya Reza.
"Cerita apaan? Silahkan aja! Tapi yang lucu ya? Biar bete-ku ilang! Hehe……", pintaku.
"Di suatu sungai yang dalam, luas, tapi airnya tenang, terdapatlah sarang buaya.. Sungai itu memang dikenal angker, karena buaya-buaya di sana sudah banyak memakan korban, dari manusia hingga makhluk-makhluk hidup lainnya. Nah, dikisahkan ada segerombolan ayam yang lewat di sana. Ayam-ayam itu baru pertama kali lewat sungai itu. Tanpa pikir panjang, buaya-buaya itu segera menyerbunya, dan melahapnya beramai-ramai. Benar-benar pesta yang menyenangkan. Dah dulu, ya Put? Cape nih tanganku…. Pegel tau!", potong Reza.
Aku jadi senyum-senyum. Lagi chatting apa lagi bikin naskah?, pikirku.
"Loh, kan belum selesai ceritanya……… Gimana sih?!", tanyaku.
"Ah kamu! Nggak sabaran amat! Ntar, mo minum dulu! Hehe…", kata Reza. Ada-ada aja! Baru ngetik sebentar aja dah kehausan. Payah!, pikirku.
"Ayo dong, lanjutin….", pintaku 'tuk melanjutkan chattingku sama Reza. Reza pun segera membalasnya.
"Nah, keesokan harinya, datang pula segerombolan kambing yang lewat di sungai itu. Kira-kira ada lima ekor. Ya, lima ekor!!", kata Reza. Aku langsung memotongnya,
"Heh, kok kayaknya sih? Aneh deh! Kalau boleh tahu, yang kemarin itu ayam kampung apa ayam sayur? Emang pemiliknya lagi ke mana sih?", tanyaku.
"Lagi istirahat sama istrinya di rumah!", jawab Reza.
"Hah? Emang ayamnya nggak dikandang?", tanyaku heran.
"Sengaja dikeluarin, biar cari makan sendiri, katanya! Hehe…..", jawabnya.
"Masak bisa nyampai ngelayab ke sungai?", tanyaku bingung
"Ya…. Namanya juga ayam! Mana bisa mikir! Mungkin pengin mandi di sungai kali! Hehe…….", jawab dia.
"Hah? Emang ayam suka mandi ya?", tanyaku bingung.
"Ah, sudahlah! Mo dilanjutin nggak ceritanya?", Tanya Reza kesel.
"Ya deh! Dari pada bingung……….", jawabku.
"Nah, kambing-kambing itupun tak luput dari sergapan buaya-buaya itu. Dengan kejamnya mereka membantai kambing-kambing itu tanpa belas kasihan sedikitpun. Dan mereka pun berpesta pora. Setelah kenyang, mereka pun istirahat, tidur karena kekenyangan. Rupanya buaya-buaya itu sedang beruntung, tiap hari ada saja yang lewat. Benar-benar lagi banyak rejeki. Besoknya pun datang pula segerombolan kerbau. Entah kerbau siapa yang berani-beraninya lewat sungai itu. Mungkin nggak ada pemiliknya. Mereka pun habis dibantai oleh buaya-buaya yang selalu kelaparan itu. Na'as benar nasib kerbau-kerbau itu. Meskipun badannya besar-besar dan gemuk-gemuk, tapi tidak bisa melawan buaya-buaya itu.".
"Ya iya lah! Orang gemuk aja nggak bisa lari, apalagi berkelahi dengan buaya! Bukannya dilawan, malah dimakan! Hehe…..", potongku.
"Berisik ah! Mo lanjut nggak?", Tanya Reza kesal.
"Lanjut……..!", jawabku.
"Nah, keesokan harinya, datang pula segerombolan babi.. Bahkan lebih banyak dari ayam, kambing, dan kerbau yang kemarin abis dimakannya. Rupanya babi-babi itu sudah tahu tentang berita angkernya sungai itu, yang katanya banyak buayanya, dan selalu menerkam manusia dan hewan-hewan yang lewat di sana. Karena penasaran, babi-babi itu sepakat untuk ke sana dan ingin membuktikan benarnya berita itu. Sengaja lebih banyak jumlahnya, biar buayanya kewalahan menerkam mereka. Ternyata babi-babi itu sangat jantan, tidak takut mati sedikitpun. Nah, saat melewati sungai itu, babi-babi itu heran, karena buaya-buaya itu diam saja, tidak menerkam mereka.
"Kenapa buaya-buaya itu tidak menerkam kita? Kok mereka cuma menonton dan memperhatikan kita? Seperti sedang menonton karnaval saja….", tanya babi-babi itu heran. Hingga kepala gerombolan babi itu bertanya kepada buaya-buaya dengan nada tinggi.
"Hai buaya! Kenapa kalian tidak menerkam kami?"
Dengan spontan buaya-buaya itu menjawab,
"Kami muslim, bro………!" ^_^

***Puput Happy***

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda