25 Oktober 2011

MENGISI WAKTU DENGAN KULIAH

Curhatnya seorang teman:


Aku sudah menduga, aku pasti akan begini. Kekhawatiranku bermula sejak aku mengalami menstruasi pertama kali. Datangnya sang tamu bulanan tersebut, selalu saja menghantuiku. Berjam-jam aku akan meringkuk di dalam kamar sambil merintih menahan sakit di perutku. Segala macam obat sakit perut ketika datang bulan, tak ada satupun yang mampu meredakan rasa sakitku. Dan sedihnya, frekwensi haid-ku lebih lama dari masa bersihku. Kadang hingga 15 hari lebih aku haid, setelah itu baru bisa suci. Dan rasa sakit baru akan hilang usai sang tamu pergi. Rasanya lega jika masa itu pergi.
Hingga kini pun rasa nyeri saat menstruasi masih saja menyiksaku, meski aku sudah berumah tangga. Tiga tahun sudah, namun kami belum dikaruniai seorang anak. Aku tahu, menanti kehadiran sang buah hati adalah hal yang paling dinantikan semua wanita yang sudah menjadi istri. Sekilas akan sangat berbahagia bila ku membayangkan tangis, tawa dan senda guraunya di sela-sela keluarga. Mungkin untuk sebagian wanita subur, hamil dan memiliki anak bukan masalah. Namun bagi wanita seperti aku, harus sabar sampai bertahun-tahun menantikan kehadiran sang buah hati yang tak kunjung datang.
Meski aku sedikit tidak enak hati pada suamiku, tapi suamiku sangatlah baik. Dia tak pernah menyinggungku tentang si buah hati. Aku sudah berobat ke dokter, menanyakan keadaan kami yang tak kunjung hamil dan memiliki seorang anak, dan dokter hanya mengatakan bahwa peranakanku jauh, jadi kemungkinan saja lama menunggunya. Kata dokter,
“Waktu terbaik untuk konsepsi atau pembuahan adalah saat masa subur atau ovulasi dari seorang wanita. Yang perlu diperhatikan bahwa telur yang matang hanya hidup 24 jam sedangkan sperma hidup 48-72 jam dalam tubuh wanita. Oleh karenanya, melakukan hubungan seks sebelum saat ovulasi lebih baik untuk meningkatkan kehamilan daripada sehari atau dua hari sesudahnya,”
“Frekuensi atau seberapa sering untuk melakukan hubungan seksual, semua tergantung dari setiap pasangan. Tidak ada angka khusus yang dapat memastikan berapa kali seseorang harus melakukan seks untuk dapat hamil. Ada wanita yang hamil hanya dengan satu kali saja tapi yang lain memerlukan waktu yang lebih lama. Yang terpenting seberapa sering Anda melakukan hubungan seksual pada waktu yang terbaik untuk konsepsi,” lanjut dokter itu lagi.
Namun, meski aku sudah berusaha mengikuti petunjuk dokter, tanda-tanda kehamilan tak kunjung datang. Aku berpikir, mungkin faktor penyebabnya karena kondisiku yang sering sakit-sakitan saat haid. Tapi entahlah, toh dokter tidak menyinggung sama sekali akan hal itu.
Walaupun dalam pernikahan, tujuan utamanya adalah memiliki keturunan, tapi aku yakin, sangat penting jika aku tidak selalu memikirkan hal-hal negatif saat menantikan masa kehamilan. Apalagi dokter juga memberi saran padaku,
“Disarankan tetap rileks dan sabar menanti datangnya kehamilan, karena jika stres dan banyak berkhayal hanya akan mempersulit terjadinya konsepsi.”
Selain itu, dokter juga menyarankan, katanya: “Sambil menantikan masa kehamilan, tidak ada salahnya mengikuti beberapa tips agar cepat mendapatkan kehamilan sebagi berikut:
1.      Berhentilah menggunakan alat kontrasepsi (apa pun jenisnya) dan mulailah melakukan hubungan seksual minimal sekali setiap 48 jam. Cara ini dapat menjamin kuantitas sperma agar tetap maksimal.
2.      Usahakan untuk melakukan hubungan seksual dalam siklus ovulasi. Siklus ovulasi dimulai sekitar 14 hari sebelum menstruasi. Wanita tidak akan hamil kecuali jika dig mengalami ovulasi.
3.      Wanita memiliki kemungkinan lebih besar untuk hamil jika posisinya berada di bawah saat suami mengalami ejakulasi. Setelah itu Anda dapat menahan agar tetap berada di posisi tersebut sambil sedikit mengangkat kaki untuk meningkatkan kemungkinan terjadinya fertilisasi (pembuahan).
4.      Berhentilah berusaha terlalu keras untuk hamil. Terlalu memaksa kan diri hanya akan membuat Anda merasa tertekan, dan memperkecil kemungkinan untuk hamil.
5.      Panas dapat mengurangi kuantitas sperma. Jadi, selama Anda berusaha untuk hamil, mintalah kepada suami untuk berhenti berendam dengan air hangat, mandi air hangat, mengenakan pakaian yang terlalu panas, terlalu banyak duduk, dan lainnya. Jika suami terbiasa mengenakan celana dalam berbentuk caveat, tidak ada salahnya jika Anda meminta suami untuk menggantinya dengan celana dalam yang lebih longgar (bokser). Tujuannya agar kemampuan testis dalam mengatur suhu (mengurangi panas) tidak terhambat.
6.      Jika Anda sudah lebih dari satu tahun lebih berusaha hamil tapi belum hamil juga (atau usia Anda sudah lebih dari 35 tahun dan sudah berusaha untuk hamil selama lebih dari 6 bulan), ada baiknya jika Anda dan suami berkonsultasi ke dokter kebidanan. Mungkin saja ada masalah pada sperma atau ovum yang memerlukan tindakan medis. Masalah tersebut dapat diketahui melalui tes medis. Setelah masalah ditemukan, dokter akan dapat memberikan saran mengenai tindakan apa saja yang perlu Anda lakukan.
7.      Anda dan suami mungkin perlu berhenti merokok, mengonsumsi alkohol, obat-obatan atau suplemen tan-pa sepengetahuan dokter, kemudian membiasakan diri mengonsumsi obat-obatan clan suplemen, atau mengikuti terapi yang sesuai dengan anjuran dokter.
8.      Rajin menjaga kebugaran tubuh dengan berolah raga, serta mengikuti pola makan yang baik dan benar
Dan bila Anda sudah mencoba melakukan hal ini selama 1 tahun dan belum hamil juga, sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter  untuk mendapatkan penanganan yang terbaik. Selebihnya serahkan semua kepada yang maha kuasa dan teruslah berdoa.”
Namun, meski saran dokter sudah kami coba, Tuhan masih belum mengaruniaiku anak, hingga aku mulai tidak sabar.
“Mas, kenapa ya, kok aku nggak hamil-hamil? Apa karena haidku yang sering bermasalah?” tanyaku pada suamiku.
“Itu tandanya Allah belum memberikan amanah pada kita,” jawab suamiku dengan tenang. Ia selalu begitu. Tak pernah marah ataupun membuatku bersedih. Ia sangat pandai menjaga hati semua orang. Alhamdulillah …. Tuhan mengaruniaiku seorang suami yang sangat pengertian.
Diamku di rumah membuatku merasa tidak berguna. Meski segala pekerjaan di rumah sudah kulakukan semua, tapi tetap saja ada yang mengganjal di hati ini. Apa yang harus kulakukan, Tuhan? Andai Kau beri aku seorang anak, mungkin kejenuhan ini bisa terobati …. Astaghfirullah ….. Kenapa aku jadi berandai-andai begini?
Kucoba kutepis rasa itu. Aku tidak boleh memaksa Tuhan untuk mengaruniaiku seorang anak. Mungkin ini memang belum waktunya bagiku untuk momong anak. Aku yakin, rencana Allah lebih baik buatku. Lagi pula, suamiku tidak terlalu menuntutku untuk segera mengandung bayi. Suamiku baik, dan bagiku itu sudah cukup. Tapi, kenapa aku masih saja gelisah tak menentu?
“Mas, aku bosan dengan pertanyaan orang-orang di sekitar kita. Mereka selalu menanyakan kapan kehamilanku. Aku jadi malas keluar rumah ….” kataku pada suami tercinta. Lagi-lagi suamiku hanya tersenyum dan menjawab lembut,
“Itu tandanya mereka perhatian sama Ade ….”
“Kok perhatian? Bukannya itu menyinggung perasaanku?” jawabku dengan kerut di kening.
“Justru kalau mereka diam saja, itu tandanya mereka masa bodoh dan tidak mau tahu …. Positif thingking lah! Ok?” goda suamiku. Aku pun hanya menyunggingkan bibirku sedikit. Duh, suamiku memang selalu mengerti keadaanku.
Tapi aku semakin tidak tahan dengan keadaan ini. Aku harus menyibukkan diri! Aku tidak boleh membiarkan otakku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tak jelas juntrungannya. Lagi-lagi aku bertanya sendiri kapan aku bisa hamil dan punya anak. Hufft! Membosankan!
Entah dapat ide dari mana, tiba-tiba aku berkeinginan untuk kuliah lagi. Bukankah dengan kuliah dan banyak berpikir tentang ilmu membuatku menjadi lebih baik? Hitung-hitung sambil menanti sang buah hati. Aku tak boleh mengisi waktuku dengan harapan-harapan kosong, yang hanya Allah saja yang tahu kapan hadirnya. Yup! Aku harus kuliah!
Tekadku semakin bulat manakala suamiku juga mendukungku. Bahkan ia yang paling bersemangat mendengar keinginanku. Ia sangat men-support-ku untuk kuliah lagi. Subhanallah …. Suamiku benar-benar sangat baik. Tak pernah sekalipun ia menentang keinginanku. Ia selalu saja mendukungku.
Aku pun segera bangkit, menuntut ilmu ke perguruan tinggi. Dengan modal dukungan suami, tak ada yang susah ‘tuk kulewati. Aku pun kini telah duduk di bangku kuliah jurusan matematika. Aku senang bukan main. Meski kini ku telah empat semester di bangku kuliah, suamiku tetap saja baik, tak pernah sekalipun mengungkit-ungkit kapan punya anak. Ia selalu enjoy, kapanpun dan dimanapun, membuatku tenang menjalani hidup.

-Puput Happy (Futicha Turisqoh)-

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda